Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Suara Di Kamar Indri
Galih menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja makan kayu yang kusam, memperhatikan Adit yang begitu menyantap mie rebus tersebut hingga tak menyisakan sebutir telur pun. Suasana dapur umum yang semula terasa canggung kini berubah melunak, diselimuti kehangatan interaksi antar sesama perantau di tanah orang.
Setelah meneguk habis segelas air putih hangat untuk menuntaskan makannya, Adit menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pria berbadan jangkung itu menghela napas panjang. Tatapannya menerawang jauh menatap sudut panci di kompor, seolah sedang memutar kembali kenangan pahit di kepalanya.
"Sebenarnya, Lih... aku terpuruk banget beberapa minggu belakangan ini bukan cuma karena belum dapat kerjaan," ujar Adit pelan. Suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan kekecewaan. "Aku baru aja putus sama pacarku. Padahal kami udah pacaran hampir tiga tahun, dari zaman aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini."
Galih menaikkan alisnya sedikit, mendengarkan dengan saksama. "Kenapa bisa putus, Mas? Kalau boleh tahu."
"Aku nggak bisa menyalahkan dia juga. Keadaanku cuma begini, tinggal di kosan sempit, nggak punya pekerjaan tetap, dan masa depan belum jelas. Sejak hari itu, aku berasa kehilangan arah. Mau ngapa-ngapain rasanya lemes, nggak semangat hidup, sampai-sampai buat cari makan pun aku malas," sahut Adit tersenyum getir, mengusap wajahnya yang tampak lelah.
Galih memandangi Adit dengan tatapan penuh simpati. Ia memang belum pernah merasakan yang namanya patah hati atau jatuh cinta, tetapi ia paham betul bagaimana rasanya berada di titik terendah kehidupan saat seluruh harapan seolah sirna.
"Mas Adit nggak boleh nyerah gitu aja," tutur Galih mencoba memberikan semangat dengan nada suaranya yang lembut namun mantap. "Hidup kita masih panjang, Mas. Jangan sampai masa depan Mas Adit hancur cuma karena orang yang udah memilih pergi. Nanti kalau Mas Adit udah berhasil dan sukses, pasti bakal ketemu orang yang jauh lebih baik dan mau menerima Mas apa adanya."
Galih menarik napas pelan, lalu memutuskan untuk membocorkan sedikit kisah kelamnya sendiri agar Adit tidak merasa menjadi orang yang paling apes di dunia. "Aku juga sama kok, Mas... Aku lari dari rumah karena hampir dibunuh sama ayah kandungku sendiri. Muka lebamku ini bekas pukulannya. Aku datang ke kota ini cuma bawa ijazah SMA dan uang seratus ribu rupiah pemberian ibuku. Tapi aku percaya, selama kita masih mau berusaha dan mau kerja keras, pasti selalu ada jalan."
Adit tertegun mendengar cerita Galih. Ia memandangi wajah memar pemuda di hadapannya itu dengan rasa takjub. Pria jangkung itu merasa tersentil, seorang anak muda berusia dua puluh tahun yang babak belur diterpa kekerasan keluarganya saja masih bisa berdiri tegap dan membagikan makanannya, sementara dirinya justru terpuruk hanya karena urusan asmara.
Adit tersenyum tulus, kali ini senyumannya terlihat jauh lebih hidup. "Kamu benar, Lih. Makasih banyak ya... Ucapanmu bikin mataku terbuka lagi."
Adit kemudian beranjak dari kursi sambil memegangi perutnya. "Aduh, perutku yang lapar diisi makanan panas mendadak mulas nih. Aku izin ke toilet sebentar ya, Lih."
"Iya, Mas. Silakan," sahut Galih seraya berdiri dari meja.
Karena Adit sudah ke kamar mandi dan rasa kantuk mulai menyerang matanya yang berat, Galih memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia melangkah santai menyusuri lorong kostan yang remang dan dingin.
Namun, saat langkah kakinya menyusuri papan kayu dan melintas tepat di depan kamar Indri, kamar di paling ujung lorong, sebuah bunyi dentuman keras mendadak terdengar dari dalam.
BRAKKK!
Bunyi benda kayu tebal yang roboh dihantam beban berat itu menggelegar nyaring, memecah kesunyian lorong malam. Tepat setelah dentuman tersebut, terdengar suara rintihan tertahan yang amat tercekik.
"Khhhkkk... mmmphhh..."
Galih seketika menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Perasaannya mendadak tidak enak. Tanpa membuang waktu lagi, Galih langsung mengetuk pintu kayu kamar Indri dengan kencang.
"Mbak Indri? Mbak Indri nggak apa-apa di dalam?!" panggil Galih cemas dengan nada panik.
Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan tali yang menegang dan rintihan napas yang semakin menghilang. Karena panik, Galih mencoba memutar gagang pintu. Beruntung bagi Indri, pintu kayu sederhana itu ternyata tidak terkunci dari dalam.
Begitu daun pintu terdorong terbuka, mata Galih membelalak sempurna. Pemandangan mengerikan di dalam kamar seketika membuat darahnya berdesir hebat dan tubuhnya membeku.
Di tengah ruangan, tubuh indah Indri tampak tergantung dan terombang-ambing di udara! Sebuah tali tambang kain yang diikatkan pada kerangka besi kipas plafon menjerat leher mulusnya dengan sangat erat. Wajah cantiknya yang pucat berubah membiru, matanya melotot menahan rasa sakit yang amat sangat saat pasokan udaranya terputus. Benda yang jatuh berdentum tadi tak lain adalah sebuah kursi kayu tinggi yang sengaja ia tendang untuk dijadikan pijakan bunuh diri!
"Mbak Indri!" jerit Galih refleks.
Melihat pemandangan horor itu, insting kemanusiaan Galih langsung mengambil alih tanpa berpikir panjang. Tanpa sempat memanggil siapa pun atau meminta bantuan, Galih langsung menghambur masuk menerobos kamar.
Galih bergegas merangkul erat kedua paha dan pinggul Indri dari bawah. Ia menggunakan seluruh tenaga di lengan dan bahunya untuk mengangkat tubuh wanita itu tinggi-tinggi ke udara, guna melonggarkan jeratan tali tambang dan memberi ruang udara bagi tenggorokan Indri.
"Tahan, Mbak! Tahan sebentar!" seru Galih berbisik panik dengan otot-otot lehernya yang menegang menahan bobot tubuh Indri.
Sambil menopang beban berat Indri dengan satu tangan yang gemetar hebat, tangan kiri Galih berjuang keras menjangkau simpul tali tambang kain di atas kepala Indri. Ia menarik dan mengurai ikatan yang tercekik ketat itu dengan sisa-sisa tenaganya hingga akhirnya simpul itu merenggang dan terlepas dari pengait plafon.
BRUGH!
Tubuh Indri ambruk seketika ke atas pangkuan Galih di atas lantai kayu. Wanita itu langsung terbatuk-batuk secara histeris, menghirup udara sebanyak-banyaknya seraya memegangi lehernya yang kini meninggalkan bekas jeratan merah kebiruan yang amat memilukan.
Galih terduduk lemas di lantai, menarik napas lega yang luar biasa seraya menyapu keringat dingin yang membasahi dahi dan pelipisnya. Nafasnya terengah-engah. "Mbak... Mbak Indri nggak apa-apa kan? Tenang, Mbak... Pelan-pelan ambil napasnya..."
Namun, bukannya mengucapkan terima kasih, Indri yang masih bersimpuh lemas di lantai justru menepis tangan Galih dengan sangat kasar. Mata cantiknya yang sembap dan merah oleh air mata menatap Galih dengan sorot amarah yang luar biasa pekat.
"Kenapa kamu tolongin aku, Hah?! Kenapa kamu harus ikut campur?!" jerit Indri menangis histeris seraya memukuli dada Galih secara kalap menggunakan kepalan tangannya.
"Biarkan aku mati! Aku cuma mau mati! Biarkan aku pergi dari dunia brengsek ini!" raung Indri makin menjadi-jadi, suaranya pecah tertahan oleh rasa perih di tenggorokannya.
Galih hanya bisa menahan pukulan-pukulan lemah wanita itu tanpa membalas. Di dalam kamar sempit yang remang itu, hanya ada mereka berdua. Galih memandangi sosok gadis cantik yang kini hancur lebur dan menangis meraung-raung di depannya, merasa bingung sekaligus iba mendalam atas beban hidup berat yang membuat Indri nekat ingin mengakhiri nyawanya sendiri.