NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: KEPUNGAN MAUT DI DERMAGA 9

Sorot lampu mercusuar berputar lambat, membelah kabut malam yang tebal di kawasan dermaga nomor sembilan. Angin laut berhembus kencang membawa bau amis air asin dan hantaman ombak yang memecah tiang pancang beton.

Di tengah lapangan terbuka yang basah, bayangan tubuh manusia tergantung kaku di bawah lengan crane besar, bergoyang pelan mengikuti arah angin. Pemandangan itu terpampang nyata di depan mata, menyiramkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

Luo Chen berdiri terpaku di atas permukaan beton yang retak, menatap lurus ke arah sosok tergantung yang dikenalnya sebagai informan mendiang ayahnya. Tidak ada isak tangis atau suara gentar yang keluar dari bibir kecil bocah itu. Yang ada hanyalah tatapan mata tajam bagai bilah pisau, merekam setiap detail kematian tragis tersebut ke dalam memori fotografisnya tanpa celah.

Shen Mo merespons situasi mematikan itu dalam sepersekian detik. Tubuh tegap raja mafia tersebut langsung melesat maju, menarik lengan kecil Luo Chen agar merapat ke balik tumpukan kontainer besi berkarat yang menjadi satu-satunya pelindung terdekat. Tangan kekar Shen Mo dengan sigap mengokang pistol semiotomatis, matanya menyapu setiap sudut kegelapan di atas pelabuhan dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Suara klik senjata dari segala arah berderit serentak, membuktikan bahwa mereka telah masuk ke dalam lingkaran kepungan musuh yang sangat sempurna. Di atas kepala mereka, suara dengung frekuensi radio komunikasi genggam berderik pelan, menandakan para penembak jitu sindikat Blackwood dan pengkhianat internal tengah menunggu aba-aba untuk menarik pelatuk.

"Jangan angkat kepala dan tetap di belakangku, Chen," bisik Shen Mo rendah. Napas pria itu terdengar berat namun terkontrol penuh di tengah ketegangan yang mencekam.

Luo Chen melirik sekilas ke arah sepatu bot Shen Mo yang berdiri siaga, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tanah basah di bawah kontainer. Di tempat itu, sebuah jejak kabel serat optik transparan terbentang tipis menuju kotak kendali otomatis mercusuar.

Bocah tujuh tahun itu menggeleng pelan, melepaskan cengkeraman tangan Shen Mo dari bahunya dengan gerakan yang begitu tenang di tengah hujan peluru yang siap meluncur kapan saja.

"Mereka tidak ingin langsung membunuh kita, Tuan Shen," ucap Chen datar. Suaranya terdengar sangat kontras dengan situasi maut di sekeliling mereka. "Mayat informan itu sengaja digantung di sana sebagai umpan visual untuk memecah konsentrasi pertahanan kita, sementara posisi tiga penembak jitu utama berada tepat di atas menara air sektor timur, berlindung di balik bayangan sudut pantulan cahaya mercusuar."

Mendengar analisis kilat tersebut, mata Shen Mo membelalak sesaat. Ia melirik sekilas ke arah menara air yang dimaksud, dan benar saja, kilatan kecil dari lensa optik inframerah tampak memantul samar di antara kegelapan malam.

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk ragu, Shen Mo memanfaatkan momentum putaran cahaya mercusuar yang sedang membelakangi posisi mereka. Dengan gerakan akrobatik yang luar biasa cepat, pria itu melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil melepaskan dua tembakan beruntun ke arah menara air.

Duar! Duar!

Suara letusan senjata itu memecah kesunyian malam, disusul oleh suara tubuh jatuh terhempas dari atas bangunan tinggi, menandakan salah satu penembak jitu musuh berhasil dilumpuhkan seketika.

Namun, tembakan tersebut memicu reaksi beruntun dari kelompok penyergap lainnya. Ribuan desingan peluru tiba-tiba menghujani area kontainer tempat mereka berlindung, mencipratkan serpihan besi dan percikan api liar ke udara.

Keadaan menjadi jauh lebih berbahaya ketika gerbang utama dermaga terbuka secara paksa, menampilkan sekelompok pasukan bayaran bersenjata lengkap yang dipimpin oleh seorang pria bertopeng perak — sosok yang sama yang tadi malam menghubungi mereka lewat panggilan video terenkripsi.

Pria bertopeng itu berjalan tenang di tengah hujan peluru, melangkah mendekati tumpukan kontainer sambil bertepuk tangan perlahan mengejek.

"Luar biasa, Raja Mafia Kota Yucheng dan anak ajaibnya," suara serak dari balik topeng itu menggema di antara deburan ombak. "Kalian memang sulit mati. Tapi malam ini, pelabuhan ini akan menjadi kuburan permanen bagi seluruh rahasia masa lalu kalian."

Shen Mo merapatkan posisinya melindungi Chen, tubuhnya bersiap menerjang maju untuk menghadapi pertarungan jarak dekat. Akan tetapi, Luo Chen tiba-tiba menyentuh ujung mantel pria dewasa itu, memberikan isyarat agar ia bersabar.

Bocah itu melangkah keluar dari balik kontainer secara sukarela, berdiri tegak di hadapan pasukan musuh tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun di wajahnya.

"Kau sengaja memancing kami ke sini bukan untuk membunuh kami, Vane," kata Chen lantang, memecah kebisingan malam dengan suara jernihnya yang menusuk.

Pria bertopeng perak itu tertegun sejenak, langkah kakinya terhenti seketika mendengar sebutan nama tersebut. Perlahan, pria itu mengangkat tangannya, membuka topeng perak yang menutupi wajahnya, menampilkan sosok paruh baya dengan senyum sinis yang mengerikan — bukan Vane, melainkan seorang tetua senior organisasi yang selama ini duduk di jajaran dewan kehormatan tertinggi sindikat Shen Mo.

"Kau salah, bocah," ucap tetua pengkhianat itu dengan nada meremehkan. "Vane hanyalah alat kecil untuk mengalirkan dana. Akulah yang merancang kejatuhan ayahmu tujuh tahun lalu, dan akulah yang akan menghapus garis keturunan terakhir keluarga kalian malam ini."

Sambil berkata demikian, tetua itu mengangkat sebuah detonator kecil berwarna merah di tangannya, menekan tombol pemicu secara perlahan diiringi tawa kemenangan yang menggema ke seluruh penjuru dermaga.

Seketika itu juga, lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat, dan serangkaian ledakan api menyembur dari bawah tiang pancang dermaga, memutuskan seluruh jalur akses jalan keluar dan menjebak mereka dalam lingkaran api yang membara.

Di tengah kobaran api yang mulai menjilat kontainer baja, Shen Mo menarik Chen ke dalam dekapan eratnya, sementara mata bocah itu menatap tajam ke arah konsol digital di tangan sang pengkhianat, menemukan satu titik frekuensi pelemah sinyal detonator yang tersisa di saku jas pria tua tersebut.

Sebelum api benar-benar menutup seluruh ruang gerak mereka, tangan kecil Chen terulur dengan cepat, merebut sebuah perangkat pemancar sinyal darurat dari balik mantel Shen Mo, siap melancarkan serangan balik digital terakhir yang akan membalikkan keadaan dalam hitungan detik.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!