NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Jejak Kebaikan yang Tercecer

Suara detak monitor jantung berbunyi teratur di dalam ruang perawatan VVIP rumah sakit swasta tersebut. Di atas ranjang bertirai putih, Kakek Nugroho Sastro terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Pandangan matanya yang mulai kabur menatap kosong ke arah langit-langit ruangan, membiarkan pikirannya berkelana menerobos lorong waktu, kembali ke kenangan beberapa bulan lalu sebelum tubuh renta itu terkulai tak berdaya.

Kala itu, matahari sore baru saja bergeser ke barat. Sebuah mobil sedan hitam sederhana berhenti di depan gerbang kayu sebuah bangunan tua bernuansa hangat di pinggiran kota. Kakek Nugroho, yang mengenakan pakaian santai tanpa pengawalan ketat, melangkah turun didampingi oleh pria paruh baya yang setia menjadi pengemudinya.

"Bapak yakin tidak mau saya dampingi masuk ke dalam?" tanya Pak Ade, sang sopir pribadi, sembari membukakan pintu mobil dengan sigap.

"Tidak usah, Ade. Kamu tunggu di sini saja," jawab Kakek Nugroho halus, mengibaskan tangannya pelan. "Saya cuma mau menyerahkan amplop donasi ini langsung ke Ibu Panti. Kalau ramai-ramai, nanti malah bikin anak-anak di dalam canggung."

"Baik, Pak. Saya siap di dekat mobil kalau Bapak butuh bantuan," balas Pak Ade patuh.

Kakek Nugroho tersenyum tipis lalu melangkah pelan memasuki halaman Panti Asuhan Kasih Bunda. Sudah menjadi kebiasaan rutinnya selama bertahun-tahun untuk mendatangi panti-panti asuhan kecil yang luput dari perhatian publik dan mendonasikan sebagian rezekinya secara diam-diam. Beliau tidak pernah membawa nama Nugroho Group, melainkan hadir sebagai seorang kakek biasa yang merindukan suasana hangat kekeluargaan.

Namun, sore itu dada Kakek Nugroho mendadak terasa dihimpit beban yang sangat berat. Langkah kakinya yang semula mantap tiba-tiba bergetar di lorong samping gedung panti. Napasnya memburu, dan pandangannya berputar secara drastis. Serangan jantung ringan menyergapnya tanpa kompromi.

"Ugh... dada saya..." gumam Kakek Nugroho lirih, meraba dinding tembok sebelum akhirnya tubuh rentanya ambruk ke lantai semen.

Tepat pada saat yang bersamaan, seorang pemuda bertubuh tegap yang baru saja keluar dari ruang pengurus panti melihat kejadian tersebut. Dengan refleks yang sangat cepat, pemuda itu berlari menghampiri sang kakek.

"Kakek! Kakek kenapa?!" seru pemuda itu panik, membaringkan tubuh Kakek Nugroho secara telentang dengan hati-hati.

Kakek Nugroho tidak mampu menjawab. Matanya terpejam rapat, bibirnya memucat, dan napasnya tersendat-sendat pendek.

Pemuda itu tidak membuang waktu. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia segera memeriksa denyut nadi di leher sang kakek dan mengamati gerakan dadanya.

"Tenang, Kek. Tarik napas pelan-pelan. Jangan panik," bisik pemuda itu lembut.

Ia memiringkan posisi kepala Kakek Nugroho agar jalur napasnya terbuka sempurna, lalu melonggarkan kancing kemeja bagian atas sang kakek. Pemuda itu rupanya memiliki keterampilan pertolongan pertama dan teknik penanganan darurat yang sangat terlatih. Tangannya menekan titik-titik akupresur tertentu di area pergelangan tangan dan dada bagian atas sang kakek untuk membantu melancarkan sirkulasi darah dan meredakan tekanan jantung.

"Buka mata pelan-pelan, Kek... ikuti napas saya," pandu pemuda itu dengan nada suara yang mantap namun sangat menenangkan. "Tarik... buang... bagus, terus begitu."

Selama hampir sepuluh menit yang menegangkan, pemuda tampan itu terus mendampingi Kakek Nugroho. Ia memijat titik-titik pertolongan pertama secara konsisten hingga warna pucat di bibir sang kakek perlahan memudar, menggantikannya dengan rona segar. Hembusan napas Kakek Nugroho mulai teratur kembali.

Perlahan-lahan, Kakek Nugroho membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah paras tampan, berkarakter, dan penuh ketulusan dari pemuda yang berlutut di sampingnya.

"Gimana, Kek? Sudah enakan dadanya?" tanya pemuda itu ramah, mengulas senyum hangat yang membuat suasana mendadak tenteram.

"Alhamdulillah... dada Kakek terasa agak lega," jawab Kakek Nugroho lirih, suaranya masih terdengar agak serak. "Kamu... kamu siapa, Nak?"

"Saya cuma anak panti sini, Kek," sahut pemuda itu rendah hati sembari membantu sang kakek duduk bersandar di dinding. "Nama saya Dewa. Kebetulan saya lagi berkunjung ke panti buat nengok adik-adik dan Ibu Panti, eh pas lewat sini liat Kakek pingsan."

Kakek Nugroho memegang erat lengan pemuda itu, menatap wajahnya dengan rasa simpati dan kekaguman yang mendalam. "Terima kasih banyak, Dewa. Kalau tidak ada kamu... Kakek mungkin sudah tidak selamat di tempat ini."

Dewa tertawa kecil, melambaikan tangannya santai. "Ah, Kakek bisa aja. Ini udah kewajiban saya, Kek. Kebetulan saya dulu pernah dapet pelatihan pertolongan pertama dari yayasan, jadi paham dikit-dikit cara tanganin orang yang kena serangan jantung mendadak."

"Kamu anak yang sangat baik dan santun, Dewa," puji Kakek Nugroho tulus, hatinya benar-benar tersentuh oleh sikap dewasa pemuda di depannya. "Di zaman sekarang, jarang ada anak muda yang tetap tenang dan mau peduli sama orang tua yang gak dikenal seperti ini."

"Semua orang pasti bakal lakuin hal yang sama kok, Kek," kata Dewa humble. "Kakek tadi ke sini mau ketemu Ibu Panti, ya? Ayo saya bantu berdiri, kita ke dalam aja biar Kakek bisa istirahat di sofa."

"Tidak usah, Dewa," tahan Kakek Nugroho pelan. "Amplop titipan donasi Kakek sudah Kakek serahkan ke Ibu Panti sebelum Kakek jalan ke lorong ini tadi. Kakek cuma mau pamit pulang saja."

Dewa menatap Kakek Nugroho dengan raut khawatir. "Yakin, Kek? Kakek datang sama siapa? Bahaya kalau jalan sendiri dalam kondisi begini."

"Kakek datang sama sopir," jawab sang kakek lembut. "Dia tunggu di depan gerbang."

"Kalau gitu biar saya papah sampai depan ya, Kek. Biar pastiin Kakek aman," tawar Dewa tegas, tak memberi ruang untuk penolakan.

Kakek Nugroho tersenyum makin lebar. "Baiklah kalau kamu memang memaksa, Dewa."

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Dewa memapah tubuh Kakek Nugroho berjalan menyusuri lorong panti menuju ke area gerbang depan. Di sana, Pak Ade yang melihat majikannya dipapah oleh seorang pemuda tegap langsung panik dan berlari mendekat.

"Pak Nugroho! Bapak kenapa?!" seru Pak Ade cemas, mengambil alih posisi di samping sang kakek.

"Saya tidak apa-apa, Ade," cegah Kakek Nugroho tenang. "Tadi cuma agak pusing sedikit, tapi untung ada anak muda ini yang bantu saya."

Pak Ade menatap Dewa dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih banyak ya, Mas. Sudah bantu majikan saya."

"Sama-sama, Pak," balas Dewa sopan. "Lain kali dijaga ya Kakeknya, Pak. Jangan dibiarin jalan sendiri kalau punya riwayat jantung."

"Siap, Mas. Pasti saya jaga lebih ketat," janji Pak Ade mantap.

Kakek Nugroho hendak masuk ke dalam mobil, namun ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali menghadap Dewa. Beliau sangat menyukai kepribadian pemuda ini dan berniat untuk memberikan imbalan serta menjalin hubungan erat di kemudian hari.

"Dewa, boleh Kakek minta nomor telepon atau alamat tempat tinggalmu?" tanya Kakek Nugroho penuh harap. "Kakek ingin sekali mengundangmu makan malam di rumah sebagai bentuk rasa terima kasih."

Dewa tersenyum tipis lalu menggeleng pelan dengan halus. "Gak perlu, Kek. Ketemu dan bisa bantu Kakek hari ini aja udah buat saya seneng banget. Kalau Kakek mau bales kebaikan saya, Kakek cukup doain aja supaya adik-adik di panti ini sehat dan bisa terus belajar."

Kakek Nugroho makin terpana mendengar jawaban yang begitu mulia. Sebelum sang kakek sempat membujuk lebih lanjut, Dewa sudah pamit secara santun.

"Saya masuk ke dalam dulu ya, Kek. Adik-adik udah nungguin saya buat main," pamit Dewa seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. "Hati-hati di jalan ya, Kek. Pak Ade, tolong disetir pelan-pelan aja."

"Iya, Mas Dewa. Terima kasih sekali lagi!" sahut Pak Ade.

Kakek Nugroho menatap punggung Dewa yang melangkah kembali masuk ke dalam bangunan panti sampai pemuda itu menghilang di balik pintu. Sang kakek menghela napas panjang, ada rasa penyesalan kecil karena tidak berhasil mendapatkan kontak pemuda berbudi luhur tersebut.

"Pak, mari masuk. Bapak harus segera istirahat," ajak Pak Ade sembari membukakan pintu penumpang bagian belakang.

Kakek Nugroho mengangguk pelan. Beliau melangkah masuk dan duduk di kursi belakang mobil sedan hitam tersebut.

"Jalan pelan-pelan ya, Ade," ujar Kakek Nugroho seraya menyandarkan kepalanya.

"Baik, Pak Nugroho," jawab Pak Ade mengangguk paham.

Mobil sedan hitam itu pun perlahan mulai bergerak meninggalkan area gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda, membawa Kakek Nugroho pulang bersama kenangan indah tentang seorang pemuda bernama Dewa, sebuah nama panggilan yang kelak tanpa disadarinya akan menjadi kunci penentu dari takdir cucu kesayangannya.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!