Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Titah Pengasingan
Dua hari setelah penobatan ratu baru, Permaisuri Lan Zifei terjatuh karena tersandung batu di depan aula pertemuan, perempuan itu langsung di gendong oleh raja Han Quan ke kamar kediamannya yang jarang di ijinkan di masuki orang lain.
" Sakit sekali Yang Mulia" Ringisnya Manja dalam pelukan raja saat lelaki gagah itu menggendong tubuhnya tanpa mengijinkan orang lain melakukannya. Han Quan yang membaringkan sendiri dia di atas tempat tidurnya dan melepaskan kasutnya, hal yang tak pernah dilakukan raja pada selir yang lain, bahkan mungkin ratu sebelumnya tak pernah diperlakukan seperti itu.
"Panggilkan tabib istana." Perintah raja Han Quan pada Kasim pribadinya, tetapi Lan Zifey menahan lengan raja dengan sigap.
" Tidak perlu Yang Mulia..." suaranya terdengar lembut menghiba, tanpa menghilangkan nada manjanya yang merayu.
"Ini hanya memar biasa, karena tersandung, tidak perlu sampai memanggil tabib. Usapan tangan Yang Mulia sudah cukup untuk menyembuhkannya." Detik berikutnya dia memeluk lengan raja Han Quan dengan sikap seperti seekor kucing yang menggeliat di tangan tuannya.
Raja Han Quan, menatap lembut perempuan yang terasa sangat menenangkannya setelah dia menjauhkan diri dari Wang Laoyin, perempuan yang selama ini sangat dicintainya tetapi telah mengkhianatinya dengan pengawal rendahan yang sangat melukai harga dirinya sebagai orang yang sangat mulia di mata semua orang di negara besar Weiyang.
" Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu beristirahat di kamarku sampai kakimu membaik. Aku akan menemanimu" Yang Mulia mengusap rambut Lan Zifey dengan penuh kasih sayang.
"Ambilkan sebaskom air angkat dan kain handuk." Dia memerintahkan seorang pelayan, lalu dengan tangannya sendiri dia mengompres buku kaki Lan Zifey.
"Aduuuh, pelan-pelan Yang Mulia..." Lan Zifey meringis setengah merengek, tetapi nadanya sungguh manja menggoda malah. Membuat raja Han Quan terlihat kuatir sekaligus bergairah. Lan Zifey benar-benar piawai mengambil hati raja yang sedang dilanda kelukaan harga diri oleh perbuatan Wang Laoyin.
"Sungguh tiada ku sangka Yang Mulia, kenapa kakak Wang tega mengkhianati suami selembut dan penuh kasih seperti Yang Mulia..."Desisnya lirih sambil meringis membuat Han Quan sejenak menghentikan kesibukannya mengompres kaki Lan Zifey.
"Yang Mulia, suami sebaikmu bahkan lebih berharga dari apapun di bawah kolong langit ini, akan ku persembahkan semua yang ada pada diriku sampai nyawaku untuk menjaga kehormatan suami seperti Yang Mulia..." lalu di detik berikut Zifey menarik kakinya dan merangkak kepada Raja yang masih mematung di dekat kakinya.
Di ambilnya handuk kecil dari tangan Han Quan. Dilepasnya dengan sembarangan ke lantai, lalu dengan berani di raihnya leher Han Quan, menekan bibirnya yang merah merona itu pada bibir beku Han Quan.
"Ratumu ini tak akan mengecewakanmu, seperti yang sudah dilakukan ratu terdahulu pada Yang Mulia" Setengah terengah dan tak sabar dia berucap seraya menyesap bibir itu seperti menikmati madu yang sangat manis.
Jemari Zifey begitu terampil menyusup dibalik jubah sang raja, menggerayanginya seperti memainkan kuas dan menjadikan kulit dada bidang sang raja seperti kanvas lukisan.
"Akh..." Nafas Han Quan mulai tidak teratur, tangan Yang mulia mulai naik kepunggung Lan Zifey, menekan tubuh Zifey supaya merapat pada tubuhnya yang mulai memanas. Zifey melenguh selayak rusa yang siap disembelih, tatapannya nanar saat Yang Mulia mulai melepas gaun sutera di balik jubah yang sudah sedari dia dibaringkan ke ranjang itu tadi sudah dilepaskan.
"Yang Mulia...Yang Mulia...aku mencintaimu..." Kepalanya terlihat mendongak pasrah ketika kepala raja itu turun dari wajah ke lehernya.
"Yang Mulia, apa Yang dicari istri selain dipeluk suaminya sendiri seperti ini, tak bisa kubayangkan jika menyerahkan diri pada orang lain... tak ada yang lebih pantas diberikan kepada seorang istri yang telah mengkhianati suaminya selain sebuah hukuman..."Kalimat penuh provokator yang di ucapkan dengan nada pasrah penuh gairah itu benar-benar membakar jiwa raja, membara antara kemarahan, kemurkaan dan gairah yang meluap-luap merasa di puja dan direndahkan dalam waktu yang sama.
...***...
Pagi ketika titah pengasingan itu tiba, langit di atas Istana Weishan tampak kelabu seperti kain berkabung yang dibentangkan oleh tangan takdir.
Kabut tebal menyelimuti menara-menara pengawas, menggantung di atas atap genting berwarna keemasan, lalu merayap turun ke taman kerajaan yang dipenuhi pohon prem. Embun membasahi batu-batu jalan, sementara angin musim dingin menyusup melalui lorong-lorong panjang, menggoyangkan tirai sutra merah yang tergantung di bawah atap berukir naga.
Istana itu tetap megah.
Pilar-pilar merahnya tetap menjulang. Patung-patung naga di tangga Aula Naga Emas tetap mencengkeram bola giok. Lentera-lentera kerajaan tetap menyala, seakan-akan tidak ada sesuatu pun yang berubah sejak Wang Laoyin kehilangan mahkotanya.
Namun, bagi perempuan yang kini dikurung di Paviliun Fengyi itu, setiap sudut istana telah menjelma menjadi saksi pengkhianatan.
Di tempat itulah ia pernah berjalan dengan kepala tegak, disambut para pelayan yang membungkuk hormat. Di taman itulah Raja Han Quan pernah menggenggam tangannya, berjanji bahwa mereka akan menghadapi segala kesulitan bersama-sama. Di aula-aula megah itulah ia menjalankan kewajibannya sebagai Permaisuri, menjaga keharmonisan kediaman dalam dan melindungi mereka yang tidak memiliki kekuasaan.
Kini, orang yang sama telah kehilangan hak untuk menentukan ke mana ia boleh melangkah.
Ia bahkan tidak lagi berhak membuka pintu kamarnya tanpa pengawasan.
Dan pagi itu, sebuah titah baru sedang dibawa menuju paviliunnya.
Titah yang akan memutuskan hubungan terakhirnya dengan kehidupan yang pernah ia kenal.
...***...
Raja Han Quan mengenakan jubah hitam kebiruan bersulam naga emas. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tetap keras. Sejak pengangkatan Lan Zifey sebagai Ratu, para pejabat terus mengajukan laporan mengenai ketertiban istana, suksesi kerajaan, dan desas-desus yang mulai menyebar di antara keluarga bangsawan. Sebagian besar menyarankan agar perkara Wang Laoyin segera diakhiri.
Mereka berpendapat bahwa selama perempuan itu masih berada di dalam istana, setiap keputusan Raja akan terus dipertanyakan. Para pejabat akan membicarakan surat palsu, kematian Shen Rui, dan pertentangan kesaksian yang belum terpecahkan. Jika Wang Laoyin tetap berada di Paviliun Fengyi, ia mungkin masih memiliki kesempatan untuk berbicara dengan para pelayan atau memengaruhi orang-orang yang bersimpati kepadanya.
Bagi mereka, pengasingan adalah jalan paling mudah untuk mengakhiri kegaduhan.
Bagi Wang Laoyin, pengasingan berarti hukuman tanpa pengadilan.
Pejabat Qian Bei berdiri di hadapan meja Raja dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Yang Mulia,” katanya, “demi ketenteraman kerajaan, hamba menyarankan agar perkara Wang Laoyin diselesaikan melalui pengasingan ke Kuil Qingyun. Tempat itu jauh dari ibu kota, berada di sebuah lembah terpencil yang dikelilingi pegunungan. Para biksuni di sana hidup dalam kesederhanaan dan tidak terlibat dalam urusan politik istana.”
Raja Han Quan mengangkat wajah.
“Kau mengusulkan agar ia menjadi biksuni?”
“Benar, Yang Mulia.”
Qian Bei menundukkan kepala.
“Dengan menjalani kehidupan keagamaan, Wang Laoyin tidak lagi menjadi pusat perhatian para bangsawan. Ia dapat meninggalkan kemewahan istana, menenangkan pikirannya, dan merenungkan kesalahan yang mungkin telah dilakukannya. Sementara itu, urusan kerajaan dapat berjalan tanpa gangguan.”
Kata-kata merenungkan kesalahan terdengar begitu halus. Namun, di baliknya tersimpan tuduhan yang belum terbukti. Qian Bei tidak mengatakan bahwa Wang Laoyin harus dihukum karena terbukti bersalah. Ia hanya menyarankan agar perempuan itu diasingkan supaya kerajaan dapat kembali tenang.
Dengan demikian, hukuman dapat dijatuhkan tanpa perlu menyelesaikan pertanyaan yang paling penting: apa yang sebenarnya terjadi pada malam Shen Rui meninggal?
Raja Han Quan memandang peta di atas meja.
Kuil Qingyun terletak di wilayah pegunungan barat laut, jauh dari jalan utama dan permukiman besar. Untuk mencapai tempat itu, seseorang harus melewati jalan berbatu, hutan pinus, jembatan kayu tua, dan jalur sempit yang berkelok di antara tebing. Musim dingin di sana panjang.
Udara pagi sering turun hingga menggigit kulit. Kabut menutupi lembah selama berjam-jam, sedangkan hujan dapat membuat jalan-jalan gunung berubah menjadi aliran lumpur yang sulit dilalui.
Tempat itu cocok untuk pengasingan.
Jauh dari istana.
Jauh dari para pejabat.
Jauh dari siapa pun yang mungkin masih ingin mendengarkan penjelasan Wang Laoyin.
“Apakah ia akan diizinkan menerima kunjungan?” tanya Raja.
“Tidak tanpa izin kerajaan, Yang Mulia.”
“Apakah ia boleh mengirim surat?”
“Surat-suratnya harus diperiksa sebelum meninggalkan kuil.”
Raja terdiam.
Qian Bei menunggu dengan kepala tertunduk, menyembunyikan kesabaran seorang lelaki yang tahu bahwa keputusan yang diinginkannya hampir berada dalam genggaman.
Akhirnya, Raja Han Quan meletakkan tangannya di atas meja.
“Baiklah. Siapkan titah pengasingan. Wang Laoyin akan dibawa ke Kuil Qingyun dan menjalani kehidupan sebagai biksuni. Ia tidak boleh kembali ke Istana Weishan tanpa perintahku. Aku akan mengembalikannya ke istana sampai dia sadar dan situasi menjadi tenang.”
Qian Bei berlutut.
“Hamba menerima titah Yang Mulia.”
“Pastikan perjalanan berlangsung tanpa keributan. Aku tidak ingin rakyat mendengar cerita yang dapat merusak kewibawaan kerajaan.”
“Titah Yang Mulia akan dilaksanakan.”
Qian Bei membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Raja Han Quan tetap duduk di tempatnya. Ia memandang peta kerajaan, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Ia teringat wajah Wang Laoyin ketika menyerahkan mahkota phoenix. Perempuan itu tidak menangis, tidak memohon, dan tidak mengatakan bahwa ia masih mencintainya. Ia hanya menatapnya dengan kesedihan yang begitu dalam hingga Raja merasa seolah-olah dirinya sedang diadili oleh seseorang yang tidak memiliki kekuasaan apa pun. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pengasingan merupakan jalan terbaik. Jika Wang Laoyin benar-benar tidak bersalah, waktu akan membuktikannya. Jika ia bersalah, hukuman itu akan membuat istana kembali tenang.
Raja Han Quan memilih menganggap bahwa waktu akan menyelesaikan segala sesuatu yang tidak sanggup ia selesaikan sendiri. Ia tidak menyadari bahwa waktu tidak selalu menyembuhkan ketidakadilan.
Terkadang, waktu hanya memberi kesempatan kepada kebohongan untuk mengakar lebih dalam.
(Tuuuuh kan, panjaaaang bab ini othor bikin biar readers puas bacanya😄 bersambung yaaaa...)