Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Perempuan paruh baya itu buru-buru mengusap air matanya, lalu mematikan layar ponsel sebelum pemuda di hadapannya sempat melihat foto tersebut.
“Tidak apa-apa, nak. Bunda hanya teringat seseorang.”
Pemuda berbadan jangkung itu mendekat,lalu duduk di sampingnya. Tatapannya menyelidik wajah sang perempuan.
“Orang yang sama seperti yang sudah- sudah?” Tanya pemuda itu, pasalnya pemandangan seperti tadi sudah sering ia lihat semenjak beberapa tahun belakangan ini dan jawaban dari wanita yang dipanggilnya bunda itu selalu sama, bahwa dia teringat oleh orang ini.
“Bunda selalu menangis setiap kali melihat foto di ponsel itu.” Lanjutnya. “Kalau memang bunda merindukannya, kenapa tidak menemuinya saja?”
“Tidak semudah itu, nak.” Perempuan tersebut menggeleng dengan tersenyum getir.
“Kenapa? Apa dia tidak mau bertemu bunda?” Tanya si pemuda lagi, mulai di gerogoti rasa penasaran.
“Bukan dia yang tidak mau,nak. Tapi bunda yang tidak punya keberanian untuk menemui nya.”
Pemuda itu mengernyit, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, perempuan tersebut mengusap kepalanya. “Sudahlah, jangan pikirkan bunda. Kau sendiri sudah makan?”
“Belum. Aku mau membuat kan makanan untuk bunda sekalian.”
“Tidak usah repot- repot nak. Kamu saja.”
Si pemuda menggeleng pelan. “Bunda juga belum makan sejak pagi. Jadi, jangan membantah.”
Perempuan itu tersenyum tipis. “Baiklah, bunda menurut saja.”
Yang kemudian di balas oleh pemuda tersebut dengan senyum yang sama, lalu dia beranjak menuju dapur kecil mereka yang berada di sudut gubuk.
Setelah memastikan pemuda itu tak lagi terlihat,perempuan itu kembali membuka ponselnya. Foto pernikahan Sagara dan Aleah kembali terpampang di layar. Jemarinya menyentuh wajah putranya dengan penuh kerinduan.
“Kamu sudah besar dan mirip sekali dengan papa mu, Saga.”
Air matanya kembali menetes. Ia lalu membuka catatan yang tersimpan di dalam ponselnya. Disana, terdapat beberapa kalimat yang berkali-kali ia tulis, tetapi tak pernah sanggup ia kirimkan pada siapapun.
Saga…
Maafkan mama karena meninggalkanmu, maafkan mama karena karena tida berada di sisimu ketika kau tumbuh dewasa.
Dan maafkan mama, karena sampai hari ini mama masih tak berani pulang dan menunjukkan diri pada mu.
Bukan karena mama tak sayang, justru mama sangat menyayangi mu, tapi karena keadaan yang memaksa mama untuk seperti ini.
Perempuan itu menatap kalimat terakhir cukup lama sebelum akhirnya mengunci layar ponselnya. Ia tahu permintaan maaf saja tidak akan menghapus luka yang mungkin telah mengakar di hati putranya.
Terlebih, ia tak tahu apakah Sagara masih menginginkan kehadirannya setelah bertahun-tahun berlalu.
“Maafkan mama, Sagara.” Bisiknya lirih.
Sementara itu, tanpa perempuan itu ketahui dibalik sekat dapur sebenarnya pemuda tadi menghentikan langkah nya dan mendengarkan sejak awal apa yang di gumamkan oleh bundanya tersebut.
Ia mendengar nama itu.
Sagara.
Nama yang beberapa kali di ucapkan oleh bunda nya itu bahkan di dalam tidurnya,nama yang selalu membuat nya menangis diam- diam, dan kini nama yang kembali terdengar dalam bibirnya.
Pemuda itu menggenggam erat mangkuk di tangannya, siapa sebenarnya Sagara bagi bundanya? jika ia telaah dari panggilan “mama” yang di sematkan, mungkinkah pria itu adalah putra lain dari sang bunda?
Jika demikian, kesalahan sebesar apa yang membuat perempuan sebaik dirinya bahkan tidak berani menemui seseorang yang begitu dirindukan nya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Aleah baru saja selesai mencuci muka setelah kepergian Sagara, ia baru biss bergerak bebas. Ketika mengusap wajahnya dengan handuk kecil di dekat wastafel, ketukan terdengar dari arah pintu kamar.
Tok!Tok!Tok!
“Nyonya Aleah, apakah anda sudah bangun?” Terdengar suara seorang perempuan dari luar.
Aleah mengerjap. Nyonya?
Rasanya masih sedikit aneh mendengar panggilan itu di tujukan kepadanya.
Aleah menghela nafas pelan, lalu membuka mulut nya. “Sudah. Masuk saja!”
Pintu lantas terbuka. Bukan hsnya satu, melainkan empat orang pelayan perempuan masuk secara berurutan. Dua orang membawa beberapa set pakaian, satu orang membawa kotak perhiasan, sementara lainnya mendorong sebuah troli kecil yang berisi perlengkapan perawatan tubuh.
Aleah spontan mematung.
“Eh … ada apa ini?”
Salah seorang pelayan tersenyum sopan. “Kami di tugaskan untuk membantu nyonya bersiap pagi ini.”
“Bersiap untuk apa?”
“Untuk sarapan bersama keluarga, nyonya.”jawab salah satu laknnya.
Aleah refleks menoleh ke arah jam dinding. Ia bahkan belum sempat memikirkan sarapan, apalagi harus berdandan seperti hendak menghadiri pesta.
“Memangnya sarapan di rumah ini harus membutuhkan persiapan sebanyak itu?”
Keempat pelayan tersebut saling berpandangan. “Tidak juga nyonya.” Jawab pelayan yang paling muda. “Namun, nyonya Gracia yang meminta kami memastikan nyonya mendapatkan pelayanan yang layak sebagai anggota baru keluarga Fernandez, mengingat ini juga adalah hari pertama anda sebagai menantu keluarga ini.”
Aleah manggut- manggut paham sambil ber- oh ria. Ternyata di balik galak nya kemarin, nyonya Gracia masih memiliki kepedulian juga, ya… meski mungkin kepedulian untuk reputasi keluarga nya saja tapi setidaknya itu cukup untuk memastikan wanita sepuh itu tidak sejahat itu.
Bayangkan jika di hari pertama dia justru harus langsung mencuci piring atau mengepel lantai. Bisa-bisa hidup nya sudah seperti drama ikan pindang— eh, terbang.
Aleah menunduk, memperhatikan gaun pengantin yang masih dikenakan nya sejak malam sebelum nya, lalu mengembuskan napas pelan.
“Ya Tuhan, kemarin aku masih dikejar- kejar oleh orang suruhannya Barnas, eh sekarang sudah jadi nyonya Fernandez saja. Alur hidup benar-benar tidak bisa di tebak.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku harus melakukan apa?” Tanyanya akhirnya.
“Silakan duduk di depan meja rias, Nyonya.” sahut pelayan tersenyum profesional.
Aleah menurut. Namun, begitu salah seorang pelayan membuka kotak perhiasan yang dibawanya, mata Aleah langsung membulat.
Di dalamnya terdapat beberapa kalung berlian, gelang emas putih, anting-anting berkilau, dan cincin yang tampaknya memiliki harga setara dengan lahan sawah berpuluh hektar dikampungnya.
Aleah spontan menelan ludah.
“Sebentar. Kalian yakin semua ini untukku?”
“Benar, Nyonya.”
“Tidak salah kamar kan?”
“Tidak, Nyonya.”
Aleah memandang perhiasan itu sekali lagi, lalu berbisik, “Kalau aku memakai semuanya, apa leherku tidak akan patah?”
Pelayan yang berdiri di belakangnya hampir saja tertawa, tetapi buru-buru menundukkan kepala.
Aleah menangkap gerakan itu melalui cermin.
“Tidak apa-apa, tertawalah. Aku juga merasa pertanyaanku agak bodoh.”dia nyengir kuda.
“Maaf, Nyonya.”
“Sudah, tidak perlu meminta maaf. Aku bukan pemeran antagonis dalam film kok, santai saja.”
Ucapan itu membuat para pelayan kembali saling berpandangan. Sepertinya, mereka belum terbiasa menghadapi majikan yang berbicara sesantai itu.
Setelah memilih gaun sederhana berwarna krem, Aleah membiarkan mereka membantunya bersiap. Rambutnya disisir rapi, wajahnya diberi riasan tipis, dan sepasang anting kecil dipasangkan di telinganya.
Tidak ada riasan berlebihan. Anehnya, justru dengan penampilan sederhana itu, wajah Aleah terlihat semakin segar.
Ketika semuanya selesai, salah seorang pelayan mengulurkan cermin besar kepadanya.
Aleah menatap pantulan dirinya sendiri.
Untuk sesaat, ia hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri di hadapannya. Ya, sama saat pertama kali ia didandani ketika akad kemarin, benar-benar speachles.
Gaun krem itu jatuh anggun mengikuti bentuk tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan beberapa helai dijepit ke belakang. Wajahnya tampak lebih cerah, sementara perhiasan yang dikenakannya hanya berupa anting kecil dan gelang tipis.
“Cantik sekali,” gumamnya tanpa sadar.
“Memang, Nyonya terlihat sangat cantik,” sahut seorang pelayan.
Aleah tersenyum kecil. “Terima kasih. Tapi, kalau kalian terus mendandaniku seperti ini setiap pagi, aku bisa-bisa lupa cara menyisir rambut sendiri.”
Kali ini, para pelayan benar-benar tertawa kecil.
Suasana yang semula kaku perlahan mencair.
Namun, kejutan Aleah ternyata belum berakhir.
Saat seorang pelayan membukakan pintu untuk mengantarnya keluar, seorang wanita muda sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di atas perut dan gaya angkuh, arogansi tampak terlihat jelas di wajahnya.
“Ck, ck enak banget ya dari pelayan rendahan sekarang jadi nyonya besar, sudah jam segini pun baru keluar kamar.” Wanita itu mendesis sambil tersenyum mengejek.
Namun Aleah sama sekali tak gentar dengan hinaan yang baru saja dilontarkan, meski hanya kaget sesaat dia akhirnya bertanya dengan raut wajah yang sama seperti wanita itu. “Maaf, kau siapa?”
….
Bersambung