NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Usha Santi

Setelah diusir dengan kasar dari kamar Arman sore itu, seharusnya Mbak Santi merasa malu dan tidak mau lagi datang ke rumah Bu Ratna. Seorang janda kaya penjual emas seperti dirinya biasanya sangat gengsi dan tidak mau direndahkan oleh laki-laki.

Tapi Mbak Santi berbeda. Justru setelah diusir, hatinya semakin penasaran dan semakin tertantang untuk mendekati Arman.

Di dalam benaknya, Arman adalah laki-laki yang sangat menarik. Wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, masih muda dan yang paling penting, Arman adalah tipe laki-laki setia yang sangat mencintai istrinya sampai dia sakit parah karena perceraian. Bagi Mbak Santi yang sudah dua kali gagal berumah tangga karena suami-suaminya selingkuh, kesetiaan Arman itu adalah hal yang sangat mahal dan langka.

Mba Santi semakin kagum dan merasa tertantang dengan penolakan dan sikap Arman.

Malam itu, di rumah kontrakannya yang penuh dengan perhiasan emas imitasi dan emas-emas aslinya ,Mbak Santi sama sekali tidak bisa memejamkan mata.Santi terus saja memikirkan wajah Arman yang pucat tapi tetap terlihat tampan dan gagah apa lagi saat marah tadi.

"Mas Arman itu beda, Ti. Dia bukan laki-laki murahan yang bisa diiming-imingi dengan uang dan emas.Dia itu type laki-laki setia dan tidak silau akan harta,makanya aku semakin suka sama dia." ucap Santi kepada Tante Yati lewat sambungan telepon dengan suaranya yang manja.

Tante Yati yang mendengar itu hanya tertawa.

"Ya sudah san,kalau kamu memang suka, kejar terus,Pepet terus! Mbak Ratna juga pasti senang kalau kamu jadi menantunya. Dia kan memang dari dulu ingin punya menantu kaya seperti kamu, San. Besok kita datang lagi ya, San, kita bawa martabak kesukaan Arman."

Sejak malam itu, Santi semakin gencar saja perhatian Arman dengan berbagai cara yang tidak pernah diduga bahkan oleh Bu Ratna sendiri.

Hari pertama, Santi datang pagi-pagi sekali ke rumah Bu Ratna dengan membawa rantang besar berisi nasi rawon, sop buntut, dan ayam goreng. Semua makanan mahal yang jarang dimakan oleh Arman dan Bu Ratna sebelumnya.

"Mbak Ratna, ini saya bawakan sarapan buat Mas Arman ya, Mbak. Biar Mas Arman cepat sembuh, Mbak. Saya masak sendiri loh tadi subuhm."ucap Santi dengan senyum yang dibuat semanis mungkin sambil menata rantang di atas meja.

Bu Ratna tentu sangat senang dengan sikap dan perhatian Santi.

"Wah, terima kasih banyak ya, Santi. Kamu memang calon menantu idaman, San. Rajin dan murah hati.Orang kaya memang berbeda ya." Dusta Bu Ratna.

Tapi saat rantang itu dibawa ke kamar Arman, Arman bahkan tidak meliriknya sama sekali.

"Bu, Arman sudah bilang Arman tidak lapar! Bawa keluar lagi makanan ini, Bu. Arman tidak mau makan pemberian orang lain, Bu. Arman hanya mau masakan Alya Bu!" ucap Arman dengan suara yang lemah tapi tegas sambil membalikkan badannya menghadap tembok.

Bu Ratna dan Santi hanya bisa saling tatap dengan raut yang kecewa.

Hari kedua, Santi datang lagi dengan cara yang berbeda. Kali ini ia datang dengan memakai gamis baru yang dia beli dengan harga mahal, dia juga mengenakan krudung dan harum parfumnya yang lebih menyengat. Ia membawa obat-obatan mahal dan vitamin yang dia beli dari apotek untuk Arman.

"Mas Arman ini Santi bawakan obat dan vitamin yang Santi beli di apotik,obatnya diminum biar mas cepet sembuh dan vitamin ini juga diminum biar mas cepet fit dan tidak lemas."ucap Santi sambil mencoba duduk di pinggir kasur Arman.

Arman yang melihat Santi datang lagi langsung bangun dengan wajah yang marah.

"Mbak Santi,saya sudah katakan dengan tegas jangan datang lagi ke rumah saya! Saya tidak butuh obat,saya hanya butuh ketenangan, Mbak. Tolong pergi mba!"bentak Arman.

Santi tidak menyerah, ia justru mencoba memegang tangan Arman.

"Mas Arman, kenapa hati kamu begitu kaku dan keras mas.Santi itu tulus koh mas."

Arman langsung menepis tangan Santi dengan kasar.

"Jangan sentuh saya, Mbak! Saya masih suami sah Alya di hati saya, Meskipun secara hukum kami sudah resmi bercerai,tapi di hati saya Alya masih tetap istri saya! Tolong pergi mba!"

Santi terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah. Tapi di dalam hatinya, ia semakin tertantang dan rasa itu semakin menggebu-gebu.

Hari ketiga, cara Santi masih mencari perhatian.Ia justru semakin menjadi-jadi,kali ini dia tidak lagi datang sendirian, tapi ia membawa serta dua orang karyawannya dari toko emas untuk membantu membersihkan rumah Bu Ratna yang berdebu dan kotor.

"Mbak Ratna, biar saya yang bersihkan rumah Mbak ya, Mbak. Kasihan Mbak Ratna pasti capek sudah mengurus Mas Arman sendirian." ucap Santi sambil menyapu halaman dengan sapu baru yang ia beli.

Para tetangga yang melihat itu mulai berbisik-bisik.

"Eh, lihat itu, Bu Ratna dapat menantu baru ya? Katanya dia wanita yang kaya raya, dia itu juga janda . Dengar-dengar dia itu penjual emas dipasar."

"Alhamdulillah ya, Bu Ratna, akhirnya dapat menantu kaya setelah ditinggal Alya yang miskin itu."

Bu Ratna yang mendengar bisikan tetangga itu merasa sangat bangga dan senang. Ia merasa rencananya akan berhasil kali ini.

Tapi Arman yang melihat rumahnya dibersihkan oleh orang asing justru semakin muak dan semakin marah.

"Bu! Suruh mereka semua pergi dari sini! Ini rumah kita bukan rumah santi hingga dia bebas melakukan apapun,Arman butuh ketenangan Bu Arman mau istirahat!" sentak Arman.

Santi yang sedang mengepel lantai langsung berhenti dan menatap kamar Arman dengan air mata yang hampir jatuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah mengejar laki-laki yang tidak mencintainya sama sekali.

Di sore hari yang sama, di kebun mangga yang indah, suasana yang jauh berbeda terjadi.

Alya, Nisa, Raffi, Kinan, Kiano, Mbak Zahra, Mas Fikri serta Mas Ilham sedang duduk melingkar di bawah pohon mangga yang besar sambil menikmati rujak mangga yang baru saja dipetik. Tawa mereka terdengar sangat riang.

Mas Ilham duduk di samping Raffi dan Nisa, sesekali menyuapi Raffi rujak dengan penuh kasih sayang.

"Om Ilham, rujaknya enak sekali, Om!" ucap Raffi dengan mulut yang penuh dengan sambal.

Ilham tertawa dan mengusap mulut Raffi dengan tisu.

"Pelan-pelan makannya, Raffi, nanti keselek."

Alya yang melihat itu hanya bisa tersenyum penuh haru. Di dalam hatinya ia berkata, alhamdulillah, anak-anaknya kini mendapatkan kasih sayang yang tulus dari keluarga baru ini.

Tiba-tiba, Mbak Zahra berbisik kepada Alya.

"Mbak Alya apa mba melihat itu? Ilham itu betah sekali Lo dekat sama Nisa dan Raffi.Yankan mba? Saya bisa melihat Ilham itu sayang sekali sama mereka, Mbak."

Alya tersipu dan menunduk malu.

"Mbak Zahra bisa saja, Mbak. Mas Ilham memang pada dasarnya baik dan sepertinya dia penyayang anak-anak.

Di rumah Bu Ratna, setelah semua karyawan santi pulang dia duduk sendiri dengan wajah murung.

"Yati, aku capek, Ti. Sudah tiga hari aku berusaha mencari perhatian Arman tapi dia sama sekali tidak pernah melirik aku Ti. Hatinya masih untuk Alya ti!" ucap Santi kepada Tante Yati dengan suara lirih.Dari masa bicaranya dia terdengar begitu sedih.

Tante Yati mengelus punggung Santi.

"Sabar dong san, namanya juga usaha. Laki-laki setia seperti Arman memang susah didapatkan, San. Tapi kalau kamu berhasil, kamu akan dapat suami yang setia seumur hidup, San."

Malam itu, Santi pulang dengan hati yang penuh dengan tekad baru. Ia tidak akan menyerah. Dia akan terus berusaha mendapatkan perhatian Arman, dengan cara apapun, sampai Arman mau meliriknya dan melupakan Alya.

Sementara di kebun mangga, di bawah sinar bulan yang terang, Mas Ilham masih duduk di teras rumah kecil Alya sambil mengajari Nisa membaca Al-Quran dengan suara yang lembut dan merdu,ditemani teh hangat yang Alya buatkan untuknya.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!