NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Alya tidak datang ke pos kesehatan pagi itu.

Damar tahu karena meja kecil di ruang periksa terlalu rapi. Biasanya ada gelas kopi setengah habis, pulpen tanpa tutup, dan catatan pasien yang ditulis cepat dengan huruf kecil. Pagi itu hanya ada satu map cokelat di tengah meja.

Namanya tertulis di depan.

Komandan Damar Pradipta.

Ia berdiri lama sebelum membukanya.

Rendra masuk dengan wajah tegang. "Raka hilang dari mess tamu."

Damar menoleh.

"Kapan?"

"Sekitar subuh. Petugas jaga bilang ada surat jalan dari panitia bantuan. Stempelnya asli."

"Siapa yang tanda tangan?"

Rendra menggeleng. "Masih dicek."

Damar menutup mata sebentar. Dadanya sudah panas sejak malam, tapi map di tangannya membuat panas itu berubah dingin.

Ia membuka map.

Di dalamnya ada surat pengunduran diri Alya dari penempatan sementara di pos kesehatan batalyon, salinan penerimaan Tim Medis Kemanusiaan Nusantara-Global, dan satu berkas yang membuat rahang Damar mengeras.

Surat kuasa untuk mengurus gugatan cerai.

Belum putusan.

Belum sidang.

Tapi cukup untuk mengatakan Alya sudah memilih jalan yang jauh.

Di bawah semua kertas itu, ada cincin.

Cincin sederhana yang dulu ia pakaikan di depan keluarga, saat ia bahkan belum mengerti perempuan seperti apa yang berdiri di sampingnya.

Rendra membaca wajahnya. "Dam..."

"Bandara."

"Aku siapkan mobil."

"Sekarang."

Damar mengambil cincin itu dan menggenggamnya terlalu kuat. Logam kecil itu menekan telapak tangannya sampai sakit. Ia membutuhkan sakit itu. Kalau tidak, ia mungkin akan menghancurkan meja.

Di luar, langit Kupang masih pucat. Jalan menuju bandara basah setelah hujan semalam. Rendra menyetir seperti mengejar laporan tembakan. Damar duduk di sampingnya, menelepon nomor Alya berkali-kali.

Tidak aktif.

Ia mengirim pesan.

Jangan pergi sebelum bicara denganku.

Pesan itu hanya memiliki satu centang.

"Raka belum tentu pergi jauh," kata Rendra. "Kalau dia memang bagian dari jaringan, dia bisa sembunyi di pelabuhan atau ikut rombongan bantuan."

"Cari dia," jawab Damar.

"Kau?"

"Aku cari istriku."

Kata itu keluar tanpa ragu.

Terlambat.

Mereka tiba di bandara ketika pengeras suara memanggil penerbangan ke Jakarta. Damar turun sebelum mobil benar-benar berhenti. Petugas keamanan mengenal seragamnya, tetapi tetap menahannya di pintu keberangkatan.

"Maaf, Pak. Area penumpang."

"Saya hanya perlu bicara."

"Tidak bisa, Pak."

Rendra menunjukkan kartu tugas. "Ada pemeriksaan terkait orang hilang."

Petugas ragu.

Di balik kaca, Damar melihatnya.

Alya berdiri di antrean pemeriksaan terakhir dengan ransel hitam, kemeja putih, dan rambut yang diikat rendah. Wajahnya pucat. Matanya tidak mencari siapa pun.

"Alya!" panggil Damar.

Ia menoleh.

Hanya satu detik.

Cukup untuk membuat semua yang tidak sempat mereka katakan memenuhi udara.

Damar mengangkat tangan, menunjukkan cincin di telapaknya.

Alya melihatnya.

Bibirnya bergerak, tapi Damar tidak bisa mendengar.

Lalu seorang perempuan masuk ke bidang pandangnya.

Siska.

Ia berdiri di sisi lain pembatas, membawa map bantuan yang kemarin masih ada di gudang logistik. Siska menatap Alya, lalu menoleh ke Damar dengan wajah seolah baru tiba dan tidak tahu apa-apa.

"Mas Damar?" suaranya lembut. "Kamu di sini?"

Alya melihat Siska berdiri dekat Damar.

Melihat cara Siska memanggilnya.

Melihat Damar tidak segera menjauh karena ia masih tertahan petugas.

Semua itu terjadi terlalu cepat. Terlalu rapi. Terlalu mirip jawaban dari ketakutan paling buruk.

Damar tahu Alya salah paham begitu melihat matanya berubah.

"Alya, bukan begitu!"

Petugas menahan lengannya. "Pak, mohon tenang."

Alya menurunkan pandangan. Ia menyerahkan boarding pass kepada petugas, melewati pintu, dan tidak menoleh lagi.

Damar menarik napas seperti orang yang baru ditusuk.

Siska menyentuh lengannya. "Mas, biarkan dulu. Mungkin Alya memang butuh waktu."

Damar menatap tangan itu.

"Lepas."

Siska membeku.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan," kata Damar pelan. "Tapi mulai hari ini, jangan berdiri di dekatku seolah kau punya hak."

Wajah Siska memucat.

Damar tidak menunggu jawabannya. Ia kembali menatap kaca, tetapi Alya sudah hilang di lorong.

Di dalam pesawat, Alya duduk dekat jendela. Tangannya menggenggam sabuk pengaman terlalu erat. Saat pesawat mulai bergerak, perutnya mendadak mual. Ia menutup mulut, menahan napas, lalu menunduk.

Pramugari mendekat. "Ibu baik-baik saja?"

Alya mengangguk. "Saya cuma kurang tidur."

Ia menyentuh perutnya tanpa sadar.

Tiga hari terakhir, tubuhnya memang terasa aneh. Telat haid, mudah pusing, dan mual pada pagi hari. Sebagai dokter, ia tahu kemungkinan itu. Sebagai perempuan yang baru saja meninggalkan suaminya, ia belum sanggup memikirkannya.

Pesawat terangkat.

Kupang mengecil di bawah awan.

Alya menggigit bibir sampai perih.

"Maaf, Damar," bisiknya tanpa suara.

Di bandara, Damar masih berdiri di balik kaca sampai penerbangan itu hilang dari papan.

Rendra datang membawa kabar baru.

"Dam, Raka tidak ada di daftar penerbangan. Tapi ada kapal barang berangkat tadi subuh dari Tenau. Manifestnya bermasalah."

Damar memasukkan cincin Alya ke saku.

"Ke pelabuhan."

"Kau belum tidur."

"Dia pergi karena seseorang membuatnya percaya aku bahaya untuknya."

Damar berjalan lebih dulu.

"Aku tidak bisa mengejarnya sekarang. Tapi aku bisa mengejar orang yang membuatnya pergi."

Di Pelabuhan Tenau, angin laut membawa bau solar dan ikan. Kapal barang yang disebut Rendra sudah menjadi titik kecil di kejauhan. Petugas pelabuhan menunjukkan manifest dengan wajah takut-takut. Ada dua nama yang dicoret memakai tinta basah. Salah satunya bukan Raka, tapi foto di kartu identitas sementara jelas wajahnya.

"Nama palsu," kata Rendra.

"Siapa yang mengurus suratnya?"

Petugas itu menunduk. "Ada orang yayasan bantuan, Pak. Katanya urusan distribusi obat."

Damar menatap kontainer di ujung dermaga. "Yayasan apa?"

"Karsa Bakti Nusantara."

Nama itu jatuh seperti batu.

Rendra langsung memotret dokumen. "Dam, ini bisa jadi pintu."

"Atau umpan."

"Tetap kita ambil."

Damar berdiri di dermaga sampai matahari naik tinggi. Di sakunya, cincin Alya terasa kecil dan berat. Ia ingin marah pada Alya karena pergi. Ia ingin marah karena perempuan itu memilih percaya ancaman orang lain daripada memercayainya.

Namun setiap kali kemarahan itu muncul, ia teringat mata Alya di bandara.

Bukan mata orang yang bebas.

Mata orang yang sedang mengorbankan sesuatu.

Sore itu, di Jakarta, Alya masuk ke toilet bandara dan membeli alat tes kehamilan dari minimarket kecil. Tangannya gemetar saat menunggu garis muncul.

Satu garis.

Lalu garis kedua, samar tapi ada.

Ia duduk di atas kloset tertutup, menatap benda kecil itu sampai tulisan pada kemasan buram oleh air mata.

"Tidak," bisiknya.

Tapi tubuhnya tidak mendengarkan.

Di luar, teleponnya menyala dengan pesan Damar yang baru masuk setelah sinyal kembali.

Jangan pergi sebelum bicara denganku.

Alya menutup mata.

Tangannya turun ke perut.

"Kita harus hidup," katanya pelan. "Apa pun caranya."

Malam itu ia tidak mencari hotel bagus. Ia memilih penginapan murah dekat stasiun, membayar tunai, dan menulis nama pendek di buku tamu. Sebelum tidur, ia melepas kartu SIM lama, mematahkannya, lalu memasukkannya ke bungkus tisu.

Saat lampu kamar padam, ia memeluk perutnya.

Ia tidak tahu sedang menyelamatkan siapa.

Damar.

Dirinya.

Atau anak yang belum punya nama.

Paginya, ia membeli ponsel murah dan nomor baru. Nadia adalah orang pertama yang ia hubungi, bukan karena mereka dekat, tetapi karena Nadia pernah meninggalkan kartu nama di klinik bencana dan berkata, kalau suatu hari kamu butuh orang yang tidak bertanya dulu, hubungi aku.

Nadia datang dua jam kemudian, melihat wajah Alya, melihat alat tes di meja, lalu menutup pintu kamar.

"Kamu sendirian?"

Alya mengangguk.

"Suamimu tahu?"

Alya menangis lagi.

Nadia tidak memeluknya dulu. Ia mengambil air mineral, membuka tutupnya, dan menaruhnya di tangan Alya.

"Minum. Setelah itu kita pikirkan tempat aman."

"Aku tidak punya uang banyak."

"Aku punya sofa."

Alya menatap perempuan yang hampir asing itu.

Nadia mengangkat bahu. "Sofa jelek. Tapi lebih baik daripada kamar ini."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kupang, Alya merasa mungkin ia tidak akan mati malam itu.

Mungkin besok juga.

1
Visitor7614
Season 2 nya mana ya?
Visitor3931
Nadia bukannya di RS?
Visitor3931
sebelumnya Kapt Rendra memanggil Mayor Damara dengan Dan, Komandan. Kenapa sekarang jadi Dam? Damar? Klo skrg Rendra Mayor tetap tdk bisa memanggil Kolonel Damar dengan Dam
Visitor3931
lhah siska kan sdh mati
Visitor3169
Tapi siska uda mati, kok mutar2 alurnya.
Betti Eva Fathona
lieuuur ah/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Betti Eva Fathona
ini sebetulnya arka sdh barrng sama alya, atau gmn ini teh/Smug//Smug//Smug/
Visitor3931
jadi keluarga alya ini tinggalnya di jakarta atau kupang atau atambua? 🤭
Visitor3931
rasanya seperti ditulis oleh 2 orang yg berbeda gak sih cerita ini? mulai nama yg berubah, tokoh yg berubah, gaya bahasa yg berbeda juga konflik yg berubah....
Visitor3931
ceritanya bagus banget tapi sayangnya tdk konsisten
Visitor3931
namany kok ganti
Visitor3931
Nadia ini siapa ? kapan adegan ketemu dan kasih kartu nama?
Visitor3931
sukaaaaaaa sama Rendra, sayang istrinya reseh
Visitor9899
ceritanya terlalu berkelok-kelok, cape sendiri bacanya
Visitor3931
Rendraaaaaaa😄😄😄😄
Visitor3931
ya ampun lucu banget kapten Rendra ini...kasian jadi sering tersedak sejak Alya datang
Visitor3169
Alya terlalu sombong, seolah2 dia lebih pintar dan lebih hebat dari militer. Keras kepala yg tidak pada tempatnya, meremehkan org lain
Betti Eva Fathona
kok ya amnesia bisa direncanakan gitu yah. Sebelum pergi sempet sempetnya bikin surat yg seolah olah kalo aku AMNESIA. Emang bnr bnr riweuh nie novel
Visitor3169
Boleh sih nyomot tp hrsnya konsisten utk nama tokoh2nya dan alurnya
Betti Eva Fathona
sudah susah untuk dikomentari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!