NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—24

Arumi berkacak pinggang sambil menatap Bumantara yang sedang duduk dengan santai di bawah dan memakan makanan yang entah dia dapatkan dari mana.

Bumantara mendongak menatap ke arah Arumi, "Kenapa, sayang? Mau makan hm?"

Pertanyaan lembut itu entah kenapa malah membuat Arumi mendengus jengkel. "Kamu ngapain sih ... kesini? Ini itu udah malam. Kamu juga ngapain menatap Elena seperti itu?"

Rentetan pertanyaan cepat di balut kekesalan itu, justru terlihat menggemaskan di mata Bumantara, ia tersenyum, bahkan terkekeh seraya meletakkan piring nya — lalu menarik tangan Arumi dengan lembut, membawa gadis itu yang sedang berwajah merengut untuk duduk di sebelah nya.

"Aku udah janji mau kesini, sayang. Masalah tatap-tatapan, itu enggak sengaja. Kamu jangan cemburu gitu hm," jelas Bumantara, sembari menjepit dagu Arumi dengan lembut.

Saat kata 'cemburu' di sebutkan, Arumi jadi tersadar dengan segala polah pikir nya bahkan dalam nada berbicara yang terdengar aneh menurut nya.

Pipi Arumi memerah, "Siapa yang cemburu!" seru Arumi tidak terima.

Namun senyuman Bumantara jelas terlihat mengejek di mata Arumi yang langsung membuang muka, ia mencoba untuk bangun dari duduk nya, namun ternyata tertahan oleh kaki Bumantara yang tiba-tiba ada di atas kaki nya.

Kelakuan Bumantara itu justru membuat Arumi melotot, ia kesal, lalu memukul kaki Bumantara, "Lepas enggak, ihhh... Bumantara!!! Aku enggak suka begini," keluh Arumi sambil memukul-mukul kaki Bumantara yang masih enteng di atas kakinya.

"Lalu kamu sukanya yang seperti apa, sayang?" Bumantara dengan gerak cepat langsung mendorong Arumi hingga terlentang di atas karpet berbulu depan televisi dan menindih tubuh mungil namun berisi itu.

Tatapan dari manik keabu-abuan dan hitam itu saling bertautan.

Arumi tidak bisa memalingkan pandangan nya, ia terpaku dan terlihat pasrah berada di bawah kuasa tubuh besar Bumantara.

"Apa seperti ini sudah menjadi kesukaan mu, sayang?"

Bumantara merendahkan wajah nya hingga sapuan napas hangat nya bisa Arumi rasakan.

Arumi memejamkan kedua matanya, membiarkan wajah Bumantara yang semakin mendekati nya, ia sekarang bisa merasakan hidung Bumantara yang menyusuri pipi hingga ke dagu nya.

Napas arumi tertahan, bahkan ia seperti menahan napasnya, saat Bumantara semakin menurun kan wajah dan sapuan ciuman dari bibir tebal nan lembut itu dan berakhir di area leher putih nya.

"Ugh... Buma," lenguh Arumi, mendongak, membiarkan pria itu bermain sepuasnya di sana.

Arumi tidak bisa menghindari perasaan nya yang sudah benar-benar terjatuh oleh pesona Bumantara, ia menenggelamkan dirinya semakin dalam di labirin jeratan berondong — untuk masalah selanjutnya ia tidak tau, yang pasti ia hanya ingin menikmati waktu sekarang bersama pria yang sedang memainkan miliknya di bawah sana.

Entah sejak kapan pria itu melepaskan pakaian tipisnya, yang pasti ia hanya pasrah saat Bumantara dengan lancang memakan bahkan menggigit miliknya.

Bumantara mengecup beda kemerahan yang sebesar kacang polong, kadang ia menjilat nya seperti es krim yang mempunyai rasa vanilla, ia bahkan membiarkan jari-jari panjang nan lentik itu meremas rambut nya.

Bumantara juga bisa melihat ekspresi seksi gadis itu saat ia bermain di bagian sensitif nya.

"Ahhh... Bumantara," erangan Arumi sperti pertanda bahwa ia berhasil membuat gadis itu mendapat kan pelepasan pertamanya.

Bumantara menyudahi aksi liarnya, ia menatap wajah Arumi yang mata nya terpejam, bahkan napas gadis itu masih terengah-engah.

"Kamu sangat seksi, sayang." Bumantara mengecup ujung hidung Arumi yang kecil, "sekarang kita istirahat. Hmm."

Bumantara bangun dari duduknya, ia melangkah kan kaki nya kearah kamar Arumi, meninggalkan Arumi yang masih mengatur napas beserta tatapan sayu gadis itu.

"Sayang, tisu basah nya ada dimana?!"

Bumantara kembali menengok kearah Arumi yang mencoba menutup tubuh polosnya.

Tadi ia ke kamar Arumi, ia hanya ingin mencari tisu atau apa pun yang bisa mengelap tubuh Arumi yang berkeringat, karena tidak mungkin ia membiarkan gadis itu tidur dalam keadaan yang tak nyaman.

Arumi menunjukkan arah bawah lemari tv, "disana."

Bumantara mengikuti arah jari tangan Arumi dan mengangguk, "jangan gunakan pakaian itu," perintah Bumantara.

Ia berjalan kembali kearah dekat tv, membuka laci lalu mengambil barang yang ia cari.

"Sini... aku bantu bersihin dulu."

Bumantara mencoba kembali melepas kan pakaian Arumi yang hanya dia tempelkan ke tubuhnya.

"Ehh..." Arumi tersentak, membuat ia tidak sengaja mengencangkan pegangan kain yang hanya menutup bagian atas nya saja — bahkan belakang dan pinggiran masih terlihat.

Bumantara menatap wajah Arumi yang sudah memerah karena malu, ia terkekeh, lalu kembali mendekati wajah Arumi dan menindih tubuh Arumi yang masih berbaring.

"Malu hmmm," goda Bumantara, menatap kearah mata Arumi yang selalu menghindari nya, "aku sudah melihat semuanya, sayang."

Mendengar godaan Bumantara yang kembali membuat nya malu, Arumi dengan cepat menepuk dada Bumantara dan mendorong nya menjauh.

"Bicara apa kamu. Sini tisu nya, aku bisa bersihin sendiri," dengus Arumi sambil bangun — bahkan kain tipis itu masih ia pegang dengan erat di dada nya, ia mencoba mengambil tisu yang ada di sebelah Bumantara.

"Tidak," tolak Bumantara dengan cepat mengambil benda tipis itu, "biar aku saja. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatan yang aku lakukan."

Bumantara menyingkapi kain tipis itu, lalu menatap manik hitam itu yang sedang terbelalak — seakan tidak percaya dengan ketangkasan tangan Bumantara dalam bergerak.

Bumantara terkekeh, "agak aneh kamu malu saat aku tadi dengan leluasa memainkan nya. Bahkan aku membuat kamu menemui titik kenyamanan karena pelepasan yang hanya bisa aku gunakan dengan mulut saja."

Arumi semakin tambah malu saat mendengar perkataan aneh Bumantara.

"Jangan dilihat..." Arumi berteriak malu, seraya berusaha menutup bagian feminim nya dengan tangan kecil nya.

Ia malu saat Bumantara menatap benda miliknya dengan tatapan yang seperti memuja, padahal tadi ia membiarkan Bumantara bermain di bawah sana — bahkan memakan nya hingga membuat ia kelepasan.

Bumantara menghela napas dengan berat, lalu mencoba menyingkirkan telapak tangan kecil itu, "baiklah, baiklah. Ayo kita bersih kan dengan cepat... karena kita harus istirahat. Meski besok hari libur."

Akhir nya Arumi membiarkan Bumantara membersihkan miliknya, meski sesekali ia harus menahan napas karena jari-jari Bumantara tidak bisa diam — jari itu selalu saja seperti dengan sengaja menyentil benda sensitif nya, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar suara lenguhan nya tidak keluar dari mulutnya, sehingga nanti bisa mengundang Bumantara yang terlihat sedang menahan dirinya.

"Oke, sudah..." Bumantara menegakkan tubuhnya, lalu menghembuskan napas panjang, menatap wajah cantik gadis itu yang memerah seperti tomat matang.

Ia menyentuh pipi Arumi dengan lembut, lalu menjepit dagu itu untuk mendongak menatap nya. "Lain kali bukan hanya mulut ku saja yang bekerja, tapi juga dia..."

Bumantara mengambil tangan kanan Arumi, lalu meletakkan tangan lembut itu di benda milik nya yang terasa menegangkan.

Arumi tersentak, mulut kecil nya terbuka, mata nya terbelalak membesar saat merasakan benda di balik celana.

"Buma," lirih Arumi lembut.

"Sepertinya kamu sudah bisa merasakan bentuk dan kekerasan nya, sayang."

——

——

Bersambung...

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!