Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Sarapan Keluarga Mahardika
Langkah Natasha yang memakai sepatu hak tinggi lima belas sentimeter terdengar nyaring di atas lantai teras.
Pak Nathaniel yang baru keluar dari kamar berdiri santai di dekat pilar sambil memegang secangkir kopi hitam.
"Natasha," panggilnya, menghentikan langkah perempuan itu di depan gerbang. "Sampaikan salam Om buat Papi kamu, ya. Bilang sama dia, proyek kerja sama pengembangan resor kita di Bali bulan depan tetap berjalan profesional."
Natasha menoleh dengan wajah masih kesal.
"Tapi kalau soal urusan menanam barang bukti dan bikin drama pagi-pagi di rumah Om..." Pak Nathaniel menyeruput kopinya sebentar. "Rasanya kamu perlu belajar etika sedikit lagi."
JEDAG!
Natasha membeku.
"Om... Natasha... Natasha gak bermaksud—"
"Pak Ujang sudah menunggu di dalam mobil," potong Pak Nathaniel santai. "Nanti koper satunya lagi biar disusul ART. Hati-hati di jalan."
Natasha menghentakkan kaki sambil menggigit bibir bawahnya. Dengan wajah merah padam, ia akhirnya masuk ke mobil sedan hitam yang pintunya sudah dibukakan Pak Ujang.
BRAM!
Pintu mobil dibanting keras. Tak lama kemudian, kendaraan itu melaju meninggalkan kediaman Mahardika.
Dari balik jendela ruang tengah, Keira menyaksikan semuanya sambil memangku Mika.
Matanya membelalak takjub.
Buset dah! Bapak sama anak sama aja dinginnya. Pak Nathaniel kalau nyindir orang halus banget! Pantesan Si Beruang Galak kelakuannya begitu. Ternyata genetikanya turunan dari bapaknya!
"Mbak Keira... Tante Nenek Sihir udah pulang, ya?" tanya Mika polos sambil menepuk pipi Keira.
Keira menunduk dan tersenyum lebar. Ia mengacak rambut Mika yang dikuncir dua.
"Udah, Bos Kecil! Tante Nenek Sihirnya naik sapu terbang warna hitam tadi. Sekarang rumah kita aman dan tenteram lagi!"
Mika langsung bersorak. Ia turun dari pangkuan Keira dan berlari menuju meja makan.
"Hore! Mika mau makan nasi goreng pakai kerupuk dua!"
Keira menyusul sambil menuntun Mika. Seperti biasa, ia berniat menyuapi anak itu di meja kecil dekat meja makan. Namun, Pak Nathaniel justru menepuk kursi kosong di sebelah kanannya.
"Keira, duduk di sini."
Keira menoleh.
"Ngapain duduk di situ terus? Kamu kan sudah jadi bagian dari rumah ini. Lagipula, nasi gorengnya masih hangat."
Keira mengedipkan mata, sedikit canggung.
"Ehh... gak apa-apa kok, Pak. Saya di sebelah sini aja biar gampang kalau Mika mau nambah atau—"
"Duduk aja, Keira. Papi gak suka ngomong dua kali."
Suara berat itu datang dari sebelah kiri.
Keira menoleh dan mendapati Ian sudah duduk di kursinya. Pria itu tampak sibuk menusuk sosis goreng dengan garpu, meskipun dari sudut matanya ia terus memperhatikan Keira.
Keira akhirnya mengalah. Ia menarik kursi di sebelah Pak Nathaniel dan memangku Mika. Duduk di meja yang sama ini benar-benar membuat dirinya sedikit tidak nyaman.
Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa miripnya ayah dan anak itu.
Keduanya sama-sama tinggi, tegap, memiliki rahang tegas, mata cokelat tua yang tajam, serta aura berwibawa yang cukup membuat orang segan.
Kalau sedang diam, wajah mereka bahkan sama-sama dingin seperti es batu yang baru keluar dari freezer.
Namun, begitu melihat interaksi keduanya, Keira mulai menemukan sisi lain keluarga ini.
"Ian," panggil Pak Nathaniel sambil meletakkan cangkir kopi. "Kemarin jadwal kamu ke pabrik di Cikarang jam berapa?"
"Jam sepuluh, Pi," jawab Ian sambil menyendok nasi goreng. "Selesai dari sana, Ian langsung balik ke kantor buat tanda tangan dokumen akuisisi."
Pak Nathaniel mengangguk. Tangannya kemudian meraih botol kecap manis dan menuangkan sedikit ke atas telur mata sapi di piring Ian.
"Papi kan udah bilang, kamu kalau makan telur harus pakai kecap manis sedikit biar gak enek."
Setelah itu, Pak Nathaniel merapikan kerah kemeja putih Ian yang sedikit terlipat di bagian belakang leher.
"Kamu dari dulu sampai sekarang, sudah jadi Direktur juga tetap lupa merapikan kerah baju sendiri kalau buru-buru."
Ian langsung kaku.
Pria itu terlihat seperti anak SMA yang sedang dirapikan seragamnya oleh sang ayah.
"Papi... Ian udah dua puluh tujuh tahun," bisiknya pelan. Ia membiarkan ayahnya menyelesaikan pekerjaannya, meskipun wajahnya mulai memerah. "Ada Keira tuh. Malu-maluin aja."
Keira yang sedang memegang sendok langsung menahan tawa. Bahkan, pahanya sampai ia tepuk-tepuk sendiri di bawah meja.
Astaga! Si Beruang Galak yang sukanya bentak-bentak orang ternyata kalau di depan bapaknya manut banget kayak anak kucing belum mandi!
"Ngapain malu?" sahut Pak Nathaniel santai. "Mau umurmu lima puluh tahun juga kamu tetap anak Papi."
Ia kemudian kembali mengingatkan putranya.
"Oh iya, vitamin kamu di kamar kerja udah diminum belum? Jangan kerja terus sampai malam tapi lupa minum air putih. Papi gak mau kamu masuk rumah sakit lagi gara-gara tipes kayak tahun lalu."
"Udah diminum tadi subuh, Pi," jawab Ian menurut.
Keira sampai sulit percaya mendengar nada selembut itu keluar dari mulut pria yang baru saja mengusir Natasha.
Tak lama kemudian, perhatian Ian beralih kepada Mika yang sedang berusaha memotong sosisnya sendiri di pangkuan Keira.
Ian meletakkan sendok, merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan kecil berbentuk burung dari kertas origami.
Rupanya, kertas itu sudah ia lipat diam-diam di kamar kerja sejak subuh. Sepertinya ia ingin meniru trik Keira yang pernah berhasil membuat Mika senang.
Ian meletakkan burung kertas itu di samping piring adiknya.
"Mika," panggilnya lembut. "Lihat nih. Mas Ian buat burung juga."
Mika langsung berbinar dan mengambilnya.
Namun, setelah memperhatikan bentuknya, alis kecilnya justru bertaut.
"Mas Ian... ini burung apa?"
Ian mengernyit.
"Burung, lah."
"Kok sayapnya yang kanan lebih gede dari yang kiri? Terus paruhnya kok bengkok?"
Pfttt!
Keira yang sedang menyeruput teh hangat langsung tersedak.
"UHUK! UHUK! UHUK!"
Ia buru-buru meletakkan gelasnya sebelum teh itu menyembur keluar.
Ian terkejut. Ia segera mengambil tisu dari meja dan menyodorkannya kepada Keira.
"Keira! Minumnya pelan-pelan kenapa sih?!"
"Maaf... maaf, Mas Ian."
Keira mengusap bibirnya sambil mati-matian menahan tawa.
"Burung origaminya... unik banget, Mas. Kayaknya burungnya habis kecelakaan di jalan tol, ya? Sayapnya agak penyok sebelah."
"Itu aerodinamis!" protes Ian. Wajahnya makin merah sampai ke leher. "Biar terbangnya lebih cepat!"
Pak Nathaniel menggeleng sambil terkekeh.
"Ian, Ian... dari kecil kamu memang gak punya bakat seni. Dulu menggambar rumah aja bentuknya kayak kotak tahu."
"Papi!"
Ian langsung panik. Rahasia masa kecilnya malah dibongkar di depan Keira.
Keira hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
"Mbak Keira kok melamun?" tanya Mika sambil mencubit pipinya pelan. "Burung Mas Ian jelek, ya?"
Keira mengelus kepala Mika, lalu melirik Ian yang masih memalingkan wajah karena malu.
"Enggak kok, Mika. Burung Mas Ian bagus banget," jawabnya tulus. "Soalnya dibikin pakai rasa sayang."
DEG!
Kalimat sederhana itu langsung membuat Ian menoleh.
Ia berdeham untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak berantakan.
"Ekhem! Ekhem!"
"Udah... cepat habiskan makanannya," katanya serak sebelum kembali menyendok nasi goreng.
Pak Nathaniel yang baru saja meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan melirik putra sulungnya dengan senyum tipis.
"Ian."
Ian mendongak.
"Hari ini kamu kosongkan jadwal."
Alis Ian bertaut. "Ada pertemuan penting, Pi?"
"Bukan urusan kantor." Pak Nathaniel menggeleng. "Ajak Keira sama Mika jalan-jalan ke Puncak. Dari kemarin Mika cerita terus sama Papi kalau dia pengen banget ke sana. Lihat kebun teh sama main ke peternakan, kan, Mika?"
Begitu mendengar kata Puncak, Mika langsung menghentikan suapannya.
Matanya berbinar. Sendok di tangannya bahkan terangkat tinggi-tinggi.
"Horeee! Asyik! Mau ke Puncak! Mau lihat sapi sama makan jagung bakar!"
Keira tertegun. Ia refleks menunjuk dirinya sendiri.
"Ehh... Pak Nathaniel, saya juga ikut? Tapi kan—"
"Harus ikut, Keira," potong Pak Nathaniel ramah. "Kalau cuma Ian yang bawa Mika, bisa-bisa adiknya malah diajak rapat komoditas teh di sana."
Keira menahan tawa.
"Kamu yang paling paham cara bikin Mika senang. Lagipula, kamu juga butuh penyegaran setelah mengurus Mika."
Ian membuang muka. Ia berusaha menyembunyikan binar senang yang muncul di matanya.
"Kalau Papi yang minta... ya udah. Nanti Ian atur mobil sama penginapannya."
"Nah, gitu dong."
Pak Nathaniel tersenyum puas. Ia kemudian melirik Keira dengan tatapan jahil.
"Tolong awasi Si Ian ini, ya, Keira. Jangan sampai dia bawa laptop kantor ke Puncak."
Keira terkekeh melihat wajah Ian yang mulai memerah lagi.
"Siap, Pak Nathaniel! Nanti saya sita laptopnya kalau nekat dibawa!"
Ian hanya menggerutu pelan sambil kembali menyendok nasi gorengnya.
Namun, sudut bibirnya terangkat tipis.
semangat Kak 💪💪