NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:152.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Lima

Pagi itu, setelah Mama dan Papa meninggalkan ruang keluarga, Reatha masih duduk di sofa dengan wajah memerah.

Azka yang berada di sampingnya justru terlihat santai. Pria itu mengambil remote televisi, lalu mematikan layar yang sejak tadi sudah tidak benar-benar mereka perhatikan.

“Sudah, jangan dipikirkan,” ucap Azka.

Reatha menoleh. “Yang bilang jangan dipikirkan itu kamu. Yang malu aku.”

Azka terkekeh. “Mama memang begitu.”

“Papa juga sama saja," balas Reatha.

“Papa cuma ikut-ikutan.”

Reatha menghela napas. “Pokoknya mulai sekarang, kalau mau tiduran, jangan di depan orang tua.”

Azka mengangkat alis. “Kenapa?” tanyanya.

“Karena aku enggak mau dengar ceramah soal cucu lagi," ucap Reatha.

“Padahal tadi kamu cuma mengusap rambutku," ujar Azka. Ia sengaja mengatakan itu untuk membuat Reatha malu.

Reatha langsung menatapnya. “Azka!”

“Kenapa? Aku cuma bilang fakta," jawabnya dengan santai.

“Sudah, jangan bahas lagi.”

Azka tertawa kecil. Namun, ketika melihat Reatha mulai membereskan bantal di sofa, senyumnya perlahan berubah menjadi lebih lembut.

Ia memperhatikan perempuan itu beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini.

Bukan hanya karena Reatha sudah mulai terbiasa bercanda dengannya. Bukan juga karena perempuan itu tadi membuatkan bubur sumsum dan membiarkannya tidur di pangkuan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, Azka merasa rumah ini benar-benar memiliki suasana yang selama ini tidak pernah ia cari. Kehangatan.

Dan anehnya, kehangatan itu datang dari seseorang yang dulu bahkan tidak pernah ia beri kesempatan untuk dikenalnya.

Di tempat lain, sebuah mobil berhenti di depan rumah orang tua Raisa. Pintu mobil terbuka.

Seorang perempuan turun dengan koper besar di tangannya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi langkahnya tetap cepat menuju pintu utama. Dialah Raisa. Ia baru saja tiba di tanah air.

Tanpa memberi kabar panjang, tanpa meminta siapa pun menjemput, perempuan itu langsung pulang ke rumah. Begitu pintu dibuka, Mama yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.

“Raisa ...," ucap Mama terkejut. Papa yang berada di dekat jendela ikut membalikkan badan. Keduanya terdiam beberapa detik.

“Raisa!” ulang Mama, kali ini dengan suara lebih tinggi.

Raisa meletakkan koper di samping pintu. “Mama.”

Mama langsung berdiri. “Kamu pulang?” tanyanya.

“Iya," jawab Raisa.

“Kenapa enggak bilang dulu?” tanya Mama.

Raisa mengangkat bahu. “Mendadak.”

Papa berjalan mendekat. “Kamu baru sampai?”

“Ya," jawab Raisa singkat.

Mama memperhatikan wajah putrinya. “Kamu kenapa? Sakit?”

“Enggak.”

“Terus kenapa pulang tiba-tiba?” Kembali Mama bertanya, karena rasa penasaran.

Raisa menghela napas panjang. Ia sebenarnya sudah menduga akan mendapat banyak pertanyaan. Namun, sejak turun dari pesawat, ia memang tidak punya tenaga untuk menjelaskan semuanya.

“Aku enggak betah di sana, Ma.”

Mama mengerutkan kening. “Enggak betah?”

“Iya.”

“Bukannya kemarin kamu bilang semuanya baik-baik saja?” tanya Mama.

Raisa mengalihkan pandangan. “Ya, sekarang enggak.”

Papa menatapnya dengan serius. “Ada masalah?”

“Enggak ada apa-apa, Pa," jawab Raisa sedikit ketus, karena banyaknya pertanyaan.

“Raisa.”

“Aku cuma enggak betah.”

Jawaban itu membuat Mama dan Papa saling berpandangan. Mereka tahu putrinya memang sering berubah pikiran. Namun, kepulangan kali ini terasa berbeda. Raisa bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang baru pulang dari perjalanan menyenangkan.

Wajahnya kusut. Matanya tampak kurang tidur. Dan cara bicaranya pun terdengar begitu singkat.

Mama mendekat. “Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

“Di mana?” tanya Mama.

“Di pesawat.”

“Kalau begitu, Mama buatkan sesuatu.”

“Enggak usah, Ma.”

“Kenapa enggak usah?”

Raisa menghela napas. “Aku mau istirahat dulu.”

Mama terdiam.

Raisa kemudian mengambil koper kecilnya. “Nanti kita bicara lagi, ya. Aku capek.”

Papa mengangguk pelan. “Ya sudah. Istirahat dulu.”

Mama masih terlihat ingin bertanya, tetapi akhirnya hanya mengangguk. “Kamarmu sudah Mama bersihkan," ucap wanita itu.

“Terima kasih, Ma.” Raisa berjalan menuju tangga. Namun, sebelum naik, ia berhenti sebentar. “Ma ....”

“Iya?”

“Jangan telepon siapa-siapa dulu, ya.”

Mama mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Enggak apa-apa. Aku cuma mau tenang.”

Setelah itu, Raisa langsung naik ke kamarnya. Pintu tertutup. Mama masih berdiri di tempatnya.

“Pa,” panggilnya pelan.

Papa menoleh. “Hm?”

“Menurut Papa, Raisa kenapa?”

Papa menghela napas. “Entahlah.”

“Dia kelihatan aneh.”

“Biarkan dia istirahat dulu.”

Mama mengangguk, tetapi wajahnya masih menyimpan kekhawatiran. Sementara di lantai atas, Raisa meletakkan koper di dekat tempat tidur. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela.

Tanah air. Rumah. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati. Semuanya terasa begitu familiar. Namun, entah kenapa, kepulangannya kali ini justru membuat dadanya semakin sesak. Raisa memejamkan mata. Ia tidak ingin memikirkan apa pun.

Sementara itu, pagi di rumah Azka mulai kembali pada rutinitas. Setelah cukup lama bersantai, Azka akhirnya memutuskan untuk masuk kerja.

Reatha yang sedang membawa piring ke dapur langsung menoleh ketika melihat pria itu sudah mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. “Kamu mau kerja?” tanyanya.

Azka mengangguk. “Iya.”

“Bukannya masih sakit?”

“Sudah lebih baik.”

Reatha mendekat. “Benar-benar enggak pusing?” tanyanya.

“Enggak.”

“Kalau nanti pusing, jangan dipaksakan.”

Azka tersenyum tipis. “Iya, Bu Dokter.”

Reatha mendengus. “Aku serius.”

“Aku tahu," balas Azka. Ia kemudian mengambil tas kerjanya yang sudah diletakkan di dekat sofa.

Reatha memperhatikan pria itu beberapa detik. “Kalau enggak enak badan, pulang saja.”

Azka mengangguk. “Iya.”

“Jangan lupa makan siang," ucap Reatha.

Azka menatapnya. “Iya.”

Reatha mengerutkan kening. “Kamu jawabnya iya terus.”

“Karena semua yang kamu bilang benar.”

Reatha terdiam. Azka lalu berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di depan istrinya. Perempuan itu mengangkat wajah. “Kenapa?” tanyanya.

Azka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Reatha beberapa saat, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat. Lalu, tanpa diduga, pria itu sedikit menunduk dan mengecup kepala Reatha. Singkat. Namun, cukup untuk membuat Reatha membeku.

Azka kemudian berkata pelan, “Maafkan sikapku selama ini.”

Reatha mengangkat wajah dengan mata membulat. “Azka .…”

“Aku tahu aku sering bersikap dingin. Sering membuat kamu merasa seperti orang asing di rumah ini," ucap Azka selanjutnya. Reatha tidak langsung menjawab.

Azka menarik napas. “Aku juga tahu, kamu enggak pernah salah apa-apa.”

Kalimat itu membuat dada Reatha terasa sesak. Ia sadar, jikapun Azka berlalu dingin, baginya tak masalah karena ia juga membohongi pria itu.

“Aku janji,” lanjut Azka, “Mulai hari ini aku akan berubah.”

Reatha menatapnya lama. “Enggak perlu berubah karena kasihan sama aku,” ucapnya pelan.

Azka menggeleng. “Bukan karena kasihan.”

“Terus?”

“Karena aku ingin.”

Reatha terdiam.

Azka melanjutkan, “Aku ingin belajar jadi suami yang lebih baik.”

Jantung Reatha berdegup lebih cepat.

“Dan aku ingin kamu merasa rumah ini benar-benar rumah kamu.”

Reatha menunduk. Ia tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu menyentuh. Azka mengangkat tangannya, lalu menyentuh pelan bahu Reatha.

Namun, sebelum benar-benar pergi, ia kembali menatap Reatha. “Jaga diri.”

Reatha mengangguk. “Kamu juga.”

1
Nar Sih
semangat azka 💪untuk dpt kan hati reatha lgi
Nie
setuju sama mama...kalo emang cmn minta maaf biar mama aja yg melakukannya,ga ush kamu ganggu dulu Rea,biarkan dia bahagia
ken darsihk
Semangat Azka
Semoga keberuntungan berpihak pada mu 👏👏👏
Dcy Sukma
biasa dimanja,jd melakukan tindakan gak dipikir akibatnya..
Lela Angraini
selamat berjuang azka ,tunjukkan ketulusanmu buat reatha. smg kamu dpat hasil yg maksimal ya
Linda Ayu Tong-Tong
cepet ungkap kebusukan keluarganya reatha dong kak..gemes banget aq sma mereka ber3
Cicih Sophiana
semoga Rea berjodoh dgn Azka... orang tua nya jg baik dari awal...
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Cicih Sophiana
betul kata mama Azka... klo masih berhubunga Vina atau hati kamu ragu... lebih baik kamu tdk menemui nya
Dokkan Battle
yang komen disini tim yang seneng disakitin suami ya?
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
mampir aku kak❣️
Mama Reni: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
ken darsihk
Semoga kamu blm terlambat Azka , dan kamu bisa mendapatkan Reatha kembali
Cicih Sophiana
orang tua Azka jg sangat baik kok...
Cicih Sophiana
orang baru kenal mengajak pulang iya aja... gimana sih kamu Rea
Naufal Affiq
semangat azka,kalau jodoh gak akan kemana
Sri Supriatin
lanjuut thor, bijaksana sekali ortu Azka, semoga impian kita readers jodomu Reatha eeh terserah thor aja deh 🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
dan perasaan Azka kepada Reatha selama empat bulan mereka bersama malah berkembang jadi rasa nyaman dan rasa cinta yang tumbuh di hatinya,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya sejak dulu apa yang Azka rasakan ke Vania yah karena dia merasa bertanggung jawab sebagai seorang 'kakak' saja sih, apalagi dia juga anak tunggal selama ini,,,
Sugiharti Rusli
terkadang memang sangat tipis yah bedanya antara diserahi amanah menjaga seseorang dan rasa cinta yang diharapkan ada,,,
Dcy Sukma
Vania..hatimu aman?
ken darsihk: Hati Vania remuk redam ke batu kelindas traktor 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!