Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Wanitaku
Ciuman keduanya dengan cepat berakhir saat seorang perawat membuka tirai.
Srak..
"Eh, maaf," wajah perawat Muda itu langsung merah padam saat ia kembali menutup tirainya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Jingga mendorong tubuh Farhan, ia segera menjauh dan wajahnya memerah seperti tomat sambil berpaling muka dari Farhan dan menggigit bibir bawahnya.
Rasa ciuman yang lembut masih tersisa di dalam mulut Jingga saat ia menelan air liurnya dan berkata, "aku ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu jawaban Farhan, Jingga segera meninggalkan pria itu dan pergi ke toilet dengan wajah masih semerah tomat.
Untung saja UGD saat itu tidak terlalu ramai, jadi tidak banyak yang menatapnya.
Setelah tiba di toilet dan berdiri di depan kaca, Jingga memegang wajahnya yang terasa panas, 'dua kehidupan, ini adalah ciuman pertamaku. Jantungku tidak bisa dikendalikan,' pikir Jingga dalam hati sambil terdiam di depan cermin, menatap dirinya yang tampak canggung setelah kepergok berciuman.
'Kami sudah ciuman, apakah sekarang kami di hitung...'
Jingga masih diam di depan cermin ketika 2 perempuan memasuki toilet sambil berbincang.
"Kau dengar kata perawat tadi? Ada perempuan dan laki-laki yang berbuat mesum di UGD di siang bolong begini."
"Itu sangat memalukan, mereka sungguh tidak tahu cari tempat."
"Perempuannya pasti sangat murahan, hingga mau dipaksa melakukan hal seperti itu di tempat umum. Seharusnya dia mencari laki-laki yang lebih mapan yang setidaknya bisa membawanya ke hotel untuk melakukan hal begitu, bukannya--"
Brak!
Jingga memukul meja wastafel sambil berbalik menatap dua perempuan itu.
Dua perempuan itu sangat terkejut, mereka terdiam satu sama lain memandangi Jingga.
Apa gadis ini marah?
Tetapi Jingga malah tersenyum sambil berkata, "suasana hatiku sedang sangat baik, kalau kalian bisa memberiku sebuah saran kecil, uang ini jadi milik kalian," Jingga mengeluarkan selembar uang 100 dolar dari sakunya dan memperlihatkannya pada 2 perempuan itu.
Keempat mata di depan Jingga langsung berbinar saat melihat uang dolar di tangan Jingga, "tentu saja kakak besar, apa yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang perempuan dengan penuh semangat.
"Kalau seorang pria sudah mencium seorang wanita, apakah wanitanya boleh meminta pertanggungjawaban?" Tanya Jingga.
"Kau.. jangan-jangan perempuan yang digosipkan berciuman di UGD itu--"
"Plak!" Perempuan lain memukul perempuan yang sedang berbicara, "Tentu saja harus meminta pertanggungjawaban! Laki-laki itu harus menikahi si perempuan, kalau tidak, burung kecilnya bisa tersambar petir di siang bolong!"
"Kau benar!" Jingga bersemangat, "ini untuk kalian," kata Jingga menyerahkan uang 100 dolar pada 2 perempuan di sana dan keluar dari toilet dengan perasaan meluap-luap.
"Gila! 100 dolar untuk satu kalimat!"
"Sepertinya dia orang kaya, ayo kita pergi belanja!"
"100 dolar sama dengan 1.800.000, kalau begitu masing-masing dapat 900.000!"
"Ayo! Ayo pergi belanja!"
Sementara Jingga yang pergi, langkahnya diikuti pikirannya, 'Apakah sekarang aku terlihat seperti anak SMP yang dimabuk cinta? Apalah itu, pokoknya aku sudah memutuskan pria yang akan menjadi tunanganku nanti,' pikir Jingga dalam hati.
Begitu Jingga menemui Farhan, dilihatnya pria itu sedang berusaha turun dari tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan? Jangan bergerak dulu, nanti lukamu kembali basah," kata Jingga.
Omelan Jingga itu membuat gerakan Farhan terhenti, ia menatap Jingga sambil tersenyum, "kalau kau belum kembali juga, aku sudah menyusulmu ke sana," ucap Farhan.
Senyuman Jingga melebar saat ia mendekati Farhan dan memeluk pria itu, "kau sangat mengkhawatirkanku? Lalu katakan padaku, bagaimana kau akan bertanggung jawab atas apa yang baru saja kau lakukan padaku? Harga kesucian seorang perempuan itu tidak bisa dibayar pakai uang," kata Jingga.
Farhan tersenyum, "tentukan tanggalnya, aku akan datang melamar," ucap Farhan.
"Apa? Secepat itu?" Jingga melepas pelukan mereka dan menatap Farhan dengan serius.
Farhan menarik Jingga kembali ke pelukannya "Aku tidak suka menunda-nunda sesuatu, apalagi jika berurusan dengan wanitaku," ucap Farhan.
Jantung Jingga semakin berdetak, saat ini dia merasa telinga dan pipinya menjadi sangat panas.
Wanitaku.
Satu kata itu keluar dari mulut Farhan sudah cukup membuat dirinya salah tingkah sampai rambutnya juga ikut menegang.
Dua kehidupan, ini adalah satu-satunya pria yang memberinya julukan sebagai 'wanitaku'.
"Sudah diputuskan begitu, aku akan memberitahumu nanti," ucap Jingga.
"Baiklah," kata Farhan.