Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2
Aroma kapur barus dan amis darah yang mulai mengering menyambut kedatangan Detektif Aris saat dia melewati garis polisi berwarna kuning. Ini adalah kompleks perumahan kelas menengah baru di pinggiran Kota Marunda.
Di ruang makan rumah bernomor 42 itu, jarum jam dinding berbentuk elpiji mandek di angka 08.15 pagi. Di atas meja, dua cangkir susu hangat yang sudah dikerubuti semut, di samping piring berisi roti tawar yang mulai mengeras.
Di lantai bawah meja tersebut, terbujur dua sosok. Ratna (32 tahun), seorang ibu rumah tangga, bersandar di kaki meja dengan gaun daster batik birunya. Di pangkuannya, putra kecilnya yang baru berusia 4 tahun, Dani, tampak seperti sedang tertidur pulas.
Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh mereka. Tidak ada lebam, tidak ada luka tusuk, bahkan tidak ada bekas pencekikan. Wajah keduanya tampak tenang, nyaris seperti manekin yang dipajang.
"Tim forensik awal bingung, Ris," ujar Januar yang kini sudah resmi kembali bertugas, berdiri di samping Aris sambil memegang papan klip laporan. "Tidak ada tanda pintu didobrak. Barang berharga seperti televisi berwarna dan perhiasan di kamar utama sama sekali tidak disentuh. Suaminya, seorang pegawai kantoran di dinas pekerjaan umum, sedang dinas luar kota sejak dua hari lalu."
Aris berjongkok, membetulkan letak kerah jaket kulitnya. Dia mengeluarkan senter National miliknya, menyoroti sudut bibir kedua korban. Tidak ada busa, tidak ada warna kebiruan yang biasa mengindikasikan racun sianida atau arsenik standar.
Namun, saat Aris mendekatkan senternya ke sela-sela jari manis Ratna, dia menemukan kejanggalan kecil: sebutir serbuk berwarna ungu pekat terselip di bawah kuku wanita itu.
Ketika Aris mengarahkan senternya lebih teliti ke bawah kolong meja makan, dia menemukan sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding. Di balik kolong, terdapat sebuah boneka jerami kecil yang bagian kepalanya sengaja diikat dengan sehelai rambut panjang rambut yang sangat mirip dengan jenis rambut yang dimiliki oleh mendiang Ratna.
Aris berdiri, matanya menatap ke luar jendela rumah yang memperlihatkan pemandangan perbukitan gersang di batas kota. Kasus ini bukan pembunuhan biasa akibat perampokan atau dendam domestik. Ada aroma ritus kuno yang sangat rapi, yang entah bagaimana, kembali masuk ke wilayah urban Kota Marunda.
Aris menggunakan sebilah pinset kecil untuk mengais serbuk ungu pekat dari bawah kuku Ratna. Dia memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik klip kecil.
"Jan, jaga TKP ini sampai tim forensik selesai. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk keluarga dekat korban," perintah Aris sambil memasukkan plastik klip itu ke dalam saku jaket kulitnya.
Aris melangkah keluar dari rumah nomor 42. Dia memacu Toyota Corolla DX miliknya menuju Pasar Lama Marunda. Di sudut pasar yang becek dan berbau bumbu dapur, berdiri bangunan ruko dua lantai berpapan nama kusam: Apotek Sembiring.
Ini adalah apotek tertua di kota, dikelola oleh Dokter Sembiring (65 tahun), seorang pensiunan ahli toksikologi kepolisian yang memilih mengasingkan diri di antara tumpukan obat kuno.Krieeek... Pintu kaca apotek yang dipenuhi stiker obat era 80-an itu berdenting saat Aris masuk.
Aroma alkohol dan ramuan herbal menusuk hidung.
"Kau membawa masalah apa lagi hari ini, Aris?" tanya Dokter Sembiring dari balik meja kaca tinggi. Tangannya sibuk menumbuk obat menggunakan mortar batu.
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Dia meletakkan kantong plastik berisi serbuk ungu pekat itu di atas meja kaca.
"Tolong periksa ini, Dok. Dua korban tewas di dalam rumah mereka tanpa bekas kekerasan fisik. Serbuk ini ada di bawah kuku korban."
Dokter Sembiring menghentikan aktivitasnya. Dia membetulkan letak kacamata tebalnya, mengambil plastik klip tersebut, dan membawanya ke bawah lampu meja yang terang. Dia menuangkan sedikit serbuk itu ke atas piring porselen kecil, lalu meneteskan sejenis cairan kimia bening dari botol kaca.
Serbuk ungu itu larut dan mengeluarkan asap berwarna keperakan dengan bau yang sangat manis, nyaris seperti bau bunga melati yang membusuk. Wajah Dokter Sembiring seketika berubah tegang. Dia mundur, menatap Aris.
"Ini bukan racun modern, Aris. Ini adalah ekstrak dari akar tanaman Kecubung Hitam Lereng Kelam. Jenis tanaman purba yang hanya tumbuh di puncak Gunung Kelam."
Dokter Sembiring mengetuk meja dengan jarinya yang gemetar. "Racun ini tidak merusak organ dalam atau memicu gagal jantung instan seperti sianida. Cara kerjanya mengerikan: ia melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik.
Korban akan mengalami kelumpuhan total saat masih sadar, mengunci napas mereka secara perlahan sampai mereka mati lemas dalam ekspresi tenang. Dan yang paling penting... tanaman ini sudah punah sejak kebakaran besar tahun 1959."
Aris tertegun. Nama Gunung Kelam dan tahun 1959 kembali muncul. Padahal, dia baru saja menyelesaikan kasus Desa Talas. Apakah ini artinya ada pelaku lain di luar sana yang memiliki hubungan darah dengan rahasia Gunung Kelam, atau ada rahasia domestik di dalam rumah tangga keluarga Ratna yang sengaja memanfaatkan mistis gunung tersebut untuk pembunuhan berencana?