Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kabar pertunangan Dara dengan Den Gavin menyebar begitu cepat, seperti embusan angin yang melintasi hamparan perkebunan teh. Sejak pagi, hampir setiap sudut kampung membicarakan hal yang sama.
Warung kopi di dekat pertigaan jalan, pos ronda, hingga para ibu yang sedang menjemur pakaian, semuanya larut dalam obrolan tentang gadis yatim piatu yang sebentar lagi akan menjadi menantu keluarga Juragan Darmawan. Tak sedikit yang masih sulit mempercayainya.
Sejak kabar itu menyebar, ada satu hal yang berubah. Rama dan Tina biasanya sepulang dari kebun, mereka langsung berjalan cepat menuju rumah. Namun, hari itu berbeda.
Rama sengaja memperlambat langkahnya. Sementara Tina berjalan di sampingnya dengan dagu sedikit terangkat. Sesekali ia membenarkan rambutnya, memastikan penampilannya tetap rapi.
Mereka memilih melewati jalan yang paling ramai dilalui warga. Melewati warung Ceu Sarmi, lalu pos ronda. Kemudian jalan kecil yang mengarah ke pasar desa. Seolah berharap ada seseorang yang menyapa lebih dulu.
Harapan itu pun terkabul.
"Eh, Mang Rama ... Ceu Tina!"
Seorang perempuan paruh baya melambaikan tangan dari depan warung. "Kemarilah sebentar."
Tina menoleh sambil memasang senyum ramah. Wanita itu menghampiri dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Ada apa, Ceu?"
"Dengar-dengar Dara mau menikah sama Den Gavin, beneran itu?"
Senyum Tina langsung melebar. "Iya, benar," jawabnya lembut. Ia sengaja berhenti berbicara sejenak, memberi kesempatan agar orang-orang di sekitar ikut mendengarkan. "Juragan Darmawan sendiri yang datang melamar keponakan kami."
Beberapa warga yang sedang duduk di warung spontan menoleh. "Benarkah?"
Rama mengangguk pelan sambil tersenyum seolah-olah semua itu adalah hal yang biasa. "Kami juga tidak menyangka. Namanya jodoh memang tidak ada yang tahu. Kalau Tuhan sudah berkehendak, siapa yang bisa menolak?"
Seorang bapak mengusap dagunya. "Berarti nanti kalian jadi besan Juragan Darmawan."
Rama tertawa kecil. "Ya, begitulah kalau Allah mengizinkan."
Meski ucapannya terdengar rendah hati, sorot matanya memancarkan kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Tina bahkan tidak segera pamit. Ia menikmati tatapan kagum yang tertuju kepada dirinya. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun tinggal di kampung itu, ia merasa menjadi pusat perhatian. Perasaan itu membuat dadanya mengembang penuh kepuasan.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Belum jauh melangkah, Ketua RT berpapasan dengan mereka.
"Mang Rama."
Rama berhenti. "Oh, Pak RT."
Ketua RT tersenyum ramah. "Nanti sore jangan lupa kerja bakti memperbaiki saluran air di ujung kampung."
Biasanya, Rama selalu mengangguk tanpa banyak bertanya. Namun kali ini, ia hanya tersenyum tipis.
"Maaf, Pak RT. Saya tidak bisa ikut."
Ketua RT tampak heran. "Lho, kenapa?"
"Ada urusan keluarga," balas Rama dengan nada sok sibuk.
"Kalau datang sebentar saja bagaimana? Pekerjaannya tidak lama."
Rama menggeleng pelan. "Belakangan kami cukup sibuk."
Belum sempat Ketua RT bertanya lagi, Tina sudah lebih dulu menyela.
"Maklum saja, Pak. Persiapan pernikahan Dara cukup banyak."
Nada bicaranya terdengar lembut, tetapi penuh kebanggaan. Ia menghela napas seolah benar-benar kelelahan.
"Berhubungan dengan keluarga Juragan tentu tidak bisa asal-asalan."
Ketua RT terdiam beberapa saat. Ia memandangi pasangan suami istri itu bergantian. Lalu, tersenyum tipis.
"Oh, begitu. Kalau begitu saya cari orang lain saja," kata Ketua RT itu menahan kecewa.
"Terima kasih pengertiannya, Pak," balas Tina dan Rama mengangguk singkat.
Setelah Ketua RT berlalu, beberapa warga yang sejak tadi menyaksikan percakapan itu saling bertukar pandang.
"Baru calon besan saja sudah berubah." Seorang lelaki berbisik lirih dan temannya mengangguk pelan.
"Dulu kalau diminta kerja bakti paling semangat. Sekarang alasannya sibuk. Padahal belum jadi apa-apa."
Bisikan itu memang tidak terdengar jelas oleh Rama dan Tina. Namun, tatapan sinis yang mulai bermunculan dari para tetangga perlahan menghapus rasa hormat yang selama ini mereka miliki.
Sayangnya, Rama dan Tina tidak menyadarinya. Mereka justru menganggap semua perhatian itu sebagai tanda bahwa orang-orang sedang iri kepada kehidupan mereka yang sebentar lagi berubah.
Menjelang siang, Dara pulang dari kebun dengan langkah sedikit tertatih. Keranjang rotan di punggungnya tampan sudat tua dan jelek. Butiran keringat membasahi pelipisnya. Begitu memasuki halaman rumah, ia melihat beberapa tetangga sedang berbincang dengan Tina.
"Dara." Suara Tina terdengar begitu lembut. Senyum ramah menghiasi wajahnya. "Sini, Nak."
Dara menghampiri sambil menundukkan kepala. "Iya, Bi."
Tina meraih lengan Dara dengan penuh kehangatan. "Sebentar lagi kamu menjadi menantu keluarga terpandang. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja."
Beberapa ibu yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum. "Ceu Tina baik sekali sama Dara."
"Iya. Pantas Dara betah tinggal bersama pamannya."
Mendengar pujian itu, Tina hanya tersenyum malu-malu. "Namanya juga keponakan sendiri. Sudah aku anggap seperti anak kandung."
Dara hanya diam. Entah mengapa, dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu. Ia tahu semua perhatian itu hanya ditunjukkan ketika ada orang lain.
Tak lama kemudian, para tetangga pamit pulang. Begitu pintu rumah tertutup, senyum Tina menghilang seketika. Tangannya yang semula menggenggam lembut lengan Dara kini terlepas begitu saja. Tatapannya berubah tajam.
"Masih berdiri saja? Cepat masak!" Suara Tina meninggi.
Dara yang masih memanggul keranjang langsung mengangguk. "Iya, Bi."
"Habis itu cuci semua pakaian. Lantai belakang juga belum dipel. Jangan sampai aku lihat masih kotor."
Dara menundukkan kepala. "Baik, Bi."
Gadis itu segera berjalan menuju dapur tanpa membantah sedikit pun. Baru beberapa langkah, suara Tina kembali terdengar.
"Dan jangan lama-lama! Bukan karena sebentar lagi menikah, kamu bisa bermalas-malasan!"
Dara berhenti sesaat. Ia menarik napas panjang sebelum kembali melangkah. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia sudah terlalu sering diperlakukan seperti itu. Namun, di balik ketenangannya, tersimpan sebuah tekad yang perlahan tumbuh. Ia boleh menghormati paman dan bibinya, tetapi ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan harga diri hanya karena sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Juragan Darmawan.