Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Suasana di area semi-terbuka restoran tempat acara reuni alumni itu terasa begitu hangat. Angin sepoi-sepoi menerpa helai rambut Alana saat dia duduk bersama lingkaran sahabat karibnya dari era perkuliahan dulu Santi dan Nisa. Di meja mereka, piring-piring pencuci mulut sudah hampir kosong, tergantikan oleh cangkir-cangkir kopi yang masih mengepulkan aroma khas.
Santi, sahabat yang paling paham bagaimana perjalanan hidup Alana sejak dulu, menatap Alana lekat-lekat. Ada binar keindahan dari penampilan Alana hari ini, tetapi Santi juga bisa melihat luka terselubung yang belum sepenuhnya pulih di balik ketenangan wajah sahabatnya itu.
"Alana..." panggil Santi pelan, memajukan tubuhnya ke arah meja. Tangannya terulur mengusap jemari Alana yang tertata rapi. "Kamu kelihatan beda banget hari ini. Lebih tenang, lebih bersinar. Tapi jujur ya, Lun... kamu baru sadar kalau selama ini kamu terlalu bodoh bertahan sama laki-laki yang cintanya sudah habis untuk mendiang kakak kamu sendiri?"
Alana tertegun sejenak. Dia menatap cangkir kapucino di hadapannya, lalu mengulas senyum tipis sebuah senyuman penuh keikhlasan yang terbebas dari rasa dendam, namun dipenuhi kepasrahan yang matang.
Sikap dingin dan pengabaian Gema terhadap Alana selama enam tahun ini bukanlah rahasia umum. Teman-teman terdekatnya sudah lama mengendus bagaimana dinginnya rumah tangga yang Alana jalani, walau Alana selalu berusaha menutupinya rapat-rapat di depan publik.
"Aku memang bodoh, San," sahut Alana dengan suara halus namun sangat jelas. "Tapi untuk saat ini, aku bertahan cuma untuk Tania. Tania masih terlalu kecil untuk kehilangan figur keluarga yang utuh. Tapi kalau soal harapan atau rasa cintaku untuk Mas Gema... itu sudah selesai."
Santi menghela napas lega sekaligus prihatin, sementara Nisa menatap Alana dengan rasa simpati yang mendalam. Mereka tahu betapa besarnya pengorbanan yang sudah Alana berikan untuk pernikahan tanpa dasar cinta tersebut.
Tiba-tiba, suasana riuh di sekitar area restoran mendadak mengendur. Langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati meja mereka, menarik perhatian beberapa pengunjung lain.
Sesosok pria berbadan tegap dengan kemeja kantor yang sedikit kusut di bagian lengan berdiri mematung di dekat meja mereka. Wajahnya yang biasa tegas dan dingin kini tampak cemas, dengan napas yang sedikit memburu dan mata memerah menahan gejolak emosi.
Pria itu adalah Gema.
Kehadiran Gema yang sama sekali tak terduga seketika membuat Santi dan Nisa terperanjat. Nisa, yang duduk tepat di sebelah Alana, sampai menahan napas seraya membelalakkan matanya ragu. Pria di hadapannya ini adalah sosok pengusaha sukses yang wajahnya kerap muncul di media, namun kehadirannya di tengah-tengah acara kumpul-kumpul santai ini sungguh di luar dugaan.
"Loh... ini Mas Gema ya, suaminya Alana?" tanya Nisa dengan raut wajah kaget, matanya bergantian menatap Gema dan Alana.
Alana tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia tidak berdiri, tidak juga menunjukkan raut terkejut. Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, Alana memiringkan kepala, lalu menjawab pertanyaan Nisa dengan nada suara yang begitu datar dan jernih seolah tanpa ada beban di dadanya.
"Suaminya almarhum kakak aku, Nisa."
Jawaban itu terlontar begitu mudah dari bibir Alana, mengudara dan menghantam tepat di ulu hati Gema.
Gema membeku di tempatnya. Kata-kata yang diucapkan Alana seolah-olah menegaskan kembali posisi dan batasan yang nyata di antara mereka. Alana tidak menyapa Gema sebagai suamiku, melainkan mendefinisikan Gema hanya sebagai peninggalan dari almarhumah kakaknya sebuah penegasan status yang menghancurkan sisa-sisa ego pria itu.
Nisa dan Santi saling melempar pandang. Suasana di meja itu seketika berubah menjadi sangat canggung dan tegang.
"Alana..." suara Gema terdengar serak, hampir kehilangan wibawa yang selama ini dia banggakan. Pria itu mengabaikan tatapan heran dari teman-teman Alana. Pikirannya dipenuhi oleh rasa takut dan rasa bersalah yang memuncak setelah mendengar kebenaran dari Maya tentang kondisi kesehatan Alana.
"Kita perlu bicara. Sekarang," ucap Gema, suaranya mengandung permohonan yang terselubung ketegasan lemas.
Alana menatap Gema lurus-lurus. Tidak ada lagi binar pengabdian atau ketakutan akan penolakan di manik mata wanita itu. Yang tersisa hanyalah tatapan datar seperti menatap seorang asing yang kebetulan lewat.
"Mas Gema tidak lihat saya sedang kumpul bersama teman-teman saya?" tanya Alana sangat santun, namun sarat penolakan. "Acara kami sebentar lagi selesai. Kalau ada hal penting soal Tania, Mas bisa bicarakan di rumah nanti sore."
"Ini bukan soal Tania, Alana! Ini soal kamu!" potong Gema, suaranya sedikit meninggi namun tertahan karena sadar mereka berada di tempat umum. Gema melangkah satu tindak mendekati kursi Alana. "Saya sudah tahu semuanya. Soal kamu yang pingsan dua hari lalu... soal kamu yang dirawat di rumah sakit."
Mendengar hal itu, ekspresi Alana tidak berubah sama sekali. Senyum tipis yang dingin kembali terukir di bibirnya.
"Oh, jadi karena itu Mas Gema datang menyusul ke sini?" gumam Alana seolah baru memecahkan teka-teki kecil yang tak penting. "Mas merasa bersalah? Mas cemas reputasi Mas sebagai suami terganggu kalau orang-orang tahu saya sempat dirawat tanpa sepengetahuan Mas?"
"Alana, stop!" pangkas Gema, dadanya naik turun menahan rasa sakit yang menusuk jiwanya. Untuk pertama kalinya, Gema merasa sangat kerdil di hadapan istrinya sendiri. "Saya ke sini karena saya khawatir sama kamu! Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini dari saya? Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian?"
Alana perlahan berdiri. Langkah anggunnya membawa tubuhnya berdiri tegak berhadapan dengan Gema. Gaun kremnya berkibar halus, menambah kesan tegas dari sosok wanita yang telah bangkit dari keterpurukannya.
"Kenapa saya menanggungnya sendirian?" Alana mengulang pertanyaan itu dengan bisikan yang sangat menohok. "Karena selama enam tahun ini, Mas Gema sendiri yang mengajari saya untuk tidak pernah merepotkan Mas. Mas sendiri yang mengajari saya bahwa di rumah itu, saya hanyalah bayangan dari Mbak Kirana yang tidak pernah dianggap ada."
Gema terdiam kaku. Lidahnya benar-benar terkelu.
"Jadi, tolong jangan berbuat seolah-olah Mas peduli sekarang," lanjut Alana dengan nada suara yang begitu stabil dan tenang. "Rasa khawatir Mas ini sangat terlambat, Mas Gema. Dan jujur, saya sudah tidak butuh lagi."
Alana berbalik ke arah Santi dan Nisa, mengumbar senyum hangat yang jauh lebih hidup. "San, Nis... maaf ya, sepertinya aku harus pamit duluan. Terima kasih untuk waktunya hari ini. Nanti kita sambung lagi di WhatsApp."
"I-iya, Lun... hati-hati ya," jawab Santi canggung.
Alana mengambil tas tangannya di atas meja, merapikan pakaiannya, dan melangkah melewati Gema begitu saja tanpa sepatah kata pun tambahan. Aroma wangi lembut yang ditinggalkan Alana saat berjalan melintasi Gema seolah menjadi penanda bahwa wanita itu telah melangkah jauh ke depan, meninggalkan Gema yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya.
Gema mematung di tengah restoran, menatap punggung istrinya yang berjalan menjauh dengan langkah mantap. Untuk pertama kalinya, rasa dingin yang dulu selalu dia berikan pada Alana kini berbalik menghantam dirinya sendiri jauh lebih membekukan dan jauh lebih menyiksa.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅