NovelToon NovelToon
Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Status: tamat
Genre:CEO / Penikahan Kontrak / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Irin_Kokh

Kirani Wiratma hanya punya satu misi: menggantikan saudari kembarnya, menikah dengan Arga Mahendra, lalu bertahan memainkan peran sebagai istri sempurna sampai ia bisa menghilang dengan uang yang sudah dijanjikan.
Masalahnya adalah Arga.
Dingin, kaya, selalu rapi, dan berbahaya tampannya, pewaris keluarga Mahendra itu seolah diciptakan untuk merusak konsentrasi Kirani. Di luar, Kirani tersenyum seperti perempuan penurut, menyajikan kopi, menundukkan pandangan, dan pura-pura tidak merasakan apa pun.
Namun di dalam kepalanya, ceritanya lain.
Aduh, tidak. Pria itu seharusnya dilengkapi peringatan. Dengan kemeja itu, bahu itu, dan wajah sedingin es begitu, perempuan jujur mana pun bisa kehilangan harga diri.
Yang tidak Kirani ketahui, Arga bisa mendengar setiap isi pikirannya.
Setiap keluhan. Setiap makian. Setiap fantasi memalukan tentang menyentuh dadanya, melepas dasinya, atau melihat pria itu kehilangan kendali karena dirinya.
Awalnya, Arga hanya ingin mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpura-pura tenang itu, sementara pikirannya menyala tanpa henti. Namun semakin lama ia mendengar suara batin Kirani, semakin sulit baginya menjaga jarak. Istri palsu itu mulai terasa terlalu nyata. Pikiran-pikiran nakalnya mulai terlalu ia sukai. Dan pria yang bersumpah tidak akan jatuh cinta akhirnya terobsesi pada satu-satunya perempuan yang tidak bisa berbohong kepadanya di dalam hati.
Namun Kirani menyimpan rahasia yang lebih berbahaya daripada semua keinginannya: ia bukan pengantin yang seharusnya Arga terima di altar.
Saat kebenaran terbongkar, pernikahan palsu, gairah yang disembunyikan, dan semua pikiran yang seharusnya tidak pernah terdengar bisa menghancurkan mereka... atau justru membuat perpisahan menjadi mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin_Kokh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Moti di Garasi

Perjalanan pulang ke Jakarta terlalu tenang untuk selera Raka.

Renata tidur di dekat jendela dengan kacamata hitam, Vala memeriksa pesan dalam diam, dan Kirani, di kursi depan, pura-pura membaca ponsel sambil sesekali melirik Arga dari sudut mata.

Arga menyetir seolah kapal pesiar tidak mengubah apa pun.

Itulah, tepatnya, kebohongan yang paling jelas.

Raka, duduk di belakangnya, mencondongkan tubuh di antara kursi.

"Mahendra."

"Apa?"

"Aku akan bertanya sesuatu dan aku butuh kamu tidak memecatku dari persahabatan."

"Kalau begitu jangan bertanya."

"Kamu jatuh cinta pada istrimu?"

Kirani terbatuk.

Renata membuka satu mata di balik kacamata.

Arga tidak menggerakkan satu otot pun.

"Tidak."

"Terlalu cepat."

"Karena jawabannya sederhana."

"Hm."

Jatuh cinta? Padaku tidak. Mustahil. Pria ini bisa merapikan presentasiku, menghadiahiku Ferrari, menggendongku ke kamar mandi, dan membuat kakiku hilang fungsi, tapi jatuh cinta sudah termasuk layanan berlebihan.

Arga mencengkeram kemudi.

Raka tidak bisa membaca pikiran, tetapi ia bisa membaca bertahun-tahun persahabatan.

"Dulu kamu tidak pergi belanja dengan siapa pun. Tidak naik kapal pesiar demi siapa pun. Tidak menyelesaikan pekerjaan sekolah orang lain demi siapa pun."

"Itu bukan pekerjaan sekolah."

"Lihat? Kamu membela file-nya."

Renata membetulkan posisi duduk.

"Aku juga mau berpendapat."

"Tidak," kata Arga.

"Itu memastikan memang ada yang bisa dipendapati."

Kirani menunduk ke ponsel, berpura-pura konsentrasi dengan heroik.

Jangan dengarkan Renata. Renata mencium drama seperti anjing terlatih. Kalau dia mulai bicara, kami akan berakhir dengan upacara, terapi pasangan, dan Arga memakai kemeja terbuka di pantai untuk rekonsiliasi. Tidak akan terlalu buruk juga.

Arga berpindah jalur dengan ketenangan terlalu sempurna.

"Topik selesai."

Raka menyandar.

"Tentu. Selesai sekali. Sama seperti kamu sebelum kapal pesiar."

Tidak ada yang berkata lagi, tetapi kalimat itu melayang di mobil sampai mereka tiba di Menteng.

Lima hari berikutnya Arga bekerja seolah bisa menyelesaikan kebingungannya dengan rapat.

Ia berangkat pagi, pulang larut, memeriksa laporan, menerima panggilan dengan Surabaya, Bandung, dan New York, serta menghindari memikirkan "Tuan, aku mencintaimu" yang pernah menembus hidupnya di sebuah suite di atas laut.

Ia gagal.

Setiap kali melihat slide di layar eksekutif, ia teringat presentasi Kirani. Setiap kali seseorang berkata "proyeksi", benaknya yang berkhianat mengembalikan gambaran Kirani tertidur di atas laptop. Setiap kali menemukan kemeja putih di walk-in closet, ia mengingat bagaimana benda itu terlihat di tubuhnya.

Hari Sabtu ia memutuskan berangkat lebih awal untuk memeriksa laporan keuangan anak perusahaan.

Ia tidak memberi tahu.

Ia tidak ingin membangunkannya.

Detail itu membuatnya lebih kesal daripada pekerjaan.

Ia bangun sebelum pukul tujuh, mandi, memakai pakaian kasual, lalu berjalan ke pintu kamar. Saat itu ia menyadari ranjang.

Kosong.

Sisi Kirani berantakan, tetapi ia tidak ada. Kamar mandi juga gelap. Jubahnya tidak tergantung di kait.

Arga mengernyit.

"Kirana?"

Tidak ada jawaban.

Pikiran pertama yang bisa ia dengar lemah, jauh, seolah datang dari bawah.

Ssst, Moti. Jangan menggonggong. Kalau kamu menggonggong, hidup mewahmu selesai sebelum mulai.

Arga membeku.

Moti.

Siapa Moti?

Ia turun tangga tanpa suara. Suara batin itu makin jelas saat ia mendekati lantai satu.

Makan pelan-pelan, sayang. Jangan tersedak. Iya, aku tahu kamu lapar. Aku juga lapar melihat Arga tanpa kemeja dan tidak menangis di depan pintu.

Arga berhenti di anak tangga terakhir.

Tentu saja.

Bahkan saat bersembunyi entah di mana, pikiran Kirani menemukan cara menyeret dirinya.

Jejak itu membawanya ke garasi.

Pintu samping sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara kecil: ketukan kuku mungil di lantai, lalu bisikan Kirani.

"Jangan, jangan, di sini."

Arga mendorong pintu sedikit.

Garasi rumah itu tanpa cela: mobil berjajar, perkakas tertata, lantai mengilap. Di satu sudut, di balik kotak produk pembersih yang digeser seseorang untuk membentuk penghalang dadakan, Kirani berjongkok dengan piring kecil di tangan.

Di depannya ada anak anjing hitam.

Kurus, bulu kusut, telinga besar, dan kaki terlalu kecil. Ia makan dengan konsentrasi ganas dari piring berisi kibble yang dilembutkan. Ada Moti putih kecil di dadanya, seolah seseorang menyentuh bulunya dengan ujung jari penuh cat.

Kirani menatapnya dengan kelembutan mutlak.

"Pelan-pelan, Moti. Di sini tidak ada yang akan mengambil makananmu."

Kasihan. Aku menemukanmu gemetar di dekat tempat sampah, dan sekarang lihat, makan di garasi orang kaya. Mobilitas sosial instan. Kalau Arga bertanya, akan kukatakan kamu aksesori Ferrari. Hitam, ringkas, edisi khusus.

Arga meletakkan satu tangan di kusen pintu.

Ia tidak masuk.

Adegan itu membuatnya diam dengan aneh.

Ia mengira akan menemukan telepon mencurigakan, jalan keluar rahasia, mungkin rencana absurd lain bersama Vala. Bukan ini. Bukan Kirani dengan pakaian santai, rambut diikat asal, berbicara kepada anak anjing seolah baru menyelamatkan sepotong dunia.

Anak anjing itu mengangkat kepala.

Melihatnya.

Menggoyangkan ekor.

Kirani tidak menyadarinya.

"Bagus. Kamu anak sopan. Tidak seperti suami tertentu yang mengatakan 'tidak' untuk semua hal lalu melakukan hal manis saat tidak ada yang melihat."

Arga menunduk.

Tapi kalau dia melihatmu, kita tamat. Dia akan bilang tidak. Rumah ini bukan tempat penampungan. Bulu, vaksin, tanggung jawab. Dan dia benar. Tapi lihat mata itu. Tidak ada yang bermata seperti itu pantas tidur di jalan. Kamu tidak, Moti. Aku juga tidak saat wajahku seperti tidak milik tempat mana pun.

Kelembutan yang dulu membuatnya tidak nyaman saat presentasi kembali datang, tetapi kali ini disertai sesuatu yang lebih dalam.

Arga menatap anak anjing.

Lalu Kirani.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, rahasia yang ia temukan tidak terasa berbahaya.

Terasa miliknya.

Kirani mengambil serbet dan hati-hati membersihkan moncong anak anjing.

"Jangan berisik, ya? Kalau Tuan Es menemukanmu, aku harus bernegosiasi dengan semua yang kupunya."

Termasuk belahan dada, air mata, janji bersikap baik, dan mungkin membiarkannya memilih nama resmi. Tidak. Yang terakhir tidak. Moti sudah Moti.

Arga hampir tersenyum.

Anak anjing itu kembali menggoyangkan ekor, mengkhianatinya sepenuhnya.

Kirani membungkuk untuk memeriksa salah satu kakinya.

"Kamu masih perlu dimandikan, tapi vaksin dulu. Jangan menatapku begitu. Obat juga cinta."

Anak anjing itu memiringkan kepala.

Kalau Arga bilang tidak, akan kubilang aku sudah berinvestasi secara emosional. Investasi emosional tidak bisa dibatalkan, kan? Lagi pula, kamu muat dalam kotak. Dia punya mobil yang menghabiskan setengah negara. Anak anjing itu kerendahan hati.

Arga menatap Ferrari pink tua yang parkir beberapa meter dari mereka, lalu anak anjing yang secara harfiah muat di dalam kotak handuk.

Perbandingan itu absurd.

Juga sulit dibantah.

Kirani mengeluarkan kalung sederhana warna merah dari tas. Belum dipasangkan; hanya diukurkan ke leher kurus anak anjing dengan konsentrasi khidmat.

"Masih kebesaran. Kamu akan tumbuh."

Kamu akan makan baik, tidur hangat, dan tidak ada yang akan menendangmu. Kalau aku harus bertengkar dengan pria berjas untuk itu, aku akan bertengkar. Walaupun pria berjas itu lezat dan mengganggu strategi.

Arga merasakan tekanan aneh di balik tulang dada.

Itu bukan kasihan pada anak anjing, atau bukan hanya itu. Itu cara Kirani menjanjikan perawatan tanpa saksi, tanpa tepuk tangan, tanpa memakai suara sempurna yang ia simpan untuk orang lain.

Di sudut garasi itu tidak ada istri tanpa cela.

Ada perempuan yang memungut hal-hal terbuang dan menciptakan masa depan untuknya.

Kirani terus mengelusnya, tidak sadar ada sosok diam yang mengamatinya dari pintu.

Dan Arga, yang turun untuk mencari penjelasan, tetap berdiri di sana menyaksikan istrinya menyembunyikan di garasi sebuah rahasia berkaki, lapar, dan bernama sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!