Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 11
"Coba hubungi ponselnya lagi, cepat!" bentak Pak Bagas dengan suara bergetar hebat. Pria paruh baya itu mencengkeram tepi meja rias, dadanya naik turun menahan guncangan yang luar biasa.
Zheana dengan gemetar terus memencet tombol panggil di ponselnya. "Nggak bisa, Pa... Nomor Kak Niken benar-benar sudah tidak aktif. Panggilannya langsung dialihkan ke kotak suara."
"Aduh, Ya Allah! Niken! Kamu ke mana, Nak?!" raung Bu Irma histeris seraya memukuli dadanya sendiri. Air matanya mengalir deras, merusak riasan tebal di wajahnya.
"Bagaimana ini, Mas?! Tiga jam lagi keluarga Khadafy sampai ke gedung! Apa kata orang-orang nanti?! Muka kita mau ditaruh di mana?!"
"Tutup mulutmu, Irma! Jangan cuma memikirkan gengsi di saat seperti ini!" potong Pak Bagas penuh penekanan. Jemari tangannya yang keriput bergetar saat merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel tua miliknya.
"Kita tidak punya pilihan lain. Saya harus hubungi Pak Haris sekarang."
"Jangan, Mas! Jangan sekarang!" cegah Bu Irma panik, mencoba merebut ponsel ayahnya.
"Kalau keluarga Khadafy tahu Niken kabur, pernikahan ini pasti batal! Tolong, cari dulu! Siapa tahu dia cuma ke minimarket depan atau ke rumah temannya!"
"Kamu gila?!" amuk Pak Bagas seraya menepis tangan istrinya kasar.
"Koper, paspor, dan bajunya sudah hilang semua! Surat ini buktinya! Mau cari ke mana lagi jam lima subuh begini?!"
Tanpa mempedulikan ratapan istrinya, Pak Bagas menekan nomor Abi Haris. Hanya perlu tiga kali nada dering sebelum suara berat dan tenang Abi Haris terdengar di ujung telepon.
"Assalamu'alaikum, Pak Bagas. Selamat pagi," sapa Abi Haris santai. Suara riuh keluarga yang sedang bersiap-siap terdengar samar di latar belakang.
"Kami di sini sedang bersiap-siap meluncur ke gedung. Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Bagas memejamkan mata rapat-rapat, menahan rasa malu dan hancur yang menusuk sampai ke tulang.
"Wa'alaikumsalam, Pak Haris... Mohon maaf... Maafkan saya..." suara Pak Bagas tercekat, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Di kediaman keluarga Khadafy, Abi Haris yang tadinya sedang merapikan pecinya seketika menghentikan pergerakannya. Alisnya bertaut tajam.
"Pak Bagas? Ada apa? Suara Anda terdengar panik sekali. Ada masalah di gedung?"
Khadafy yang baru saja turun dari lantai dua dengan setelan beskap putih mewahnya menghentikan langkah. Melihat perubahan raut wajah ayahnya yang mendadak amat serius, Khadafy mendekat.
"Pak Haris..." Pak Bagas menarik napas panjang dengan dada sesak.
"Niken... Niken melarikan diri dari rumah. Barang-barangnya sudah kosong dan dia meninggalkan surat..."
Brak!
Gelas teh di tangan Umi Rina yang berdiri tak jauh dari sana terlepas dan pecah berhamburan di lantai.
"Apa Anda bilang, Pak Bagas?!" suara Abi Haris meninggi, berubah dingin dan penuh penekanan.
"Niken kabur?!"
Khadafy menyambar ponsel dari tangan ayahnya tanpa permisi. "Pak Bagas! Ini Khadafy. Maksud Bapak apa Niken kabur?!"
"Nak Khadafy... maafkan kami, Nak... Maafkan Niken..." tangis Pak Bagas pecah di ujung telepon.
"Kamar Niken sudah kosong sejak jam empat subuh tadi. Kami sudah coba hubungi tapi nomornya tidak aktif sama sekali. Kami bingung harus mencari ke mana..."
Napas Khadafy menghembus kasar. Rasa kaget, amarah, dan kilas balik percakapannya kemarin mendadak berkecamuk di dalam kepalanya. Pria bertubuh kekar di restoran remang-remang itu!
"Apa mungkin..." bisik Khadafy tajam, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang.
"Khadafy! Ada apa ini?!" seru Umi Rina dengan wajah pucat menatap putranya.
"Benar Niken melarikan diri?!"
"Pria itu..." Khadafy menatap ibunya dengan tatapan penuh amarah yang tertahan.
"Pria yang kemarin menemui Niken di mall... Khadafi yakin kalau Niken pergi dengan pria itu..."
"Apa? Pria? Apa Niken selingkuh?" Tanya Pak Haris.
"Khadafy tidak tahu, Abi..."
Di rumah Pak Bagas, suasana kian kacau bagai neraka kecil. Bu Irma pingsan di lantai ruang tamu dan langsung ditangani oleh Tante Lilis, sementara Pak Bagas terduduk lemas di sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
Zheana berlutut di samping ayahnya, mengusap punggung Pak Bagas dengan air mata yang mulai menetes melintasi pipinya.
"Papa... minum dulu, Pa... Jangan seperti ini, nanti darah tinggi Papa kumat..."
"Zheana..." panggil Pak Bagas lirih, menatap putri bungsunya dengan pandangan hancur dan penuh kehampaan.
"Bagaimana ini, Nak? Keluarga Khadafy... nama baik keluarga kita... semuanya hancur dalam semalam..."
Ponsel Pak Bagas yang tergeletak di meja kembali berdering nyaring. Nama Khadafy kembali tertera di layar. Dengan tangan gemetaran, Pak Bagas mengangkatnya.
"Ya, Nak Khadafy?"
"Pak Bagas," suara Khadafy di ujung telepon terdengar amat dingin, tegas, dan menekan.
"Saya, Umi, dan Abi sedang menuju rumah Bapak sekarang. Jangan ada yang pergi ke gedung pernikahan. Kita selesaikan masalah ini di rumah."
Tut... tut... tut...
Sambungan terputus. Pak Bagas mendongak menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong. Bencana besar yang ditakutkan itu kini benar-benar telah sampai di ambang pintu.
Suara sirine dan deru mesin kendaraan di luar pagar kompleks seakan menambah pekat ketegangan di kediaman Pak Bagas. Jarum jam dinding di ruang tamu telah merambat cepat menunjukkan pukul enam pagi. Hari semakin terang, namun kegelapan yang mengepung rumah itu justru kian pekat.
Ruang tamu yang semula disiapkan untuk menyambut momen bahagia kini berubah menjadi lautan kepanikan. Paman, bibi, dan para sepupu berlarian keluar masuk rumah dengan wajah tegang.
"Gimana, Budi?! Ada hasil nggak?!" seru Tante Lilis setengah berteriak pada putranya yang baru saja berlari masuk dari luar sambil memegangi lututnya yang lemas, napasnya terengah-engah.
"Nggak ada, Ma! Budi udah cek terminal, pool taksi terdekat, sampai nanya satpam kompleks depan," jawab Budi dengan peluh membasahi dahi.
"Satpam bilang jam tiga subuh tadi emang ada mobil sedan hitam berhenti sebentar di persimpangan jalan utama, terus langsung tancap gas ke arah jalan tol!"
"Ya Tuhan... Beneran kabur anak itu!" jerit Tante Lilis seraya menepuk paha.
Di sudut sofa, Bu Irma baru saja siuman untuk yang ketiga kalinya. Bau minyak kayu putih yang disodorkan kerabat tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. Begitu kesadarannya pulih dan mendapati kenyataan bahwa Niken belum juga ditemukan, tangisnya kembali pecah dengan histeris.
"Niken! Ya Allah, Niken... Kamu tega banget sama Mama!" raung Bu Irma dengan suara parau. Ia mencengkeram lengan baju Pak Bagas yang terduduk kaku di sampingnya.
"Mas! Suruh orang cari ke bandara, Mas! Kejar pesawatnya! Jangan diam aja! Ratusan undangan sudah tersebar, catering ratusan juta sudah dipesan... Muka kita mau ditaruh di mana, Mas?!"