Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*25
"Mama, Rafka juga laper," ucap Rafka pelan.
Hembusan napas berat langsung Ain lepaskan. "Ya sudah kalo gitu, kita kembali saja dulu. Besok, mama akan datang lagi ke sini."
"Nenek, maafkan Aina. Ain tidak jadi mengunjungi pusara nenek sekarang. Padahal, Ain sedikit saja lagi mau sampai."
"Ah, tapi, Ain janji, besok, Ain pasti akan datang buat lihat pusara nenek."
Pada akhirnya, Aina memutuskan untuk meninggalkan pemakaman tersebut. Padahal, sedikit saja lagi, dia bisa melihat pusara sang nenek yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi.
Memang sudah takdir yang tidak ingin mempertemukan Aina dengan Rain sekarang. Jadinya, ada saja halangan yang datang untuk menjadi penghalang pertemuan mereka.
Sesaat setelah kepergian Ain, Dion pun tiba ke tempat tersebut. "Tuan muda."
"Tuan muda! Anda di mana?"
Dion mencari tuan mudanya dengan perasaan cemas. Hujan gerimis terus menemani langit. Memang musim penghujan. Langit ini maunya hujan ... melulu. Sedikit mereda, terus hujan lagi. Sesaat berhenti, kemudian malah lanjut hujan lagi.
"Tuan muda!"
Beberapa saat mencari, akhirnya, Dion menemukan Rain yang masih bersandar di pohon besar samping pemakaman. Sontak, pria tersebut langsung beranjak mendekat dengan cepat.
"Ya Tuhan. Tuan muda."
"Tuan muda. Anda baik-baik saja?"
"Tuan muda."
Rain yang masih dalam pengaruh obat, mana mungkin akan sadar saat Dion memanggilnya. Alhasil, dengan susah payah, Dion berusaha membangunkan Rain. Lalu, memapah tuan mudanya untuk dia bawa ke mobil.
Usaha yang cukup melelahkan akhirnya berhasil. Karena hati cukup cemas akan kondisi dari tuan mudanya, Dion membawa Rain ke rumah sakit.
*
"Bagaimana kondisi tuan muda saya, Dok?"
"Dia baik-baik saja. Hanya sedang dalam pengaruh obat yang sudah ia konsumsi sebelumnya. Dia akan bagun setelah dosis obatnya habis."
Hembusan napas lega langsung Dion lepaskan. "Hah ... syukurlah. Terima kasih banyak, Dok."
"Ya. Sama-sama."
Dion langsung menatap wajah Rain dengan tatapan lekat. Bibirnya berucap perlahan.
"Tuan muda. Sudah lima tahun berlalu. Kapan tuan muda bisa hidup dengan normal lagi?"
Beberapa saat terdiam, Dion langsung keluar dari ruang rawat tersebut. Saat dia menutup pintu, suara seorang wanita langsung memanggilnya.
"Dion. Kok, bisa ada di rumah sakit? Ada apa? Apa ada masalah dengan tuan muda?"
"Dokter Kania. Hm, iya. Tuan muda pingsan karena gangguan bipolar nya kambuh."
"Dokter, apakah ada kemungkinan untuk tuan muda sembuh dari penyakit yang ia derita?"
Kania terdiam sejenak. "Itu ... kemungkinan pasti ada. Tapi, tuan muda tidak ingin melakukannya. Jika tuan muda bersedia melepaskan obsesinya terhadap wanita itu, maka kemungkinan untuk sembuh itu sangat besar."
Dion langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Dia cukup tahu, hal itu tidak akan pernah bisa Rain lakukan. Yah ... tentu saja itu tidak mungkin. Karena Aina adalah hidup Rain. Semangat hidup buat Rain, bahkan mungkin, sebagian nyawa Rain adalah Aina. Jadi, untuk melepaskan obsesi pada Aina, itu gak akan pernah bisa.
Sesaat kemudian, Dion tersenyum. "Itu ... tidak mungkin, dokter."
Kania pun langsung bungkam. Ucapan Dion tidak ingin ia jawab. Sebaliknya, dia berjalan cepat masuk ke dalam ruang rawat Rain. Dia tatap Rain dengan tatapan lekat. Ringan tangan Kania menyentuh tangan Rain yang sangat kurus.
"Rain. Kenapa? Apa hebatnya wanita itu di mata mu? Sampai-sampai, kamu terluka separah ini hanya karena wanita itu."
"Rain, cobalah untuk melihat ketulusan dari gadis yang lain. Jika kamu berusaha melakukannya, maka hidupmu pasti akan bahagia. Karena, masih ada wanita yang lain yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Yang pastinya, akan selalu ada di samping kamu di saat kamu butuhkan. Bukan seperti wanita itu, yang pergi meninggalkan kamu tanpa kata saat hatinya terluka sedikit saja."
"Rain. Aku-- "
Tiba-tiba, tangan Rain bergerak perlahan. Matanya pun langsung terbuka. Rain sadar dari pingsannya. Sontak, tangannya yang ada di genggaman tangan Kania, langsung dia tarik dengan cepat.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Dion!"
"Di mana Dion?"
"Dion!"
Gegas Dion yang ada di depan kamar masuk ke dalam dengan cepat. "Ya, tuan muda. Ada apa? Apa yang tuan muda inginkan sekarang?"