Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Matahari menjelang siang memancarkan terik yang cukup menyengat di atas lapangan terbuka dekat balai desa Kertajaya.
Suara bising dari kendaraan yang melintas di jalan raya utama dusun sesekali beradu dengan suara anak-anak sekolah dasar yang berjalan pulang beriringan sambil tertawa riang. Di bawah naungan pohon ketapang yang rindang di samping garasi rumah warga, Raka, Bayu, dan Dimas tampak sibuk dengan peralatan seadanya: arit kecil, sapu lidi, dan sebuah karung plastik besar untuk menampung rumput liar.
Sesuai janji mereka di warung Bu Rini pagi tadi, pelanggan kedua mereka seorang ibu paruh baya yang rumahnya persis berada di dekat balai desa meminta tolong agar halaman samping garasinya dibersihkan dari semak-semak dan rumput teki yang mulai meninggi.
Bayu berjongkok sambil menyeka keringat di dahinya menggunakan lengan kaus kumalnya. "Wah, lumayan juga ya kerjaan hari ini. Baru kemarin bikin kartu nama darurat, sekarang udah dapet klien dekat balai desa. Rasanya usaha kita mulai punya masa depan."
Dimas yang berdiri sambil memegang karung sampah melirik sekilas ke arah jalan raya desa yang beraspal mulus. "Makanya, promosi itu penting. Kalau kita cuma diam di kos nungguin Bu Ratna nagih iuran, yang ada dompet kita bakal menguap sebelum akhir bulan."
Tidak jauh dari tempat mereka bekerja, Mira berdiri dengan sebelah tangan menopang dagu, mengamati pekarangan rumah tersebut dengan pandangan menilai.
Perempuan bergaun ungu itu tampak bosan melihat manusia-manusia bekerja menggunakan otot fisik di bawah terik matahari. Gaun ungunya berkibar pelan tertiup angin sepoi-sepoi yang membawa aroma debu jalanan.
Pekerjaan yang benar-benar membutuhkan kesabaran, batin Mira mendengus pelan, memainkan ujung rambut panjangnya dengan gerakan malas. Padahal kalau aku mau, aku bisa melenyapkan seluruh rumput liar ini dalam waktu satu kedipan mata tanpa harus membuat mereka berkeringat sampai basah kuyup begitu.
Namun, Mira ingat betul kesepakatan tak tertulis di antara mereka: sihir tidak boleh menjadi jalan pintas untuk segala hal. Terlalu sering menggunakan sihir di tempat terbuka bisa membuat mereka kesulitan menjelaskan kejadian aneh kepada warga desa, dan ia tidak ingin Raka menceramahinya lagi soal aturan dunia manusia.
Meski demikian, bukan Mira namanya jika tidak iseng.
Melihat Bayu sedang kesulitan mencakar-cakar tanah untuk mencabut seakar rumput ilalang yang menjepit batu bata merah di dekat pagar, sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Mira melangkah mendekati Bayu secara diam-diam—meskipun wujudnya tidak kasat mata bagi pemilik rumah maupun orang yang lewat di jalan.
Dengan gerakan sangat halus, Mira mengarahkan jari telunjuknya yang lentik ke arah rumpun rumput yang sedang ditarik Bayu, lalu menyalurkan tiupan angin gaib bertekanan kecil tepat ke pangkal rumput tersebut.
Plop!
Tanpa diduga, akar rumput yang tadinya tertanam kuat itu tiba-tiba terlepas begitu saja dengan sangat mudah.
Bayu, yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik rumput dengan posisi jongkok penuh penghayatan, langsung kehilangan keseimbangan karena rumput itu terlepas terlalu gampang. Ia terhuyung ke belakang dan terduduk di atas tanah berdebu dengan bokong membentur lantai semen pinggir garasi.
"Aduh!" pekik Bayu kaget, mengelus celananya yang kotor terkena debu. Ia mendongak ke atas, menatap rumpun rumput di tangannya dengan kening berkerut heran. "Perasaan tadi akarnya kuat banget kayak dicor semen, kok tiba-tiba copot sendiri kayak ditarik raksasa? Jangan-jangan tanah di sini ada penunggunya."
Di dekatnya, Dimas melirik Bayu datar sambil terus menyapu dedaunan kering. "Makanya, kalau kurang tenaga jangan dipaksa pakai ilmu kebatinan. Malu diliatin orang yang lewat."
Mendengar komentar datar Dimas, Mira yang berdiri tidak jauh dari situ langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tawa geli yang hampir meledak.
Bahunya bergetar hebat melihat ekspresi bingung Bayu yang masih menggaruk-garuk kepalanya sambil celingukan kebingungan.
Raka, yang sedang merapikan dahan pohon di dekat pagar, melirik sekilas ke arah Bayu yang jatuh terduduk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mira yang sedang berusaha menahan tawa. Raka langsung paham siapa dalang di balik kejadian konyol barusan.
Raka menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa kepada kedua temannya. Ia tahu betul, kehadiran sang putri jin di tengah-tengah pekerjaan kasar mereka selalu berhasil mengubah suasana yang melelahkan dan membosankan menjadi penuh warna.
"Udah, Bay, nggak usah melamun," panggil Raka sambil melempar senyum geli. "Cepat selesaikan bagian pojok itu sebelum pemilik rumah keluar nganterin es jeruk."
Mendengar kata 'es jeruk', semangat Bayu langsung bangkit kembali. Ia melompat berdiri, menepuk-nepuk pantat celananya yang berdebu, lalu kembali berjongkok untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Mira berjalan menjauh dengan anggun, merasa puas karena keisengan kecilnya berhasil mencairkan suasana siang hari yang terik di Desa Kertajaya.
Tidak lama setelah matahari mulai bergeser ke tengah kepala, pekerjaan pembersihan pekarangan samping garasi itu akhirnya mendekati selesai.
Karung plastik besar yang tadinya kosong kini sudah penuh sesak dengan rumput liar, dahan kering, dan tumpukan sampah daun.
Halaman yang tadinya tampak semak dan tidak terurus kini terlihat rapi, bersih, dan jauh lebih lega dipandang mata.
Pemilik rumah seorang ibu paruh baya berdaster batik rapi keluar dari pintu samping sambil membawa nampan kecil berisi tiga gelas es jeruk segar yang berembun di pinggir gelasnya. Wajahnya berseri-seri melihat hasil kerja ketiga pemuda kos nomor empat.
"Wah, rapi sekali ya halaman samping ini sekarang!" puji ibu tersebut takjub, meletakkan nampan di atas kursi kayu dekat garasi. "Padahal kemarin rumputnya sudah kayak hutan kecil. Kalian kerjanya cepat dan teliti juga, ya."
Raka, Bayu, dan Dimas meletakkan alat-alat mereka lalu mendekati teras dengan senyum sopan. Bayu bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gelas es jeruk yang tampak begitu menggoda di bawah terik siang itu.
"Alhamdulillah, Bu, bagian samping sudah beres semua sesuai Paket A yang kita sepakati," jawab Raka sopan.
"Baguslah kalau begitu. Ini upahnya, ya. Pas sepuluh ribu rupiah, ditambah bonus es jeruk buat pelepas lelah," ujar sang ibu ramah sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan baru.
Dimas menerima uang tersebut dengan tenang. "Terima kasih banyak, Bu. Kalau nanti butuh bantuan lagi buat bersihin gudang atau pekarangan belakang, silakan hubungi nomor yang ada di kartu nama kami."
"Pasti, nanti saya simpan kartu namanya di dekat telepon rumah," balas ibu itu tersenyum puas.
Setelah berpamitan dan menghabiskan es jeruk segar yang langsung menyegarkan kerongkongan mereka, Raka, Bayu, dan Dimas berjalan meninggalkan rumah tersebut menuju jalan pulang.
Di belakang mereka, Mira mengekor dengan langkah ringan, merasa ikut berjasa atas kelancaran proyek kedua kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya.
Setibanya di kamar kos nomor empat, Bayu langsung merebahkan diri di kasur busa tipis sambil melempar uang sepuluh ribu rupiah ke atas meja kecil.
"Pelanggan kedua sukses! Total kas kita sekarang udah dua puluh ribu rupiah!" seru Bayu girang, menepuk-nepuk perutnya sendiri.
Dimas mengeluarkan buku catatan kecilnya, mencatat pemasukan hari itu dengan rapi menggunakan pulpen hitam. "Pemasukan dua puluh ribu, pengeluaran modal nol. Kalau ritme begini terus, kita bisa bertahan hidup tanpa harus makan mi instan tiap malam."
Raka tersenyum tipis, melirik ke arah Mira yang berdiri di dekat jendela dengan gaun ungunya. "Gimana, Ratu Pemasaran? Ada masukan lagi buat ekspansi bisnis kita besok?"
Mira mendengus angkuh, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Tentu saja ada. Tapi strategi tingkat tinggi berikutnya tidak akan kuberikan secara cuma-cuma sebelum kalian menyajikan laporan keuangan yang jelas."
Tawa kecil Raka, Bayu, dan Dimas kembali memenuhi ruangan sempit itu. Usaha kecil mereka di Desa Kertajaya kini bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah babak baru yang berjalan beriringan dengan gelak tawa, kebersamaan, dan tentu saja, sedikit keisengan gaib dari sang putri jin.