Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Kematian yang Mencurigakan
Berita kematian Pejabat Zhang menyebar dengan cepat ke seluruh istana keesokan harinya, meski versi resminya tetap sederhana: seorang pejabat yang mengalami tekanan pekerjaan berlebihan, akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun bagi mereka yang mengetahui kebenaran di baliknya, versi resmi itu terasa seperti tirai tipis yang sengaja dipasang untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Zhou Chen menghadiri pertemuan bulanan di Aula Utama beberapa hari kemudian, kali ini dengan perhatian ekstra terhadap reaksi setiap orang di ruangan itu—terutama Pangeran Kedelapan, yang selama ini jarang menunjukkan emosi berlebihan di depan umum.
Zhou Han, Pangeran Kedelapan, berdiri dengan tenang seperti biasa, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan sedikit pun saat laporan kematian Zhang dibacakan secara singkat oleh salah satu menteri sebagai bagian dari laporan rutin kerajaan. Ketenangan itu sendiri, bagi Zhou Chen yang kini mengamatinya dengan mata yang jauh lebih tajam, justru terasa mencurigakan.
Ia mengarahkan Mata Dewa ke arah Zhou Han, meski hanya sekilas untuk menghindari kecurigaan.
Zhou Han Kondisi emosional: Tenang, namun terdapat ketegangan tersembunyi di rahang dan bahu Pola pernapasan: Sedikit lebih cepat dari kondisi normal, meski berusaha disembunyikan Catatan: Kemungkinan besar mengetahui lebih banyak tentang situasi ini daripada yang ditunjukkan di permukaan
Analisis itu, meski tidak memberikan bukti langsung, semakin memperkuat kecurigaan Zhou Chen bahwa Pangeran Kedelapan memang terlibat—atau setidaknya mengetahui—lebih banyak tentang kematian Zhang daripada yang seharusnya diketahui oleh seseorang yang tidak berkepentingan.
Setelah pertemuan resmi berakhir, Zhou Ming mendekati Zhou Chen dengan langkah santai, seolah hanya sekadar menyapa saudaranya secara kasual—penyamaran yang telah mereka sepakati untuk menghindari kecurigaan lebih jauh dari pihak lain.
"Kau melihatnya juga?" bisik Zhou Ming pelan, saat mereka berjalan berdampingan menuju keluar aula.
"Zhou Han terlalu tenang," jawab Zhou Chen dengan suara serupa. "Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya tidak memiliki kepentingan khusus terhadap kematian seorang pejabat pengawasan jalur dagang."
Zhou Ming mengangguk sedikit. "Aku sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasi pergerakannya lebih dekat sejak kematian Zhang diumumkan. Tapi dia jauh lebih berhati-hati dibanding yang kuduga—tidak ada pertemuan mencurigakan, tidak ada perubahan rutinitas yang berarti."
"Mungkin karena dia sudah menduga akan diawasi," gumam Zhou Chen. "Kalau dia memang terlibat dalam operasi sebesar ini, dia pasti sudah cukup berpengalaman untuk tetap waspada, terutama setelah menyingkirkan Zhang secepat itu."
Beberapa hari berlalu tanpa perkembangan berarti, membuat frustrasi mulai menggerogoti semangat kelompok kecil Zhou Chen. Meski mereka memiliki bukti kuat tentang penyelundupan Bubuk Sari Bulan, tanpa bukti langsung yang menghubungkan Zhou Han atau Permaisuri secara pasti, mereka masih terjebak dalam posisi yang rapuh—cukup tahu untuk merasa terancam, namun belum cukup kuat untuk bertindak secara terbuka.
Suatu malam, saat Zhou Chen sedang merenung sendirian di ruang rahasia bawah tanah kediamannya, ia kembali membuka Kitab Langit Tanpa Akhir, mencoba mencari petunjuk baru dari catatan-catatan yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan terakhir.
Sesuatu tiba-tiba menarik perhatiannya—sebuah pola yang sebelumnya luput dari analisisnya. Ia membandingkan kembali tanggal-tanggal pengiriman mencurigakan yang telah ia catat dari laporan Zhang, dengan jadwal kunjungan resmi Zhou Han ke berbagai wilayah kerajaan yang tercatat dalam arsip istana.
Setiap kali ada pengiriman besar Bubuk Sari Bulan, Zhou Han selalu melakukan kunjungan "resmi" ke wilayah barat dalam rentang waktu yang berdekatan.
Jantung Zhou Chen berdegup kencang menyadari pola yang baru saja ia temukan. Ini bukan sekadar kebetulan—kunjungan-kunjungan itu kemungkinan besar digunakan sebagai kedok untuk mengawasi langsung distribusi barang selundupan, atau bahkan mungkin untuk bertemu langsung dengan pembeli di wilayah tersebut.
Ia segera menuliskan temuan ini ke dalam Kitab Langit Tanpa Akhir, menyusun kembali garis waktu yang semakin jelas menunjukkan keterlibatan langsung Zhou Han dalam operasi penyelundupan ini.
Keesokan paginya, Zhou Chen segera membagikan temuan barunya kepada Zhou Ming, yang menyambutnya dengan antusiasme yang jarang terlihat sebelumnya.
"Ini bisa menjadi kunci yang kita butuhkan," kata Zhou Ming, memeriksa garis waktu yang telah disusun Zhou Chen dengan seksama. "Kalau kita bisa memastikan Zhou Han benar-benar bertemu dengan seseorang yang mencurigakan selama salah satu 'kunjungan resmi' ini, kita akan memiliki bukti langsung yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar analisis dokumen."
"Kapan kunjungan berikutnya dijadwalkan?" tanya Zhou Chen.
Zhou Ming memeriksa catatannya sejenak. "Menurut jadwal resmi istana, Zhou Han dijadwalkan mengunjungi wilayah barat dalam sepuluh hari lagi—tepat sesuai pola yang kau temukan, mengingat pengiriman besar terakhir tercatat sekitar dua bulan lalu."
Keduanya saling bertukar pandang, menyadari bahwa ini bisa menjadi kesempatan terbaik mereka untuk akhirnya mendapatkan bukti yang tidak bisa dibantah lagi.
"Kita perlu mempersiapkan tim yang lebih besar kali ini," kata Zhou Chen, pikirannya mulai menyusun rencana baru. "Mengikuti kunjungan resmi seorang pangeran akan jauh lebih berisiko dibandingkan menyusup ke gudang biasa. Kita membutuhkan strategi yang benar-benar matang."
Namun di tengah persiapan rencana baru itu, sebuah kejadian tak terduga kembali mengguncang kelompok Zhou Chen.
Malam itu, Yue Er—yang biasanya tenang dan penuh perhitungan—datang dengan wajah pucat dan napas terengah, membawa kabar yang membuat seluruh ruangan hening seketika.
"Yang Mulia," katanya, suaranya bergetar, "hamba baru saja mendapat kabar dari salah satu kontak di wilayah utara. Zhou Feng... Pangeran Ketujuh, dikabarkan mengalami kecelakaan serius saat meninjau proyek irigasi sore tadi."
Zhou Chen merasakan darahnya seolah membeku mendengar kabar itu. "Seberapa parah?"
"Belum ada kepastian, Yang Mulia. Tapi kabarnya, sebuah bendungan sementara yang sedang dibangun tiba-tiba runtuh saat dia sedang berada di lokasi—terlalu tepat waktu untuk sekadar kecelakaan konstruksi biasa."
Zhou Chen berdiri seketika, pikirannya dipenuhi kekhawatiran mendalam bagi sekutu sekaligus adiknya itu, bercampur dengan kemarahan yang mulai membara.
Mereka menyerang Zhou Feng. Mereka tahu dia sekutuku, dan mereka menyerangnya untuk memberi peringatan—atau mungkin, untuk benar-benar menyingkirkannya sebelum dia bisa membantu kita lebih jauh.
"Siapkan kuda tercepat," perintahnya, suaranya tegas menahan gejolak emosi yang mulai memuncak. "Kita berangkat ke wilayah utara malam ini juga."
Ah Fu, yang sejak awal berdiri waspada di ambang pintu, segera bergegas menyiapkan segalanya. Zhao Kai, meski lukanya dari insiden penyusupan sebelumnya belum sepenuhnya pulih, bersikeras ikut serta.
"Yang Mulia, hamba tetap harus ikut," katanya tegas ketika Zhou Chen mencoba memintanya tinggal untuk beristirahat. "Kalau ini benar serangan yang disengaja, kita membutuhkan seseorang yang bisa menilai situasi keamanan di sana dengan cepat."
Zhou Chen tidak punya waktu untuk berdebat lebih lama. Ia mengangguk singkat, lalu segera mengirim pesan kilat kepada Zhou Ming, memberitahukan tentang kejadian ini sebelum mereka berangkat.
Balasan Zhou Ming datang lebih cepat dari yang diperkirakan, dibawa oleh salah satu kurir kepercayaannya yang mengejar mereka bahkan sebelum rombongan sepenuhnya meninggalkan gerbang istana.
"Aku akan mengirim beberapa orangku untuk menyelidiki penyebab keruntuhan bendungan itu secara diam-diam. Berhati-hatilah di jalan—kalau ini benar serangan yang disengaja, kemungkinan besar mereka juga mengantisipasi responsmu."
Zhou Chen meremas surat kecil itu dalam genggamannya, hatinya dipenuhi kekhawatiran sekaligus tekad yang semakin kuat. Perjalanan menuju wilayah utara biasanya memakan waktu hampir sehari penuh dengan kecepatan normal, namun malam itu, ia bertekad menempuhnya secepat mungkin, mengabaikan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuhnya sendiri.
Sepanjang perjalanan yang dipenuhi kegelapan malam dan jalan berbatu yang tidak rata, pikiran Zhou Chen terus dipenuhi kekhawatiran tentang kondisi Zhou Feng. Sejak pertemuan pertama mereka di Aula Utama beberapa bulan lalu, hubungan mereka telah berkembang jauh melampaui sekadar aliansi politik semata—Zhou Feng adalah orang pertama di istana yang benar-benar mempercayainya tanpa syarat, seseorang yang rela berbohong demi melindunginya meski baru mengenalnya sebentar.
Kalau sesuatu terjadi padanya karena keterlibatannya denganku, pikir Zhou Chen, rahangnya mengeras menahan emosi yang bergejolak, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
Di sampingnya, Zhao Kai memacu kudanya dengan kecepatan yang sama, meski wajahnya sesekali meringis menahan sakit dari luka yang belum sepenuhnya sembuh. "Yang Mulia," katanya di sela derap kuda yang menggema di kesunyian malam, "jangan biarkan rasa bersalah menguasai pikiran Anda sekarang. Kita butuh kepala yang jernih untuk menghadapi apa pun yang menunggu di sana."
Zhou Chen mengangguk pelan, memaksa dirinya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak emosinya. Zhao Kai benar—dalam situasi seperti ini, kepanikan hanya akan memperburuk keadaan, bukan menyelesaikannya.
Mereka terus memacu kuda hingga fajar mulai menyingsing di ufuk timur, siluet perbukitan wilayah utara mulai terlihat samar di kejauhan—tanda bahwa tujuan mereka sudah semakin dekat, meski masih diselimuti ketidakpastian tentang apa yang sebenarnya menanti mereka di sana.
Bersambung ke Bab 18 — Perlombaan dengan Waktu