NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Kak, Aku Berhenti Saja

Leon yang tenang.

Di dalam ruangan pribadi milik Arkan yang sepi, seorang Nanny atau pengasuh khusus bayi, sering disebut sebagai Baby Nurse, duduk dengan waspada di samping ranjang bayi. Arkan memang tidak mempercayakan Leon kepada sembarang perawat umum, ia menyewa tenaga profesional yang khusus menangani bayi.

Pengasuh muda itu menopang dagu, matanya tak lepas menatap wajah tenang Leon yang sedang terlelap dalam balutan selimut hangat.

“Wajahnya benar-benar tampan, sangat mirip dengan dr. Arkan,” puji perawat itu pelan. Ia menganggumi garis rahang kecil dan hidung bangir bayi itu yang merupakan cetakan sempurna dari sang ayah. “Beruntung sekali kamu, Nak, memiliki darah dr. Arkan, meski sayangnya harus kehilangan ibu secepat ini.”

Namun, di sela pujiannya, sang perawat melirik jam. Jadwal minum ASI Leon sebentar lagi tiba, dan ia tahu betul betapa pemilihnya bayi ini jika bukan ASI dari Maya yang diberikan.

*****

Di ruang operasi.

Sementara itu, di bali pintu tebal bertuliskan “Dilarang Masuk”, suasana jauh lebih menegangkan. Aroma cairan antiseptik menyengat di udara yang dingin. Arkan berdiri di bawah lampu operasi yang benderang, mengenakan gaun hijau lengkap dengan masker dan pelindung wajah.

Arkan tampak sangat serius. Fokusnya tidak terbagi sedikit pun saat ia melakukan operasi sectio caesarea (sesar) pada seorang pasien.

“Klem,” ucap Arkan singkat. Tangannya menengadah tanpa menoleh. Seorang perawat instrument dengan sigap meletakkan alat medis yang diminta tepat di telapak tangan Arkan. Di sisi lain, seorang perawat asisten dengan lembut menghapus butiran keringat yang muncul di dahi Arkan agar tidak mengganggu pandangan sang dokter spesialis tersebut.

Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara monitor jantung yang berbunyi tit.. tit… tit… secara teratur. Arkan bekerja dengan kecepatan dan kehati-hatian yang luar biasa, menunjukkan ia adalah dokter terbaik di keluarga Pradipa.

Beberapa detik kemudian, suasana yang kaku itu pecah.

“Oeeekk….oeeekk…..oeeekk!”

Suara tangisan bayi yang sangat nyaring memenuhi ruang operasi. Tubuh kecil yang kemerahan itu berhasil dikeluarkan dengan selamat. Para perawat dan asisten dokter di sana berdecak lega, beberapa dari mereka saling melempar senyum di balik masker.

Arkan hanya mengembuskan napas panjang. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa lagi. Arkan menunjukkan sisi profesionalnya yang jarang terlihat oleh orang luar. Ia memberikan pujian singkat kepada para perawat yang membantunya, sebuah pengakuan yang sangat berarti dari seorang dokter.

Ia membersihkan diri, mengganti pakaian bedahnya, dan membasuh sisa-sisa noda darah yang menempel di tangannya. Begitu selesai, kakinya bergegas melangkah lebar menuju ruang pribadinya.

***

Begitu pintu terbuka, perawat yang menjaga Leon langsung berdiri tegak, sedikit terkejut namun segera tersenyum. “Dokter Arkan, Leon sangat tenang. Dia bayi yang sangat baik, jadi saya tidak merasa repot menjaganya,” lapor perawat itu sebelum Arkan sempat bertanya.

Arkan berdiri di samping keranjang bayi portabel. Ia melihat Leon sedang asyik meremas-remas plastik kresek, mendengarkan bunyi gemerisik yang tampaknya sangat menarik bagi dunianya yang mungil.

“Bagaimana dengan stok ASI-nya?” tanya Arkan sambil berjalan mendekati Cooler Box tempat penyimpanan ASI.

“Sisa dua botol lagi, Dok. Sepertinya Leon sedang sangat lahap hari ini.”

Arkan membuka kotak pendingin itu, dan benar saja, hanya tersisa dua botol kaca yang berjejer rapi. Arkan kemudian merogoh dompetnya, mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu rupiah, dan menyodorkannya kepada perawat tersebut.

“Terima kasih banyak sudah membantu. Maaf saya harus merepotkanmu untuk menjaga Leon di saat seharusnya kamu sudah beristirahat setelah jam dinas selesai. Tolong terima ini sebagai tanda terima kasih saya.”

Perawat itu tertegun sejenak melihat jumlah uang yang diberikan, lalu mengambilnya dengan tangan gemetar senang. “Tidak masalah, Dokter. Saya justru senang bisa menjaga Leon. Terima kasih banyak, Dok.”

“Seharusnya saya yang berterima kasih,” balas Arkan dengan anggukan sopan.

Begitu perawat itu pergi dengan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan, Arkan langsung melirik jam tangan Rolex di pergelangan kirinya. Pukul 16:00.

“Maya sebentar lagi pulang,” gumamnya. Raut wajahnya yang tadi sempat melembut kini kembali mengeras.

Dengan gerakan tangkas, Arkan menyusun kembali perlengkapan bayi ke dalam tas, menggendong keranjang portabel Leon dengan satu tangan, dan melangkah cepat keluar dari ruangan.

******

Intaian di balik kaca mobil.

Mobil Pajero hitam milik Arkan terpakir gagah di antara deretan mobil mewah lainnya yang tengah mengantri jemputan. Di dalam kabin, suasana terasa gugup dengan keramaian di luar. Arkan terus memaku pandangannya pada gerbang tinggi sekolah, menyisir satu per satu siswi yang keluar dengan seragam mereka. jari-jarinya mengetuk setir dengan irama gelisah, sebuah kebiasaan yang muncul hanya saat ia merasa tidak tenang.

Raut wajah Arkan yang kaku mendadak cerah, seolah beban di pundaknya baru saja diangkat, saat ia menangkap sosok mungil Maya keluar dari gerbang. Karena posisi mobilnya terhalang kendaraan lain, Arkan melihat Maya berdiri menunggu di samping pos satpam. Gadis itu celingukan, matanya yang jernih mencari-cari keberadaan mobil Arkan di tengah hiruk-pikuk jemputan.

“Leon, sebentar ya,” ucap Arkan lembut pada putranya yang masih terjaga. Ia segera turun dari mobil, melangkah melebar dan cepat menghampiri Maya, mengabaikan beberapa pasang mata guru yang mengenalinya sebagai sahabat Vanya.

“Sudah lama menunggu?” tanya Arkan begitu sampai di depan Maya. Maya menggeleng pelan, tersenyum lega melihat pria itu.

Namun, ketenangan mereka sedang diintai. Di salah satu mobil yang sedang merayap pergi, Dina duduk dengan ponsel di tangan. Matanya menyipit penuh selidik saat melihat Arkan, sang dokter ternama yang sangat dihormati keluarganya berjalan begitu dekat dan protektif di samping Maya.

Cekrek!

Dina memotret momen kedekatan mereka. “Apa hubungan gadis miskin itu dengan Dokter Arkan?” gumam Dina dengan nada benci sekaligus penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Maya.

Mobil Dina pun melaju pergi, dan meski Maya sempat melirik sekilas ke arah mobil itu, ia memilih untuk bersikap cuek, tidak ingin merusak suasana hatinya yang sudah rindu pada Leon.

Sementara itu, tidak jauh dari sana, sebuah mobil Audi R8 Coupe berwarna hitam legam, mobil sport yang sangat ikonik dan berkesan cool terparkir tenang. Di balik kaca film yang gelap, Agung duduk diam. Tatapannya dingin namun fokus, memperhatikan setiap gerak-gerik Maya sampai gadis itu naik ke dalam mobil Arkan dan menghilang dari pandangannya.

Agung mencengkeram kemudi Audi-nya, raut wajah blasterannya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun matanya menyiratkan tanda tanya besar. Ada misteri di balik identitas Maya yang kini mulai bersinggungan dengan dunia orang-orang berkuasa seperti Arkan Pradipa.

*******

Sunyi di dalam kabin mobil Pajero.

Suasana di dalam kabin Pajero itu mendadak sunyi, hanya deru mesin yang terdengar halus mengiringi laju kendaraan. Dari balik kemudi, Arkan mencuri pandang melalui spion tengah. Ia bisa melihat Maya yang bersandar lelah, matanya menatap kosong ke arah jalanan, sementara tangannya sesekali mengusap lembut selimut Leon yang tertidur di sampingnya.

Arkan sebenarnya ingin menanyakan banyak hal tentang hari pertama sekolahnya. Namun, ia tidak ingin menambah beban di wajah lelah itu.

“Kak,” suara lembut Maya memecah keheningan, membuat Arkan sedikit terperanjat.

“I-iya, ada apa, May?” jawab Arkan, ada nada gugup yang jarang sekali muncul dalam suaranya yang biasanya otoriter.

“Bagaimana keadaan Leon selama aku pergi sekolah tadi?”

“Ba-baik. Sangat baik dan tidak rewel,” Arkan melirik kembali ke keranjang bayi portabel. “Aku rasa karena asupan nutrisinya terpenuhi. Dia tampak sangat puas.”

Maya terdiam sejenak, bibirnya sedikit bergetar sebelum akhirnya ia berani mengutarakan apa yang ada di pikirannya. “Kak, entah kenapa aku merasa tidak tenang meninggalkan Leon. Boleh tidak, kalau… kalau aku berhenti sekolah saja sampai Leon besar? Atau… aku sekolah dari rumah saja?”

Ciiit!!

Arkan menginjak rem sedikit lebih dalam saat lampu merah menyala, tangannya mencengkeram erat lingkar kemudi hingga urat-uratnya menonjol. Tatapannya mendadak berubah sinis dan tajam saat menatap bayangan Maya di spion tengah.

“Apa ada seseorang yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Arkan langsung pada intinya, suaranya dingin dan mengancam, seolah siap mencari siapa pun yang berani mengusik Maya.

Maya tersentak, ia segera menggeleng cepat, berusaha menyembunyikan luka akibat perlakuan Dina tadi. “Bukan…bukan begitu, kak.”

“Lalu, apa yang membuatmu tidak ingin melanjutkan sekolah?” cecar Arkan. “Soal menjaga Leon, aku berencana memanggil perawat professional tambahan. Tugasmu di rumah itu sebenarnya bukan untuk kelelahan mengasuhnya seharian. Tugas utamamu adalah memberikan Leon kehidupan yang baik melalui nutrisimu sampai batas waktunya tiba.”

“Tapi, Kak, bukankah itu akan membuang banyak uang? Membayar perawat itu mahal, lalu biayaku.”

“Kau masih terlalu kecil untuk memikirkan hal sedewasa itu, Maya,” potong Arkan dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. “Tugasmu sekarang hanya dua, berikan nutrisi yang diinginkan putraku, lalu sekolah. Jangan pikirkan soal uang atau hal lainnya. Biar aku yang urus.”

Maya hanya bisa mengangguk pelan, ia menunduk dalam. Ia tahu, berdebat dengan Arkan adalah hal sia-sia.

Niat lain Arkan menyekolahkan Maya bukan untuk masa depan Maya sendiri. Arkan melakukan itu semua demi menjaga reputasi. Ia tahu betul risiko hukum dan sosial yang mengintainya. Jika publik tahu ia mempekerjakan anak di bawah umur sebagai ibu susu, ia bisa dituduh melakukan Eksploitasi Anak atau pelanggaran kode etik berat yang akan menghancurkan kariernya.

Karena itulah, ia menyamarkan status Maya sebagai siswi di sekolah elit milik sahabatnya, sebuah tameng hukum agar Maya terlihat seperti bagian dari keluarga atau seseorang yang ia “asuh”, bukan sekadar pekerja.

...❌ BERSAMBUNG ❌...

1
~~N..M~~~
Mam*pus!!!! Bagaimana rasanya. Pasti sakit sekali, kayak gitulah yang dirasakan Maya. Bahkan lebih dari sakit. Sudah perut maya dibelah, anak m3ninggal, dll.
~~N..M~~~
Good job zavier👍👍👍👍👍
~~N..M~~~
Anak orang kaya, punya segalanya, tapi kenapa kelakuannya kayak iblis?
~~N..M~~~
Ternyata kita semua sama. Kalau tak sengaja m3ndengar klip video dengan suara begitu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
Evi Lusiana
dasar mnsia sampah,
Evi Lusiana
arkan umur brp sih thor,dan msa iy d rmh arkan gk puny ART
Dewi Payang
Aku juga ikut terharu🥹🥹
Dewi Payang
Tamparan sayang dari Leon😍
Dewi Payang
Mainannya si Leon sederhana tapi sudah buat dia bahagia😍
Lisa
Good job Zavier 👍👍 akhirnya Dina terkena karmanya..ntar lg dia dikeluarkan dari sekolah..
~~N..M~~~
Hahahaaaaiii....entah kenapa aku jadi puas melihatnya. Dina terkena karmanya sendiri. Tidak tahu apa maksud zavier, kenapa mereka dipersatukan. Yang jelas aku meras puas.
~~N..M~~~
Jangan kasih k3ndor
~~N..M~~~
Iyuh, ternyata Dina dan gengnya memang kalangan anak nakal.Masih remaja aja sudah melakukan hal bebas, gimana kalau uda besarnanti
~~N..M~~~
Iya, kau juga harus m3ndekatkan diri
~~N..M~~~
Serius, ternyata Dina dan gengnya beneran datang
~~N..M~~~
Ku harap dengan k3hadiran Bu Marni, Maya bisa membuka dirinya kembali.
~~N..M~~~
Semakin p3nasaran siapa Agung, dan kenapa bisa kenal Zavier dan Arkan.
~~N..M~~~
sudah bisa jadi juri nih, kayaknya
Chici👑👑
Oke kak...kamoh juga yak/Shhh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!