NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — ARSIP TERLARANG DI UJUNG KOTA

Pagi itu, Arga Pratama berdiri di depan papan tulis kecil di ruang kerja sementara yang disediakan panitia kompetisi. Di atas meja, beberapa lembar salinan dokumen tersusun rapi. Ada catatan pengiriman komponen dari Surya Wiratama, log akses ruang kendali dari Fajar, perubahan dokumen CC-117B, serta salinan notulen rapat yang ditemukan di arsip perusahaan Hendra Mahardika.

Bagi orang lain, tumpukan kertas itu mungkin hanya dokumen lama yang sudah kehilangan nilai.

Namun, bagi Arga, setiap lembar menyimpan kemungkinan untuk mengungkap kebenaran tentang lima tahun lalu.

Malam ketika proyek ARX-9 mengalami kegagalan.

Malam ketika namanya dicatat sebagai orang yang bertanggung jawab.

Dan malam ketika seluruh kehidupan yang dibangunnya runtuh hanya dalam beberapa jam.

Arga menarik napas panjang, kemudian menulis tiga nama di papan.

ADRIAN VOSS.

MARCUS HALE.

GUNAWAN WIRATAMA.

Ia menghubungkan ketiganya dengan garis putus-putus.

Belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan siapa yang bersalah. Adrian menandatangani laporan final. Marcus mengaku pernah melihat laporan keselamatan awal, tetapi tetap menyetujui laporan akhir. Gunawan tercatat sebagai ketua komite audit sekaligus pemegang kewenangan tertentu atas sistem.

Ketiganya memiliki akses, tetapi akses bukan berarti tindakan.

Arga tidak ingin mengulangi kesalahan lima tahun lalu: mempercayai satu versi cerita tanpa memeriksa seluruh bukti.

Pintu ruangan terbuka.

Nadia Prameswari masuk sambil membawa laptop dan sebuah map berwarna abu-abu.

“Aku sudah memeriksa alamat pengirim email anonim yang kamu terima,” katanya.

Arga menoleh. “Ada hasilnya?”

“Sebagian. Email itu dikirim melalui beberapa layanan perantara. Kita tidak bisa memastikan siapa pengirim aslinya. Tapi ada satu hal menarik.”

Nadia meletakkan laptop di meja, lalu menunjukkan sebuah tangkapan layar.

“Pesannya menyebut arsip lama milik pemasok komponen. Aku mencoba mencocokkan nama perusahaan yang memasok modul kendali ARX-9 lima tahun lalu dengan daftar vendor yang masih tersimpan.”

Di layar muncul nama sebuah perusahaan.

PT NUSANTARA PRECISION SYSTEMS.

Arga mengerutkan kening.

“Aku pernah mendengar nama itu.”

“Perusahaan tersebut memasok komponen elektronik khusus untuk proyek ARX-9. Setelah proyek dihentikan, sebagian divisinya dipindahkan ke perusahaan induk. Kantor lamanya sudah tidak digunakan untuk kegiatan operasional.”

“Dan arsipnya?”

“Menurut catatan perusahaan induk, dokumen teknis lama dipindahkan ke fasilitas penyimpanan di pinggiran kota. Tapi aku belum menemukan daftar lengkap dokumen yang ada di sana.”

Arga menatap nama perusahaan itu cukup lama.

“Apakah kita punya bukti bahwa laporan keselamatan awal berada di sana?”

“Belum. Yang kita punya hanya petunjuk anonim dan catatan pemindahan arsip. Itu belum cukup untuk menyimpulkan apa pun.”

Arga mengangguk.

“Bagus. Kita mulai dari sana, tetapi melalui jalur resmi.”

Nadia tersenyum tipis. “Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu.”

“Aku tidak mau ada orang yang bisa menuduh kita mengambil dokumen secara ilegal. Kalau laporan itu benar-benar ada, kita harus bisa membuktikan dari mana asalnya dan siapa yang menyimpannya.”

Sebelum Nadia menjawab, ponsel Arga bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Kevin Santoso.

Arga, aku menemukan catatan lama tentang pemindahan arsip ARX-9. Ada satu nama yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi. Kita harus bicara. Jangan beri tahu siapa pun dulu.

Arga membaca pesan itu dua kali.

Kemudian ia membalas singkat.

Aku tidak akan menyebarkan informasi ini. Tapi aku juga tidak akan merahasiakan sesuatu yang bisa membahayakan orang lain. Kita bertemu setelah sesi kompetisi.

Kevin tidak langsung menjawab.

Arga menyimpan ponselnya.

“Sepertinya kita bukan satu-satunya yang mulai menemukan sesuatu,” katanya.

Nadia menutup laptop.

“Atau seseorang sengaja membuat kita percaya bahwa kita sedang menemukan sesuatu.”

Arga menatapnya.

“Itulah alasan kita harus memeriksa semuanya.”

Pukul sembilan pagi, arena kompetisi kembali dipenuhi suara mesin dan percakapan para peserta.

Setelah serangkaian penyelidikan terkait akses ilegal ke sistem simulasi, panitia memutuskan bahwa kompetisi harus berjalan dengan pengawasan tambahan. Semua perangkat diuji ulang. Setiap perubahan konfigurasi dicatat oleh petugas independen.

Arga masih belum diizinkan menggunakan akses khusus yang berkaitan dengan sistem administrasi, tetapi ia diperbolehkan mengikuti seluruh tahapan teknis yang tidak memerlukan kewenangan tersebut.

Keputusan itu cukup adil menurutnya.

Ia tidak datang untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah melalui jalan pintas. Ia datang untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini berusaha dikubur oleh masa lalu.

Di area persiapan, Rendy Mahardika sedang memeriksa mobil uji bersama Dimas Prakoso.

“Katanya tahap berikutnya bukan sekadar diagnosis,” ujar Dimas ketika melihat Arga mendekat. “Kita harus merancang solusi yang bisa diterapkan, lalu membuktikan hasilnya dalam simulasi.”

“Masalahnya apa?” tanya Arga.

Dimas menunjukkan lembar instruksi.

“Mobil uji mengalami peningkatan suhu pada sistem pendinginan saat bekerja dalam beban tinggi. Ada juga penurunan efisiensi setelah beberapa siklus. Peserta harus mencari penyebabnya dan memberikan solusi tanpa mengganti seluruh sistem.”

Rendy menyilangkan tangan.

“Artinya kita tidak bisa asal mengganti komponen mahal. Kita harus membuktikan bagian mana yang benar-benar bermasalah.”

Arga mengangguk.

“Itu justru cara kerja yang seharusnya.”

Rendy meliriknya. “Jangan mulai mengajariku.”

“Aku tidak mengajarimu. Aku hanya setuju dengan kesimpulanmu.”

Dimas tertawa kecil.

“Kalau kalian sudah selesai berdebat, kita punya waktu terbatas.”

Mereka mulai bekerja.

Arga meminta data suhu pada beberapa titik, riwayat beban mesin, tekanan sistem, serta hasil pemeriksaan awal. Rendy memeriksa jalur pendinginan dan kondisi fisik komponen. Dimas mengolah data pengujian untuk membandingkan perubahan suhu pada setiap siklus.

Beberapa menit pertama tidak menunjukkan kerusakan yang jelas.

Tekanan sistem masih berada dalam batas yang ditentukan. Tidak ditemukan kebocoran yang terlihat. Kipas pendingin bekerja, dan pompa tidak menunjukkan gejala kerusakan yang meyakinkan.

“Kalau semuanya tampak normal, mungkin masalahnya ada pada kapasitas radiator,” kata Rendy.

“Mungkin,” jawab Arga. “Tapi kita belum punya dasar untuk menggantinya.”

Arga memperhatikan grafik suhu yang ditampilkan pada monitor.

Kenaikan suhu tidak terjadi secara langsung ketika beban meningkat. Ada jeda sebelum suhu mulai naik tajam. Setelah beban diturunkan, suhu juga membutuhkan waktu lebih lama daripada yang diperkirakan untuk kembali stabil.

Ia meminta Dimas menampilkan data aliran pendingin dan sinyal kendali kipas secara bersamaan.

“Lihat bagian ini,” katanya.

Dimas mendekat.

“Perintah kipas meningkat, tetapi perubahan responsnya terlambat.”

Rendy menatap grafik tersebut. “Berarti kipasnya lambat?”

“Belum tentu. Kita harus membedakan antara keterlambatan perintah, keterlambatan respons komponen, dan masalah pengukuran.”

Arga meminta pemeriksaan ulang terhadap konektor sensor suhu dan jalur sinyalnya. Mereka juga memeriksa kestabilan tegangan, kondisi sambungan, serta kesesuaian data sensor dengan alat ukur pembanding.

Setelah pengujian dilakukan secara bertahap, ditemukan perubahan sinyal yang tidak konsisten pada salah satu sambungan konektor. Ketika beban pengujian meningkat, sambungan itu menunjukkan penurunan kualitas kontak.

Rendy terdiam saat melihat hasilnya.

“Jadi bukan radiator?”

“Belum ada bukti bahwa radiator menjadi penyebab utama,” jawab Arga. “Sinyal yang tidak stabil membuat sistem menerima informasi suhu yang terlambat atau tidak konsisten. Respons kipas kemudian tidak selalu sesuai dengan kondisi sebenarnya.”

Mereka memperbaiki sambungan sesuai prosedur yang ditetapkan panitia, kemudian mengulang pengujian dari kondisi awal.

Hasilnya menunjukkan respons yang lebih stabil. Suhu tetap berada dalam batas aman selama siklus simulasi yang ditentukan.

Dimas mengembuskan napas lega.

“Kita berhasil.”

“Kita menemukan penyebab yang bisa dibuktikan,” kata Arga. “Itu berbeda dengan sekadar berhasil mengganti komponen.”

Rendy menatap hasil pengujian, lalu mengulurkan tangan kepada Arga.

“Kali ini aku akui analisismu lebih cepat.”

Arga menjabat tangannya.

“Dan pemeriksaan fisikmu membantu memastikan bahwa kita tidak melewatkan kemungkinan lain.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Rendy tidak terlihat sedang mencari cara untuk merendahkan Arga.

Ia hanya terlihat seperti seorang mekanik yang ingin menjadi lebih baik.

Namun, di balkon pengawas, Adrian Voss mengamati mereka dengan wajah yang sulit dibaca.

Marcus Hale berdiri di sampingnya.

“Arga kembali menunjukkan kemampuan yang sama seperti lima tahun lalu,” ujar Marcus pelan.

Adrian tidak mengalihkan pandangan.

“Bukan kemampuannya yang membuatku khawatir.”

“Lalu apa?”

“Dia mulai mengumpulkan orang-orang yang sebelumnya memilih diam.”

Marcus mengerutkan kening.

“Kevin, Nadia, Fajar, bahkan Hendra Mahardika. Jika mereka benar-benar bekerja sama, kita tidak bisa lagi mengendalikan cerita yang beredar.”

Adrian akhirnya menoleh.

“Karena itu, kita harus memastikan bahwa setiap dokumen yang mereka temukan dapat diuji keasliannya.”

Marcus terdiam beberapa saat.

“Kau terdengar seperti ingin membantu mereka.”

“Aku ingin memastikan tidak ada orang yang membuat tuduhan tanpa bukti.”

“Termasuk tuduhan terhadap dirimu sendiri?”

Tatapan Adrian berubah dingin.

“Terutama terhadap diriku.”

Sore harinya, setelah sesi kompetisi berakhir, Arga menemui Kevin di sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari gedung penyelenggara.

Kevin datang membawa tas selempang hitam. Wajahnya terlihat lebih lelah daripada saat terakhir mereka berbicara.

Ia duduk di hadapan Arga, memesan air mineral, lalu memastikan tidak ada orang yang berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

“Aku menemukan catatan pemindahan arsip yang dibuat beberapa bulan setelah proyek ARX-9 dihentikan,” kata Kevin.

Ia mengeluarkan selembar fotokopi.

Dokumen itu memuat daftar beberapa kotak penyimpanan, nomor inventaris, dan tujuan pemindahan. Sebagian besar nama berkas hanya berupa kode administratif.

Namun, satu baris diberi tanda pensil.

KOTAK ARX-9/SR-04 — DOKUMEN KESELAMATAN DAN HASIL VALIDASI AWAL.

Lokasi penyimpanan tercatat sebagai fasilitas arsip PT Nusantara Precision Systems.

Arga memeriksa bagian bawah dokumen.

“Siapa yang menandatangani pemindahan ini?”

Kevin menunjuk kolom persetujuan.

“Gunawan Wiratama.”

“Apakah tanda tangan ini sudah diverifikasi?”

“Belum. Ini salinan dari catatan yang kutemukan, bukan dokumen asli. Aku bahkan tidak tahu apakah seluruh halamannya masih lengkap.”

Arga mengembalikan kertas itu dengan hati-hati.

“Jadi, kita punya alasan untuk meminta pemeriksaan arsip, tetapi belum punya bukti bahwa kotak itu masih ada.”

Kevin mengangguk.

“Ada satu hal lagi. Di bagian catatan tambahan, tertulis bahwa akses terhadap kotak tersebut dibatasi atas permintaan komite pengawasan.”

“Siapa yang mengajukan pembatasan?”

“Namanya tidak dicantumkan. Hanya ada kode persetujuan.”

Arga meneliti kode tersebut.

EW-01.

Ia pernah melihat pola kode serupa dalam salah satu berkas yang diberikan Nadia. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah itu berkaitan dengan otorisasi eksternal atau sekadar penomoran internal.

“Apakah kamu tahu artinya?”

“Tidak. Aku mencoba menelusurinya, tetapi tidak menemukan penjelasan.”

Arga menyandarkan punggung.

“Kevin, aku perlu bertanya sekali lagi. Mengapa kamu baru menunjukkan ini sekarang?”

Kevin menunduk.

“Karena selama lima tahun aku takut.”

“Takut kepada siapa?”

“Awalnya, aku takut kehilangan pekerjaan. Setelah laporan final keluar, aku tahu ada hal-hal yang tidak cocok dengan apa yang kulihat sendiri. Tapi aku sudah memberikan kesaksian berdasarkan dokumen perusahaan. Kalau aku mengaku bahwa aku tidak memverifikasi semuanya, karierku bisa berakhir.”

Ia berhenti sebentar.

“Lalu aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin memang ada kesalahan teknis yang tidak kuingat. Aku memilih diam karena itu lebih mudah daripada mengakui bahwa aku ikut membiarkanmu menanggung semuanya.”

Arga tidak langsung menjawab.

Ia telah membayangkan percakapan ini berkali-kali. Dalam bayangannya, ia akan memarahi Kevin, menuntut penjelasan, atau melampiaskan kemarahan yang dipendam selama lima tahun.

Namun, ketika orang itu duduk di hadapannya, Arga justru merasa lelah.

“Aku belum bisa memaafkanmu,” katanya akhirnya. “Bukan karena aku ingin menghukummu, tetapi karena akibat dari kesaksian itu tidak bisa dihapus hanya dengan pengakuan.”

Kevin mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

“Tapi kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki kesalahanmu, bantu kami menemukan bukti yang bisa diverifikasi. Jangan menyembunyikan sesuatu hanya karena kamu takut pada akibatnya.”

“Aku akan membantu.”

“Dan mulai sekarang, jangan mengambil dokumen dari arsip perusahaan tanpa izin. Kita tidak boleh memberi mereka alasan untuk membatalkan bukti yang kita temukan.”

Kevin menyetujui permintaan itu.

Sebelum mereka berpisah, ia memberikan salinan nomor inventaris kotak ARX-9/SR-04 kepada Arga.

“Semoga ini membawa kita ke jawaban yang benar,” katanya.

Arga menyimpan salinan tersebut di dalam map.

“Semoga. Tapi kita harus siap jika jawaban yang kita temukan ternyata berbeda dari dugaan kita.”

Malam itu, Nadia berhasil menghubungi bagian administrasi perusahaan induk PT Nusantara Precision Systems. Setelah menjelaskan bahwa mereka ingin memverifikasi catatan proyek lama untuk kepentingan penyelidikan teknis, ia mengirimkan permohonan tertulis untuk memeriksa arsip.

Permohonan itu belum tentu disetujui.

Perusahaan tersebut telah berganti kepemilikan dan struktur organisasi. Beberapa catatan lama bahkan mungkin telah dimusnahkan sesuai kebijakan retensi dokumen.

Arga memahami bahwa prosesnya tidak akan mudah.

Namun, sekitar pukul delapan malam, Nadia menerima balasan.

Ia langsung menelepon Arga.

“Permohonan kita belum disetujui secara penuh,” katanya tanpa basa-basi. “Mereka meminta nomor inventaris, surat kuasa dari pihak yang berwenang, dan alasan pemeriksaan yang lebih rinci.”

“Itu wajar.”

“Masalahnya, petugas arsip menyebut kotak SR-04 masih tercatat dalam sistem.”

Arga berdiri dari kursinya.

“Artinya kotaknya belum dinyatakan hilang?”

“Benar. Tapi statusnya bukan tersedia untuk pemeriksaan. Ada catatan bahwa kotak itu dipindahkan ke ruang penyimpanan khusus dan aksesnya memerlukan persetujuan tambahan.”

“Persetujuan siapa?”

Nadia terdiam sejenak.

“Menurut petugasnya, persetujuan harus datang dari pemegang otorisasi lama atau perwakilan resmi komite pengawasan.”

“Gunawan?”

“Mungkin. Tetapi mereka tidak menyebut namanya secara langsung.”

Arga mengusap wajahnya.

“Baik. Kita kirim permohonan lengkap dan minta konfirmasi tertulis tentang status dokumennya.”

“Ada hal lain,” kata Nadia.

Nada suaranya berubah lebih serius.

“Saat petugas memeriksa nomor inventaris, sistem mencatat bahwa ada seseorang yang membuka berkas digital SR-04 tiga hari lalu.”

Arga terdiam.

“Siapa yang membukanya?”

“Nama pengguna tidak ditampilkan kepada petugas biasa. Aksesnya hanya bisa diperiksa oleh administrator arsip.”

“Apakah ada catatan perubahan?”

“Belum diketahui. Mereka tidak bisa memastikan apakah orang itu hanya melihat metadata atau mengubah sesuatu.”

Arga berjalan menuju jendela.

Tiga hari lalu, mereka bahkan belum menemukan catatan pemindahan arsip tersebut.

Seseorang telah mencari berkas yang sama sebelum mereka mengetahui keberadaannya.

Dan orang itu mungkin memiliki akses yang tidak mereka miliki.

“Jangan mencoba masuk ke sistem mereka,” kata Arga. “Kita minta audit resmi. Kalau ada perubahan, perusahaan harus bisa menunjukkan riwayatnya.”

“Setuju.”

Setelah panggilan berakhir, Arga memandangi salinan nomor inventaris di atas meja.

Ia mulai menyadari bahwa penyelidikan ini tidak lagi hanya berkaitan dengan apa yang terjadi pada malam pengujian ARX-9. Ada orang yang masih mengawasi arsip itu, bahkan setelah lima tahun berlalu.

Ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Kau sudah menemukan kotak SR-04. Jangan buang waktumu mencari laporan keselamatan di dalamnya. Laporan itu sudah tidak ada di sana.

Arga membaca pesan tersebut tanpa membalas.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.

Jika ingin tahu siapa yang menghapus nama dari laporan final, periksa orang yang pertama kali menyuruhmu menghentikan pengujian malam itu.

Jantung Arga berdetak lebih cepat.

Ia mencoba mengingat kembali malam lima tahun lalu.

Ruangan pengujian. Bunyi peringatan sistem. Angka-angka yang tidak sesuai. Permintaannya untuk menghentikan tes.

Ia ingat seseorang berbicara melalui interkom, memerintahkannya menunggu persetujuan sebelum mematikan rangkaian pengujian.

Namun, setelah bertahun-tahun, ingatan itu terasa seperti potongan rekaman yang rusak.

Ia tidak yakin siapa pemilik suara tersebut.

Arga segera membuka buku catatan lamanya. Di halaman yang hampir menguning, terdapat tulisan tangan yang dibuatnya beberapa jam sebelum kecelakaan pengujian.

22.14 — PERINTAH STOP DITAHAN. MENUNGGU KONFIRMASI PENGAWASAN.

Di bawahnya ada satu inisial yang selama ini tidak pernah ia pikirkan kembali.

R.W.

Arga menatap dua huruf itu lama sekali.

Ia tidak tahu apakah inisial tersebut milik orang yang dimaksud pengirim pesan, atau sekadar catatan singkat yang kehilangan konteks.

Namun, ia tahu satu hal: orang yang menulis pesan itu mengetahui detail yang tidak tercantum dalam laporan resmi.

Sebelum ia sempat menyalin halaman tersebut, sebuah panggilan masuk dari nomor tersembunyi.

Arga mengangkatnya.

“Siapa ini?”

Di seberang, terdengar suara laki-laki yang tenang.

“Kalau kamu masih menyimpan buku catatan asli dari malam itu, jangan serahkan kepada siapa pun.”

“Siapa Anda?”

“Aku seseorang yang pernah berada di ruang kendali ketika kamu meminta pengujian dihentikan.”

Arga menggenggam ponselnya lebih erat.

“Apakah Anda Gunawan Wiratama?”

Hening beberapa detik.

Kemudian suara itu menjawab dengan kalimat yang membuat Arga membeku.

“Bukan. Dan jika kamu ingin tahu siapa yang menahan perintah penghentian itu, jangan mencari orang yang menandatangani laporan final.”

Sambungan terputus.

Arga segera menelepon kembali, tetapi nomor tersebut tidak dapat dihubungi.

Ia menatap halaman buku catatannya sekali lagi.

Inisial R.W. masih berada di sana.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa nama yang selama ini dicari mungkin bukan nama seorang direktur, ketua komite, atau insinyur utama.

Mungkin orang itu adalah seseorang yang selama lima tahun berada jauh lebih dekat dengan kebenaran daripada yang pernah ia bayangkan.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!