Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
KILAS BALIK — 11 tahun lalu
Erlyn berusia 24 tahun | Iqbal berusia 26 tahun
Bus yang ia tumpangi membawanya ke sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian dan jauh juga dari kota tempat Erlyn tinggal sebelumnya. Di sana, di sebuah rumah kontrakan berukuran kecil yang sederhana, Erlyn memulai hidup barunya sendirian.
Uang yang ia bawa hanya sedikit. Ia harus segera mencari pekerjaan. Tanpa ijazah, tanpa pengalaman kerja, tanpa keluarga yang bisa dimintai tolong, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Hampir semua menolaknya. Namun ia tidak menyerah. Ia harus bertahan. Demi dirinya sendiri.
Akhirnya, sebuah kedai kopi kecil mempekerjakannya. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk menyewa kamar dan membeli makanan sederhana.
Hari-harinya berjalan tenang namun sepi. Bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan kedai, melayani pembeli, lalu pulang saat langit sudah gelap.
Fisiknya lelah, namun untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia bisa bernapas dengan lega. Ia bisa membuka jendela kapan saja. Ia bisa berjalan ke pasar sendirian. Ia bebas.
Meski rasa takut kadang masih menyelinap, takut ditemukan, takut mimpi buruk itu terulang. Ia belajar menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah jauh. Ia aman. Setidaknya untuk saat ini.
Bulan berganti menjadi tahun. Luka di tubuhnya perlahan memudar, namun luka di hatinya masih terasa. Ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang masa lalunya.
Bagi orang-orang di kota ini, ia hanyalah Erlyn seorang gadis pendiam yang bekerja rajin, selalu tersenyum ramah, namun tidak pernah berbicara tentang keluarganya.
Mereka menghormatinya, tidak pernah bertanya terlalu jauh. Namun di dalam hatinya, ia merasa ada dinding tebal yang memisahkannya dari orang lain. Ia merasa tidak pantas untuk dicintai. Ia merasa dirinya rusak.
Hingga suatu sore, seorang pria datang ke kedai itu. Ia mengenakan kemeja sederhana, sedikit kusut sehabis bekerja, dan duduk di meja paling pojok. Itu adalah pertemuan pertama dengan Iqbal.
"Selamat sore," sapanya lembut sambil tersenyum. Senyum yang sangat ramah. "Satu kopi hitam ya, terima kasih."
Erlyn meletakkan cangkir di meja dengan tangan yang sedikit gemetar karena pria itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Itu membuatnya merasa canggung sekaligus aneh.
Selama bertahun-tahun, satu-satunya pria yang ia kenal adalah Om Hendi, yang memandangnya penuh kepemilikan. Dan kini ada seseorang yang memandangnya sebagai manusia biasa.
Iqbal menjadi pelanggan tetap. Hampir setiap sore ia datang, duduk di meja yang sama, dan seringkali mereka mengobrol sebentar.
Mengobrol tentang cuaca, tentang pekerjaannya sebagai arsitek, tentang hal-hal sederhana yang tidak berbahaya.
Erlyn selalu berhati-hati, tidak pernah menceritakan kehidupan sebelumnya. Ia hanya berkata bahwa ia berasal dari kota lain, orang tuanya sudah tiada, dan ia ingin memulai hidup baru di sini.
Iqbal tidak mendesak. Ia hanya mengangguk lembut, berkata, "Apapun masa lalumu, aku nggak pernah peduli. Yang penting aku menyukai kamu yang sekarang. Kamu orang baik, Lyn."
Kalimat itu sederhana, namun membuat mata Erlyn berkaca-kaca. Tidak ada yang pernah berkata begitu padanya. Tidak ada yang menerimanya tanpa ingin tahu lebih banyak.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka tumbuh perlahan. Iqbal begitu sabar. Ia tidak pernah menyentuh Erlyn tanpa izin, tidak pernah menuntut apa pun, tidak pernah meninggikan suaranya.
Saat ia menggenggam tangan Erlyn untuk pertama kalinya, sentuhannya begitu lembut dan hati-hati, seolah takut gadis itu akan hancur.
Erlyn menahan napas, jantungnya berdegup kencang karena terharu. Ia hampir lupa rasanya diperlakukan dengan lembut dan hormat.
"Aku tidak sempurna, Iqbal," ucapnya suatu malam sambil duduk di bangku taman dekat rumahnya. "Ada banyak hal gelap di masa laluku. Hal-hal yang mungkin nggak ingin kamu tahu."
Iqbal menatapnya, lalu tersenyum lembut dan mengusap rambutnya pelan.
"Setiap orang punya masa lalu, Erlyn. Yang penting ke mana kita melangkah ke depan. Aku nggak butuh tahu semuanya untuk mencintaimu. Aku cukup melihat siapa dirimu hari ini."
Erlyn menangis malam itu karena merasa akhirnya ada seseorang yang melihatnya sebagai dirinya sendiri.
Setahun setelah pertama kali bertemu, mereka memutuskan untuk menikah. Erlyn berusia 25 tahun, Iqbal berusia 27 tahun.
Pernikahan mereka sederhana, hanya dihadiri beberapa tetangga dan teman dekat. Tidak ada pesta mewah, tidak ada kerabat jauh.
Tapi bagi Erlyn, itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Saat sumpah diucapkan, ia berjanji dalam hatinya, ia akan melindungi kebahagiaan ini dengan segala cara.
Ia akan mengubur masa lalunya sedalam-dalamnya, dan tidak akan membiarkan siapa pun, terutama Iqbal terluka karena rahasia kelam itu.
Dua tahun kemudian, Rara lahir. Kehadiran putri kecil itu melengkapi dunia Erlyn. Setiap pagi ia bangun lebih bersemangat, setiap sore ia menunggu suaminya pulang, setiap malam ia menatap anaknya yang tidur lelap dan bersyukur.
Rasa takut pada masa lalu perlahan mereda. Ia pikir ia sudah aman. Ia pikir ia sudah meninggalkan semua itu jauh di belakangnya.
Namun terkadang bayangan itu kembali menyelinap.
Ia berdoa agar pintu masa lalu itu tetap terkunci selamanya. Ia berdoa agar tidak ada yang pernah mengetuknya. Karena jika pintu itu terbuka, ia takut bukan hanya masa lalunya yang keluar, tapi juga kebahagiaannya yang hancur berkeping-keping.
Sepuluh tahun ia membangun dinding pertahanan itu. Sepuluh tahun ia hidup bahagia namun selalu waspada. Ia pikir itu cukup. Ia pikir ia sudah bebas.
Sampai suatu hari, sebuah pesan masuk di ponselnya. Sebuah foto lama yang membuat darahnya membeku. Dan ia sadar, pintu itu tidak pernah benar-benar terkunci. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk terbuka.
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi