Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
— Vira —
Pertama kali aku melihat Emira adalah di sebuah acara. Dari kejauhan, penampilannya menarik perhatianku. Waktu itu ia gadis pemalu dengan rasa percaya diri yang rendah, selalu berada di dekat mantan tunangannya, tapi pemuda itu tampak tak nyaman berada di sisinya. Aku bisa merasakan mereka berpura-pura menjadi pasangan yang sempurna, tapi gadis itu selalu terlihat sedikit canggung, meski pandai menyembunyikannya.
Ketika kulihat ia turun dari mobil bersama putraku, raut wajahnya berbeda; ia tampak seperti orang lain dari kesan pertamaku dulu. Meski begitu, aku harus memastikan apakah mereka benar-benar sepasang kekasih.
Sebab Daniel tak pernah mau menemui satu pun perempuan yang kujodohkan untuknya. Kupikir ia hanya membawa gadis ini untuk menghindari keharusan punya pasangan, jadi kami merencanakan agar Leo sengaja mendekati tunangannya. Tapi tak pernah kusangka akan melihat putraku begitu posesif terhadap seorang gadis.
Rupanya ia tak berbohong saat berkata bahwa ia sudah punya orang yang dicintai. Menyenangkan sekali menyaksikan pemandangan seperti ini, dan sepertinya aku memang akan segera jadi nenek.
Sambil tersenyum dan dengan penuh rasa ingin tahu, aku menatap Emira. "Kalian berencana punya berapa anak?"
Emira dan Daniel serentak tersedak makanan begitu mendengar pertanyaanku.
"Sayangku," ujar Wirya, "mereka masih muda, bahkan belum menikah."
"Hmph... Apa kau lupa berapa umurku waktu aku mengandung Daniel?"
"Tapi zaman sudah berubah. Anak-anak masih punya banyak hal yang harus dikerjakan."
Aku mendengus tak puas, meski tahu bahwa suamiku ada benarnya. Lalu kutatap Daniel dan bertanya,
"Setidaknya beri tahu aku, bulan berapa kalian akan menikah."
"Kami sedang memikirkan akhir bulan keempat ini," jawab Daniel.
"Sungguh?" Aku bangkit dari meja dengan gembira, lalu menggandeng lengan Emira menuju kamarku. Sambil tersenyum penuh semangat, aku berkata, "Ayo."
Daniel hendak berdiri, tapi ditahan oleh sekretaris dan sepupunya agar tak menyusul kami. Suamiku pun mengubah sikapnya yang biasa tenang dan kalem menjadi berwibawa.
"Nak, kita perlu bicara," ujar Wirya.
Daniel tahu, setiap kali sikap ayahnya berubah, itu pasti menyangkut urusan rahasia mengenai angkatan bersenjata. Sebab ayahnya adalah kepala militer saat ini, yang wajahnya hanya dikenal segelintir orang, sementara ibunya pemilik perusahaan J&G.
Sementara itu, kami tinggal di lantai atas. Aku dengan penuh semangat menunjukkan berbagai desain gaun pengantin kepada Emira. Aku sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari, seandainya hubungan mereka ternyata sungguhan.
Kami melihat-lihat begitu banyak hal, dan aku bisa menangkap beberapa hal tentang Emira. Sikapnya sedikit mengingatkanku pada seorang sahabat lama, yang karena takdir telah tiada. Aku baru mengetahui kematiannya bersama suaminya sepuluh tahun setelahnya. Aku kehilangan kontak dengannya saat Daniel berusia lima tahun. Kala itu, kami terus berpindah-pindah kota karena diburu oleh orang-orang yang ingin mencelakakan kami.
Orang-orang itu membunuh saudara laki-lakiku beserta ibunda Leo. Masa-masa itu begitu sulit, hingga satu-satunya yang kupedulikan hanyalah melindungi putra dan keponakanku. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa sahabatku sempat memiliki seorang putri, tapi malangnya, gadis itu pun turut tewas bersama mereka.
Setelah beberapa saat larut dalam pikiran, dengan rasa penasaran aku bertanya kepada Emira tentang orang tuanya. Namun ekspresinya memancarkan kepedihan sekaligus amarah. Dengan susah payah ia bercerita tentang mereka, dan mendengar kisahnya membuatku sangat terkejut. Aku berpikir, bagaimana mungkin ada orang tua sekejam itu.
Sejak itu, saat kami menuruni tangga, anak-anak yang berada di ruang tamu bersama suamiku langsung berubah raut wajahnya begitu melihat kami. Rupanya Wirya sudah menceritakan kepada Daniel tentang apa yang sedang terjadi di angkatan bersenjata.
Setelah semua orang pulang dari rumah, aku menghampiri suamiku dan berkata bahwa aku ingin tahu lebih banyak tentang calon menantu kami. Juga tentang keluarga macam apa yang membesarkan seorang gadis yang begitu manis dan lembut, tapi dengan latar belakang yang begitu gelap dan menyedihkan. Tapi aku tak memberitahunya bahwa gadis itu menimbulkan perasaan aneh dalam diriku. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku merasa ia mirip dengan sahabatku. Mungkin aku keliru dan ini hanya kebetulan. Meski begitu, tak ada ruginya untuk menyelidiki.
Sebelum kami tidur, suamiku datang dan berkata bahwa informasinya sudah siap. Kami berdua mulai memeriksanya dengan penasaran, tapi kami menemukan sesuatu yang janggal soal kelahiran Emira. Ada catatan golongan darah yang dihapus. Disebutkan bahwa saat lahir ia bergolongan darah O-, tapi ada laporan dokter lain yang menyatakan bahwa golongan darahnya O+. Mungkin saja itu kesalahan, tapi koreksi dan perubahan itu baru dilakukan setahun kemudian. Lagi pula, buat apa menghapus laporan medis dari riwayatnya kalau itu hanya kesalahan sederhana?
Selain itu, ayah Emira ternyata adalah saudara tiri dari suami sahabatku. Namun setahuku mereka tak akur dan berselisih memperebutkan perusahaan. Lalu kami pun berbaring, tapi aku tetap tak bisa tidur karena merasa ada yang tak beres dalam situasi ini. Meski begitu, tak ada bukti yang mendukung teori gilaku yang tak masuk akal, bahwa Emira mungkin saja putri sahabatku. Tapi bukti mengarah pada fakta bahwa istri saudara tirinya baru hamil setahun setelahnya.
Kalau aku benar-benar ingin melenyapkan keraguan ini, aku harus memeriksa dokumen-dokumen itu dan menyelidiki sedikit tentang kehidupan bersaudara Prawira beserta putri-putri mereka.