Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: FAREL YANG TERTEKAN
Berbeda dari Riko yang cukup terbuka cerita begitu diajak ngobrol santai, dan berbeda pula dari Dinda yang baru Bang Tua kenal lewat pengamatan jarak jauh, Farel jauh lebih sulit didekati. Bang Tua sudah mencoba beberapa kali menyapanya di koridor, sekadar basa basi ringan seperti biasa dia lakukan ke mahasiswa lain, tapi Farel selalu terburu buru pergi dengan alasan ada urusan mendesak, matanya jarang sekali menatap langsung, seolah selalu ada sesuatu yang membuatnya gelisah.
Baru pada suatu malam, secara tidak sengaja, Bang Tua bertemu Farel di tempat yang sama sekali tidak dia duga, sebuah minimarket dekat kampus yang buka dua puluh empat jam. Bang Tua yang sedang membeli kopi sachet dan mi instan untuk stok kos, kaget melihat Farel berdiri di balik meja kasir, mengenakan seragam minimarket, sibuk melayani pembeli dengan gerakan cekatan yang menunjukkan dia sudah cukup lama bekerja di sana.
"Loh, Farel? Kau kerja di sini?" tanya Bang Tua spontan, tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, meski dalam hati langsung menyusul komentar jenaka untuk menutupi kekagetannya, "pantesan susah kali dicari di kampus, rupanya rangkap jabatan jadi kasir part time, kirain cuma jadi mahasiswa doang".
Farel tersenyum kikuk, jelas tidak menyangka akan bertemu dosennya sendiri di tempat kerja sampingannya. "Iya, Pak. Kerja malam di sini, lumayan buat bantu bantu biaya kuliah," jawabnya sambil terus memindai barang belanjaan Bang Tua, matanya sesekali melirik ke arah antrian di belakang yang mulai mengular, tanda dia harus tetap fokus bekerja meski sedang berbicara dengan dosennya sendiri.
Bang Tua yang melihat antrian mulai panjang, memutuskan untuk tidak berlama lama mengobrol saat itu, cukup menyampaikan niatnya secara singkat. "Kapan kapan kalau kau ada waktu luang, bapak mau ngobrol sebentar ya, santai aja, bukan soal yang serius serius kok," katanya sambil tersenyum, mencoba membuat ajakan itu terdengar seringan mungkin, meski keduanya sama sama tahu ada sesuatu yang lebih serius tersembunyi di balik ajakan santai itu.
Beberapa hari kemudian, Farel akhirnya menyempatkan diri menemui Bang Tua di sela sela jam istirahat kerjanya, duduk sebentar di bangku panjang depan minimarket yang biasa dipakai karyawan untuk merokok atau sekadar melepas penat. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari yang biasa Bang Tua lihat di kampus, kantong matanya menghitam, dan cara dia duduk pun terkesan seperti orang yang sudah kehabisan energi untuk sekadar tegak sempurna.
"Gimana kuliahnya, Farel? Bapak dengar dengar kau agak tertinggal dibanding teman teman seangkatan," Bang Tua membuka percakapan dengan hati hati, memilih kata kata yang tidak terdengar menghakimi.
Farel menghela napas panjang sebelum menjawab, suaranya terdengar pasrah. "Iya, Pak. Jujur aja, saya udah kewalahan. Siang kuliah, malam kerja, sisa waktu buat ngerjain skripsi udah nggak seberapa lagi. Kadang saya sampai ketiduran di depan laptop pas lagi ngetik, bangun bangun udah pagi, langsung buru buru mandi terus kuliah lagi."
Bang Tua mendengarkan dengan seksama, dalam hati mulai membayangkan betapa beratnya menjalani rutinitas seperti itu, meski di sisi lain sisi jenakanya tetap berusaha mencari celah untuk sedikit mencairkan suasana, "kalau soal begadang, bapak juga jagonya, tapi bedanya bapak begadang buat mikirin disertasi doang, bukan sambil kerja jaga kasir juga, salut kali bapak sama kau ini".
"Bapak nggak nyalahin kau kerja sambilan, itu bagus, tanda kau mandiri. Tapi bapak khawatir, kalau tekanannya kebanyakan, nanti malah bikin kau ambil jalan pintas yang malah bikin masalah baru," kata Bang Tua, mencoba menyampaikan kekhawatirannya tanpa terkesan menggurui.
Farel terdiam cukup lama mendengar kalimat itu, matanya menatap ke arah lain, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi masih ragu ragu untuk diungkapkan. "Sejujurnya Pak, ada temen yang nawarin jasa olah data, katanya cepet, tinggal kasih variabel penelitian, nanti hasilnya udah jadi tinggal masukin ke bab empat. Saya sempat kepikiran mau pakai, soalnya waktu saya udah mepet banget, Pak."
Bang Tua terdiam sejenak mendengar pengakuan itu, dalam hati bergejolak antara ingin langsung menasihati panjang lebar dan menahan diri supaya Farel tidak merasa dihakimi terlalu cepat. "Kau udah pakai jasa itu?" tanyanya hati hati.
"Belum, Pak. Masih mikir mikir. Tapi jujur, godaannya berat kali, apalagi liat teman teman lain yang kayaknya nggak seberat saya bebannya, mereka udah pada mau sidang," jawab Farel, suaranya bergetar menahan emosi yang sudah lama dipendam.
Bang Tua menepuk pundak Farel pelan, mencoba memberi ketenangan tanpa menjanjikan solusi instan yang belum tentu bisa dia berikan. "Bapak ngerti beratnya, Farel. Tapi coba dulu, kasih bapak waktu buat mikirin cara bantu kau, jangan buru buru ambil jalan itu ya. Nanti kalau ketahuan, bisa lebih runyam lagi masalahnya."
Farel mengangguk pelan, meski keraguan masih terlihat jelas di matanya. Sebelum berpisah, Bang Tua sempat melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana yang sejak tadi terasa berat, "lain kali kalau bapak mampir sini lagi belanja mi instan, kasih diskon dikit ya, itung itung uang jasa curhat gratis dari bapak", yang berhasil membuat Farel tertawa kecil untuk pertama kalinya sepanjang obrolan mereka, meski tawa itu masih terasa tipis dan lelah.
Sepulang dari pertemuan singkat itu, Bang Tua berjalan pulang dengan pikiran yang semakin penuh. Tiga mahasiswa, tiga masalah yang terlihat berbeda di permukaan, tapi kini dia semakin yakin ada benang merah yang menghubungkan semuanya, sebuah sistem yang entah bagaimana caranya membiarkan mahasiswa mahasiswa baik berjuang sendirian tanpa perlindungan yang semestinya mereka dapatkan. Dalam hati dia bergumam, setengah bercanda setengah serius, "kalau kampus ini punya rapor, kayaknya nilai peduli sama mahasiswanya dapat angka merah semua, untung bapak bukan dosen yang ngasih nilai rapor kampus, kalau iya, udah lama kali kampus ini bapak suruh her".
Malam itu, sesampainya di kos, dia kembali membuka buku catatan kecilnya, kali ini menambahkan nama Farel di samping nama Riko dan Dinda, lengkap dengan garis garis penghubung yang mulai membentuk pola tertentu meski gambar besarnya masih belum sepenuhnya jelas. Dia menatap lama coretan itu, merasakan beban tanggung jawab yang perlahan lahan bertambah berat di pundaknya, sebelum akhirnya menutup buku itu dan bersiap tidur, dengan satu tekad kecil yang mulai tumbuh mantap di dalam dirinya, bahwa kali ini, dia tidak akan membiarkan dirinya sekadar jadi penonton dari pinggir lapangan seperti biasanya.
Sebelum benar benar terlelap, dia sempat berpikir sejenak soal betapa berbedanya karakter ketiga mahasiswa itu, Riko yang terbuka dan mudah diajak bicara, Dinda yang tegar dan berprinsip meski harus menahan diri, dan Farel yang tertutup karena beban hidupnya yang jauh lebih berat dari kedua temannya. Tiga kepribadian berbeda, tiga cara menghadapi tekanan yang berbeda pula, tapi semuanya terjebak dalam sistem yang sama, sistem yang entah kenapa terasa semakin janggal setiap kali dia mengorek lebih dalam.