NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Sertifikat

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar yang tertutup rapat, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara. Laras terbangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak merasa lelah sedikit pun, justru sebaliknya, tubuhnya terasa ringan dan pikirannya begitu jernih.

Ia berdiri di depan cermin besar, merapikan rambutnya dengan tenang. Matanya yang tajam menatap bayangan dirinya sendiri, bukan lagi sosok istri yang penakut, melainkan wanita yang memegang kendali penuh atas nasibnya sendiri. Laras meraih map biru di atas meja rias, memastikan semua dokumen penting masih berada di tempatnya.

Terdengar suara langkah kaki yang berat dan berisik dari arah ruang tamu, disusul dengan suara dentuman panci yang sengaja dibanting. Laras menarik napas panjang, mempersiapkan mental untuk babak terakhir dari drama rumah tangga yang menyesakkan ini.

"Laras! Cepat keluar!" teriak suara Ibu Melati yang melengking, memecah keheningan pagi. "Sudah matahari setinggi ini, kau masih saja berleha-leha di dalam kamar sementara perut kami sudah keroncongan!"

Laras tidak segera beranjak. Ia sengaja membiarkan mereka menunggu, menikmati setiap detik kegelisahan yang mulai menyelimuti penghuni rumah itu. Ia tahu, tanpa dirinya yang bergerak di dapur, mereka hanyalah sekumpulan orang yang tidak berdaya.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya digedor dengan keras. Suara Bagas terdengar kasar, penuh dengan arogansi yang biasanya selalu berhasil membuat Laras menciut. Namun hari ini, setiap ketukan di pintu itu hanya terdengar seperti suara rongsokan yang tidak berarti.

"Laras! Keluar sekarang juga!" bentak Bagas dari balik pintu. "Berhenti bersikap sok angkuh. Jangan pikir karena kau diam semalam, kau bisa malas-malasan pagi ini. Cepat siapkan sarapan atau kau tidak akan kuberi uang belanja sepeser pun bulan ini!"

Laras akhirnya melangkah menuju pintu. Ia membuka kunci perlahan, memutar gagang pintu, dan menatap mereka satu per satu dengan tatapan datar. Bagas, Ibu Melati, dan Siska berdiri berjejer dengan wajah yang ditekuk, menatapnya seolah-olah ia adalah pelayan yang melakukan kesalahan fatal.

"Ada apa pagi-pagi sudah ribut di depan pintu kamar orang?" tanya Laras dengan nada tenang yang justru membuat ketiganya tertegun sejenak.

Siska melipat tangannya di dada, matanya menatap Laras dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan merendah. "Wah, lihat siapa yang sudah berani bicara dengan nada tinggi? Kak, sepertinya dia butuh hukuman lebih berat supaya ingat posisinya."

Ibu Melati melangkah maju, jarinya yang penuh cincin emas menunjuk tepat ke depan hidung Laras. "Tugasmu itu melayani kami, Larasati! Kamu ini cuma menumpang di rumah anakku, jangan belagu! Sekarang, cepat ke dapur dan masak sesuatu yang layak. Kami sudah lapar dan tidak punya waktu untuk meladeni sikap bisumu!"

Laras tidak mundur sedikit pun. Ia justru melipat tangannya, meniru posisi Siska, lalu menatap Ibu Melati dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Rumah anakmu? Apakah kalian benar-benar yakin rumah ini milik kalian?"

Bagas tertawa sinis, matanya menyipit penuh rasa jengkel. "Tentu saja rumah ini milikku! Siapa lagi? Gaji dari perusahaanku yang membayar cicilan rumah ini setiap bulan. Jangan berani-berani membantah hanya karena kau mulai merasa sedikit berani."

"Gaji yang bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan listrik kalau bukan karena subsidi dari tabunganku selama tiga tahun terakhir," balas Laras dingin.

Suasana lorong mendadak hening. Bagas terbelalak, wajahnya perlahan memerah karena malu sekaligus murka. Ibu Melati tampak terkejut, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan yang lebih besar.

"Berani sekali kau bicara begitu!" teriak Ibu Melati sambil melangkah mendekat, seolah ingin menjambak rambut Laras. "Siska, rekam dia! Biar semua orang tahu bagaimana kurang ajarnya menantu yang tidak tahu diri ini!"

Siska segera mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera ke wajah Laras. "Ayo ulangi lagi, Kak Laras! Bilang kalau rumah ini bukan milik Kak Bagas. Ayo, biar follower-ku tahu seberapa gila dirimu!"

Laras tidak gentar sedikit pun oleh gertakan itu. Ia justru menatap langsung ke lensa kamera Siska, menunjukkan ekspresi tenang yang membuat Siska merasa tidak nyaman. Ia tahu bahwa rekaman ini justru akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri nantinya.

"Rekamlah sepuasmu, Siska," kata Laras dengan suara yang sangat jelas dan tegas. "Tapi ingat, setiap kata yang keluar dari mulut kalian saat ini adalah bukti yang cukup untuk menunjukkan betapa berkuasanya kalian dalam melakukan penindasan di rumah yang bukan milik kalian."

Bagas menggeram, ia mencoba merenggut map biru yang dipegang Laras, namun dengan sigap Laras menghindar. Gerakan Laras yang gesit membuat Bagas hampir kehilangan keseimbangan, ia hampir terjatuh di atas ubin marmer yang dingin.

"Apa yang kau sembunyikan di map itu?" tanya Bagas dengan napas terengah-engah karena emosi. "Berikan padaku sekarang juga, Laras! Itu pasti dokumen-dokumen sampah yang kau kumpulkan untuk memeras kami, bukan?"

Laras mundur dua langkah, menjaga jarak yang aman di antara mereka. Ia menatap Bagas dengan tatapan kasihan, sebuah tatapan yang justru membuat Bagas semakin merasa terhina.

"Ini bukan dokumen untuk memeras," ujar Laras lembut namun penuh penekanan. "Ini adalah dokumen pengusiran. Kalian sudah sangat lama menikmati hasil keringatku sambil menginjak-injak harga diriku. Sekarang, saatnya kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya."

Ibu Melati tertawa melengking, meskipun suaranya bergetar karena rasa panik yang mulai muncul di balik kesombongannya. "Pengusiran? Kamu itu cuma istri yang statusnya saja di bawah kami! Jangan bermimpi bisa mengusir pemilik rumah ini."

"Pemilik rumah ini adalah orang yang namanya tertera di sertifikat asli," sahut Laras sambil mengeluarkan satu lembar dokumen dari mapnya. "Dan jika kalian mau mengecek ke kantor pertanahan hari ini juga, kalian akan tahu bahwa nama yang tertulis di sana bukanlah Bagas Pratama."

Bagas terdiam. Tubuhnya kaku, matanya menatap kertas di tangan Laras dengan tatapan tidak percaya. Siska menurunkan ponselnya perlahan, wajah angkuhnya kini berubah menjadi cemas. Keheningan mencekam kembali menyelimuti rumah itu, namun kali ini suasananya terasa berbeda.

"Kau gila," bisik Bagas, suaranya kini tidak lagi berwibawa, melainkan penuh dengan ketakutan yang tertahan. "Itu pasti dokumen palsu. Kau pasti sudah menyuap seseorang untuk membuat dokumen palsu itu, bukan?"

Laras tersenyum getir, menatap satu per satu wajah orang-orang yang selama tiga tahun ini telah menganggapnya sebagai pajangan tak berguna. Ia tahu, detik ini adalah akhir dari kesabaran yang ia miliki selama bertahun-tahun.

"Kalian tidak perlu percaya sekarang," ucap Laras tenang sambil melangkah melewati mereka menuju pintu depan. "Tapi ketika nanti pihak bank dan pengadilan datang ke rumah ini untuk menyita aset, jangan katakan bahwa aku tidak pernah memberi peringatan."

Ia membuka pintu depan lebar-lebar, membiarkan cahaya matahari pagi yang terang benderang masuk ke dalam rumah. Laras melangkah keluar, meninggalkan Bagas, Ibu Melati, dan Siska yang masih berdiri mematung di tengah lorong rumah yang kini terasa sangat asing bagi mereka.

Tanpa menoleh sedikit pun, Laras berjalan menjauh dari rumah itu. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai, dan kali ini, ia adalah pemenangnya. Di belakangnya, jeritan marah Ibu Melati dan suara bentakan Bagas terdengar samar, namun bagi Laras, itu hanyalah suara kebisingan yang akan segera ia tinggalkan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!