Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Darah Perawan Untuk Tumbal
Setelah perang di Alam Sebrang aku kira Dusun Krajan akan aman. Ternyata aku salah besar.
Jam 02:00 dini hari.
aku terbangun di Masjid Tanpa Karpet, masih peluk tongkat cendana. Malik masih peluk anaknya yang sudah jadi santri kecil bercahaya putih, anaknya yang baru direbut dari Banaspati. Retakan di lantai masjid sudah mengecil dari lima meter menjadi dua meter, cahayanya putih lagi, tidak hitam.
Tapi dari luar masjid, aku dengar suara gong. Gong besar dipukul sekali, keras, dari arah Alas Purwo.
Gong itu bukan gamelan fals. Gong itu gong kematian. Tanda ada tumbal diminta.
Malik langsung bangun, wajahnya pucat.
"Arga, Banaspati kalah perang di Alam Seberang, anak buahnya direbut, Ulo Sowo mati dua kali, santetnya berbalik kena dia sendiri. Dia terluka. Darah hitamnya menetes di akar Beringin dua meter itu. Jin Kafir kalau terluka, satu-satunya obatnya adalah Darah Perawan Untuk Tumbal. Darah perawan asli, bukan foto, bukan rambut, bukan sesajen nasi kuning. Darah segar."
"Siapa yang dia incar? tanyaku.
Malik menatap ke arah rumah Pak Lurah. "Siapa lagi yang hutangnya belum lunas? Sari, Itu dia. Banaspati akan ambil Sari malam ini juga, sebelum Subuh, karena kalau lewat Subuh lukanya akan jadi permanen dan dia akan mati pelan-pelan...."jawab Malik.
Aku lari. Lari ke rumah Pak Lurah, tanpa sandal.
Rumah Pak Lurah sepi. Lampu mati. Pintu terbuka lebar, seperti sengaja dibuka dari dalam.
Di dalam rumah, Pak Lurah dan istrinya tergeletak di lantai ruang tengah, pingsan, mulutnya berbusa putih, di leher mereka ada bekas cekikan tangan hitam besar. Sari tidak ada.
Di kursi tempat Sari duduk waktu kesurupan paku kemarin, ada kain kafan bayi kosong yang kemarin di Beringin Kembar, dan ada jejak kaki besar, jejak kaki kerbau, berlumpur darah hitam, mengarah keluar rumah, ke arah Alas Purwo.
Sari diculik. Darah perawan untuk tumbal, diculik hidup-hidup oleh Banaspati.
Warga yang dengar gong tadi mulai keluar rumah, bawa obor.
Pak Min teriak, "Sari hilang! Sari hilang! Dicuri Banaspati!"
Aku tidak pikir panjang. Aku dan Malik yang gendong anaknya yang baru jadi Jin Islam, Kiai Jirji yang tiba-tiba muncul, dan lima warga laki-laki, kami kejar jejak kaki kerbau itu masuk ke hutan Alas Purwo. Malam Jumat Kliwon belum selesai, masih jam 02:30, gerbang masih lemah.
Jejak itu membawa kami bukan ke Beringin Kembar, tapi lebih dalam, ke tempat yang selama ini belum pernah kami datangi: Batu Lingga, batu besar berbentuk kemaluan laki-laki dan perempuan yang jadi pusat sesembahan Jin Kafir sejak zaman Majapahit. Tempat itu ada di tengah Alas, 1 km dari dusun.
Sampai di Batu Lingga, aku melihat pemandangan paling brutal seumur hidupku.
Batu Lingga itu tinggi 3 meter, berlumut, ada ukiran wajah-wajah menangis. Di atas Batu Lingga, Sari terikat. Terikat dengan rambut hitam Ulo Sowo yang hidup lagi, rambutnya melilit tangan dan kaki Sari, membuat Sari seperti disalib di atas batu.
Sari masih hidup, menangis, pakai daster putih, tapi dasternya sudah sobek, darah dari lututnya menetes.
Di bawah Batu Lingga, Banaspati berdiri. Raja Iblis Kampung, tinggi 4 meter, kepala kerbau, tanduknya patah satu karena perang di Alam Seberang tadi, dada dan perutnya bolong, keluar darah hitam kental yang menetes ke tanah, tanah yang kena darah hitam itu langsung jadi hitam dan mati rumputnya. Dia terluka parah.
Di sekeliling Banaspati, 1000 pasukan Jin Kafir sisa perang tadi, berlutut, mereka semua lapar, menatap Sari seperti serigala menatap daging.
Banaspati angkat gada tulangnya, dia mau tusuk jantung Sari untuk ambil darah perawan.
"DARAH PERAWAN UNTUK TUMBAL! UNTUK OBAT LUKAKU! SETELAH INI AKU AKAN KUAT LAGI DAN AKU AKAN HANCURKAN KAMPUNG JIN ISLAM DAN KAMPUNG MANUSIA!"
Sari menjerit, "ARGA! TOLONG!"
Aku mau lari, tapi Malik tahan aku.
"Arga, kalau kamu maju sekarang, kamu mati. Banaspati butuh darah perawan untuk tumbal, tapi tumbalnya harus perawan yang masih takut. Kalau Sari berani, kalau dia baca doa, darahnya jadi racun untuk Banaspati, bukan obat!"
Aku teriak ke Sari dari jarak 20 meter, "SARI! BACA AYAT KURSI! JANGAN TAKUT! BACA!"
Sari yang menangis, mendengar suaraku, dia menatap aku. Matanya merah.
Dia ingat, dua kali aku selamatkan dia dari kesurupan paku dan sesajen foto. Dia percaya aku.
Dengan suara gemetar, darah menetes dari lututnya, Sari baca, "Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum..."
Setiap ayat yang dibaca Sari, rambut Ulo Sowo yang melilit dia terbakar sedikit.
Banaspati marah, dia tempelkan tangan hitamnya yang berdarah ke mulut Sari, mau bungkam.
"DIAM! DARAHMU HARUS TAKUT, BUKAN SUCI!"
Tapi Sari terus baca, lebih keras, sambil menangis.
Aku tidak tahan. Aku lari, bawa tongkat cendana Malik, aku lompat ke atas Batu Lingga.
Aku pukul tangan Banaspati yang menutup mulut Sari dengan tongkat cendana.
Ssssttt! Tangan Banaspati terbakar.
Banaspati menoleh ke aku, mata merahnya melotot.
"PENJAGA BARU! KAU LAGI! teriak Banaspati.
Dia pukul aku dengan gada tulangnya. Aku terpental lima meter, jatuh ke tumpukan tulang, punggungku sakit, darah keluar dari hidung.
Tapi Sari sudah selesai baca ayat kursi.
Dan yang terjadi, darah perawan untuk tumbal itu berubah.
Darah yang menetes dari lutut Sari yang tadinya merah segar, karena Sari baca ayat kursi dengan berani, darahnya berubah jadi cahaya putih, sama seperti Banyu Suci.
Banaspati yang terluka, yang butuh darah itu untuk obat, begitu darah cahaya itu menetes ke luka bolong di perutnya...
"AAAAARRRGGHHH!!!"
Bukan sembuh. Tapi terbakar. Luka Banaspati yang kena darah berani Sari, bukannya sembuh, malah melebar, apinya putih.
Sari bukan tumbal. Sari jadi racun untuk Raja Iblis.
1000 pasukan Jin Kafir melihat Raja mereka terbakar oleh darah perawan yang seharusnya jadi obat, mereka panik, mereka mundur.
Banaspati menjerit, tubuh empat meternya terbakar dari perut, dia lari ke dalam hutan Alas Purwo yang gelap, meninggalkan Sari di atas Batu Lingga.
Aku naik lagi, aku putuskan rambut Ulo Sowo yang sudah gosong dengan parang warga, aku gendong Sari turun.
Sari pingsan di gendonganku, tapi napasnya ada, darah di lututnya sudah berhenti, lukanya tertutup cahaya.
Malik menghampiri, dia tempelkan tangan bercahayanya ke dahi Sari.
"Dia selamat. Darah perawan untuk tumbal gagal lagi. Untuk ketiga kalinya Sari lolos dari Banaspati. Sekarang darahnya sudah suci, Banaspati tidak akan bisa pakai dia lagi."
Kiai Jirji menatap hutan tempat Banaspati lari.
"Tapi Banaspati belum mati, Arga. Dia hanya terluka lebih parah. Dan Jin Kafir yang terluka parah tanpa obat darah perawan, dia akan jadi lebih brutal. Dia akan cari tumbal lain, bukan Sari. Dia akan cari gadis lain di luar Krajan, atau... dia akan cari cara untuk buat Sari tidak perawan lagi dengan cara gaib, agar darah sucinya hilang...."ucap Kiai Jirji.
Malam itu, kami bawa Sari pulang. Warga bersyukur, Pak Lurah dan istrinya yang pingsan tadi sudah siuman.
Tapi di Batu Lingga yang kami tinggalkan, darah hitam Banaspati yang terbakar tadi, membentuk tulisan baru di batu, tulisan yang lebih besar dan lebih mengancam dari sebelumnya:
"KALAU BUKAN SARI, ADIKMU - RANIA"
Rania adalah nama adik perempuanku yang di Surabaya, yang belum pernah ke Krajan sama sekali.
Banaspati tahu namanya. Dan dia akan cari Darah Perawan Untuk Tumbal dari keluargaku sendiri.