Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 19
Mayoritas guru sudah berkumpul di kantor,terkecuali guru yang memang sudah punya jadwal lain yang tidak bisa di cancel.Karna memang,pelaksanaan rapat
rutin ini secara mendadak.Yang biasanya di adakan setiap akhir bulan,tapi kepala Madrasah meminta di laksanakan hari ini.Sepuluh hari lebih awal dari jadwal
biasanya.
Dan pemberiatauan rapat pun sangat mepet,yakni tadi pagi,maka wajar jika ada beberapa guru yang berhalangan hadir,karna memang memiliki kesibukan lain yang tak bisa di tangguhkan.
" Maaf ,saya terlambat "Ibrahim Adlan Fanani melempar senyum ramah pada semuanya.Ia melangkah tenang menuju kursi Kepala Madrasah.
Saat ini memang sudah lewat lima belas menit dari jadwal biasanya rapat di mulai.
Selanjutnya pemuda tampan itupun mulai memimpin rapat yang ber-agendakan seperti biasanya,yaitu evaluasi dalam sebulan terakhir tentang program belajar mengajar di Madrasah Tsanawiyah Al-Falah.
Dimana para guru sama-sama berperan aktif dalam mengusulkan pendapat maupun memberi solusi bilamana terdapat kendala dalam penerapan kegiatan belajar mengajar.
Dan tahap berikutnya adalah,laporan-laporan dari beberapa guru yang memiliki rangkap jabatan tak hanya sebagai Guru,seperti Wali Kelas,Bendahara,
Guru BP dan sebagainya,terkait dengan tugas-tugas mereka dalam jabatan tersebut.
" Najwa Aulia!!"
Sudah dua kali Ibrahim Adlan menyebut namanya,mempersilahkan gadis itu memberikan laporan kaitan tugasnya sebagai wali kelas delapan.Namun gadis itu tetap diam,ia tengah fokus dengan dirinya dan menyisih dari yang lain,terlihat dari tatapannya yang kosong.
Beberapa pasang mata pun melihat ke arahnya,termasuk Ibrahim Adlan sendiri.
Nafisah pun mengingatkan sahabatnya itu
"Najwa!!" Nafisah mengkibas-kibaskan tangannya di
depan wajah Najwa sambil memanggil
" Hallo Nyonya Irfan!!"
Barulah Najwa Aulia tersentak dan tersenyum.
" Diihh ,,dari tadi di panggil-panggil gak dengar,giliran di sebut nama tunangannya saja langsung senyum.."
Nafisah meledek.
" Apa sichh?"Gadis itu mengelak dengan senyum.
" Ckk,aku cemburu " terdengar suara Pak.Adnan yang lalu di iringi gelak tawa yang lain.
" Hmmm" tawa mereka pun berhenti hanya dengan
deheman kecil Ibrahim Adlan.
"Silahkan,! laporannya" perintahnya pada Najwa Aulia.Gadis itu sigap menyampaikan apa yang perlu di sampaikan yang sejauh ini belum ada keluhan dan masukan yang berarti.
" Saya ingin menyampaikan sebuah berita gembira" ujar Ibrahim Adlan sebelum mengakhiri rapat itu " Ini mengenai Bapak Irham Abidin,bahwa beliau kesehatannya sudah semakin membaik,kita bisa berharap agar beliau bisa segera kembali memimpin kita lagi."
" Alhamdulillahh "semua serempak bersyukur.
" Dengan ini pula,saya meminta maaf dan mengucapkan terima kasih pada teman-teman semua selama saya menggantikan tugas Pak.Irham di sini," Pemuda tampan itu sejenak menjeda ucapannya
dan menatap ke arah semuanya.
"Saya yang masih sangat banyak kekurangan,dan teman-teman bersedia mendukung saya,saya sangat
mengapresiasi itu semua..Terima Kasih.." Ibrahim Adlan sedikit menundukkan pundaknya sebagai bentuk expresi terima kasihnya itu.
"Dan selanjutnya,saya menyerahkan tugas-tugas Kepala Sekolah kepada Kak Fadil selaku wakil untuk melaksanakan kedepannya,sampai Pak.Irham Abidin kembali.." ucapan pemuda tampan itu membuat mereka semua saling pandang.
"Kenapa Ra?" Fadil cepat bertanya.
" Dalam beberapa waktu ke depan saya akan mempunyai kesibukan,yang akan membuat saya tidak cukup punya waktu untuk melaksanakan tugas di sini".jawabnya.
Ada beberapa gurat kecewa terlihat dari beberapa yang hadir di situ,namun Ibrahim Adlan tak memberikan kesempatan untuk mereka bertanya lagi,karna ia segera menutup rapat itu dengan salam.Namun demikian, ia masih duduk di kursinya memeriksa beberapa berkas-sebelum di serahkan kepada Ust Fadil.
Dan guru yang lainpun masih belum ada yang beranjak,mereka masih berbicara lirih terkait rapat barusan..ketika lalu terdengar panggilan masuk di ponsel Ibrahim Adlan yang di letakkan di atas meja.
Semua mendengar ketika ia mengangkat telp itu,dan semua melihat ketika ia lalu berjalan ke arah Najwa Aulia.
" Najwa!"
" Ee ia Ra.."
Ibrahim Adlan menyerahkan ponsel di tangannya.
" Mas Irfan ingin bicara denganmu "
Najwa Aulia menerima ponsel itu,beberapa yang lain menggodanya .Karnanya Najwa memilih keluar dari kantor untuk menerima panggilan dari calon suaminya itu.
" Kenapa "? Nafisa berbisik lirih pada Kamila.
" Apa Mbak?" Kamila balik tanya.
"Melihat terus"..Nafisa sudah beberapa kali memergoki Kamila menatap ke arah Ibrahim Adlan,entah pemuda tampan itu menyadarinya atau tidak.
" Mungkin saja,gak akan ada kesempatan lagi untuk melihat,jadi di puas puasin "sahut Kamila.
" Memang kenapa ?"
" Barusan beliau bilang,gak akan ada waktu lagi di sini kan ?""
" Jadi serius nihh?"
" Apanya?" Kamila malah balik tanya.
" Kamu dengan perasaanmu " Nafisa menatap Kamila intens.
" Sepertinya serius,,tapi mundur sebelum bertempur." Kamila menampakkan wajah lesu.Dan acara bisik-bisik lirih keduanya itu terhenti,ketika Ibrahim Adlan bangkit meninggalkn ruangan kantor.
***
Ibrahim Adlan Fanani hanya berdiri saja di samping aula.Kakinya seolah terasa berat untuk teruskan langkahnya pulang ke kediamannya seperti rencana semula.Ia mengedarkan pandang ke sekeliling yang cukup sepi, karna jam pelajaran memang tlah kembali di mulai.
Entah sudah berapa menit ia berdiri di situ,ketika lalu terdengar Najwa Aulia menyapanya lembut
" Ra Adlan "
Ibrahim Adlan menoleh melihat gadis ayu itu .Najwa memberikan handfhon di tangannya.
" Ma'af Ra,"ujar gadis itu dengan suara lirih.
" Ma'af untuk apa ?"
" Agak kurang pantas rasanya,Mas Irfan bicara dengan saya melalui handfhon anda,tapi handfhon saya ketinggalan di rumah.jadi..."
" Mas Irfan itu kakakku." Ibrahim Adlan memotong ucapan Najwa. " Kau tidak perlu merasa sungkan." ujarnya lagi.
Najwa mengangguk dengan senyum
"Terima kasih." Najwa hendak berlalu.namun..
" Najwa " pemuda tampan itu mengulurkan tangannya ke arah Najwa untuk menyalami gadis itu
" Selamat ya,atas pertunangannya dengan Mas Irfan"
Najwa terpana.Sejenak ia tak tau harus berbuat apa.Ia terlihat gugup.Kemudian meski dengan ragu,ia pun menjabat tangan itu.Jantungnya berdetak ketika Ibrahim Adlan menggenggam tangannya lembut.
" Semoga Mas Irfan,dapat memberikanmu kebahagiaan yang sempurna " pemuda tampan itu menatap Najwa dalam.Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu.
" Maaf ya..aku sedikit terlambat mengucapkan ini,karna aku memang baru bisa mengucapkannya saat ini " Ibrahim Adlan melepaskan genggaman tangannya.Bahasanya tak lagi seperti biasanya.dimana ia selalu menyebut "Saya"untuk dirinya sendiri.
" Ia .Terima kasih." Najwa menjawab dengan suara lirih sambil menunduk.
"Sekalian aku mau pamitan,besok lusa aku akan berangkat untuk meneruskan study ku ke Ummul Quroo Makkah."..
"Apa ?" Najwa kaget terdongak
" Bukannya anda masih akan berangkat sebulan lagi Ra?" Najwa tau hal itu karna Bunyai sendiri yang memberitau bahwa putranya itu akan berangkat ke Arab Saudi setelah pernikahannya dengan Irfan Zidni.
" Awalnya ia.Tapi aku akan mempercepat keberangkatanku "
" Ke.. kenapa Ra?" suara Najwa terdengar bergetar.
Pemuda tampan itu menggeleng kecil,tatapnnya menyapu wajah ayu di depannya.
"Karnamu Najwa. karna aku tak sanggup melihatmu bersanding dengan Kakakku." Kata itu hanya mengalir dalam hatinya saja.
" Kalau kamu ada waktu,tolong bawa aku dalam Doamu,walau hanya untuk satu kali saja" Ibrahim Adlan menatap lekat manik mata Najwa,dan bergetarlah jiwa gadis itu mendengarnya.Terasa gemuruh di dadanya,memuncak pada sepasang matanya yang lalu berkaca kaca.Dan tak lama jatuhlah titik bening dari sepasang mata teduhnya,di iringi titik-titik bening berikutnya.
Najwa Aulia menangis,dan ia tak tau kenapa ia harus menangis.Kenapa ucapan Ibrahim Adlan itu mampu mengeluarkan air matanya.Ia hanya merasa begitu sedih.Dalam sesaat kesedihan itu rata menyapu jiwanya.
Meski sangat ingin menghapus air mata Najwa Aulia,namun Ibrahim Adlan menahan dirinya.Ia hanya memuaskan dirinya menatap wajah ayu itu saja,untuk terakhir kalinya.
" Jaga dirimu baik-baik Najwa Aulia..aku pamit,Assalamu alaikum. " Ibrahim Adlan meneguhkan hatinya ,melangkah meninggalkan Najwa yang kian tak mampu membendung tangisnya.
nangiss bombay malam2 😭😭