Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekarang Ini Urusan Pribadi
Sudut Pandang Dante
Begitu Rebecca naik… keheningan tak bertahan lama. Tak pernah bertahan lama kalau ada Romulo.
Aku bahkan tak perlu menoleh untuk tahu ia masih di sana. Duduk. Mengamati. Menunggu.
Aku berbalik pelan. Ia ada di kursinya. Kedua lengan bertumpu. Tatapan serius. Berpengalaman. Tatapan yang selalu melihat lebih banyak dari yang ingin kuperlihatkan.
"Kau celaka," ujarnya. Langsung. Tanpa basa-basi.
Aku mengembuskan napas lewat hidung. "Jangan mulai."
"Sudah kumulai," balasnya. Tenang. "Kau jatuh cinta pada tante anak-anakmu."
Aku tertawa hambar. "Tidak. Aku tak jatuh cinta."
Ia bahkan tak mengerjap. "Tentu saja tidak."
Sindiran datang begitu mudah.
Sebelum aku sempat menjawab—
"Dengan segala hormat…" Jason muncul di ambang pintu. Bersandar. Lengan terlipat. "…kau memang jatuh cinta."
Kupalingkan wajah padanya. "Urus urusanmu sendiri."
"Sedang kuurus," jawabnya. Santai. "Tapi kau nyaris berkelahi cuma gara-gara dia ngobrol denganku."
Romulo memutar wajahnya ke arahku. Lambat. "Kau nyaris berkelahi dengannya?"
Aku mengatupkan rahang. "Bukan begitu."
"Begitu, kok," jawab Jason tanpa ragu. "Kau nggak suka."
Romulo terkekeh rendah. "Cieee… Parah nih."
Kuusap wajahku. Kesal. "Kalian berdua sudah selesai?"
"Belum," jawab Romulo sambil bangkit. Ia menghampiriku. Berhenti di depanku. "Dengar." Suaranya kini lebih serius. "Kau masih muda."
Aku memutar bola mata. "Sudahlah."
"Tidak," lanjutnya. "Dulu kukira aku tak akan pernah bisa mencintai lagi."
Kalimat itu membuatku benar-benar memandangnya.
"Dan lihat aku sekarang. Keluarga. Anak-anak. Kehidupan."
Hening. Sebentar. Tapi berat.
"Kalau kau mau…" ia mengangkat bahu, "coba saja."
Aku menggeleng. "Tak sesederhana itu."
"Memang tak pernah sederhana," jawabnya. Ringkas.
Aku mengalihkan pandangan. Mengganti topik. "Lalu si pria itu?" tanyanya. "Kau menemukan sesuatu?"
Aku menggeleng. "Tak ada. Seolah dia tak pernah ada. Nomor bersih. Jejak dihapus. Profesional."
Romulo mengangguk. Kini serius. "Berarti dia berbahaya."
"Sangat," kupastikan.
Hening turun. Berat. Tapi tak bertahan lama.
Pintu dapur terbuka. Salah seorang penjaga masuk. Cepat. Sikap tegang.
"Bos."
Aku menoleh padanya. "Bicara."
"Ada kurir meninggalkan ini di gerbang."
Tubuhku langsung waspada. "Siapa?"
"Sudah pergi. Tak sempat kami tangkap."
Kuulurkan tangan. "Berikan."
Ia menyerahkan kotak itu. Sederhana. Biasa. Tapi aku sudah tahu. Ini sama sekali tidak biasa.
Kuletakkan di meja. Jason mendekat. Romulo juga.
Kubuka. Tanpa terburu-buru. Tanpa memperlihatkan apa pun. Tapi di dalam… semuanya sudah siaga.
Dan lalu aku melihatnya. Foto-foto. Banyak. Berhamburan. Foto anak-anak. Di sekolah. Di depan gerbang. Di dalam mobil. Bahkan di dalam rumah.
Rahangku mengeras. Kuat. Sangat kuat.
Kuambil satu. Lalu satu lagi. Dan lalu—selembar kertas. Terlipat. Kubuka. Pelan. Membacanya.
"Aku suka tantangan.
Dulu ini semua hanya karena dia…
Tapi sekarang…
Sekarang ini urusan pribadi."
Hening menjadi berat. Pekat. Berbahaya.
Jason mengusap wajahnya. "Dia dekat."
Romulo memandang ke sekeliling. "Sangat dekat."
Aku tak berkata apa-apa. Hanya berdiri di sana. Menatap foto-foto itu. Merasakan sesuatu tumbuh di dalam diriku. Bukan sekadar amarah. Lebih buruk. Jauh lebih buruk.
Kuangkat pandangan. Dingin. Terkendali. Tapi di dalam… meledak.
"Tutup rumah ini," ucapku. Suaraku rendah. Tapi tegas. "Tak ada yang masuk. Tak ada yang keluar tanpa perintahku."
Jason langsung mengangguk. "Akan segera kulakukan."
Romulo melipat tangan. "Lalu sekarang?"
Kupandangi lagi foto-foto itu. Wajah-wajah anak-anak. Dan sesaat… wajahnya pun muncul di benakku. Rebecca.
Aku menarik napas dalam. Pelan. Mengendalikan diri. Tapi keputusan sudah kuambil.
"Sekarang…" suaraku keluar lebih rendah. Lebih berbahaya. "…sekarang dia sudah mengusik keluarga yang salah."
Kuangkat pandangan. Dingin. Tak menyisakan ruang bagi keraguan.
"Dan aku akan menemukannya. Sebelum dia melakukan kesalahan mendekat lagi."
Karena satu hal sudah pasti. Ini… bukan lagi sekadar masalah. Ini perang.