NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 05.

Gerimis tipis sisa semalam menyisakan aroma tanah yang basah saat Lingga berdiri di samping motor matic-nya.

Cowok itu menghela napas pendek—reaksi paling ekspresif yang bisa ia tunjukkan pagi ini.

Ban belakangnya kempes total, tertancap sekrup berkarat.

Tanpa sepatah kata pun, Lingga meraba saku celana abu-abunya, mengeluarkan ponsel, dan mengetik pesan singkat untuk ibunya.

“Ban bocor. Pakai mobil Ayah.”

Mobil sedan tua milik ayahnya sudah berdebu di garasi, jarang disentuh sejak sang ayah pergi dari rumah enam bulan lalu tanpa kejelasan.

Lingga memandangi setir mobil itu sesaat, merasakan denyut hampa yang biasa menyergap dadanya.

Baginya, mobil ini seperti hantu. Ada, tapi tidak benar-benar hidup. Persis seperti eksistensinya sendiri di sekolah. Ia memutar kunci kontak, membiarkan mesin menderu pelan, lalu membelah jalanan pagi yang masih berkabut.

Suasana kelas siang itu terasa gerah meski kipas angin di langit-langit berputar maksimal.

Jam pelajaran sejarah selalu sukses membuat seisi kelas bertumbangan. Namun tidak dengan Lingga. Ia duduk di barisan paling belakang dekat jendela, menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencatat poin-poin penting di papan tulis.

"Ling, pinjem tip-ex dong," bisik cowok di sebelahnya, menyenggol lengan Lingga.

Lingga tidak menoleh. Ia hanya menggeser kotak pensilnya ke arah cowok itu. Tanpa suara, tanpa beban.

Bagi orang lain, Lingga adalah teka-teki yang malas dipecahkan. Dia bukan tipe cowok dingin sok keren, dia hanya awet bicara saja.

Lingga menghemat energinya karena merasa kata-kata sering kali gagal menyampaikan apa yang benar-benar ia rasakan.

Dari balik jendela kelas, tatapannya sempat terkunci pada lapangan sekolah yang mulai basah oleh rintik hujan baru.

Di sana, di pinggir lapangan futsal, seorang cewek berambut kuncir kuda sedang tertawa heboh sambil melambaikan tangan pada kapten tim futsal.

Stella. Cewek paling berisik, paling petakilan, dan paling tidak tahu cara menyerah.

Sore harinya, langit Jakarta seperti tumpah. Hujan deras mengguyur lapangan sekolah, menciptakan suara berisik yang beradu dengan gemuruh petir.

Di selasar gedung olahraga, Stella duduk di atas pembatas semen sambil mengayun-ayunkan kakinya yang dibungkus sepatu kets putih kekuningan. Baju seragamnya agak lembap di bagian bahu karena cipratan air.

Di dalam gedung, tim futsal baru saja menyudahi latihan mereka. Suara peluit berakhir terdengar, disusul riuh teriakan cowok-cowok yang kelelahan.

"Gibran! Nih, minumnya!" Stella langsung melompat turun begitu melihat cowok bertubuh tegap dengan jersei nomor punggung 10 berjalan keluar.

Stella menyodorkan sebotol air mineral dingin yang sedari tadi ia dekap agar tetap sejuk.

Gibran menghentikan langkahnya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan ujung jersei, menatap botol minum itu, lalu menatap wajah Stella yang tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

"Gue kan udah bilang, Stell, jangan nungguin," kata Gibran. Suaranya datar, terdengar capai—bukan cuma karena latihan, tapi karena harus menghadapi hal yang sama berulang kali. "Gue bawa minum sendiri."

"Ya elah, Bran, tinggal ambil apa susahnya sih? Ini dingin loh, pas banget buat yang abis lari-lari," sahut Stella, nadanya sengaja dibuat ceria dan renyah, menyembunyikan rasa jengah yang mulai merayap di dadanya.

"Gue gak butuh, Stella." Gibran menghela napas, menatap Stella dengan pandangan lurus. "Dan stop bersikap kayak gini. Gue gak enak sama anak-anak lain."

Stella terkekeh pelan, menepuk lengan Gibran akrab, meski tangannya sedikit gemetar. "Santai kali, kayak sama siapa aja. Gue kan emang sekalian mau balik bareng lo, searah kan?"

Gibran tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah pintu ruang ganti. Dari sana, seorang cewek dengan rok pendek khas anak cheerleaders berjalan keluar sambil membenahi tas jinjingnya. Namanya Amanda. Cantik, populer, dan wangi parfum vanilanya bahkan tercium sampai ke selasar.

"Gibran, jadi bareng kan? Mobil gue di bengkel, nih," kata Amanda manja sambil berjalan mendekat.

Gibran kembali menatap Stella, kali ini dengan tatapan yang membuat jantung Stella serasa ambles ke lantai. "Gue balik bareng Amanda, Stell. Dia gak ada tebengan."

"Oh..." Satu kata itu lolos begitu saja dari bibir Stella. Senyumnya membeku selama satu detik sebelum akhirnya ia paksa untuk merekah kembali. "Oh, gitu! Ya udah, santai, santai. Gue bisa naik angkot kok, atau mesen ojol."

"Hujan deras gini ojol susah, Stell. Tapi terserah lo deh. Kita duluan ya," Timpal Amanda dingin. Ia langsung berbalik, berjalan beriringan dengan Gibran di bawah satu payung besar yang dibuka oleh Gibran.

Amanda tampak tertawa kecil sambil merapatkan tubuhnya agar tidak kehujanan, sementara Gibran merangkul pundak cewek itu pelan agar terlindung dari tampias air.

Stella terpaku di tempatnya. Botol air mineral di tangannya terasa semakin dingin, sedingin dadanya saat ini. Ia melihat punggung keduanya yang perlahan menjauh, menembus tirai hujan menuju area parkiran mobil.

Otaknya tahu. Sangat tahu. Gibran tidak pernah memintanya menunggu. Gibran tidak pernah memberinya harapan.

Stella sendiri yang dengan bodohnya menginvestasikan seluruh rasa rindunya pada orang yang sejak kelas satu sudah melindungi nya tanpa harus mencari validasi.

Namun, mengetahui kebenaran secara logika ternyata tidak membuat hatinya menjadi kebal. Air matanya mulai menggenang, bersiap luruh bersama dengan tetesan hujan yang kian menderu.

"Nih."

Sebuah suara berat dan asing memecah lamunan Stella.

Stella menoleh dengan cepat, buru-buru mengusap sudut matanya yang basah.

Di sampingnya, Lingga sudah berdiri dengan jaket hoodie hitam menutupi seragamnya. Cowok itu menyodorkan sebuah payung lipat berwarna biru tua yang kering.

Stella mengedipkan matanya yang agak sembap. "Eh iya jaket lo kemarin masih gue cuci, makasih ya"

Lingga tidak menjawab. Ia hanya menggoyangkan payung di tangannya sekali lagi, memberi kode agar Stella menerimanya.

"Terus lo gimana?" tanya Stella, suaranya agak serak.

Lingga menunjuk ke arah mobil sedan tua yang terparkir tak jauh dari selasar gedung. "Pake mobil."

Hanya dua kata. Tapi entah kenapa, di tengah dinginnya udara sore dan perihnya penolakan Gibran, suara pendek Lingga terdengar begitu nyata di telinga Stella. Stella menerima payung itu dengan ragu. "Makasih ya, Ling."

Lingga hanya mengangguk pelan sekali. Ia membalikkan badan, berjalan menerobos hujan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi.

Stella memandangi payung biru di tangannya, lalu beralih menatap mobil sedan tua yang perlahan bergerak meninggalkan area sekolah.

Lingga tidak benar-benar pergi, mobil itu berhenti di dekat halte sekolah. Lingga tahu, Stella bakal ada disana.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!