Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu yang pahit
Malam jatuh di desa pesisir dengan udara yang dingin menancap tulang. Suara jangkrik dan deburan ombak dari kejauhan menjadi satu-satunya pertunjukan di tengah keheningan.
Radhit tidak pergi. Pria itu menyewa sebuah rumah panggung kecil yang berada persis di seberang jalan warung kue Vivian.
Ia duduk di teras rumah kayu itu dalam kegelapan tanpa menyalakan lampu. Pandangan matanya tak pernah lepas dari jendela rumah Vivian yang temaram.
Tangan Radhit yang gemetar memegang sebuah kotak beludru kecil berisi cincin pernikahan mereka yang dulu pernah dilemparkannya ke wajah Vivian. Air matanya menetes perlahan, membasahi kain kemeja mewahnya yang kini penuh noda tanah.
Bagaimana bisa... anakku sendiri menatapku seperti melihat monster?
Pertanyaan itu berulang kali memukuli kepalanya hingga dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu besar.
Keesokan paginya, sebelum warung kue dibuka dan saat warga desa belum lalu lalang, Vivian keluar membawa sebuah sapu lidi untuk membersihkan halaman.
Wajah Vivian tampak sangat letih dengan lingkar hitam di bawah matanya. Semalaman dia tidak bisa tidur tenang, dibayangi ketakutan kalau-kalau Radhit akan merebut Bumi darinya.
Begitu Vivian melangkah keluar, Radhit yang sejak subuh menunggunya langsung melangkah cepat menyeberangi jalan.
"Vivian..." panggil Radhit lirih. Nada suaranya kini begitu memohon, kehilangan seluruh keangkuhan yang pernah menjadi ciri khasnya.
Vivian tersentak kaget. Langkah kakinya otomatis terundur refleks, genggamannya pada gagang sapu memutih karena ketakutan.
"Jangan mendekat, Mas... Tolong..." bisik Vivian dengan suara bergetar, matanya bergerak panik menatap sekeliling.
"Saya nggak akan nyakitin kamu, Vi... Demi Allah, saya tidak akan nyakitin kamu lagi," ucap Radhit seraya mengangkat kedua tangannya di udara, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak membawa ancaman.
Mata Radhit berkaca-kaca menatap wajah wanita yang sangat dirindukannya itu dari dekat. "Saya cuma mau bicara... sebentar saja, Vivian. Tolong kasih saya kesempatan..."
"Bicara apa lagi, Mas?" Vivian tertawa sumbang, sebuah tawa getir yang dipenuhi rasa sakit yang mendalam. Air mata mendadak meleleh membasahi pipinya yang mulus.
"Mas Radhit mau bicara apa lagi sama cewek kampung yang cuma jadi benalu dan pembawa sial ini? Mas mau menghina aku lagi? Atau mau nyuruh aku menggugurkan anak aku lagi?!"
JLEB!
Kalimat itu memukul dada Radhit begitu keras. Rasanya lebih menyakitkan daripada ditikam pisau beracun.
"Nggak, Vi... Nggak! Saya salah! Saya bajingan!" raung Radhit pelan seraya menepuk dadanya sendiri dengan keras.
"Saya menyesal, Vivian... Ratusan malam saya hidup kayak mayat karena ingatan tentang kamu! Tolong izinkan saya tebus semuanya... Izinkan saya jadi suami dan Ayah yang baik buat kamu dan Bumi..."
"Terlambat, Mas..." potong Vivian dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dingin sebuah dingin yang bersumber dari kekosongan jiwa yang telah hancur.
Vivian menatap mata Radhit lurus-lurus. Tidak ada lagi rasa cinta di sana, yang tersisa hanyalah trauma yang tak terobati.
"Mas Radhit ingat malam terakhir saat aku ada di rumah mewah Mas?" tanya Vivian pelan, suaranya gemetar menahan histeria yang tertahan di tenggorokan.
Radhit membeku, napasnya tertahan di dada.
"Malam itu... perutku sakit luar biasa. Darah mengalir di paha dan membasahi lantai marmer rumah Mas yang dingin," bisik Vivian seraya meremas dadanya sendiri.
"Aku menangis merayap di atas lantai, memohon sama Mas Radhit buat anterin aku ke rumah sakit demi menyelamatkan anak Mas... Tapi apa yang Mas lakukan?"
Air mata Vivian meluncur makin deras, mengingat kembali momen paling mengerikan dalam hidupnya.
"Mas Radhit cuma berdiri menatap aku dingin. Mas memalingkan wajah dan jalan pergi ninggalin aku yang bersimbah darah sendirian di atas lantai dingin itu..."
"Ngg-nggak... Vivian, maafin saya..." isak Radhit, tubuhnya mulai gemetar hebat, tak sanggup mendengar penuturan itu.
"Aku merayap sendirian ke luar rumah di tengah hujan malam itu, Mas!" teriak Vivian dengan suara pecah yang memilukan.
"Aku menahan sakit rahimku yang robek di tepi jalan sendirian! Di detik aku merasa mau mati, aku cuma berdoa sama Allah... kalau aku selamat, aku tidak akan pernah biarkan Mas Radhit menyentuh anak ini lagi!"
Vivian melangkah satu tindak mendekati Radhit yang sudah mematung kaku bagaikan patung es.
"Anak yang Mas sebut haram dan benalu itu... lahir di ruang bersalin puskesmas kecil di bawah deru hujan. Dia tidak butuh harta Mas Radhit. Dia cuma butuh perlindungan dari Ayah kandungnya yang pernah menginginkan dia mati!"
DUAR!
Kehancuran total merayapi jiwa Radhit.
Setiap kata yang keluar dari bibir Vivian adalah hantaman godam yang meremukkan tulang dan jantungnya tanpa belas kasihan. Bayangan Vivian merayap bersimbah darah di atas lantai dingin malam itu terputar jelas di kelopak matanya, membakar otaknya hingga dia merasa ingin gila.
"Maaf... Maafin saya, Vivian..." raung Radhit seraya jatuh berlutut di tanah, meremas kepalanya sendiri dalam keputusasaan yang teramat sangat. Air matanya menetes membasahi tanah kering di bawah kakinya.
"Siksa saya, Vivian... Pukul saya... tapi tolong jangan buang saya dari hidup kamu dan anak kita..."
Vivian memalingkan wajahnya rapat-rapat, tak sanggup melihat tangisan pria yang dulu begitu diagungkannya namun kini telah merusak seluruh masa mudanya.
"Pergilah, Mas Radhit... Jangan pernah mengusik kehidupan kami lagi," ucap Vivian dingin, sebelum akhirnya berbalik cepat dan melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat.
BAM!
Suara pintu yang tertutup itu bergema di tengah keheningan pagi, meninggalkan Radhit yang menangis meraung-raung sendirian di atas tanah berdebu, meratapi kebodohannya yang telah menghancurkan satu-satunya kebahagiaan sejati dalam hidupnya.
Guys kasih kesempatan nggak nih Buat si Tuan Gezha??
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian