💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aroma pekat kopi hitam yang mulai mendingin menguar di ruang kerja pribadi Elvano. Malam telah larut, menyisakan kesunyian yang hanya diisi oleh detak konstan jam dinding antik.
Namun, di dalam kepala sang penguasa Adhitama, suasananya jauh dari kata tenang.
Satu kata terus bergaung, memantul di dinding tengkoraknya sejak pagi tadi: Kesayanganku.
Elvano mencengkeram lengan kursi kulitnya. Sepanjang hidupnya memimpin klan, ia tidak pernah peduli pada eksistensi pria lain di dekat seorang wanita. Baginya, wanita hanyalah ornamen pelengkap. Namun Alana... gadis cerewet yang menjelma menjadi ratu hacker itu mendobrak masuk, mengacak-acak sistem keamanannya, dan tanpa permisi menyalakan api irasional di rongga dadanya.
Pintu kayu ek berderit terbuka tanpa ketukan. Jace melangkah masuk dengan rahang mengeras dan tablet menyala di tangannya.
"Tuan Muda," lapor Jace cepat, memotong keheningan. "Tim siber mendeteksi anomali. Ada pergerakan masif dari peladen eksternal yang identik dengan jejak Sindikat Bayangan. Mereka sedang menyusun ulang protokol enkripsi, tapi... strukturnya sangat ganjil."
Elvano seketika menegakkan punggung. Insting predatornya mengambil alih. "Ganjil bagaimana?"
"Ini bukan serangan, Tuan. Ini pancingan." Jace meletakkan tabletnya di atas meja. "Mereka sengaja meninggalkan celah terbuka pada firewall mereka. Remah-remah digital yang dirancang untuk memancing peretas agar masuk, lalu mengunci titik koordinat si peretas. Dan target pancingan ini sudah pasti..."
"Alana," potong Elvano. Urat di pelipisnya berkedut tajam.
Sindikat Bayangan tahu persis siapa lawan mereka. Mereka tahu Alana memiliki ego dan rasa penasaran yang tak akan tahan melihat celah keamanan menganga begitu saja. Ini jebakan maut untuk melacak koordinat fisik mansion ini.
"Di mana dia sekarang?" desis Elvano, langsung bangkit dari kursinya.
"Di sayap timur, Tuan. Ruang server."
Tanpa membuang satu detik pun, Elvano melangkah lebar menembus lorong-lorong mansion. Aura membunuh yang menguar dari tubuhnya membuat para penjaga yang berpapasan langsung menunduk kaku.
Saat Elvano mendorong kasar pintu kaca ruang server, pemandangan yang menyambutnya sukses membuat darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
Ruangan itu berpendar biru dari puluhan layar monitor raksasa. Suhu pendingin ruangan terasa menusuk kulit. Namun, di tengah ruangan itu, Alana duduk bersila di atas kursi ergonomisnya dengan sepasang headphone menggantung di leher. Matanya fokus memindai deretan kode yang bergulir kilat.
Yang membuat rahang Elvano mengeras sempurna adalah Bastian. Sepupunya itu duduk bersandar di pinggiran meja Alana,
mencondongkan tubuhnya begitu dekat hingga lengan kemejanya bergesekan dengan bahu Alana. Bastian menunjuk sesuatu di layar sambil tersenyum tampan.
"...jadi kalau kau pakai celah backdoor yang ini, Lana, kau bisa menyusup tanpa memicu alarm utama mereka," suara Bastian terdengar begitu santai dan akrab.
Alana tertawa pelan. Tawa renyah yang terdengar seperti melodi sumbang nan memuakkan di telinga Elvano.
"Kau belum berubah, Kak Bas. Selalu suka cari jalan pintas yang paling berisiko," balas Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara bariton Elvano menggelegar rendah, memotong tawa mereka layaknya sabetan pedang es.
Alana mendongak. Sorot matanya yang tajam menabrak tatapan membunuh Elvano tanpa gentar sedikit pun.
"Bekerja. Sesuatu yang sepertinya sulit kau pahami, Tuan Adhitama, mengingat kau lebih suka menyelesaikan masalah dengan selongsong peluru."
"Kau sedang menari di atas ranjau, Alana," desis Elvano.
Ia melangkah maju, mengabaikan eksistensi Bastian sepenuhnya. Matanya mengunci layar utama yang menampilkan pola enkripsi Sindikat Bayangan.
"Itu pancingan. Mereka sengaja membuka gerbang agar kau masuk, lalu mereka akan melacak IP address mansion ini. Hentikan sekarang."
Bastian bersiul pelan, menegakkan tubuhnya. "Santai sedikit, El. Kami tahu ini jebakan. Lana dan aku justru sedang memancing balik. Kami menyiapkan ghost proxy yang akan memantulkan sinyal pelacakan mereka lurus ke peladen pusat kepolisian nasional. Biar Sindikat Bayangan bentrok dengan satuan siber polisi."
"Aku tidak meminta pendapatmu, Bas," potong Elvano dingin, tatapannya tak beralih sedetik pun dari bibir Alana yang terkatup rapat.
"Matikan koneksinya, Alana. Aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa membongkar lokasi si kembar, hanya karena kau ingin bernostalgia mencari sensasi dengan juniormu."
Alana menyipitkan mata. Kesombongan dan nada merendahkan dari pria itu memantik percik api di kepalanya.
"Aku tahu batasanku, Tuan Adithama. Sinyal ini sudah ku-enkripsi tujuh lapis. Mereka tidak akan bisa—"
"Aku bilang matikan, Alana!"
Bentakan Elvano meledak, menggetarkan kaca ruangan. Itu bukan sekadar peringatan keamanan.
Penolakan Alana untuk tunduk padanya, ditambah fakta bahwa wanita itu lebih memilih bertukar tawa dengan Bastian dalam menghadapi bahaya, menghancurkan sisa kewarasan Elvano.
Dada Alana naik-turun menahan emosi. Arogansi pria ini benar-benar tidak tertolong. Menolak diintimidasi, jemari Alana justru menari brutal di atas keyboard selama tiga detik berturut-turut.
BIP!
Sebuah jendela notifikasi merah berkedip terang di tengah layar utama: PENGALIHAN SINYAL TACTICAL — SUKSES.
"Sudah selesai," ucap Alana sedingin es.
Ia melempar headphone-nya ke atas meja dan bangkit berdiri, menantang dada bidang Elvano yang hanya berjarak satu jengkal darinya.
"Program pengalihnya sudah tertanam. Sekarang anjing-anjing pelacak itu sedang sibuk meretas markas polisi. Ada lagi aspek hidupku yang ingin kau atur malam ini?"
Elvano menatap layar yang berkedip statis itu, lalu perlahan menunduk, menatap manik mata Alana yang menyala oleh perlawanan.
Ego dominannya menuntut pria itu untuk memberi pelajaran mutlak atas pembangkangan ini. Namun, saat ia melihat embusan napas Alana yang memburu, dan aroma vanila yang menguar menyapu indranya... realitas menampar Elvano dengan telak.
Ia tidak murka karena Alana meretas Sindikat Bayangan.
Ia murka hingga nyaris gila karena Alana melakukannya bersama pria lain.
Keheningan yang mencekik menguasai ruang server. Jace dan Bastian di sudut ruangan bahkan menahan napas, menyadari intensitas maut dan tarikan magnetis yang terpancar kuat dari dua manusia keras kepala di tengah ruangan tersebut.
Tiba-tiba, dering nyaring dari ponsel khusus internal mansion di saku Alana memecah ketegangan.
Alana merogoh sakunya tanpa memutus kontak mata dengan Elvano. Namun sedetik kemudian keningnya berkerut melihat nomor ekstensi kamar si kembar. Ia menekan tombol terima.
"Ya, Bi?" sapa Alana pada kepala pelayan yang bertugas berjaga di sayap kamar.
Hening sejenak.
Lalu, di detik berikutnya, warna kehidupan seolah tersedot habis dari wajah Alana. Pucat pasi seketika.
"Apa maksudmu kamar mereka kosong terkuci dari dalam?" Suara angkuh Alana runtuh berantakan, digantikan oleh getar kepanikan murni yang membekukan darah.
"Aku baru mengecek mereka tidur sepuluh menit yang lalu!"
Mendengar itu, jantung Elvano seakan berhenti berdetak di rongganya. Tanpa sadar, tangan besarnya langsung mencengkeram kedua bahu Alana. "Ada apa?"
Ponsel di tangan Alana meluncur jatuh, berbenturan keras dengan lantai marmer. Ia mendongak menatap Elvano. Dinding es keangkuhannya hancur tak bersisa, menyisakan tatapan seorang ibu yang kehilangan separuh nyawanya.
"Kael dan Kai..." bisik Alana dengan napas tercekat. "...mereka hilang."
Bersambung...