Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Ketemu Papa
Mobil hitam itu melaju membelah jalanan kota sebelum akhirnya melambat dan berbelok ke sebuah gang yang makin lama makin menyempit. Pohon-pohon liar tumbuh tak beraturan di pinggir jalan, beradu dengan dinding-dinding bangunan tua yang tampak kusam.
Bellona, yang sejak tadi duduk kaku di kursi belakang dengan napas memburu, menatap luar jendela. Jalur ini terasa asing. Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti kawasan hunian mewah tempat tinggal Om Rizal atau rekan-rekan bisnis ibunya.
Mobil MPV hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat abu-abu kusam dengan pagar berkarat. Lampu terasnya tampak mati, dan tumpukan dedaunan kering mengotori halamannya.
"Turun," perintah Sarah dingin dari kursi depan.
Dua pria tegap di samping Bellona langsung membuka pintu dan mengawal Bellona keluar. Bellona menyentakkan tangannya saat pria itu mencoba memegang lengannya lagi. "Jangan sentuh saya! Saya bisa jalan sendiri!"
Sarah melangkah anggun di atas tanah berdebu dengan heels-nya yang tinggi, menghampiri pagar yang berderit nyaring saat didorong.
Kriiiiieeet.
Sarah mengibaskan tangannya di udara seolah menepis debu, lalu mengetuk pintu kayu rumah tua itu dengan gerakan centil dan tidak sabaran.
"Devan! Devan, sayang! Buka pintunya, dong!" panggil Sarah dengan suara yang dibuat-buat manja dan tinggi melengking, sangat bertolak belakang dengan nada dinginnya pada Bellona beberapa menit lalu.
Bellona membelalakkan mata. Jantungnya serasa berhenti berdetak seribu detik. 'Devan?'
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang terseret malas, disusul bunyi gerendel pintu yang digeser kasar.
Pintu terbuka. Sosok pria berkaus hitam polos dengan rambut acak-acakan baru saja berdiri di ambang pintu, masih memegang botol air mineral. Wajahnya dipenuhi raut mengantuk dan jengkel yang tidak ditutup-tutupi.
"Siapa sih pagi-pagi udah berisik banget—"
Gumam Devan terhenti seketika. Botol air mineral di tangannya hampir saja merosot jatuh saat matanya beradu dengan Sarah, lalu bergeser ke arah Bellona yang berdiri kaku di belakang dua pria bertubuh tegap.
Devan melongo. "Lah? Lo..."
Sarah langsung memasang senyum paling manis, memiringkan kepalanya dengan gaya centil yang dibuat-buat. "Aduh, Devan... masih sama aja ya dari dulu, acak-acakan begini. Tapi makin ganteng deh."
Devan mengedipkan matanya berkali-kali, mengusap wajahnya kasar seolah berharap pemandangan di depannya hanyalah ilusi akibat kurang tidur. "Bentar, bentar. Sarah? Lo... ngapain ke rumah gue? Dapet alamat dari mana lo?!"
"Ih, kok nadanya gitu sih?" Sarah mendesah manja, melangkah mendekat dan dengan santai menepuk pelan dada Devan. "Aku ke sini mau ngembaliin barang yang selama ini aku rawat sendirian. Nih, lihat siapa yang Mama bawa."
Sarah berbalik, lalu menarik paksa tangan Bellona agar maju berhadapan langsung dengan Devan.
"Nih, anak kamu," kata Sarah santai dengan senyum tanpa beban. "Mulainya hari ini, kamu yang ngurus dia ya, Van."
Suasana seketika hening mencekam. Hanyut dalam desir angin pagi yang berembus pelan di halaman.
Devan membeku. Mulutnya sedikit terbuka, tatapannya berpindah-pindah dari wajah Sarah yang tersenyum centil ke wajah Bellona yang pucat pasi.
"Anak... siapa?" Devan menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk yang gemetar, matanya membelalak lebar. "Anak gue?! Lo gila ya, Rah?!"
"Kok gila sih?" Sarah bersedekap dada, memutar bola matanya malas. "Bellona ini anak kamu, Devan! Kamu pikir anak siapa lagi?"
"GAK MUNGKIN, BANGSAT!" seru Devan, suaranya sampai pecah karena panik luar biasa. Kesantaiannya yang biasa melekat seketika menguap tanpa sisa. "Sejak kapan gue punya anak segede gini?! Waktu umur gue dua belas tahun gue masih main kelereng di got, mana ada gue bikin anak sama lo!"
"Bukan pas umur dua belas tahun, Devan sayang!" Sarah mendengus kesal, suaranya naik satu nada. "Kamu inget nggak belasan tahun lalu waktu kamu masih jadi anak band sok keren yang sering nongkrong di rumah aku?! Mumpung sekarang ibuku udah mati dan nggak ada yang halang kamu lagi, aku kembalikan dia ke bapak kandungnya!"
Devan memegang kepalanya dengan kedua tangan, mondar-mandir di teras rumahnya yang berantakan bagai cacing kepanasan. "Nggak, nggak! Ini gila! Gue kagak pernah punya anak, apalagi sama lo! Gue kagak mau! Bawa pergi nggak bocah ini dari rumah gue!"
"Nggak bisa!" tegas Sarah, senyum manisnya kini hilang digantikan raut wajah dingin dan culas. "Udah cukup ya aku ngurusin Bellona sendirian belasan tahun! Aku mau nikah sama laki-laki yang lebih kaya dari kamu, dan aku nggak mau ada beban masa lalu yang ngerusak pernikahan aku!"
"Beban masa lalu kata lo?!" Devan menunjuk Sarah dengan wajah merah padam. "Lo pikir anak lo ini barang jaminan yang bisa lo lempar-lempar seenaknya?!"
"Pokoknya mau nggak mau kamu harus terima!" potong Sarah tajam, tidak memberikan celah sedikit pun. "Terserah kamu mau kasih dia makan apa, mau kamu suruh tidur di mana, bukan urusan aku lagi. Mulai hari ini, Bellona tanggung jawab kamu!"
Sarah berbalik cepat, melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi. "Dadaaah Devan! Semoga betah ya ngurus anak sendiri!"
"SARAH! WOI, SARAH! JANGAN GILA LO!" teriak Devan mengejar hingga ke pagar, namun dua pria berbadan tegap suruhan Rizal langsung menghadangnya, membiarkan Sarah masuk ke dalam mobil MPV hitam dengan santai.
Pintu mobil tertutup rapat, dan kendaraan itu langsung melaju kencang meninggalkan asap tipis di udara, menghilang di belokan gang.
"ANJING!" Devan menendang pagar besi rumahnya hingga menimbulkan bunyi dentang yang memekakkan telinga.
DANG!
Ia mengusap napasnya yang memburu, merapikan rambutnya yang makin berantakan karena frustrasi, lalu secara perlahan memutar tubuhnya kembali ke arah teras.
Di sana, Bellona masih berdiri mematung.
Gadis itu menatap ke arah tempat mobil ibunya baru saja menghilang. Kebas. Kosong. Dan di saat bersamaan, rasa benci yang begitu pekat membakar habis seluruh dadanya. Benci pada Sarah yang membuangnya seperti sampah, dan benci pada pria asing berkaus hitam di hadapannya yang baru tadi malam memberinya sekotak susu cokelat dengan sok perhatian.
Devan berjalan mendekat dengan langkah ragu. Wajahnya yang biasa dipenuhi cengiran tengil kini tampak campur aduk antara bingung, panik, dan canggung luar biasa.
"Heh... Bocah," panggil Devan hati-hati, garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Lo... lo denger sendiri kan tadi? Nyokap lo gila. Gue ini kagak—"
"Diem," potong Bellona dingin.
Devan tertegun. "Apa?"
Bellona perlahan memutar kepalanya, menatap Devan dengan sepasang mata bulat yang kini memancarkan kilatan benci yang begitu tajam.
"Gue bilang diem," tekan Bellona, suaranya tajam dan menusuk. "Gak usah sok kenal sama gue."
Devan melotot kecil, sedikit tersentak dengan perubahan panggilan gadis itu. "Buset, santai dong! Gue ini korban di sini, ya! Nyokap lo yang tiba-tiba ngebawa lo ke sini dan ngaku-ngaku gue bapak lo!"
"Lo pikir gue mau ada di sini?!" bentak Bellona, matanya mulai memerah menahan panas yang membakar matanya, tapi ia menolak untuk meneteskan air mata di depan pria ini. "Lo pikir gue sudi punya bapak kaya lo?! Yang rumahnya kaya tempat sampah dan kelakuannya gak jelas?!"
Devan mengelus dadanya, merasa harga dirinya agak tercoreng. "Wah, makin ngelunjak ya lo. Kemarin malam aja lo minum susu dari gue anteng-anteng aja. Pake 'Gue-Lo' lagi sekarang..."
"Kemarin itu kemarin!" potong Bellona cepat, mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh. "Gue gak peduli lo siapa. Mau lo bapak gue, mau lo orang asing yang dijebak nyokap gue, gue gak peduli!"
Gadis itu melangkah maju, melepaskan tas kecilnya dan melemparnya kasar ke atas kursi teras Devan yang berdebu.
"Mulai sekarang gak usah ngatur hidup gue," bisik Bellona dengan tatapan dingin yang begitu dalam. "Dan gak usah sok kebingungan. Lo sama nyokap gue... sama-sama sampah."
Setelah mengatakan itu, Bellona berjalan melaluinya begitu saja, melangkah masuk ke dalam rumah Devan yang berantakan tanpa meminta izin lagi, meninggalkan Devan yang berdiri mematung di teras rumahnya sendiri dengan mulut terbuka lebar.