NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Perintah Berselubung Perhatian

Sejak insiden kotak makan merah pastel dan larangan keras Vino untuk mengerjakan tugas rumah yang berat, suasana di antara Aira dan Vino berubah menjadi canggung. Aira masih belum sepenuhnya mencerna perubahan sikap cowok itu. Di satu sisi, bisikan manis Darel tentang Vino yang "cuma gengsi dan kasihan" masih menempel di ingatannya. Namun di sisi lain, tindakan Vino belakangan ini justru makin ganjil.

Pagi itu di SMA Nusa Bangsa, Aira baru saja meletakkan tasnya di atas meja kelas. Saat ia hendak melangkah keluar menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku, sosok tegap Vino sudah berdiri di ambang pintu kelasnya dengan tangan masuk ke dalam saku celana.

Beberapa siswa yang melintas di koridor refleks memberi jalan, takut berurusan dengan Vino yang dikenal pemarah dan angkuh.

"Aira," panggil Vino singkat. Nadanya masih sama seperti biasa—dingin, datar, dan terkesan memerintah.

Aira tersentak pelan. "I—iya, Vin? Ada apa?"

"Sini," usap Vino pada tengkuknya, lalu mengibaskan tangannya memberi sinyal agar Aira mendekat. "Lu ikut gue ke kantin sekarang."

Aira memiringkan kepalanya bingung. "Tapi aku mau ke perpustakaan sebentar, Vin. Mau balikin buku pelajaran—"

"Siapa yang izinin lu ke perpustakaan?" potong Vino cepat dengan dahi berkerut tajam, menyembunyikan rasa canggungnya di balik wajah galak. "Buku gampang, nanti gue yang suruh anak lain balikin. Sekarang lu ikut gue. Beliin gue teh botol dingin sama bawain tas olahraga gue di loker. Cepat."

Aira menghela napas pelan, menundukkan kepala pasrah. Sifat suka nyuruh-nyuruhnya emang gak pernah hilang, batin Aira. Tapi anehnya, kali ini tidak ada nada hinaan atau cemoohan dari mulut Vino seperti dulu.

"Iya, Vin..." sahut Aira pelan, menguntit langkah kaki Vino yang lebar menuju area kantin utama.

Sesampainya di kantin yang mulai ramai oleh anak-anak kelas 12, Vino memilih meja paling sudut—area yang cukup luas dan sepi dari kerumunan.

Vino mendudukkan dirinya dengan santai, lalu menunjuk kursi kosong di sebelahnya dengan dagunya.

"Duduk," suruh Vino tegas saat melihat Aira berdiri kikuk di samping meja.

"Katanya mau dibeliin teh botol?" tanya Aira polos.

"Nanti. Duduk dulu di sini, jangan kemana-mana," potong Vino seraya menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Wajahnya dipasang sedatar mungkin, padahal matanya terus bergerak mengawasi area sekitar kantin—memastikan tidak ada cowok lain atau Darel yang berkeliaran di dekat mereka.

Aira akhirnya duduk pelan di samping Vino. Jarak mereka yang hanya terpaut belasan sentimeter membuat Aira bisa mencium aroma samar minyak wangi maskulin yang biasa dipakai Vino. Jantung Aira berdegup agak cepat tanpa alasan yang jelas.

Tak lama kemudian, seorang siswa laki-laki dari kelas sebelah berjalan melintas sambil membawa beberapa mangkuk bakso, lalu tak sengaja menatap Aira agak lama.

Vino yang menyadari hal itu seketika melemparkan tatapan tajam dan dingin ke arah siswa tersebut, membuat cowok itu buru-buru menunduk dan berjalan terburu-buru menjauh.

Aira yang menyadari tatapan sengit Vino hanya bisa menggigit bibir bawahnya. "Vin... kamu kenapa sih ngeliatin orang kayak gitu?"

"Bukan urusan lu," sahut Vino cetus, berpaling muka ke arah lain dengan rona tipis yang samar di dekat telinganya. Vino lalu merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan, dan menyodorkannya ke depan Aira.

"Nih," kata Vino dengan gaya angkuhnya. "Beliin teh botol gue. Sisa uangnya lu beliin roti atau bakso terserah lu. Tapi habisin, awas kalau gak lu makan. Bikin repot aja kalau lu pingsan lagi."

Aira menerima uang kertas itu dengan pandangan tak percaya. Tatapannya beralih dari uang di tangannya ke wajah Vino yang pura-pura sibuk memainkan ponselnya.

Dia nyuruh-nyuruh aku ke kantin... cuma buat memastikan aku sarapan? batin Aira, rasa hangat yang aneh perlahan merayapi dadanya.

Dari sudut lain koridor kantin, Darel berdiri menyender di dekat tiang bangunan dengan membawa setumpuk berkas OSIS.

Mata Darel menyipit tajam, memperhatikan bagaimana Aira yang tadinya tampak enggan, kini tersenyum tipis terhibur melihat tingkah canggung Vino. Senyuman Aira yang ditujukan untuk Vino itu terasa membakar dada Darel.

Darel meremas pinggiran berkas di tangannya hingga agak kusut. Senyuman manis nan manipulatif kembali terpasang di bibirnya saat ia mulai menyusun rencana berikutnya untuk menguji sejauh mana Aira termakan oleh taktik "perhatian kasar" dari Vino Pradipta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!