Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam yang sial
Ancaman dari Reza masih terus mengaung di kepala Maya, membuat langkah kerjanya menjadi kacau sepanjang sisa shift malam itu.
Pikiran Maya berantakan. Ia bingung, takut, sekaligus heran. Kenapa pria berjas mahal seperti Reza mendadak melarangnya melewati jalan yang di belakang restoran? Apakah pria itu cuma mau menakut-nakutinya, atau ada hal lain yang sengaja disembunyikan?
"Maya! Kamu mikirin apa sih dari tadi? Liat tu piring hampir jatuh!" tegur Rian, mengagetkan Maya yang berdiri melamun di depan konter bar.
Maya tersentak, refleks memegang erat nampan di tangannya. "Eh, maaf, Rian. Aku cuma... agak pusing aja."
"Kalau capek, mending kamu istirahat sebentar di belakang," ujar Rian sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Restoran sebentar lagi juga mau tutup kok. Tinggal beberapa meja aja yang tersisa."
Maya melirik ke arah meja VIP. Reza dan para pengawalnya sudah tidak ada di sana.
Cangkir kopi hitam yang tadi disajikannya sudah kosong melompong, meninggalkan bercak hitam tipis di dasar cangkir. Keberangkatan pria itu yang tiba-tiba justru makin menambah rasa cemas di dada Maya.
"Rian," panggil Maya pelan saat mereka berdua mengelap meja yang kosong.
"Kamu tahu kan jalan lorong yang di belakang restoran ini yang biasa kita lewati kalau mau pulang?"
"Tahu lah. Kenapa emangnya? Kamu mau pulang lewat sana?"
"Tadi... Pak Reza bilang sama aku, katanya jangan lewat sana malam ini," bisik Maya penuh kehati-hatian.
Rian tertawa pelan, menganggap ucapan Maya cuma lelucon.
"Aduh, Maya, Maya. Kamu ini terlalu serius tanggapin omongan orang kayak Pak Reza. Pria kaya begitu mana peduli sama urusan pelayan kayak kita? Paling dia cuma asal ngomong atau mau ngerjain kamu aja. Lagian jalan yang di belakang lestoran ini kan jalan paling cepat ke pangkalan angkot sama kosan kamu."
Maya menggigit bibir bawahnya. Logikanya membenarkan ucapan Rian.
Jalan belakang memang cuma lorong sempit di antara dua bangunan tua, tempat pembuangan sampah sementara, dan jalan pintas menuju jalan raya.
Tapi ingatan akan tatapan tajam Reza membuat firasatnya terus berteriak agar ia menurut.
"Iya sih... tapi perasaanku enggan banget," gumam Maya pelan.
"Udah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo bereskan ini, biar kita bisa pulang cepat," kata Rian seraya berjalan menuju dapur membawa tumpukan piring kotor.
Sekitar pukul sebelas malam, lampu utama Resto Senja mulai dipadamkan satu per satu. Para karyawan mulai bersiap-siap untuk pulang.
Maya melepas apron hitamnya dan menggantinya dengan jaket tipis warna krem. Ia berdiri cukup lama di depan pintu keluar bagian depan restoran.
Jalanan depan sangat ramai dan terang, tapi jika berjalan lewat depan, ia harus memutar jauh hampir dua kilometer untuk sampai ke kosannya.
"Ah, masa iya ada apa-apa? Paling Pak Reza cuma menakut-nakuti," bisik Maya pada dirinya sendiri, mencoba memberanikan diri.
Akhirnya, rasa lelah yang menggerogoti tubuh mengalahkan rasa takutnya. Maya memutar arah langkahnya menuju pintu besi di bagian belakang restoran.
Begitu pintu dorong itu dibuka, aroma lembap dan bau sampah langsung menyengat hidung.
Suara bising dari jalan raya mendadak teredam oleh tingginya tembok-tembok bangunan yang mengapit lorong gelap tersebut.
Lampu jalan di lorong itu remang-remang, berkedip-kedip seolah mau padam.
Maya mempercepat langkah kakinya. Suara tumit sepatunya memantul berirama di atas aspal yang agak basah.
Tuk. Tuk. Tuk.
Baru berjalan sekitar lima puluh meter, langkah Maya mendadak terhenti. Hidungnya menangkap bau aneh, bukan cuma bau sampah, tapi bau amis sengat yang sangat familiar. Bau darah.
"Siapa di sana?" suara Maya gemetar pelan.
Tidak ada jawaban. Namun, dari balik bayangan kontainer sampah besar di depan, terdengar suara gesekan tubuh dan napas terengah-engah.
Maya memundurkan langkahnya satu titik, berniat untuk langsung berbalik dan lari sekencang-kencangnya kembali ke dalam restoran.
Tapi terlambat.
BRAAKK!
Sebuah tubuh manusia tiba-tiba terlempar keras menabrak tumpukan galian kayu di dekat tembok, hanya dua meter di depan Maya.
Pria yang terlempar itu mengerang kesakitan, bajunya robek dan bersimbah darah.
Sebelum Maya sempat menjerit, tiga orang pria berbadan kekar dengan pakaian hitam-hitam melompat keluar dari kegelapan lorong.
Masing-masing dari mereka menggenggam pisau lipat yang mengkilap tertimpa cahaya lampu yang redup.
"Kau pikir bisa kabur membawa dokumen itu, huh?!" teriak salah satu pria berwajah seram dengan tato di lehernya.
Maya membeku di tempat. Tenggorokannya mendadak sangat kering, sampai-sampai suara jeritannya tertahan di dada.
Matanya terbelalak menatap pemandangan mengerikan di depannya. Ini bukan sekadar perkelahian jalanan biasa. Ini adalah eksekusi berdarah.
Pria yang terluka di tanah itu mendongak, matanya yang bersimbah darah tidak sengaja menatap Maya.
"L-lari... Mba, lari...!" serunya dengan suara serak menahan sakit.
Suara itu meruntuhkan kebingungan Maya. Tanpa berpikir panjang, Maya berbalik hendak melarikan diri kembali ke arah pintu belakang restoran. Namun, gerakan paniknya justru membuat tas selempangnya menyenggol kaleng bekas di atas tong sampah hingga jatuh menimbulkan suara nyaring.
PRANG!
"Ada saksi mata!" teriak pria bertato leher. "Cepat tangkap cewek itu! Jangan sampai ada yang lolos!"
Maya berlari sekuat tenaga. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.
"Tolong! Tolong!" teriak Maya histeris, tapi suaranya diredam oleh dinding-dinding beton yang tinggi.
Langkah kaki tegap di belakangnya terdengar makin mendekat.
Maya merasakan kerah jaketnya ditarik kasar dari belakang hingga ia terhuyung dan jatuh tersungkur ke aspal kasar. Lutut dan telapak tangannya tergores hingga berdarah.
"Sialan, pelayan restoran rupanya!" bentak salah satu penyerang sambil mencengkeram lengan Maya dengan sangat kuat, memaksa gadis itu untuk berdiri.
"Lepaskan aku! Tolong! Aku tidak lihat apa-apa! Tolong!" jerit Maya sambil berusaha meronta, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Diam kamu! Siapa pun yang melihat kita malam ini, tidak boleh ada yang hidup!" seru pria bertato itu dingin sambil mengangkat pisaunya yang berkilat tajam ke udara, mengarahkannya tepat ke dada Maya.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat. Ia pasrah, meratapi keputusannya yang tidak mendengarkan peringatan Reza tadi. Di dalam hatinya, ia menjerit menyesali nasibnya yang begitu malang.
DOR!
Suara tembakan keras memecah kegelapan malam, memantul hebat di sepanjang lorong sempit itu.
Pria yang memegang pisau di depan Maya mendadak terhenyak. Pisau di tangannya terjatuh ke tanah.
Tubuhnya limbung sebelum akhirnya ambruk begitu saja ke atas aspal tepat di depan kaki Maya.
Maya membuka matanya perlahan dengan tubuh membeku, napasnya memburu tak beraturan.
Di ujung lorong yang gelap, di balik kepulan asap tipis peluru, berdiri sesosok pria berjas hitam lengkap dengan pistol peredam suara di tangannya.
Reza melangkah perlahan mendekat. Wajahnya disinari remang-remang lampu jalan, memperlihatkan tatapan mata yang luar biasa dingin dan tajam.
"Sudah kubilang, jangan lewat jalan ini," kata Reza dengan suara tenang namun menusuk.
Maya hanya bisa terpaku, gemetaran hebat di antara mayat pria bertato dan bayangan Reza yang kini melangkah makin dekat ke arahnya.
Bersambung....