Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suasana di jalanan itu berubah menjadi sangat kacau.
Orang-orang berteriak panik ketika melihat Bima menempelkan pisau dapur ke perut remaja yang terluka itu.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" teriak seorang pria berbadan besar dari kerumunan.
"Dia mau membunuh anak itu! Cepat hentikan dia!" seru seorang ibu-ibu sambil menunjuk ke arah Bima.
Ibu dari remaja itu semakin histeris melihat tindakan Bima.
"Tolong jangan sakiti anak saya! Lepaskan pisau itu!" tangis sang ibu sambil berusaha menarik tangan Bima.
Bima tidak menepis tangan ibu itu.
Dia menatap mata sang ibu dengan tatapan yang sangat tenang namun penuh ketegasan.
"Ibu, dengarkan saya baik-baik."
"Arteri di dalam perut anak ibu pecah dan dia akan mati kehabisan darah dalam tiga menit."
"Jika ibu menghentikan saya sekarang, saya jamin anak ibu tidak akan selamat sampai ambulans tiba."
Mendengar nada suara Bima yang begitu dingin dan meyakinkan, tangan ibu itu perlahan mengendur.
Dia tidak tahu apa itu arteri, tetapi dia tahu arti dari kematian.
"Tolong selamatkan dia, Dok."
"Saya mohon, lakukan apa saja asalkan anak saya hidup," isak ibu itu dengan putus asa.
Bima mengangguk pelan.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Tolong bantu saya tahan tubuh anak ibu agar tidak banyak bergerak."
Bima kembali mengalihkan pandangannya ke arah perut remaja yang tertusuk besi pembatas jalan.
[Waktu tersisa: 3 menit 20 detik.]
Teks berwarna biru dari Sistem Medis Super kembali berkedip di sudut matanya.
Waktu terus berjalan mundur tanpa ampun.
Berkat Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut, Bima bisa melihat dengan jelas letak pendarahan utama.
Ada sebuah pembuluh darah besar di dekat organ hati yang robek akibat ujung besi.
Bima menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Srak!
Pisau dapur itu mengiris kulit dan lapisan otot di sekitar luka tusukan dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.
Darah segar langsung menyembur keluar membasahi tangan dan pakaian Bima.
Kerumunan warga menjerit ketakutan melihat pemandangan mengerikan itu.
Beberapa orang bahkan memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat banyak darah.
"Ya Tuhan, dia benar-benar membedahnya!"
"Itu malapraktik! Kita harus rekam ini untuk bukti ke polisi!"
Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam tindakan Bima.
Namun Bima sama sekali tidak peduli dengan kamera yang menyorotnya.
Pikirannya sepenuhnya fokus pada anatomi di dalam perut remaja itu.
"Sistem, seberapa dalam letak arterinya?" tanya Bima di dalam hatinya.
[Tiga sentimeter di bawah lapisan otot transversus abdominis.]
[Arahkan jari telunjuk dan tengah Anda pada sudut empat puluh lima derajat ke arah kiri.]
Bima langsung mengikuti instruksi sistem tanpa ragu sedikit pun.
Dia memasukkan dua jarinya ke dalam genangan darah di perut pasien.
Jari-jarinya meraba-raba mencari sumber denyut nadi yang bocor.
Tekstur licin dan hangat dari darah membuat usahanya menjadi sangat sulit.
"Ayo, di mana kamu?" gumam Bima dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
[Waktu tersisa: 2 menit 15 detik.]
[Peringatan. Tekanan darah pasien turun hingga batas kritis.]
Pasien remaja itu mulai kejang ringan karena otaknya kekurangan pasokan darah.
"Tahan tubuhnya, Bu! Jangan biarkan dia bergerak!" teriak Bima.
Ibu itu menangis sambil memeluk dada anaknya sekuat tenaga.
Tiba-tiba, ujung jari Bima merasakan semburan darah yang hangat dan berdenyut kencang.
Dia menemukannya.
Itu adalah arteri hepatika yang robek.
Tanpa membuang waktu, Bima langsung menjepit pembuluh darah itu dengan dua jarinya.
Dia menekan arteri itu ke arah tulang belakang untuk menghentikan aliran darah.
Seketika itu juga, semburan darah yang keluar dari perut pasien mulai melambat dan akhirnya berhenti.
Bima menghela napas panjang dengan rasa lega yang luar biasa.
"Berhasil," bisiknya.
[Pendarahan utama berhasil ditekan.]
[Penurunan tekanan darah telah dihentikan.]
[Namun pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk menyambung arteri yang robek.]
Sistem memberikan laporan secara real-time di depan mata Bima.
Bima tahu bahwa menjepit dengan jari bukanlah solusi permanen.
Dia tidak mungkin terus berada dalam posisi seperti ini sampai di ruang operasi.
Dia butuh sesuatu untuk mengikat pembuluh darah itu sementara waktu.
"Apakah ada yang punya benang gigi atau tali pancing yang bersih?!" teriak Bima ke arah kerumunan.
Orang-orang saling berpandangan dengan bingung.
"Untuk apa benang gigi, Dok?" tanya seorang pemuda.
"Jangan banyak tanya! Cepat carikan kalau ada!" bentak Bima yang mulai kehilangan kesabaran.
Seorang wanita muda berlari maju dari kerumunan.
"Saya punya benang jahit yang baru beli dari minimarket, Dok."
"Apakah ini bisa dipakai?"
Wanita itu menyodorkan sebuah gulungan benang nilon berwarna putih.
Bima melihat benang itu dan mengangguk cepat.
"Sempurna."
"Tolong siramkan alkohol ke benang itu dan berikan kepada saya."
Wanita itu melakukan instruksi Bima dengan tangan gemetar.
Setelah benang itu disterilkan secara seadanya, Bima menerimanya dengan tangannya yang bebas.
Sekarang datang bagian tersulitnya.
Dia harus mengikat arteri yang licin itu hanya dengan satu tangan, karena tangannya yang lain masih menjepit sumber pendarahan.
Ini adalah teknik tingkat dewa yang bahkan belum tentu bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah paling berpengalaman sekalipun.
Apalagi dilakukan di tengah jalanan yang gelap dan hujan.
Bima menggigit bibir bawahnya untuk menahan ketegangan.
Tiba-tiba, dia teringat tentang hadiah dari sistem yang belum dia dapatkan.
Jika saja dia sudah menguasai Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master, ini pasti akan sangat mudah.
Tetapi dia harus menyelesaikan misi ini terlebih dahulu untuk mendapatkan hadiahnya.
"Aku pasti bisa," gumam Bima menyemangati dirinya sendiri.
Dia menggunakan gigi dan satu tangannya untuk membuat simpul hidup pada benang nilon tersebut.
Lalu dengan gerakan perlahan, dia memasukkan benang itu ke dalam luka dan mengalungkannya pada arteri yang robek.
Jari-jarinya bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, seolah-olah dipandu oleh insting yang tidak terlihat.