Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Siapa yang Mulai Duluan?
Rendra Adijaya punya kebiasaan buruk.
Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dia akan memikirkannya sampai lupa bahwa ada hal lain yang juga perlu dipikirkan.
Seperti sekarang.
Di depannya ada buku matematika, catatan pelajaran, dan selembar kertas berisi soal yang harus dikumpulkan hari itu.
Di kepalanya, cuma ada satu kalimat.
Jangan sampai lo lupa dari mana nama itu berasal.
“Ren.”
Rendra tidak menjawab.
“Rendra.”
Masih tidak menjawab.
“WOI, RAJA SERVER.”
Rendra tersentak sampai pensil di tangannya jatuh ke lantai.
Beberapa murid menoleh.
Naya, yang duduk di sebelahnya, langsung memasang wajah tidak bersalah.
“Kenapa?” tanyanya polos.
Rendra mengambil pensilnya dengan muka masam.
“Lo sengaja.”
“Apanya?”
“Jangan pura-pura nggak tahu.”
“Gue cuma manggil nama lo.”
“Dengan volume pengeras suara masjid.”
“Ya maaf, telinga lo ternyata punya fitur hemat daya.”
Rendra menatapnya beberapa detik, lalu kembali mengerjakan soal.
Dia seharusnya tidak menceritakan pesan itu kepada Naya.
Bukan karena tidak percaya kepadanya. Justru sebaliknya. Kalau Naya sudah tahu ada masalah, perempuan itu bisa memikirkannya dengan serius meskipun mulutnya tetap sibuk mengomentari hal-hal yang tidak penting.
Dan Rendra tidak suka membuat Naya ikut terbebani.
Sayangnya, sekarang dia malah harus menahan diri agar tidak terus-menerus melihat ponsel.
“Lo belum jawab pertanyaan gue,” kata Naya.
“Pertanyaan apa?”
“Lo dari tadi mikirin pesan itu, kan?”
Pensil Rendra berhenti.
Naya menyandarkan punggung ke kursi.
“Gue tahu muka orang yang lagi mikir. Kebetulan muka lo dari tadi kayak orang mau menggugat perusahaan telekomunikasi.”
“Kenapa perusahaan telekomunikasi?”
“Karena lo kelihatan kesal sama sesuatu yang nggak bisa lo hubungi langsung.”
Rendra membuka mulut.
Menutupnya lagi.
“Analogi lo makin hari makin aneh.”
“Tapi benar.”
Rendra tidak menjawab.
Naya mengembalikan perhatian ke bukunya, seolah tidak berniat memaksanya bercerita lebih jauh.
Anehnya, justru itu yang membuat Rendra akhirnya bicara.
“Gue masih kepikiran soal nama itu.”
Naya menoleh.
“Nama akun game lo?”
“Bisa jadi.”
“Kalau bukan?”
“Gue nggak tahu.”
Naya mengangguk pelan. “Oke. Berarti kita jangan menebak terlalu jauh.”
Rendra meliriknya.
“Tumben.”
“Tumben apanya?”
“Lo nggak langsung bikin teori.”
“Gue punya banyak teori. Gue cuma nggak mau menghabiskan energi buat teori yang belum tentu benar.”
Rendra kembali menatap bukunya.
“Bagus.”
“Lagian kalau gue mau bikin teori, minimal gue udah sarapan.”
“Hubungannya apa?”
“Orang lapar nggak boleh mengambil keputusan penting.”
Rendra mendengus kecil.
Naya kembali mengerjakan soal, sementara Rendra berusaha melakukan hal yang sama.
Kali ini, setidaknya, dia berhasil menyelesaikan dua nomor sebelum bel istirahat berbunyi.
Sebuah pencapaian yang tidak akan dia masukkan ke dalam rapor, tetapi tetap layak disyukuri.
Saat istirahat, Rendra membuka Discord dari ponselnya.
Dia sebenarnya hanya ingin memeriksa notifikasi komunitas. Namun, begitu melihat nama King_Ren di bagian atas layar, pikirannya kembali ke pesan anonim tadi pagi.
Dia membuka profilnya sendiri.
Tidak ada yang berubah.
Tentu saja tidak ada yang berubah. Profil itu tidak akan tiba-tiba mengaku sebagai tersangka hanya karena dia menatapnya cukup lama.
Rendra menghela napas.
“Lo lagi ngapain?” tanya Naya dari seberang meja kantin.
“Memeriksa akun.”
“Lagi?”
“Gue belum selesai.”
“Dari tadi pagi?”
“Gue nggak memeriksanya terus-menerus.”
Naya menatap ponselnya.
Lalu menatap Rendra.
Lalu kembali menatap ponselnya.
“Gue bahkan belum ngomong apa-apa,” protes Rendra.
“Gue juga belum.”
“Ekspresi lo udah ngomong.”
“Wah, sekarang lo bisa membaca ekspresi orang.”
Rendra meletakkan ponselnya dengan sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.
Naya tertawa kecil.
“Udah, sini makan dulu. Lo dari pagi belum kelihatan makan dengan benar.”
“Gue sarapan.”
“Terus kenapa roti lo masih utuh waktu pelajaran pertama?”
Rendra terdiam.
Dia lupa bahwa Naya duduk tepat di sebelahnya sejak pagi.
“Itu karena—”
“Karena lo sibuk mikirin pesan misterius dari orang yang bahkan nggak punya foto profil?”
“Gue sedang mempertimbangkan kemungkinan.”
“Pertimbangkan sambil makan.”
Naya mendorong sebungkus roti ke arahnya.
Rendra melihat roti itu, kemudian menatap Naya.
“Ini punya lo.”
“Gue beli dua.”
“Kenapa?”
“Karena gue lapar waktu beli.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang gue kenyang.”
Rendra tidak langsung mengambilnya.
Naya menyipitkan mata.
“Kalau lo mau menolak, bilang aja.”
“Gue nggak menolak.”
“Bagus. Berarti masalah selesai.”
Rendra akhirnya mengambil roti tersebut.
Dia tidak tahu kenapa hal sesederhana menerima makanan dari Naya masih bisa membuatnya memikirkan terlalu banyak hal.
Mungkin memang ada bagian otaknya yang tidak berfungsi normal kalau perempuan itu terlibat.
Dia memutuskan tidak memikirkannya lebih jauh.
Setidaknya, sampai rotinya habis.
Sepulang sekolah, Rendra baru sempat membuka laptop di kamarnya.
Dia mencoba mengingat akun-akun lama yang pernah digunakannya. Ada beberapa forum game, akun media sosial yang sudah tidak aktif, dan satu akun yang dibuatnya ketika masih lebih muda.
Namun, mengingat nama pengguna dari bertahun-tahun lalu bukan pekerjaan mudah.
Terutama karena dulu dia pernah menganggap nama seperti DarkRendraX sebagai sesuatu yang keren.
Rendra menatap layar dengan ekspresi datar.
“Gue dulu kenapa, sih?”
Tidak ada yang menjawab.
Untungnya.
Dia membuka beberapa surel lama dan menemukan notifikasi pendaftaran dari sebuah forum game yang sudah jarang dikunjungi orang.
Nama penggunanya bukan King_Ren.
Bukan juga nama lengkapnya.
Hanya sebuah singkatan yang hampir tidak dia ingat.
Rendra mencoba masuk, tetapi kata sandinya salah.
Dia mencoba sekali lagi.
Salah.
Ketika hendak mencoba untuk ketiga kalinya, dia berhenti.
“Kalau akun gue terkunci gara-gara ini, gue bakal marah sama diri gue sendiri.”
Dia menutup halaman masuk dan memeriksa surel lama yang masih tersimpan. Ada sejumlah pemberitahuan dari forum tersebut, termasuk beberapa percakapan yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka.
Sebagian besar tidak penting.
Sampai sebuah judul percakapan membuatnya berhenti menggulir.
Tentang nama yang lo pakai.
Rendra mengernyit.
Tanggalnya sudah sangat lama.
Dia membuka surel itu.
Isinya pendek. Seseorang pernah bertanya mengapa dia mengganti nama pengguna di forum. Rendra tidak mengingat percakapan tersebut, dan balasannya pun tidak memberikan banyak petunjuk.
Namun, ada satu detail yang membuatnya membaca ulang bagian pengirim.
Nama akun itu terasa familiar.
Bukan karena dia masih berhubungan dengan orang tersebut.
Melainkan karena dia pernah melihat nama yang sama di komunitas game lamanya.
Rendra mencoba mengingat wajah di balik akun itu.
Tidak berhasil.
Dia bahkan tidak yakin pernah melihat wajahnya.
“Hebat,” gumamnya. “Sekarang gue punya masalah dari orang yang mungkin bahkan nggak gue kenal.”
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Naya masuk.
Naya: Udah nemu sesuatu?
Rendra memotret layar surel tersebut setelah memastikan tidak ada informasi pribadi yang ikut terlihat, lalu mengirimkannya.
Rendra: Ada percakapan lama. Tapi gue belum tahu apakah ada hubungannya.
Balasan Naya datang tidak lama kemudian.
Naya: Jangan langsung menyimpulkan. Cari tahu dulu siapa akunnya.
Rendra: Iya, Bu Detektif.
Naya: Bagus. Muridnya mulai bisa diarahkan.
Rendra menahan senyum.
Rendra: Gue nyesel cerita sama lo.
Naya: Tapi tetep cerita.
Rendra menatap pesan itu beberapa saat.
Lalu mengetik:
Rendra: Karena lo bakal marah kalau gue nggak cerita.
Naya: Nah. Berarti lo mulai pintar.
Rendra meletakkan ponselnya sambil menggeleng kecil.
Dia masih belum tahu siapa pengirim pesan anonim itu. Dia juga belum tahu apakah percakapan lama tersebut punya hubungan dengan foto yang muncul sebelumnya.
Tetapi setidaknya, sekarang dia punya sesuatu yang bisa diperiksa tanpa harus terus menatap layar ponsel seperti orang kehilangan arah.
Rendra kembali membuka surel tadi.
Dia memperhatikan nama akun pengirim sekali lagi.
Kali ini, ingatannya mulai menemukan sesuatu.
Bukan nama seseorang.
Melainkan nama sebuah tim game yang pernah dia ikuti ketika masih kecil.
Tim yang sudah lama bubar.
Dan yang paling aneh, nama itu sama sekali tidak pernah dia ceritakan kepada Naya.
Rendra bersandar di kursinya.
“Jangan-jangan…”
Dia berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya sendiri.
Belum ada bukti yang cukup.
Dan untuk pertama kalinya sejak menerima pesan pagi tadi, dia memilih tidak memaksakan sebuah kesimpulan.
Besok, dia akan memeriksa surel-surel lainnya.
Kalau memang ada seseorang dari masa itu yang sedang mencarinya, cepat atau lambat dia akan menemukan alasan di baliknya.
Setidaknya, dia berharap begitu.