"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Leana duduk di meja makan dengan wajah ditekuk. Di depannya, Jimmy berdiri dengan celemek hitam, memegang piring berisi tumpukan sayur.
"Makan!" perintah Jimmy singkat.
"Tidak mau. Itu makanan kelinci. Aku ini manusia!" protes Leana, menjauhkan piring itu dengan ujung jarinya seolah-olah itu adalah racun mematikan.
Jimmy menarik kembali piring itu ke depan Leana. "Kau sudah menghabiskan tiga bungkus keripik pedas sebagai pelampiasan karena marah padaku. Sekarang, tubuhmu butuh nutrisi, bukan bahan pengawet."
"Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus makan wortel ini," tantang Leana.
Jimmy menatap Leana dengan tatapan tajam lalu menarik kursi dan duduk tepat di depan Leana. Ia mengambil garpu, menusuk sepotong wortel, dan menyodorkannya pada gadis itu.
"Ini hukuman untukmu karena tidak pernah mendengarkan aku!" ucap Jimmy. "Buka mulutmu, Nona Frederick. Atau aku akan memaksamu."
"Memaksa? Kau mau mengikatku?" tantang Leana, sengaja menggoda Jimmy.
"Bukan. Aku akan mengosongkan seluruh lemari camilanmu, membuang semua cokelatmu ke tempat sampah, dan menggantinya dengan jus seledri selama satu bulan penuh. Pilih mana?"
Leana terkesiap. "Kau pria tua yang kejam!"
"Mulutmu terlalu banyak bicara. Buka!" perintah Jimmy lagi.
Melihat Jimmy yang tidak main-main, dengan terpaksa Leana membuka mulutnya. Jimmy memasukkan wortel itu dengan sabar seperti sedang mengurus balita.
Leana mengunyah makanan itu dengan wajah yang sangat menderita, seolah sedang mengunyah silet.
"Telan!" ucap Jimmy.
Setelah berhasil menelan, Leana langsung meraih gelas air putih. "Sudah, kan? Aku sudah makan satu! Puas?!"
"Baru satu potong, Lea. Masih ada brokoli dan buncis di sini." Jimmy tersenyum tipis, senyum kemenangan yang membuat Leana ingin menjambak rambutnya. "Setiap kali kau membantah perintahku, satu porsi sayuran akan ditambahkan ke menu makan malammu."
"Kenapa kau peduli sekali sih aku makan apa? Biarkan saja aku sakit!"
"Karena kalau kau sakit, kau akan merengek padaku sepanjang malam, dan aku benci suara rengekan mu yang manja itu."
"Bohong! Bilang saja kau takut kalau aku sakit, tidak ada lagi yang bisa kau goda," Leana mulai berani lagi, ia sengaja menjilat bibirnya yang masih basah karena jus sayuran.
Jimmy berdehem, suhu di dapur mendadak panas. "Makan saja tidak becus," ucapnya sengaja mengalihkan pembicaraan karena saus yang belepotan di bibir gadis itu.
"Kenapa? Kau mau memarahiku lagi karena—" Kalimat Leana terputus saat Jimmy tiba-tiba berdiri dan menarik kursi hingga gadis itu berputar menghadapnya.
Jimmy membungkuk, mengurung tubuh Leana di antara kedua lengannya yang kekar di atas sandaran kursi. Jarak mereka begitu tipis hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Ada saus di sana," bisik Jimmy. Napasnya yang hangat dan menerpa wajah Leana, membuat gadis itu mendadak merasa gerah luar biasa.
"Biar kuambil tisu."
"Tidak perlu tisu!" seru Jimmy.
Tanpa aba-aba, Jimmy menjulurkan lidahnya. Ia menjilat noda saus di sudut bibir Leana dengan lembut hingga Leana bisa merasakan tekstur lidah Jimmy yang hangat dan basah menyapu kulitnya.
Leana memejamkan mata, tangannya refleks mencengkeram kemeja Jimmy dan meremasnya kuat-kuat ketika Jimmy mulai melahapnya.
Setelah puas, Jimmy melepaskan tautan bibir mereka, jemarinya merayap naik, mengusap bibir Leana yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya.
"Kau tahu betapa susahnya aku menahan diri untuk tidak melakukan ini setiap hari?" bisik Jimmy tepat di depan bibir Leana. "Kau sangat manis. Terlalu manis sampai rasanya aku ingin menghancurkan mu."
Leana menatap mata Jimmy yang kini berusaha mengatur nafasnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras menekan pahanya.
"Lakukan saja, Jim, hancurkan aku malam ini."
Jimmy membenamkan wajahnya di ceruk leher Leana, menghirup dalam-dalam aroma vanila dari kulit gadis itu yang selalu membuatnya gila. Lalu, seketika ia menjauh dan berjalan ke kamar.
Ya, lagi-lagi Jimmy meninggalkan Lea tanpa kepastian setelah membuat gadis itu berbunga-bunga.
"Apa-apaan dia!" geram Lea kembali memasukkan wortel mulutnya.
Fokusnya beralih lada ponsel Jimmy yang tergeletak di meja makan. Biasanya, Jimmy adalah orang yang sangat tertutup dengan barang pribadinya. Tapi malam ini, mungkin karena tergesa-gesa, dia jadi ceroboh.
Drrt! Drrt!
Layar ponsel itu menyala. Sebuah pesan pop-up muncul. Leana yang tadinya tidak peduli, mendadak membeku saat matanya menangkap deretan kata di layar itu.
Unknown Number:
[Aku menunggumu jam dua belas malam nanti. Jangan terlambat. Aku akan membuatmu tak akan melupakan malam ini, Jim. Tempat biasa, oke?]
Sendok di tangan Leana terlepas, berdenting keras di atas piring. Darah di wajahnya seolah tersedot habis tak bersisa.
"Tak akan melupakan malam ini? Apa maksudnya?" lirihnya. Ia hendak membuka ponsel itu, sialnya Jimmy menguncinya menggunakan sandi.
Lea kecewa. Jadi ini alasannya? Ini alasan kenapa Jimmy selalu mendorongnya menjauh? Ternyata Jimmy punya simpanan? Seorang wanita yang menjanjikan malam yang tak terlupakan?
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁