Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH SATU
Sore itu, begitu Bayu pulang dari "survei proyek"-nya, aku sudah menunggunya di ruang tamu, duduk kaku dengan mata sembab bekas menangis sepanjang siang. Begitu pintu terbuka dan Bayu melangkah masuk dengan wajah lelah seperti biasa, aku langsung bangkit, tidak lagi bisa menahan amarah yang sudah memuncak sejak pagi.
"Kamu berani banget ya, Mas," suaraku bergetar, menahan tangis yang siap pecah kapan saja. "Aku ke Kalitirto tadi pagi. Aku ketemu Wulan. Aku ketemu Raka."
Wajah Bayu seketika pucat pasi, tas kerjanya terjatuh begitu saja dari tangannya. "Yu, aku—"
"Diam!" bentakku, suaraku menggelegar memenuhi ruang tamu yang biasanya begitu tenang. "Dua tahun, Mas! Dua tahun kamu bohongin aku! Pake uangku buat nafkahin perempuan lain, buat besarin anak yang bukan dari aku!"
"Yu, dengerin aku dulu, aku bisa jelasin—" Bayu mencoba mendekat, namun aku mendorongnya menjauh dengan sekuat tenaga.
"Jelasin apa lagi, Mas?! Semuanya udah jelas! Kamu itu pembohong! Kamu pengkhianat!" teriakku, tanganku mendarat keras di dada Bayu, memukulinya berkali-kali dalam luapan emosi yang sudah tidak bisa lagi kukendalikan.
Bayu hanya diam, membiarkan pukulan-pukulan itu mendarat di tubuhnya, seolah menerima hukuman yang memang pantas ia terima. "Aku minta maaf, Yu. Aku tau aku salah besar."
"Maaf?! Kamu pikir kata maaf bisa nutup semua kebohongan selama dua tahun ini?!" jeritku, air mata sudah membanjiri wajahku, tenagaku mulai terkuras habis oleh emosi yang meluap tanpa henti.
---
Pertengkaran itu berlangsung lama, penuh teriakan, tuduhan, dan air mata yang tidak kunjung reda. Aku melempar apa saja yang ada di dekatku—bantal sofa, remote televisi, bahkan pigura foto pernikahan kami yang selama ini terpajang manis di ruang tamu, kini pecah berkeping-keping di lantai, seolah menjadi simbol nyata dari pernikahan kami yang juga sudah hancur berantakan.
"Kamu tau nggak, Mas, gimana rasanya tau kalau selama ini aku kerja keras, banting tulang, eh ternyata sebagian hasilnya kepake buat nafkahin madu aku sendiri?!" teriakku, suaraku mulai serak.
"Aku tau aku salah, Yu. Tapi aku janji—" Bayu mencoba menjelaskan lagi, namun aku sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata kosong yang selama ini selalu berhasil ia gunakan untuk lolos dari tanggung jawab.
"Janji apa lagi?! Semua janji kamu itu bohong, Mas! Semuanya bohong!" jeritku, sebelum akhirnya ambruk di lantai, tenagaku benar-benar habis, hanya tersisa isak tangis yang memilukan.
Bayu berlutut di depanku, mencoba meraih tanganku, namun aku menepisnya keras. "Jangan sentuh aku."
---
Amarah yang sudah terlalu lama kutahan itu, ternyata belum juga reda sepenuhnya. Malam harinya, setelah Bayu tertidur karena kelelahan emosional seharian, aku diam-diam mengambil kunci motor, menyalakan mesinnya pelan-pelan agar tidak membangunkannya, lalu melaju sendirian menuju Kalitirto, tempat di mana Wulan tinggal.
Aku tidak tahu apa yang mendorongku malam itu—mungkin amarah yang belum tersalurkan sepenuhnya, mungkin rasa sakit hati yang butuh pelampiasan, mungkin juga dorongan untuk membuat perempuan yang telah merampas sebagian hidupku itu merasakan sedikit saja dari penderitaan yang kurasakan.
Sesampainya di depan rumah kontrakan itu, aku menggedor pintu dengan keras, tidak peduli sudah larut malam. Tidak lama, Wulan membuka pintu, wajahnya menunjukkan keterkejutan melihatku berdiri di sana dengan mata merah dan rambut berantakan.
"Mbak? Ngapain malem-malem ke sini?" tanya Wulan, nadanya masih menyisakan keangkuhan yang sama seperti tadi pagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku menarik rambutnya dengan sekuat tenaga, membuat Wulan menjerit kesakitan. "Kamu pikir kamu bisa seenaknya ngerusak rumah tanggaku terus tetep sombong di depan aku?!"
"Lepasin, Mbak! Sakit!" jerit Wulan, mencoba melepaskan diri, namun cengkeramanku terlalu kuat, didorong oleh kemarahan yang sudah terlalu lama terpendam.
Aku menyeretnya keluar dari pintu rumah, membuatnya terjatuh di halaman kecil depan rumah kontrakan itu, tidak peduli beberapa tetangga mulai keluar rumah, penasaran dengan keributan yang terjadi.
"Kamu itu pelakor, Wulan! Kamu ngerusak keluarga orang, terus kamu masih berani sombong sama aku?!" teriakku, masih mencengkeram rambutnya, membuat perempuan itu meringkuk kesakitan di tanah.
---
"Ada apa ini? Kok ribut-ribut?" beberapa tetangga mulai berkerumun, menyaksikan adegan yang tidak biasa itu dengan tatapan penasaran dan sedikit menghakimi.
"Ini, Bu, Pak! Perempuan ini pelakor! Dia ngerebut suami saya, nikah siri diam-diam, punya anak diam-diam, sementara saya kerja banting tulang buat nafkahin dia tanpa saya sadari!" jeritku pada kerumunan yang mulai terbentuk, tidak lagi peduli pada rasa malu, hanya ingin seluruh dunia tahu kebusukan yang selama ini disembunyikan Wulan.
Wajah Wulan yang tadinya angkuh, kini berubah menjadi ketakutan bercampur malu luar biasa, menyadari kebusukannya telah terbongkar di depan tetangga-tetangganya sendiri, orang-orang yang selama ini mengenalnya sebagai perempuan biasa yang tinggal sendirian dengan anaknya, tanpa pernah tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Mbak, tolong... jangan di sini. Malu, Mbak," pinta Wulan, suaranya kini terdengar memelas, jauh berbeda dari nada angkuh yang ia tunjukkan tadi pagi.
"Malu?! Kamu baru sadar malu sekarang?! Harusnya dari dulu kamu mikir rasa malu sebelum ngerebut suami orang!" balasku, masih diliputi amarah, meski tenagaku mulai terkuras habis.
Salah satu tetangga akhirnya mencoba melerai, menahan lenganku agar melepaskan Wulan. "Bu, sudah, sudah. Jangan sampai kejauhan, nanti malah Ibu yang kena masalah hukum."
Perkataan itu membuatku sedikit tersadar, melepaskan cengkeramanku dari rambut Wulan yang kini terduduk lemas di tanah, menangis tersedu-sedu, wajahnya penuh dengan rasa malu yang, sepertinya, baru benar-benar ia rasakan malam itu, di hadapan tetangga-tetangganya sendiri.
---
Aku berdiri, menatap Wulan yang kini terlihat begitu rapuh, jauh berbeda dari sosok angkuh yang kutemui tadi pagi. "Inget ini baik-baik, Wulan. Kamu boleh punya Bayu sesekali datang ke sini, tapi jangan pernah lagi kamu macem-macem sama aku. Kamu udah tau sekarang, akibatnya kalau kamu berani sombong di depan istri sah."
Wulan tidak menjawab, hanya menunduk, tubuhnya masih gemetar oleh tangisan dan rasa malu yang mendalam.
Aku berbalik, berjalan kembali menuju motorku, mengabaikan bisik-bisik tetangga yang masih mengerumuni tempat itu. Dalam perjalanan pulang, air mataku kembali mengalir, namun kali ini bukan hanya karena kesedihan—ada semacam kepuasan pahit yang juga kurasakan, mengetahui bahwa Wulan akhirnya merasakan sedikit dari rasa malu dan ketakutan yang selama ini seharusnya ia rasakan sejak awal memutuskan untuk merusak rumah tangga orang lain.
Sesampainya di rumah, aku mendapati Bayu sudah terbangun, panik mencariku ke sana kemari. "Yu, kamu dari mana? Aku khawatir banget!"
Aku menatapnya dengan mata yang sudah kering namun penuh ketegasan baru. "Aku dari tempat maduku, Mas. Ngasih pelajaran biar dia nggak berani macem-macem lagi."
Bayu terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh, hanya menatapku dengan campuran rasa takut dan sesuatu yang mirip dengan rasa hormat baru—menyadari bahwa istrinya, yang selama ini selalu ia anggap lembut dan penurut, ternyata memiliki sisi yang jauh lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Aku masih di sini, Mas. Aku masih istrimu, sah di mata hukum dan agama," lanjutku, suaraku tenang namun penuh penekanan. "Tapi jangan pernah lagi kamu anggap aku bodoh yang bisa terus-terusan dibohongin. Mulai sekarang, semuanya berubah."
---