NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Wadah yang Kembali

Lonceng hitam itu memiliki wajah Gu Chen.

Bukan ukiran yang menyerupai wajahnya, melainkan wajah yang benar-benar hidup. Sepasang mata terbuka pada permukaan logam, menatapnya dengan ekspresi lelah seolah telah menunggu selama ribuan tahun.

Gu Chen menatap balik tanpa berkedip.

“Baiklah,” gumamnya. “Sekarang loncengku punya wajah. Tinggal menunggu kapan ia mulai meminta uang.”

Tidak ada yang tertawa.

Lin Yue menatapnya seolah ingin memastikan apakah pemuda itu benar-benar sedang bercanda di tengah situasi seperti ini. Bai justru mundur beberapa langkah, sementara Gu Yuan tetap berlutut dengan kepala tertunduk.

Hanya gadis dalam pelukan Gu Chen yang tidak menunjukkan keterkejutan. Ia memandang lonceng itu dengan kesedihan yang begitu dalam hingga Gu Chen mulai curiga bahwa benda tersebut jauh lebih penting baginya daripada yang mereka ketahui.

“Kenapa kalian semua bereaksi seperti melihat sesuatu yang mengerikan?” tanya Gu Chen.

Gu Yuan perlahan mengangkat kepala. “Karena lonceng itu tidak pernah memiliki wajah.”

“Sekarang punya.”

“Kau tidak mengerti.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Gu Yuan memandang lonceng tersebut, lalu gadis yang berada di samping Gu Chen.

“Lonceng Pengingat dibuat untuk mengembalikan sesuatu yang telah dilupakan dunia. Namun, benda itu tidak pernah menyimpan ingatan milik siapa pun. Ia hanya membuka jalan agar ingatan yang dihapus bisa kembali kepada pemiliknya.”

“Lalu wajah ini?”

“Itu bukan wajah yang disimpannya.” Gu Yuan berhenti sejenak. “Itu wajah yang selama ini disembunyikannya.”

Gu Chen mengamati permukaan lonceng. Mata yang terbuka di sana perlahan bergerak, mengikuti setiap gerakannya.

“Wajah siapa?”

Gu Yuan tidak menjawab.

Dari kejauhan, sosok bertopeng tanpa wajah masih berdiri di antara kehampaan. Ia tidak mendekat, tetapi kehadirannya membuat ruang di sekeliling mereka terasa semakin sempit.

“Jangan biarkan lonceng itu menyebut namamu,” katanya.

Gu Chen mengangkat alis. “Ia punya mulut sekarang?”

Seolah menjawab pertanyaannya, bibir pada permukaan lonceng bergerak.

Sebuah suara terdengar langsung di dalam kepalanya.

“Akhirnya, kau kembali.”

Gu Chen langsung menggenggam lonceng itu lebih erat.

Suara tersebut bukan suara Gu Yuan, bukan Bai, dan bukan pula suara dirinya sendiri. Suara itu terdengar tua, tetapi tidak lemah; tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Siapa kau?” tanya Gu Chen dalam hati.

“Aku adalah sesuatu yang kau tinggalkan ketika kau memutuskan untuk hidup.”

Seketika, sebuah rasa sakit menusuk kepalanya.

Gu Chen melihat ruangan putih, meja batu, dan tiga sosok berdiri mengelilingi seorang anak kecil. Anak itu memiliki wajahnya, tetapi matanya tertutup kain hitam.

Seseorang berlutut di hadapan anak tersebut.

Seseorang yang wajahnya tidak bisa dilihat.

“Pilih,” kata suara tua itu. “Kau bisa mempertahankan namamu, atau mempertahankan kemungkinan bahwa kau akan menjadi manusia.”

Anak itu mengangkat kepala.

“Aku memilih menjadi manusia.”

“Kalau begitu, kau harus kehilangan sesuatu.”

“Apa?”

“Segala sesuatu yang membuatmu menjadi dirimu.”

Anak itu terdiam cukup lama.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Kalau aku kehilangan semuanya, bukankah itu berarti aku bebas menjadi siapa pun?”

Gambaran itu hancur.

Gu Chen terhuyung dan hampir jatuh, tetapi Lin Yue segera memegang lengannya.

“Gu Chen!”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau baru saja hampir pingsan!”

“Berarti aku masih punya kesempatan untuk hampir pingsan lagi.”

“Kalau kau masih bisa bercanda, berarti kepalamu memang bermasalah.”

Gu Chen tidak membalas. Ia masih berusaha memahami apa yang baru saja dilihatnya.

Ia memilih menjadi manusia.

Namun, siapa yang memberinya pilihan itu? Dan apa yang sebenarnya ia korbankan?

Ia menatap lonceng hitam. Wajah di permukaannya sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah logam hitam dengan retakan yang kini membentuk pola menyerupai urat nadi.

“Gu Yuan,” katanya pelan. “Kau pernah melihat ingatan itu?”

Gu Yuan menggeleng.

“Jangan berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

Gu Chen menatapnya tajam. “Kau mengenali ruangan putih itu. Aku melihat wajahmu saat gambaran tersebut muncul.”

Gu Yuan tidak segera menjawab. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, “Aku pernah melihat anak yang menyerupaimu.”

“Di mana?”

“Di tempat yang tidak seharusnya bisa dimasuki manusia.”

“Dan apa yang terjadi kepadanya?”

Gu Yuan menunduk.

“Dia memilih untuk dilupakan.”

Jawaban itu membuat Gu Chen terdiam.

Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, gadis di sampingnya tiba-tiba menarik ujung jubahnya.

“Jangan tanyakan lagi.”

Gu Chen menoleh. “Kenapa?”

“Karena setiap kali kau mencoba mengingatnya, sesuatu di tempat ini ikut terbangun.”

“Apakah sesuatu itu berbahaya?”

Gadis itu memandang lonceng hitam.

“Aku tidak tahu apakah dia berbahaya. Aku hanya tahu bahwa dia tidak seharusnya mengingat keberadaanmu.”

“Siapa dia?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Gu Chen lebih erat.

Untuk pertama kalinya, Gu Chen menyadari bahwa gadis itu mungkin tidak menyembunyikan kebenaran karena ingin menipunya. Mungkin ia benar-benar takut terhadap sesuatu yang bahkan tidak sanggup ia jelaskan.

Namun, rasa takut tidak mengubah fakta bahwa mereka membutuhkan jawaban.

Gu Chen menarik napas panjang.

“Baiklah. Kita tidak akan membicarakannya sekarang.”

Gadis itu menatapnya dengan terkejut.

“Kau mempercayaiku?”

“Tidak.”

Wajah gadis itu langsung berubah.

Gu Chen melanjutkan, “Aku hanya memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa kau tidak sedang berbohong.”

Gadis itu terdiam, lalu tersenyum tipis.

“Kalau begitu, aku akan membuktikannya.”

Sosok bertopeng tanpa wajah akhirnya bergerak.

Ia mengangkat tangan, dan kehampaan di sekeliling mereka berubah menjadi sebuah jalan panjang. Di ujung jalan itu berdiri gerbang batu dengan sepuluh lubang berbentuk lingkaran.

Sembilan lubang dipenuhi cahaya redup.

Lubang kesepuluh berwarna hitam pekat.

“Tempat ini akan segera runtuh,” katanya. “Jika kalian ingin keluar, ikuti jalan tersebut.”

Gu Chen menatapnya curiga. “Kenapa membantu kami?”

“Aku tidak membantu kalian.”

“Lalu?”

“Aku sedang memastikan sesuatu yang seharusnya terjadi tetap terjadi.”

Gu Chen tertawa pendek. “Kalian semua benar-benar punya masalah dalam menjelaskan maksud sendiri.”

Sosok bertopeng itu tidak menanggapi.

“Dengarkan baik-baik. Ketika melewati gerbang, jangan melihat ke belakang. Apa pun yang memanggil kalian, jangan menjawab.”

Lin Yue mengangkat busurnya sedikit. “Dan kenapa kami harus mempercayaimu?”

“Kalian tidak harus mempercayaiku.”

“Jawaban yang bagus,” gumam Gu Chen. “Akhirnya ada satu orang yang tidak berpura-pura menjadi penyelamat.”

Mereka mulai berjalan menuju gerbang.

Namun, setelah beberapa langkah, Gu Chen menyadari sesuatu. Bayangan mereka tidak bergerak mengikuti arah cahaya. Bayangan Lin Yue berjalan di depan, bayangan Bai tertinggal jauh di belakang, sedangkan bayangan Gu Yuan sama sekali tidak terlihat.

Hanya bayangan Gu Chen yang berjalan tepat di sampingnya.

Anehnya, bayangan itu tidak memiliki kepala.

Gu Chen berhenti.

Bayangan tanpa kepala tersebut ikut berhenti, tetapi tubuhnya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pintu hitam yang baru saja mereka tinggalkan.

Dari kejauhan terdengar suara seorang anak kecil.

“Gu Chen.”

Gu Chen langsung teringat peringatan sosok bertopeng.

Jangan menjawab.

Ia kembali berjalan.

“Gu Chen, kau tidak ingin tahu siapa yang membunuhku?”

Langkahnya melambat.

Lin Yue memperhatikan perubahan itu. “Jangan dengarkan.”

Suara anak kecil itu terdengar lagi.

“Kau selalu meninggalkanku ketika aku membutuhkanmu.”

Gu Chen mengepalkan tangan.

Suara itu tidak berasal dari gadis yang bersamanya. Suara tersebut berbeda, lebih lemah, dan mengandung kesedihan yang terasa begitu nyata hingga ia hampir berbalik.

Namun, ia terus berjalan.

“Kau berjanji akan mengingatku.”

Gu Chen berhenti sekali lagi.

Kali ini, Bai mencengkeram bahunya.

“Jangan.”

Gu Chen menatapnya. “Kau tahu siapa yang berbicara?”

Bai menggeleng. “Tidak. Tapi suara itu tidak sedang memanggilmu.”

“Lalu?”

Bai memandang bayangan tanpa kepala di samping Gu Chen.

“Dia sedang mencoba membuatmu mengingat sesuatu yang bukan milikmu.”

Gu Chen terdiam.

Lalu ia kembali berjalan.

Ketika mereka akhirnya melewati gerbang, suara anak kecil itu menghilang.

Kesepuluh lubang pada gerbang padam bersamaan.

Di belakang mereka, pintu hitam menutup dengan suara berat.

Dan bayangan tanpa kepala milik Gu Chen lenyap.

Mereka tiba di sebuah aula batu yang luas.

Tidak ada langit di atas mereka, hanya kegelapan yang dipenuhi titik-titik cahaya menyerupai bintang. Di tengah aula berdiri sepuluh pilar. Sembilan pilar memiliki ukiran yang dikenal Gu Chen, sedangkan pilar kesepuluh tidak memiliki permukaan yang bisa dilihat dengan jelas.

Bai menatap pilar-pilar tersebut.

“Kita berada di luar wilayah sembilan papan.”

“Bukankah tadi kita juga berada di luar sembilan papan?” tanya Lin Yue.

“Tempat sebelumnya berada di antara keberadaan dan ketiadaan. Tempat ini berbeda. Ini adalah titik yang menghubungkan semua papan.”

Gu Chen berjalan mendekati pilar kesepuluh.

“Dan apa yang ada di baliknya?”

Bai menatapnya dengan serius.

“Tempat yang bahkan para pemain tidak berani masuki.”

Gu Chen tersenyum kecil.

“Bagus. Sepertinya kita akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat.”

Lin Yue memukul lengannya pelan.

“Bisakah kau sekali saja bersikap serius?”

“Aku sedang serius. Kalau para pemain takut pada tempat ini, berarti mereka mungkin tidak akan mengikuti kita.”

Namun, ketika Gu Chen berdiri di hadapan pilar kesepuluh, ia menemukan sebuah tulisan kecil di bagian bawahnya.

Tulisan itu tidak terlihat seperti tulisan kuno. Bentuk hurufnya sederhana, bahkan menyerupai tulisan seseorang yang baru belajar menulis.

JANGAN BIARKAN GU CHEN MEMASUKI RUANGAN INI.

Di bawahnya terdapat tanda tangan.

Bukan Gu Yuan.

Bukan Bai.

Melainkan namanya sendiri.

Gu Chen mengusap tulisan tersebut dengan ujung jari.

Tinta hitamnya masih basah.

Seolah seseorang baru saja menuliskannya beberapa saat yang lalu.

Ia menoleh kepada yang lain.

“Kurasa kita punya masalah.”

Gu Yuan segera mendekat. Begitu membaca tulisan itu, wajahnya berubah.

“Jangan masuk,” katanya.

Gu Chen menatapnya. “Kenapa?”

“Karena orang yang menulisnya adalah dirimu sendiri.”

Gu Chen mengamati tanda tangan tersebut.

“Kalau aku sendiri yang menulisnya, berarti aku punya alasan untuk melarang diriku masuk.”

Ia tersenyum tipis, lalu menatap pilar kesepuluh.

“Sayangnya, aku juga punya alasan untuk mengetahui apa yang berusaha kusembunyikan.”

Sebuah celah muncul di permukaan pilar.

Dari dalamnya terdengar suara seseorang tertawa.

Suara yang sama persis dengan suara Gu Chen.

“Bagus,” kata suara itu. “Kali ini kau datang lebih cepat daripada yang kuduga.”

Gu Chen meletakkan tangan pada permukaan pilar.

Sebuah pesan muncul.

\[PINTU ASAL TERBUKA.\]

\[PENGUNJUNG: GU CHEN.\]

\[STATUS: PERNAH MASUK.\]

Lalu muncul satu pesan terakhir.

\[CATATAN: JANGAN PERCAYA KEPADA DIRIMU YANG BERADA DI DALAM.\]

Gu Chen menatap tulisan itu beberapa detik.

Kemudian ia mendorong pilar tersebut hingga terbuka.

Di baliknya terdapat sebuah ruangan kecil dengan meja batu, dua kursi, dan seorang pria yang duduk membelakanginya.

Pria itu mengenakan pakaian yang sama dengan Gu Chen.

Rambutnya sama.

Posturnya sama.

Bahkan bekas luka di bawah tulang rusuk kirinya pun sama.

Namun, ketika pria itu berbalik, Gu Chen melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya menegang.

Pria itu tidak memiliki wajah.

Hanya sebuah permukaan putih polos dengan satu kalimat tertulis di atasnya.

AKU ADALAH ORANG YANG KAU BUNUH SEBELUM KAU MEMILIKI NAMA.

Pria tanpa wajah itu berdiri.

“Selamat datang kembali,” katanya.

“Sekarang,” ia melanjutkan, “mari kita bicara tentang alasan sebenarnya kau membunuh dirimu sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!