Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTOLONGAN KALYCA
"Tabib... mohon selamatkan suami saya..." lirih Ratu Alice memohon sambil menangis tersedu-sedu di samping ranjang.
Kalyca mengangguk pelan kepada Ratu Alice, dengan sorot mata yang begitu dingin.
Tanpa membuang waktu lagi, Kalyca mendekati ranjang, menyuruh tabib istana menyingkir, lalu meneteskan cairan penawar itu ke sela bibir Raja Veldora.
"Tolong menyingkir, berikan ruang untuk Yang Mulia bernafas," ucap Kalyca, dingin.
Para tabib yang sudah kuwalahan, dan tidak bisa menolong Raja langsung beringsut mundur, tanpa bantahan.
Dengan cepat Kalyca membuka kantong pakai nya, mengambil ramuan yang sudah dia siapkan.
Tes
Cairan hijau itu langsung meresap begitu menyentuh bibir sang Raja, membuat semua orang di dalam kamar langsung menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Racun dan sihir hitam sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Tabib istana kalian bahkan tidak tahu bedanya racun biasa dan kutukan darah," jawab Kalyca tanpa ragu.
"APA! S-sihir hitam..." ucap Ratu Alice, hampir jatuh.
Bukan hanya Ratu Alice yang shok dengan penuturan Kalyca, tapi semua orang yang ada di ruangan itu, tak terkecuali Erik.
"Katakan sekali lagi, apa maksud Anda sihir hitam?" tanya Joel, menatap Kalyca tajam.
Kalyca tersenyum miring di balik kain cadar nya, mata nya diam-diam melirik Edelyn yang terlihat gelisah dan pucat pasi.
"Hei mengemis jalanan, jangan bicara sembarangan, semua orang juga tahu bahwa pengguna sihir hitam sudah tidak ada lagi, kau ingin menipu kita semua hah!" bentak Edelyn, menutupi kegugupannya.
"Kau hanya butuh uang kan? Berapa yang kamu butuhkan, akan aku berikan, sebutkan saja nominal nya," lanjut Edelyn dengan tatapan mengejek.
Erik melirik Edelyn sekilas, tatapan dingin dari sang Grand Duke membuat Edelyn seketika menutup mulutnya, meneguk ludah dengan kasar.
Kalyca sama sekali tidak terpengaruh oleh ocehan Edelyn, dia meletakkan botol kecilnya ke dalam kantong jubahnya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas dada Raja Veldora.
Energi alkimia kuno miliknya mulai mengalir lewat ujung jari, memancarkan cahaya hijau keemasan yang redup.
"Dia tidak butuh uangmu, Putri Mahkota," ucap Kalyca dingin.
"Dia butuh nyawa yang hampir Anda renggut dengan tangan kotor mu itu," lanjut Kalyca, menatap Raja Veldora.
"Jaga mulutmu, dasar tabib sialan!" maki Edelyn geram, wajahnya memerah padam karena panik dan marah.
"Kamu terus memfitnahku! Pengawal, tangkap dia sekarang juga!" perintah Edelyn keras.
"Cukup, Edelyn!" bentak Ratu Alice dengan suara parau, menatap putrinya tajam.
"Biarkan tabib ini bekerja! Jangan ganggu dia lagi, atau aku sendiri yang akan mengusir mu dari kamar ini!" lanjut Ratu Alice, dengan perasaan kacau.
Edelyn terbelalak kaget, untuk pertama kalinya, Ratu Alice membentaknya secara terang-terangan demi orang lain, Edelyn mengepalkan tangannya kuat, mendengus kesal sambil membuang muka, meski jantungnya berdegup kencang karena takut kedoknya terbongkar.
Erik menyipitkan matanya, memperhatikan setiap gerak-gerik gadis bercadar di depannya. Ada sesuatu dari cara bicara dan aura tabib itu yang terasa begitu familier, tetapi dia tidak bisa menebak siapa di balik kain penutup wajah tersebut.
"Apa yang sedang Anda lakukan pada tubuhnya?" tanya Erik tegas, membuka suara.
"Menetralisir kutukan darah," jawab Kalyca singkat tanpa menoleh ke arah Erik.
"Sihir hitam itu sengaja diletakkan di dekat pintu kamar untuk menggerogoti organ dalam secara perlahan, kalau aku terlambat sepuluh menit lagi, jantung pria ini pasti sudah hancur," lanjut Kalyca, membuat semua orang kembali terkejut.
Mendengar kata-kata itu, Joel mengepalkan tangannya kuat.
"Sialan, jadi benar ada yang berniat membunuh Raja secara perlahan dari dalam istana!" geram Joel.
"Tabib, kumohon, selamatkan dia," ucap Ratu Alice kembali terisak, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mundur semuanya, beri aku ruang," titah Kalyca, tegas.
Kalyca menarik napas panjang, dengan konsentrasi penuh, Kalyca membisikkan mantra pemurni kuno yang sudah dia kuasai dari kehidupan pertama nya dulu, keketika itu juga, asap hitam tipis mengepul keluar dari sela bibir Raja Veldora, menguap di udara dan menebarkan bau busuk yang menyengat sebelum akhirnya lenyap.
Uhuk
Raja Veldora tiba-tiba terbatuk keras, bukan lagi darah hitam pekat, melainkan darah merah segar yang keluar dari mulutnya.
Melihat itu semua, jantung Edelyn semakin berdegup kencang, dia semakin cemas dan takut semua nya terbongkar dan Raja Veldora kembali sembuh.
"T-tidak mungkin, pria tua itu tidak boleh selamat, sebentar lagi rencana ku berhasil dan kerjaan ini akan menjadi milik ku," batin Edelyn, masih dengan ambisi nya.
Dengan perlahan, kelopak mata sang Raja bergerak, lalu terbuka.
"A-air..." ucap Raja Veldora sangat lirih, suaranya parau.
"Yang Mulia!" seru Ratu Alice, memeluk kepala suaminya dengan hati-hati.
"Kau sadar, kau benar-benar sadar," ucap Ratu Alice kembali terisak.
Joel dan Gale ikut bernapas lega, begitupun dengan para tabib istana yang masih berdiri di sudut ruangan, mereka melihat semua yang dilakukan Kalyca tadi, dan bagaimana tubuh Raja merespon obat dari tabib misterius itu.
Sementara Erik menghembuskan napas berat, matanya beralih menatap tajam ke arah Edelyn yang berdiri di sudut ruangan dengan kaki gemetar hebat dan wajah pucat nya.
Kalyca perlahan berdiri dari duduknya, merapikan jubahnya, lalu menatap lurus ke arah Edelyn di balik cadarnya.
"Bagaimana, Putri Mahkota?" ucap Kalyca dengan nada menyindir yang dingin.
"Rupanya rencana mu dan ibu mu gagal, pria tua ini masih ingin hidup lebih lama untuk melihat kehancuran kalian," bisik Kalyca, yang hanya di dengar oleh Edelyn seorang.
Edelyn mundur dua langkah, napasnya tersengal-sengal karena panik dan juga terkejut dengan bisikan Kalyca.
"K-kamu, bagimana kamu," gumam Edelyn, bibir nya mendadak kelu.
Dada Edelyn naik turun dengan nafas memburu, dia berusaha sekuat tenaga untuk kembali mengembalikan kesadaran nya dan menutupi kegugupannya, agar orang-orang tidak curiga, dan kejahatan nya benar-benar terbongkar.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan! Jangan dengarkan omongan tabib gila ini, Ayah! Dia mau memfitnahku!" teriak Edelyn histeris membela diri.
Raja Veldora, yang baru saja sadar berkat racikan Kalyca, memalingkan wajahnya perlahan ke arah Edelyn, pandangan mata sang Raja tidak lagi menyiratkan kasih sayang seperti dulu, melainkan kebencian, kekecewaan, dan kemarahan di dalam mata sayu nya.
"Edelyn, keluar, dari hadapanku..."usir Raja Veldora, lirih.
Edelyn menggelengkan kepalanya panik, dan tidak percaya, Ayah nya mengusir dirinya.
"Ayah, tidak, Ayah percaya padaku, kan? Ini semua bohong-"
"Ku bilang keluar!" bentak Raja Veldora dengan sisa tenaganya, membuat Edelyn terperanjat ketakutan.
Erik melangkah maju, menghalangi jalan Edelyn dengan tubuh tegapnya, Sang Grand Duke menatap Edelyn dengan dingin.
makaci crazy up nya 😍👍