Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 : Keluar Dari Sungai Hitam
Seberkas cahaya menyinari dan menyusup masuk kedalam air meski tak sampai dasar.
Untuk beberapa detik, Arga dan Gilang terpaku. Namun kemudian mereka memanfaatkan cahaya itu untuk membantu Bima mengalahkan makhluk rambut yang terus bergerak menarik Bima lebih dalam.
Bahu membahu mereka bertarung didalam air dengan pisau lipat yang mereka bawa. Memutus lilitan rambut sebesar rumput laut yang melilit tubuh Bima satu persatu. Arga dan Bima fokus memutus lilitan sementara Gilang sibuk menebas gumpalan rambut itu yang masih berusaha meraih mereka bertiga.
Momen beberapa menit benar-benar memacu insting bertahan hidup mereka yang berpacu dengan waktu.
Bima sudah hampir lemas terlalu lama berada didalam air. Gilang dan Arga masih berusaha memutus dan menjauhkan diri dari makhluk rambut itu. Mereka harus segera keluar secepatnya.
Pencahayaan yang minim didalam gelapnya air membuat Gilang dan Arga mencoba menarik Bima menjauh dari makhluk rambut itu sembari terus memotong lilitan dan menghalau makhluk itu menjauh.
Perlahan tapi pasti, cara mereka berhasil.
Arga menarik Bima naik keatas sedangkan Gilang menyusul dibawah kedua temannya.
Lima menit yang terasa berjam-jam benar-benar menguras mental mereka.
Blup.. Blup.. Blup...
Dari dalam air gelembung napas naik ke permukaan. Pecah.
Hah... Hah.. Hah..
Ketiganya berhasil kembali ke permukaan.
Suara napas mereka terdengar dan itu justru menarik perhatian Bhayavedin diatas sana.
Melihat makhluk itu masih disana, Arga, Bima dan Gilang sontak diam meski napas mereka sudah hampir hilang.
Maira yang melihat teman-temannya sudah di permukaan berseru senang.
"Guys, kesini!" seru Maira setengah berteriak.
Ketiga laki-laki itu sontak menoleh. Lalu mereka bergegas berenang menuju kearah Maira dan Elina yang sudah diseberang.
Ternyata gumpalan rambut itu masih mengejar mereka. Helai helai rambut sebesar jempol tangan bergerak mengikuti gerakan Bima, Gilang dan Arga.
Gilang dan Arga tampak kepayahan berenang membawa Bima yang terdiam lemas diantara keduanya.
" HATI-HATI!! DIBELAKANG KALIAN." Elina bersorak saat melihat gumpalan itu mengejar mereka dari belakang.
Maira ikut menatap cemas kearah teman-temannya. Bahkan kedua gadis itu tak menghiraukan suara mereka yang pecah di keheningan sungai hitam. Beruntung, meski suara teriakan mereka menggema namun itu tak mampu membuat Bhayavedin menangkap mereka. Semoga saja.
" Ah sial." Gilang mengumpat kesal karena tak diberi jeda untuk bernapas.
Bahu membahu Gilang dan Arga berenang cepat menghindari makhluk rambut itu.
Brakk..
Arga, Bima dan Gilang mendarat sempurna di bibir sungai hitam dengan napas ngos-ngosan. Air hitam menetes dari rambut dan pakaian mereka yang basah kuyup.
Maira dan Elina langsung menyambut mereka dan menarik ketiga temannya menjauh dari air.
Namun saat hendak menarik Gilang keluar, rambut hitam langsung menyambar kaki Gilang dan melilitnya kuat.
" Akkhhh... Tolong!"
" GILANG!!" Elina teriak, berlari kecil meraih tangan Gilang yang menggapai-gapai minta tolong.
Elina berhasil meraih tangan Gilang dan menariknya sekuat tenaga. Tak tinggal diam, Arga yang baru saja sampai di daratan langsung bangkit dan berlari menghampiri Elina begitupun Maira.
Mereka tarik-tarikan dengan makhluk rambut itu.
Bima yang masih lemas, entah mendapat kekuatan darimana tiba-tiba ikut bergabung dengan yang lain. Bima mengambil pisau lipat yang tergeletak di tanah lalu menebas lilitan-lilitan itu sekuat tenaga.
" MAKHLUK SIALAN." Bima masih sempat-sempatnya mengumpat saking geramnya.
BLASS!!
Gumpalan lilitan itu putus seketika.
Arga, Maira dan Elina buru-buru menarik Gilang saat menyadari semua lilitan itu putus ditangan Bima. Bergegas,mereka menjauh dari sungai hitam.
Gumpalan rambut itu ngamuk karena tak berhasil membawa target mereka. Muter-muter di air kemudian tenggelam lagi masuk kedalam air.
Berlima, pelukan di lumpur dengan napas ngos-ngosan. Air hitam netes dari rambut mereka.
Bima langsung terbaring diatas lumpur karena masih lemas. Arga terdiam, Gilang muntah-muntah efek syok yang ia terima sedangkan Maira dan Elina hanya bisa nangis lihat keadaan mengenaskan teman-temannya.
Mereka... Selamat dari sungai hitam. Meski hampir kehilangan nyawa...
\=\=\=
Langit tetap terlihat senja keunguan. Hanya saja sudah hampir gelap. Bima dan teman-temannya berjalan menjauh dari sungai hitam. Pakaian mereka basah, sepatu basah dan tas yang mereka bawa ikutan basah meski tak sebasah kuyub kelimanya.
Bicara soal tas, setelah semuanya mulai kondusif, Arga balik ke seberang dan mengambil tas mereka yang tertinggal. Karena di tas itulah makanan dan peralatan mereka untuk bertahan hidup berada.
Arga tak berenang seperti tadi. Tapi ia menggunakan kumpulan kayu yang diambil di sekitar dan membuatnya semacam rakit kecil.
Arga memang cerdas. Otaknya tetap jalan meski di situasi seperti ini.
Awalnya Bima melarang, takut makhluk itu datang lagi. Tapi setelah diskusi panjang dengan teman-temannya, akhirnya mereka setuju dengan usul Arga. Mereka tak ada waktu untuk merenung lama. Di tempat seperti ini tindakan yang utama.
" Hati-hati Ga."seru Gilang yang membantu Arga mengikat kayu-kayu yang sudah disusun sejajar itu.
" Pasti. Kalian bantu aja dari sini."sahut Arga.
Dengan persiapan seadanya, Arga kembali ke seberang. Teman-temannya menunggu di seberang lain sembari memantau tali yang diikat kuat di rakit Arga sebagai jaga-jaga agar rakit itu tidak oleng.
Dengan perlahan Arga mengayuh rakit buatannya sembari tetap waspada dengan sekitarnya.
Beruntung sungai hitam tak begitu lebar jadi Arga bisa dengan mudah sampai.
Ketika rakit tersebut menyentuh bibir sungai, Arga dengan sigap mengambil tasnya,tas teman-temannya dan membawanya keatas rakit. Lalu kembali ke seberang.
Setelahnya barulah kelima remaja itu pergi dari area sungai hitam.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di sebuah padang rumput kecil dengan sedikit hutan di sekelilingnya. Tampak terlihat normal dan lebih baik dari sebelumnya.
" Guys, kita istirahat disini saja."seru Bima pada teman-temannya.
Mereka semua lelah dan langsung mengangguk setuju dengan ucapan Bima.
" Kita bermalam disini. Baru besok lanjut."timpal Arga menanggapi.
" Astaga, gua capek banget, banget."keluh Gilang langsung duduk selonjoran.
" Bukan lo doang Lang. Kita semua."sahut Maira, ikut duduk tak jauh darinya.
" Ada yang bawa tenda? Nggak mungkin tidur seadanya disini kan?"celutuk Arga kemudian.
" Baru aja sampai Ga. Nanti ajalah."protes Gilang.
" Gue nggak bilang sekarang ya. Gue nanya doang."
" Di tas gue ada 1. Tapi cukup untuk orang tiga sih."ujar Bima yang duduk di sebelah Maira.
" Di tas gue ada, cukup lah untuk kalian berdua."kata Gilang menatap Elina dan Maira, seolah mengerti kekhawatiran mereka sebagai perempuan.
" Nanti gue bantu diriin tenda untuk kalian juga."lanjut Bima pada kedua gadis tersebut.
" Thanks Bim."ucap Elina tulus.
" Dan Lo Lang, cari kayu untuk penerangan. Kita buat api unggun."titah Bima pada Gilang.
" Kok gue?"protesnya tak terima.
" Terus siapa lagi. Mereka?"balas Arga sinis, dagunya menunjuk kearah Maira dan Elina yang diam-diam terkikik geli melihat ekspresi Gilang.
" Gue bantu cari deh. Lo tenang aja."sahut Maira yang sejak tadi diam.
" Cih. Nggak usah. Gue bisa sendiri." Gilang melengos kesal lalu bangkit dan mulai mengumpulkan kayu-kayu kering untuk api unggun.
***
***