Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perrang Terbuka
Suara tembakan otomatis beruntun memecah kesunyian pagi di lereng perbukitan. Asap tebal membubung dari arah gerbang utama mansion saat armada SUV hitam lapis baja milik Mahardika Group merangsek masuk, merobohkan barikade beton dan pintu besi berukir naga.
Dante melangkah tenang ke arah lemari besi terselubung di balik rak buku perpustakaan. Dengan gerakan terlatih, ia menarik senapan serbu otomatis, mengokangnya, dan menyisipkan beberapa magazin cadangan di balik sabuk kulitnya.
"Marco, amankan area timur dan pastikan helipad bersiap. Jangan biarkan satu pun anak buah Adrian menginjakkan kaki di lantai dua," perintah Dante dingin, tanpa ada sedikit pun raut gentar di wajahnya.
"Baik, Tuan!" Marco bergegas pergi memimpin pasukan pertahanan Black Viper.
Dante berbalik, menatap Aria yang berdiri terpaku dengan mata membelalak panik. Ia mendekati Aria, mencengkeram lembut kedua bahu wanita itu.
"Tetap di dalam ruangan ini, Aria. Jangan keluar sampai aku kembali," bisik Dante. Ada kilatan protektif yang amat pekat di balik mata abu-abunya.
"Dante, jangan lakukan ini! Ini gila, kalian berdua bisa saling membunuh!" jerit Aria, meraih lengan kemeja Dante.
"Dia yang memulai perang ini dengan mendobrak rumahku, Aria," sahut Dante datar. "Dan aku tidak pernah lari dari perang."
Dante melepaskan pegangan tangan Aria lalu melangkah keluar, membanting pintu perpustakaan dan menguncinya rapat dari luar.
Di pelataran utama mansion, pertempuran sengit tak terelakkan. Puluhan pria berjas hitam dari kubu Mahardika Group dan anggota sindikat Black Viper saling menembak di balik pilar-pilar marmer dan bangkai kendaraan yang terbakar.
Di tengah hujan peluru dan bau mesiu yang menyengat, Adrian Mahardika melangkah maju.
Sang CEO tidak lagi mengenakan setelan jas mewahnya, melainkan kemeja taktis hitam dengan rompi anti-peluru. Luka tembak di bahu kirinya yang baru dioperasi semalam ditutupi perban tebal yang mulai merembeskan darah segar akibat aktivitas fisiknya yang nekat. Namun, rasa sakit itu tak ia hiraukan. Pandangan mata cokelat gelapnya berkilat liar, dipenuhi oleh satu tujuan: merebut kembali Aria.
"Dante Vance! Keluar kau, penakut!" teriak Adrian. Suaranya menggelegar di antara dentuman tembakan.
Dari balik bayangan pilar lantai dua, Dante muncul. Ia menyandarkan senapannya di bahu, menatap Adrian dari ketinggian dengan senyuman miring yang penuh ejekan.
"Kau melangkah terlalu jauh, CEO berjas putih," ujar Dante, suara beratnya menembus riuh suara tembakan. "Membawa pasukan bersenjata ke rumahku hanya untuk seorang wanita yang secara sukarela ikut denganku?"
"Dia tidak pernah ikut denganmu secara sukarela!" bentak Adrian murka. Ia mengangkat senjatanya dan melepaskan tembakan beruntun ke arah pilar tempat Dante berdiri.
Pecahan semen dan batu marmer berhamburan. Dante melompat cepat ke balik dinding, lalu membalas tembakan Adrian dengan presisi mematikan. Peluru-peluru berkaliber tinggi menghantam lantai marmer tepat di dekat kaki Adrian, memaksa sang CEO berlindung di balik bangkai mobil SUV.
"Kau membohonginya, Adrian!" teriak Dante dari atas, suaranya menggema di seluruh atrium. "Kau menyembunyikan kenyataan bahwa keluargamu dibangun di atas darah dan tulang belulang keluargaku! Kau mengurungnya dalam sangkar emas agar dia tidak melihat betapa kotornya tanganmu!"
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat pada pegangan senjatanya. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan amarah dan gejolak emosi yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.
"Aku melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup dan melindungi apa yang menjadi milikku!" balas Adrian berteriak, suaranya dipenuhi dendam masa lalu yang membara. "Dan Aria berada di bawah perlindunganku! Kau tidak berhak menyentuhnya!"
"Dia memegang cincinku, Adrian! Dia melihat duniaku dan memilih untuk menyelamatkan nyawamu dengan tinggal di sini!" cetus Dante provokatif.
"Tutup mulutmu!"
Adrian melompat keluar dari balik perlindungannya, melepaskan tembakan membabi buta seraya menaiki tangga utama menuju lantai dua. Dante tidak tinggal diam; ia melompati pagar pembatas tangga dan menyambut pergerakan Adrian.
Dua penguasa kota itu kini saling berhadapan dalam jarak beberapa meter di tengah kepungan asap dan dentuman tembakan. Moncong senjata mereka saling terarah tepat ke dada satu sama lain.
"Ini berakhir hari ini, Dante," desis Adrian, jarinya siap menekan pelatuk.
"Ya, ini memang berakhir hari ini," balas Dante dingin dengan mata abu-abu yang berkilat membunuh.
Sebelum salah satu dari mereka menekan pelatuk, pintu perpustakaan di ujung lorong hancur ditendang dari dalam. Aria berlari keluar di tengah asap tebal, berdiri tepat di garis tembak di antara kedua pria tersebut.
"Hentikan semua ini!" jerit Aria histeris.