💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cahaya terik matahari siang menerobos celah gorden tebal, menyorot partikel debu yang menari di udara kamar Alana. Jarum jam menunjuk angka 11 lewat 45 menit.
Alana berdiri di depan cermin, mengikat rambut panjangnya menjadi ikatan ekor kuda yang sangat rapi tanpa sisa poni. Kemeja sutra hitam berlengan panjang dan celana bahan berpotongan tegas membalut tubuhnya rampingnya, dipadukan dengan sepatu loafers datar.
Ia tidak lagi terlihat seperti buronan berdebu di gang kumuh, melainkan sosok elegan yang tak tersentuh.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi. Sebelum beranjak, tangannya meraba pinggangnya dimana sebuah belati taktis berbahan polimer, yang mustahil dilacak oleh pemindai logam mana pun terselip di balik ikat pinggang.
Sentuhan material dingin di kulitnya menjadi jangkar kewarasan bahwa bahaya tidak mengenal tempat.
Hari ini adalah hari pertama Kael dan Kai bersekolah di Rosewood Academy. Berkat identitas baru tanpa celah yang ia tanam di sistem kependudukan, si kembar akhirnya bisa menghirup udara bebas.
Alana membuang napas pelan. Senyum tipis sempat mampir di bibirnya mengingat wajah antusias mereka pagi tadi, meski di sudut hatinya, insting seorang pelindung tak pernah pudar.
__________________
Di seberang kota, suhu di ruang rapat utama Menara Adhitama terasa membekukan tulang. Belasan kepala divisi menunduk kaku menatap ujung sepatu mereka, membiarkan keringat dingin menetes di pelipis.
Dua bulan tanpa hasil pelacakan, dan mereka tahu malaikat maut sedang berdiri di ujung meja kayu mahoni itu.
Elvano mencengkeram tepian meja hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol ganas. Rahangnya mengeras. Ia baru saja menarik napas untuk menjatuhkan vonis pemecatan pada kepala divisi keamanannya, ketika sebuah nada dering nyaring membelah keheningan yang mencekik itu.
Semua orang di ruangan menahan napas.
Elvano merogoh saku jasnya dengan tatapan membunuh. Namun, kilat amarah itu sedikit mereda melihat nama di layar. Ia memberi isyarat tangan mutlak agar semua orang diam, lalu melangkah lebar ke sisi jendela kaca panorama.
"Ada apa, Kak? Aku sedang rapat krusial," jawab Elvano dengan nada rendah yang sarat akan tekanan.
"Simpan dulu urusan mafia-mafiaanmu itu, El," omel sang kakak, suaranya terdengar nyaring dan mendesak.
"Pengasuh Lea dilarikan ke rumah sakit pagi ini. Aku sedang rapat pemegang saham, sama sekali tidak bisa ditinggal. Jemput keponakanmu sekarang di Rosewood Academy. Bel pulangnya berbunyi sepuluh menit lagi!"
Elvano memijat pelipisnya yang berdenyut keras. "Kak, aku bukan sopir antar-jemput—"
"Elvano Adhitama! Lea akan menangis histeris kalau dia menunggu sendirian di gerbang. Sekali ini saja, bertingkahlah seperti paman yang normal!"
Klik. Panggilan diputus sepihak.
Ia mengembuskan napas panjang, menelan bulat-bulat rasa frustrasinya. Ia menyambar kunci mobil di atas meja, lalu menatap Jace dengan sorot mata yang menggelap.
"Tunda rapatnya. Jace, awasi semuanya. Kalau ada pergerakan sekecil apa pun dari jejak hacker itu, langsung hubungi aku." Elvano mengancingkan jasnya dengan kasar.
"Aku harus menjemput Lea."
______________
Tiga puluh menit kemudian, deretan mobil Eropa mewah berjejer memadati pelataran aspal Rosewood Academy yang rindang.
Alana tiba lima menit sebelum bel berbunyi. Ia memarkirkan kendaraannya sedikit menjauh, lalu berjalan tenang menempati titik buta di balik pilar besar gerbang utama.
Kacamata hitam bertengger presisi di hidungnya. Matanya menyapu setiap pelat nomor kendaraan, postur para pengawal pribadi yang menunggu, dan setiap pergerakan mencurigakan.
Tak lama, deru halus mesin V8 membelah keramaian. Sebuah sedan hitam edisi terbatas melaju mulus dan mengerem sempurna, hanya berjarak sepuluh langkah dari pilar tempat Alana berdiri.
Pintu kemudi terbuka.
Seorang pria jangkung melangkah keluar. Jas hitam yang membalut tubuh tegapnya sengaja tidak dikancingkan, dengan kerah kemeja yang sedikit terbuka memperlihatkan garis leher maskulin.
Saat pria itu menutup pintu mobil, angin mengacak pelan rambutnya, memperlihatkan sebuah lesung pipit samar saat pria itu mendecak pelan karena terik matahari.
Alarm maut di kepala Alana meledak.
Darahnya berdesir sedingin es, sementara detak jantungnya memompa adrenalin secara brutal ke seluruh urat nadinya. Pria itu adalah Elvano Adhitama.
Di detik yang sama, insting predator Elvano membuatnya menoleh tajam ke arah pilar batu.
Langkah Elvano terhenti mutlak.
Bisingnya suara mesin mobil dan obrolan para orang tua mendadak luruh, berubah menjadi dengung statis di telinga sang mafia. Matanya mengunci sosok wanita berbusana hitam di balik pilar itu.
Meski separuh wajahnya tertutup kacamata gelap, postur tegap, rahang yang angkuh, dan aura maut yang sangat familier itu... Elvano tak mungkin melupakannya.
Dua bulan ia dibuat gila hingga nyaris menghancurkan kota, dan wanita itu kini berdiri bebas tepat di depan matanya.
Keterkejutan itu hanya singgah seperkian detik.
Detik berikutnya, sudut bibir Elvano perlahan tertarik ke atas, membentuk seringai predator yang mematikan. Lelucon takdir macam apa ini? Saat seluruh pasukannya membalikkan kota, sang peretas ulung justru berdiri menantang di gerbang sekolah keponakannya di siang bolong.
Menyadari penyamarannya tak lagi berguna, Alana tidak lari. Tubuhnya tidak mundur satu inci pun. Ia justru menegakkan dagu, membalas tatapan membunuh pria itu dari balik lensa gelapnya dengan ketenangan absolut yang justru memantik rasa penasaran gila di dada Elvano.
Dengan gerakan santai yang menguarkan peringatan mematikan, jari-jari lentik Alana membelai pelan gagang belati polimer yang sedingin es.
Di tengah keramaian orang tua murid yang tidak menyadari apa-apa, sang raja mafia dan ratu hacker berdiri berhadapan. Dipisahkan oleh jarak sepuluh langkah yang sarat akan ego yang sama-sama membara.
Bersambung...