NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SYARAT ELENA

Hening yang canggung kembali menyelimuti ruang bawah tanah itu. Dengungan monoton dari kipas pendingin rak server terdengar seolah mengiringi ketegangan yang menguar di antara mereka berdua. Cahaya biru pucat dari layar monitor raksasa memantul di wajah Elena, menyoroti ekspresi gadis itu yang sedang menimbang-nimbang sebuah keputusan hidup dan mati.

Dua puluh juta dolar. Sepuluh juta untuknya.

Di dunia bawah tanah, uang tunai tanpa jejak adalah raja dari segala raja. Dengan sepuluh juta dolar, Elena bisa membeli akses ke satelit militer swasta, menyewa pasukan tentara bayaran elit, dan membangun jaringan pengawasan yang bisa membuat pemerintah negara maju terlihat seperti anak amatiran. Namun, uang sebanyak itu datang dengan paket mematikan bernama Leo Valenti—pria yang kepalanya baru saja dihargai sepuluh juta dolar oleh penguasa jalanan yang baru.

"Sepuluh juta dolar," Elena memecah keheningan, mengulang nominal itu pelan seolah sedang mencicipi rasanya di ujung lidah. Ia memutar-mutar pena stylus di sela-sela jari lentiknya.

"Uang itu sudah cukup untuk mendanai perang kita, dan lebih dari cukup untuk membuatmu menghilang dari kota ini jika kau mau setelah semuanya selesai," Leo menegaskan, posisinya masih duduk di kursi plastik dengan tangan kiri memegangi bahu kanannya yang dibalut perban.

Elena menghentikan putaran pena di tangannya. Ia meletakkan benda itu ke atas meja baja dengan bunyi ketukan pelan. Matanya yang tajam dan dingin kembali menatap pangeran mafia di depannya.

"Aku terima tawaran uangmu, Valenti. Tapi itu belum cukup," Elena menyilangkan lengan di depan dada, dagunya sedikit terangkat.

"Kau mau lebih dari lima puluh persen?" Leo mengernyitkan dahinya, nada suaranya menyiratkan ketidaksukaan. Baginya, penawaran itu sudah sangat lebih dari adil.

"Aku tidak peduli dengan sisa sisa uang di brankas ayahmu," Elena mendengus sinis, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. "Syaratku sama sekali tidak ada hubungannya dengan angka nol di belakang kertas dolar."

Leo terdiam sejenak. Ia memandangi gadis berkaus hitam lusuh itu dari atas sampai bawah. Elena sama sekali tidak terlihat seperti orang yang serakah akan harta, tapi sorot matanya menyimpan rasa lapar yang jauh lebih mengerikan.

"Lalu apa maumu? Kau sudah tahu nyawaku sedang diburu, aku tidak punya pasukan, dan aku terkurung di pabrik ikan busuk ini bersamamu," Leo memajukan tubuhnya sedikit. "Apa lagi yang bisa kuberikan padamu selain uang?"

"Aku butuh kau menjadi senjataku," Elena menatap lurus ke dalam manik mata Leo, tak membiarkan pria itu memutuskan kontak mata sedetik pun.

"Aku sudah bilang kita akan bekerja sama untuk menghancurkan Marco," Leo mengerutkan kening, merasa bingung dengan arah pembicaraan ini.

"Menghancurkan Marco adalah misimu. Itu ajang balas dendammu karena dia membunuh ayahmu dan merebut takhta klan Valenti," Elena menggeleng pelan, nadanya berubah jauh lebih berat dan gelap. "Tapi aku punya misiku sendiri. Marco bukan dewa yang bisa merencanakan semua ini sendirian. Dia mendapat dukungan dari luar, dari sindikat yang jauh lebih besar yang selama ini merayap di bawah radar klan ayahmu."

Leo tertegun. Ia tahu ayahnya menolak berbisnis dengan beberapa sindikat internasional belakangan ini, tapi ia tidak menyangka Marco berani menggandeng mereka untuk melakukan kudeta.

"Siapa mereka?" Leo bertanya dengan rahang mengeras.

"Itu belum saatnya kau tahu," Elena memotong cepat. "Yang perlu kau tahu adalah, sindikat yang mendukung Marco ini adalah alasan mengapa keluargaku hancur berantakan bertahun-tahun yang lalu. Mereka adalah monster sebenarnya di balik semua kekacauan ini."

Elena berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Leo, langkahnya pelan namun penuh dengan otoritas mutlak. Ia berhenti tepat di depan pria yang sedang terluka parah itu.

"Syaratku sederhana, Leo," Elena menatap ke bawah, langsung ke wajah sang pewaris klan. "Ketika tiba saatnya, ketika Marco sudah hancur dan kita menemukan siapa dalang di balik layar yang memberinya kekuatan... aku mau kau yang menarik pelatuknya untukku. Tidak peduli siapa targetnya. Tidak peduli betapa berbahayanya mereka. Kau akan menjadi eksekutorku tanpa banyak bertanya. Dan kau harus bersumpah untuk meratakan seluruh bisnis obat-obatan dan perdagangan manusia yang mereka bangun di kota ini, meskipun itu berarti menghancurkan sebagian besar sisa aset klan Valenti."

Napas Leo tertahan di tenggorokan. Permintaan Elena bukan sekadar soal balas dendam, ini adalah permintaan untuk melakukan bunuh diri massal dalam skala bisnis mafia. Menghancurkan fondasi bisnis gelap berarti menentang hukum alam di dunia bawah tanah.

"Ayahku selalu menolak bisnis obat-obatan dan perdagangan manusia," Leo bersuara pelan, matanya menerawang jauh mengingat prinsip mendiang Don Antonio. "Itu sebabnya beberapa tetua klan mulai beralih mendukung Marco, karena Marco menjanjikan keuntungan kotor yang jauh lebih besar."

"Maka kau seharusnya tidak keberatan membakar habis bisnis itu," Elena menaikkan sebelah alisnya, menunggu kepastian.

"Jika aku berjanji untuk menghancurkan sindikat itu untukmu, dan menjadi senjatamu... apa kau bisa berjanji akan memberikan Marco kepadaku hidup-hidup pada akhirnya?" Leo mendongak, matanya memancarkan kehausan akan darah yang tak bisa ditutupi. "Aku mau Marco. Sisanya, kau boleh bakar sesukamu."

"Itu kesepakatan yang sangat mudah bagiku," Elena mengangguk tipis, senyum asimetris kembali terbentuk di wajahnya. "Marco milikmu. Dalang utamanya milikku. Uang tunai dari brankas itu kita bagi dua untuk membiayai kehancuran mereka."

"Aku setuju," Leo mengulurkan tangan kirinya sekali lagi, kali ini dengan niat yang jauh lebih mengikat daripada sekadar perkenalan tadi malam.

Elena menyambut uluran tangan itu. Genggaman mereka terasa erat dan dingin. Di dalam ruang bawah tanah yang sumpek dan dikelilingi oleh lautan data digital, sebuah sumpah darah tanpa kata-kata baru saja diukir. Dua orang buangan yang kehilangan segalanya kini bersatu untuk mengukir sejarah baru dengan peluru dan api.

"Bagus," Elena melepaskan jabat tangannya dan langsung membalikkan badan, berjalan kembali ke meja komputernya. Mode profesional gadis peretas itu seketika menyala kembali. "Kalau begitu, agenda utama kita sekarang adalah membuatmu tidak terlihat seperti gembel yang baru selamat dari kecelakaan kereta."

"Kau bilang mau mencari peralatan medis dan darah pengganti di pasar gelap," Leo mengingatkan, bersandar kembali ke kursinya dan membiarkan rasa sakit perlahan kembali menggerogoti kesadarannya.

"Dan membuatkan identitas palsu untukmu," Elena menekan beberapa kombinasi tombol dengan kecepatan kilat. Layar di depannya langsung memunculkan sebuah jendela *browser* dengan enkripsi tingkat militer, masuk ke dalam sebuah forum jual-beli di *dark web* yang antarmukanya terlihat sangat primitif namun mematikan.

"Membuat identitas palsu yang bisa lolos dari sistem pengenalan wajah kota butuh waktu berhari-hari, bukan?" Leo menatap punggung Elena dengan raut ragu.

"Itu kalau kau menyewa pemalsu amatiran di pinggir jalan," Elena mendengus pelan tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Aku Phantom. Aku tidak mencetak KTP palsu dari printer rumahan. Aku meretas langsung ke dalam basis data dinas kependudukan kota dan menyisipkan nama barumu ke dalam server mereka. Secara digital, kau akan lahir kembali hari ini sebagai warga negara yang sah."

Leo menggelengkan kepalanya pelan, masih takjub dengan betapa mengerikannya keahlian gadis ini jika digunakan untuk hal yang salah. Atau dalam kasus ini, hal yang benar namun dengan cara yang sangat salah.

"Siapa nama baruku?" Leo bertanya.

"Itu urusan nanti, aku harus mencari template biometrik yang mendekati postur tubuhmu," Elena menggeser kursinya ke layar sebelah kiri, mengetik pesan pada sebuah kolom obrolan terenkripsi. "Sekarang yang lebih penting, aku baru saja menghubungi kontak lamaku. Seorang mantan dokter bedah militer yang kehilangan lisensinya karena malapraktik. Dia menjual paket transfusi darah utuh dan antibiotik dosis tinggi tanpa banyak tanya."

"Kita akan menemuinya?" Leo mencoba berdiri, namun kakinya langsung terasa seperti agar-agar.

"Tidak, kau duduk manis di situ dan jangan mati," Elena menekan tombol *Enter* dengan keras lalu beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju sebuah loker besi berkarat di sudut ruangan. "Sistem keamananku memantau radius dua kilometer dari pabrik ini. Marco sudah menyebar anjing-anjing pelacaknya. Kalau kau keluar dengan wajah seperti itu, kau akan ditembak dari jarak seratus meter."

Elena membuka loker tersebut dan mengeluarkan sebuah jaket kulit hitam tebal, topi bisbol yang warnanya sudah pudar, dan sebuah masker kain hitam. Ia mengenakan semuanya dengan cepat, menutupi rambut dan sebagian wajahnya. Terakhir, ia memeriksa magasin pistol Glock 26 miliknya, memastikan pelurunya penuh sebelum menyelipkannya ke sarung di pinggang belakang.

"Aku yang akan pergi mengambil barang-barang itu," Elena menatap Leo sambil merapatkan ritsleting jaketnya. "Ada sebuah brankas kecil di bawah meja operasi itu. Di dalamnya ada pistol Sig Sauer P226 dan dua magasin penuh. Kalau pintu baja di atas sana terbuka dan itu bukan aku, ambil senjatanya dan tembak apa pun yang bergerak."

"Kau meninggalkanku sendirian di sini?" Leo menatap gadis itu dengan tatapan tidak suka. "Aku bukan anak kecil yang butuh pengasuh, Elena."

"Tidak, kau adalah investasi sepuluh juta dolarku yang sedang sekarat," Elena membalas sinis sambil berjalan menuju tangga beton. "Jangan sentuh komputerku, jangan coba-coba keluar, dan kalau kau mati sebelum aku kembali... aku akan membangkitkanmu lagi hanya untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri."

Leo hanya bisa tersenyum kecut melihat gadis itu menaiki tangga dan menghilang di balik pintu baja yang berat. Pintu itu tertutup dengan suara dentuman keras, meninggalkan Leo sendirian di tengah dengungan server.

Pangeran klan Valenti itu menghela napas panjang. Ia menunduk menatap lantai, meresapi rasa sakit di tubuhnya dan rasa pahit di hatinya. Syarat telah disepakati. Tidak ada jalan untuk mundur sekarang. Ia harus bertahan hidup hari ini, karena Marco dan seluruh kroninya akan membayar mahal atas setiap tetes darah yang tumpah semalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!