Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terobosan di antara lelah dan Harapan
Jarum jam di dinding laboratorium nasional Cambridge menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Ruangan itu begitu sunyi, hanya suara dengungan stabil dari lemari pendingin suhu rendah dan desis udara dari fume hood yang terdengar.
Di meja kerja tengah, Rory menumpukan kepalanya di atas lipatan lengan. Matanya terasa panas dan berat. Mereka telah berada di laboratorium ini selama lebih dari enam belas jam tanpa henti, hanya diselingi oleh kopi dingin dan roti lapis yang mereka beli di minimarket stasiun.
"Rory," suara Julian terdengar parau namun lembut.
Rory mengangkat kepalanya sedikit, matanya yang sayu bertemu dengan tatapan Julian. Pria itu berdiri di dekat spectrometer, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan karena terus-menerus disisir dengan jari tangannya sendiri. Wajahnya yang pucat karena kelelahan tampak lebih tajam, namun ada sesuatu di matanya sebuah kilatan yang belum pernah Rory lihat selama tiga hari terakhir.
"Aku menemukannya," bisik Julian. Ia menunjuk layar monitor di depannya.
Rasa kantuk Rory seketika menguap. Ia bangkit, melangkah dengan sedikit limbung karena kakinya yang kaku, lalu berdiri di samping Julian. Di layar monitor itu, terdapat grafik integrasi molekuler yang menunjukkan penurunan tingkat toksisitas senyawa sintetik secara drastis hasil yang jauh lebih stabil daripada hipotesis awal mereka.
"Lihat ini," Julian mengarahkan kursornya. "Gugus fluorin yang kita tambahkan di posisi C-4 benar-benar bekerja sebagai agen penstabil. Reaksi sampingan yang biasanya merusak struktur sel target kini hampir nol. Rory, kita berhasil menembus batas hambatannya."
Rory terdiam, menatap grafik itu dengan saksama. Ia memeriksa angkanya berkali-kali, memastikan tidak ada kesalahan input data. Setelah beberapa menit, bibirnya menyunggingkan senyum sebuah senyuman kemenangan yang jujur dan tulus.
"Ini luar biasa, Julian," gumam Rory. "Ini bukan sekadar data riset. Ini adalah bukti kalau teori kita benar."
Tanpa sadar, Rory memeluk lengan Julian dengan antusias. Julian tertawa sebuah tawa lega yang jarang terdengar dari pria itu. Ia melepaskan jas labnya yang berat, lalu menyampirkannya ke kursi, dan menatap Rory dengan tatapan yang intens.
"Kita melakukannya," kata Julian. Suaranya rendah, sarat akan rasa syukur.
Mereka berdua berjalan menuju sudut ruangan yang terdapat sofa kecil untuk beristirahat. Karena kelelahan yang luar biasa, tidak ada yang berinisiatif untuk segera merapikan alat. Mereka membiarkan diri mereka terjatuh di atas sofa tersebut, duduk berdampingan dengan napas yang memburu karena sisa adrenalin.
Hening menyelimuti mereka. Di luar, hujan mulai turun lagi, memukul kaca jendela laboratorium dengan irama yang menenangkan.
"Kadang aku bertanya-tanya," suara Julian memecah keheningan, matanya menatap langit-langit ruangan yang remang. "Bagaimana mungkin aku bisa bertahan di sini, di ruang sempit ini, dengan kopi murahan dan jadwal kereta yang melelahkan, sementara aku bisa saja memiliki segalanya di manor itu?"
Rory menoleh, memperhatikan profil samping wajah Julian. "Lalu? Apa jawaban yang kamu temukan?"
Julian menoleh, menatap Rory. "Jawabannya adalah karena di sini, di setiap detik kelelahan ini, aku merasa nyata. Di manor itu, semuanya adalah berperan. Aku hanyalah pion untuk permainan Ayah. Tapi di sini, bersamamu, setiap keringat dan kegagalan yang kita lalui memiliki makna."
Julian terdiam sejenak, jemarinya perlahan menyentuh punggung tangan Rory yang berada di atas sofa. "Aku takut kalau aku kembali ke sana, aku akan kehilangan diriku sendiri. Dan aku lebih takut lagi kalau aku kehilangan alasan utamaku untuk berjuang."
Rory menatap tangan Julian yang menyentuh tangannya. Hati gadis itu bergetar. "Julian, kamu tidak akan pernah kehilangan dirimu. Kamu sudah menemukannya di sini, dalam setiap riset yang kamu perjuangkan."
Julian membalikkan tangannya, menggenggam jemari Rory dengan erat. "Terima kasih, Rory. Aku tahu ini sulit untukmu juga. Kamu harus mengorbankan waktu beasiswamu, waktu istirahatmu, bahkan mungkin keamanan pribadimu karena terlibat dengan masalah keluargaku."
"Ini bukan pengorbanan," sela Rory lembut. "Ini adalah pilihan. Aku memilih untuk ada di sini. Bersamamu."
Julian menatap mata Rory dengan tatapan yang sangat dalam. Jarak di antara mereka terasa menyempit. Di ruangan yang dingin itu, ada atmosfer hangat yang hanya tercipta di antara dua orang yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.
"Kamu membuatku merasa cukup," bisik Julian, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar. "Bahkan dengan semua kekacauan ini, saat aku melihatmu di sampingku, aku merasa aku sudah memiliki segalanya."
Rory tidak membalas dengan kata-kata. Ia mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Julian. Pria itu merangkul bahu Rory, menariknya lebih dekat agar gadis itu merasa aman. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Julian Radcliffe benar-benar melepaskan seluruh ketegangan di bahunya. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan itu menguap digantikan oleh rasa damai yang hadir karena kehadiran Rory.
Mereka tertidur di sana, di atas sofa laboratorium, dengan tangan yang saling menggenggam.
Pagi harinya, cahaya matahari yang menembus kaca jendela membangunkan Rory. Ia tersentak bangun, menyadari mereka tertidur di sana. Julian masih tertidur di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Wajah pria itu tampak sangat muda dan bebas dari beban.
Rory memandangi wajah Julian selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia harus bangkit untuk menyusun laporan akhir agar siap dipresentasikan di hadapan dewan Helios minggu depan.
Namun, saat ia beranjak, ponsel Julian yang tergeletak di meja bergetar keras.
Sebuah notifikasi email masuk. Subjek email itu adalah: "UNDANGAN KUNJUNGAN KEHORMATAN: Radcliffe Corp & Helios Foundation Gala Dinner."
Rory membaca sekilas pratinjau email tersebut. Ayah Julian, Arthur Radcliffe, akan hadir sebagai tamu kehormatan di acara gala yang akan diselenggarakan oleh Helios minggu depan tepat di hari yang sama dengan jadwal presentasi riset mereka.
Jantung Rory berdegup kencang. Ini bukan kebetulan. Ini adalah jebakan. Mereka akan dipaksa untuk berdiri di depan umum, di bawah pengawasan langsung Arthur Radcliffe.
"Apa yang terjadi?" suara serak Julian terdengar dari belakang. Pria itu sudah terbangun, menatap Rory yang tampak pucat menatap layar ponselnya.
Rory menunjukkan layar ponsel itu pada Julian. Wajah Julian seketika berubah menjadi sedingin es.
"Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja, Rory," kata Julian pelan, rahangnya mengeras. "Mereka akan mencoba mematahkan mental kita tepat di depan dewan penguji."
Rory menatap Julian, lalu menatap lembar data hasil riset mereka yang baru saja mereka selesaikan semalam. Ia menarik napas dalam, memantapkan hatinya.
"Kalau begitu," kata Rory tegas, "Kita akan mempresentasikannya dengan kualitas yang bahkan tidak bisa mereka bantah dengan uang maupun kekuasaan. Kita tidak akan membiarkan mereka mematahkan kita, Julian."
Julian menatap Rory dengan rasa hormat yang mendalam. Ia mengangguk pelan. "Ya. Kita akan melakukannya."