Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Menikah Besok Malam
Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun, mereka masih belum mendapatkan keputusan ini.
"Menikah siri itu bisa merugikan pihak perempuan," ujar Zaky memberi nasehat setelah keheningan terjadi.
"Betul," sahut Mia.
Begitu percayanya Laras pada Zaky dan Mia. Meskipun ia ingin menangis menghadapi situasi saat ini, tetapi ia tidak bisa berontak, apalagi menolak keras. Ia hanya mengikuti apapun yang akan menjadi keputusan ini, terutama dari Kenzie.
"Kalau menikah siri, bagaimana pandangan tetanggamu? apa kamu siap jadi bahan cemoohan mereka?" tanya Mia pada Kenzie.
"Saya khawatir hal itu terjadi pada kalian," imbuhnya.
"Maaf Tante, karena kami masih tahap pengenalan setelah baru saling memaafkan ini, kami mohon hanya pihak keluarga saja yang tau tentang pernikahan ini. Mungkin hanya ketua RT saja yang diperlukan. Dan, kalaupun tetangga pada tau ya nggak apa-apa, kalau mereka berburuk sangka tentang hamil diluar nikah, ya tinggal lihat saja kedepannya." jawab Kenzie.
"Kalau ternyata dalam menjalani itu kami semakin cocok, kami pasti akan segera meresmikannya." sahut Kenzo agar mereka yakin bahwa dirinya dan Kenzie benar-benar sudah saling sepakat dalam membuat keputusan.
"Kami juga perlu waktu untuk menyelesaikan kisah kita masing-masing," timpal Kenzie agar orangtua mereka semakin percaya walaupun ia menyadari jawabannya yang terasa tidak sopan.
Alasan itu ternyata membuat orangtua mereka merenung, mereka lupa ada kisah di masing-masing kehidupan mereka yang perlu penyelesaian.
Membahas perjodohan ternyata tidaklah segampang yang dibayangkan. Dua jam berlalu masih belum menemukan titik terang.
"Kalau begitu menikah besok malam di penghulu tempat kita!" ujar Zaky langsung membuat pecah keheningan.
"BESOK?!"
Kenzo dan Kenzie langsung saling menatap setelah sama-sama terkaget-kaget.
"Lebih cepat lebih baik 'kan?" tanya Zaky.
"Yang penting anak saya jangan disakiti, Pak, Mbak." pinta Laras.
"Saya yakin Kenzo tidak berani macam-macam," jawab Mia meyakinkan Laras.
Kenzie dan Kenzo kembali berperang dengan pikirannya masing-masing. Menuruti kemauan orangtua bukan berarti harus secepat itu.
"Keputusan ada di kamu, Kenzo!" ujar Zaky pelan, namun, terdengar menekannya.
Kenzo menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan mata terpejam.
"Baiklah, besok menikah."
"Kamu jangan main-main, Kenzo!" protes Kenzie.
"Kenzie, tujuan ini tetap sama 'kan?" balas Kenzo.
"Besok atau kapanpun, kita masih sama-sama belum ada rasa cinta untuk memulai pernikahan ini. Tapi, ya terserahmu aja deh," timpal Kenzo.
Lirikan mata Kenzie mengartikan kekesalan pada laki-laki itu. Namun, kemudian ia merenungkan kembali mengenai apa yang sudah ia bahas bersama Kenzo sebelum kembali masuk ke rumah sampai menemukan kesepakatan.
"Awas kamu!" bathin Kenzie.
"Ya sudah, saya berusaha ikuti keputusan Kenzo," ujar Kenzie.
Akhirnya Mia dan Zaky tersenyum lebar mendengar keputusan Kenzo dan Kenzie.
"Oke, besok kalian siap-siap, untuk urusan lainnya biar saya yang urus." ujar Zaky.
Kenzie mengangguk.
"Maaf, saya mau ke kamar dulu." ujar Kenzie yang sudah ingin mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Kenzie langsung bergegas meninggalkan ruang tamu.
"Maaf Pak Zaky, Mbak Mia ... anak-anak kita perlu waktu," ucap Laras.
"Oh ya, tidak masalah. Mereka memang perlu menenangkan diri," jawab Zaky dengan santai.
Setelah melihat Kenzie pergi, Kenzo pun juga bergegas ke mobil.
"Kita sudah dapat kesimpulannya, sebaiknya kita istirahat untuk persiapan hari besok." ujar Zaky.
"Besok siang pihak kami yang akan menjemput kalian, kurang lebihnya jam 4 sore berangkat dari sini," lanjut Zaky.
"Terima kasih, Pak." ucap Laras.
Keluarga Kenzo berpamitan karena sudah semakin malam. Mereka menyadari sudah mengganggu waktu istirahat Laras dan Kenzie. Setelah keputusan sesuai dengan harapan, Zaky dan Mia pulang ke rumah dengan wajah sumringah. Berbeda dengan Kenzo yang terlihat murung, ia selalu menatap ke luar dengan segala keriuhan yang penuh di kepalanya.
Keluarga Kenzo memang bukan orang terkaya, tetapi juga memiliki kekayaan yang cukup besar. Tidak heran jika memiliki gambaran jelas untuk memberikan modal dalam mewujudkan cita-cita Kenzo. Tetapi juga dipastikan akan mendapatkan sponsor dari seseorang.
Saat tiba di kediamannya, Kenzo langsung turun dengan langkah kaki yang cepat.
"Aku mau langsung istirahat Pa, Ma," ujar Kenzo saat di ruang tamu.
Mia mengangguk sambil mengusap lengan putra sulungnya itu. Ia memahami perasaan putranya, namun, ia yakin upayanya ini tidaklah salah.
...
Suara gemericik air sisa hujan semalam membuat Kenzie malas beranjak dari tempat tidurnya. Setelah terbangun, ia tidak bisa melanjutkan tidurnya karena terus-menerus memikirkan pernikahan yang jauh dari angan-angannya.
"Pernikahan ini bukan impianku!"
"Demi ibu," lanjutnya bergumam.
Lamunan Kenzie disadarkan oleh suara ketukan pintu.
"Ya Bu, sudah bangun!" seru Kenzie agar ibunya mendengar.
Suara ketukan pintu sudah berhenti. Kenzie melihat jam di mejanya, lalu berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden.
"Dingin banget,"
Dinihari tadi angin kencang kembali datang dan hujan turun. Saat ini memang masih memasuki musim penghujan.
Dengan outfit kaos oblong dan celana kolornya, Kenzie keluar dari kamar untuk menemui ibunya.
"Bu, apa aku mimpi?" tanya Kenzie yang sudah berdiri disebelah ibunya. Matanya pun masih terlihat sembab.
"Kenzie ..,"
Laras memeluk putrinya itu seraya meminta maaf, "Ibu minta maaf, nak."
Kenzie kembali menangis mendengar ucapan permintaan maaf yang ke sekian kalinya dari sang ibu.
"Kalau nanti aku sudah menikah, Ibu harus janji nggak akan aneh-aneh lagi. Kalau memang mau nikah, ya nikah aja. Jangan pacar-pacaran yang tidak jelas, aku malu!"
Laras mengangguk, ia mengaku bersalah sehingga tidak ada yang perlu diperjelas lagi. Beberapa tahun yang lalu dirinya seperti berada di fase puber kedua.
Laras dan Kenzie sempat berseteru gara-gara hal itu. Kenzie sebagai anak gadis menerima dampak dari apa yang dilakukan ibunya. Kenzie sempat marah ketika melihat gaya pacaran ibunya yang tidak sewajarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Laras menyadari setelah ia dikecewakan lagi oleh seorang pria yang usianya lebih muda darinya.
---
"GIL4 gue nikah sama anak itu! benar-benar plot twist!" gumam Kenzo masih belum bisa percaya dengan alur ceritanya.
"Kalau nggak demi modal dari bapak, mana mau gue!"
Kenzo menghisap rokoknya di pinggir jendela kamarnya sembari memejamkan mata.
Persaingan dan saling dendam di masa remaja masih terbawa hingga sekarang. Baik Kenzo ataupun Kenzie sama-sama masih menyimpan rapi memori itu. Namun, dunia terasa sangat sempit sehingga membuat mereka dipertemukan lagi dan akan menikah.
"Zo, sarapan dulu, nak!" panggil Mia setelah mengetuk pintu kamar putranya.
"Iya Ma!" jawab Kenzo juga menaikkan volume suaranya.
Suara ibunya sudah tidak terdengar lagi. Kenzo masih merenung sembari menatap awan. Jika di wilayah Kenzie turun hujan, di wilayah Kenzo hanya gerimis kecil dan sekarang sudah reda, hanya menyisakan mendung.
"Kenapa gue nggak minta nomornya!" omel Kenzo pada dirinya sendiri.
Masih ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan Kenzie agar terlihat kompak meskipun menyimpan kompromi. Namun, justru tidak terpikirkan untuk meminta nomor ponsel ketika berdekatan.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍