Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Terlahir Kembali di Tempat Terbuang
Suara dentingan besi dan bau lengket darah adalah hal terakhir yang diingat Ethan Vance.
Sebagai Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi sekaligus ilmuwan yang menghabiskan separuh hidupnya mempelajari biomekanika, Ethan paham betul bagaimana cara tubuh manusia hancur. Saat reaktor fusi di laboratoriumnya meledak akibat sabotase orang dalam, dia tahu kematiannya sudah tak bisa ditawar lagi. Suhu jutaan derajat Celsius menghancurkan sel-sel tubuhnya dalam hitungan mikrodetik.
Seharusnya, semuanya selesai di sana. Gelap. Hampa.
Namun, rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba menusuk dadanya justru memaksa mata Ethan terbuka.
"Oweee! Oweee!"
Ethan mencoba mengutuk keadaan, tapi yang keluar dari mulutnya justru suara tangisan bayi yang melengking kaku. Dia menggerakkan tangannya yang mungil, menatap jemari pendek yang tertutup cairan lengket.
"Dia bernapas! Nyonya, bayinya lahir selamat!" suara seorang wanita tua berteriak lega di tengah remang-remang ruangan berbau kayu lapuk.
Ethan—yang kini menyadari bahwa jiwanya terlempar ke dalam tubuh seorang bayi yang baru lahir—mencoba tetap tenang. Pengalaman tempurnya puluhan tahun di Bumi mengajarkannya satu hal: panik adalah cara tercepat untuk mati.
Dia membiarkan wanita tua itu membersihkan tubuhnya dan membungkusnya dengan kain kasar yang terasa agak menusuk kulit. Ketika dia dibaringkan di samping seorang wanita berwajah pucat yang napasnya terengah-engah, pandangan Ethan menyapu seluruh ruangan.
Dinding kayu lapuk, atap jerami yang hampir bolong di beberapa sudut, serta lilin redup yang menari-nari ditiup angin malam. Tidak ada monitor medis, tidak ada lampu steril, tidak ada tanda-tanda teknologi apa pun.
"Anakku... Cheon Ryeon," bisik wanita pucat itu dengan suara bergetar. Dia membelai pipi bayi Ethan dengan jemarinya yang dingin. "Maafkan Ibu... kau terlahir di saat keluarga kita berada di titik paling rendah..."
Cheon Ryeon. Jadi itu nama barunya sekarang.
Belum sempat Ryeon mencerna keadaan lebih jauh, pintu kamar yang terbuat dari kayu tebal mendadak ditendang dari luar hingga engselnya berderit keras.
BAM!
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam dengan sulaman benang merah di bagian kerah pakaian khas pengawal Kultus Iblis. Tatapannya penuh penghinaan saat menatap wanita di atas ranjang dan bayi di sampingnya.
"Perempuan lemah," cemooh pria itu dingin. "Tetua Utama Klan Ma sudah mengeluarkan keputusan. Karena klan Cheon tidak bisa memberikan upeti batu besi bulan ini, wilayah tambang selatan resmi disita. Mulai hari ini, jatah makanan dan pil pembersih darah untuk klan terendah seperti kalian dipotong setengah."
Ibu Ryeon mengepalkan tangannya di atas selimut. "Tapi klan Cheon masih bagian dari 10 Keluarga Utama Kultus Iblis! Kalian tidak bisa seenaknya bertindak hanya karena prajurit inti kami gugur di Lembah Merah!"
Pria itu tertawa kencang, suara tawanya terdengar menyebalkan di ruangan sempit itu.
"Keluarga Utama? Jangan bermimpi!" Pria itu meludah ke lantai. "Klan Cheon cuma urutan ke-10, urutan paling buncit yang cuma nunggu waktu buat disepak keluar dari Pegunungan Shiwan! Tanpa kitab pusaka dan tanpa tetua yang tersisa, kalian cuma sekelompok sampah yang menumpang hidup. Bersyukurlah kalian masih diizinkan bernapas di sini."
Pria itu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang terasa berat di dalam kamar.
Di dalam bedongan nya, Ryeon kecil menatap langit-langit kayu yang berdebu. Matanya yang jernih sama sekali tidak mencerminkan mata seorang bayi.
Kultus Iblis? 10 Keluarga Utama? Upeti batu besi?
Ryeon menarik napas pelan. Dari informasi singkat yang baru saja dia dengar, gambaran tempat barunya mulai terbentuk. Dia berada di dunia feodal yang dikuasai oleh kekuatan fisik dan hierarki kekuasaan yang kejam. Dan celakanya, dia terlahir di keluarga yang berada di batas kehancuran.
Menarik, batin Ryeon dingin. Tampaknya kehidupan baruku tidak akan berjalan membosankan.
Dua tahun berlalu dengan cepat.
Bagi seorang balita biasa, umur dua tahun adalah masa-masa belajar berjalan dan meraba dunia sekitar. Tapi bagi Cheon Ryeon, dua tahun ini adalah masa eksperimen mandiri yang sangat krusial.
Setiap malam, ketika ibunya sudah tertidur lelap akibat kelelahan bekerja menenun kain, Ryeon duduk bersila di atas tempat tidur kayunya.
Dia mulai mempelajari hal paling misterius di dunia ini: Ki.
Di dunia Murim ini, orang-orang mengumpulkan Ki melalui meditasi mistis dan sirkulasi yang rumit. Tapi sebagai mantan ilmuwan Bumi, Ryeon tidak melihat Ki sebagai fenomena gaib. Bagi Ryeon, Ki pada dasarnya adalah energi bio-listrik dan partikel molekuler yang mengalir melalui pembuluh darah dan jaringan saraf manusia.
Dantian di perut bawah ini... bentuknya persis seperti reaktor mikro, renung Ryeon sambil menutup mata, memfokuskan pikirannya pada hawa hangat yang berkumpul di perutnya.
Anak-anak dari klan kaya seperti Klan Ma atau Klan Baek biasanya diberi minum Pil Pembersih Sumsum sejak balita untuk membuka jalur meridian secara paksa. Tapi karena Klan Cheon sangat miskin, Ryeon tidak punya akses ke pil-pil mahal itu.
Ryeon tidak berkecil hati. Dia menggunakan Pengetahuan Biomekanika Bumi.
Daripada memaksa Ki mengalir deras yang bisa merusak saluran meridian bayi yang masih tipis, Ryeon menggunakan teknik pernapasan paru-paru militer terukur. Dia menyerap oksigen dengan ritme konstan, membiarkan molekul Ki mengendap perlahan di Dantiannya, lalu mengalirkannya dengan sangat halus ke titik-titik persendian.
Satu tarikan napas empat detik, tahan dua detik, hembuskan empat detik...
Perlahan tapi pasti, kualitas energi internal di dalam tubuh Ryeon menjadi sangat padat. Meskipun kuantitas Ki-nya terlihat sedikit dari luar—bahkan hampir tidak terdeteksi oleh orang awam—struktur molekuler Ki di dalam tubuhnya jauh lebih murni dibandingkan anak-anak sejawatnya yang dicekoki pil kimia instan.
"Ryeon-er, ayo makan," suara lembut ibunya membuyarkan konsentrasi Ryeon.
Ryeon membuka mata dan menyunggingkan senyum tipis. Dia melompat turun dari ranjang kayu dengan gerakan yang sangat lincah dan seimbang.
Di atas meja kayu yang sudah agak miring, hanya ada semangkuk bubur gandum encer dan sepotong sayur asin. Ini adalah makanan harian mereka sejak jatah dari Kultus dipotong.
"Ibu tidak makan?" tanya Ryeon sambil memandangi ibunya yang terlihat makin kurus.
"Ibu sudah makan tadi di dapur," jawab ibunya berbohong sambil tersenyum lembut, membelai rambut hitam Ryeon. "Habiskan makanannya, ya. Nanti sore kau harus ikut ke aula latihan dasar klan."
Ryeon tidak menjawab, tapi dia membagi dua porsi bubur itu dan menggeser mangkuk kedua ke depan ibunya. "Kalau Ibu sakit, tidak ada yang bisa memasakkan bubur enak ini lagi untukku."
Ibunya menatap Ryeon dengan mata berkaca-kaca. Di usianya yang baru dua tahun, anak ini tidak pernah menangis atau rewel seperti anak-anak lain. Ryeon selalu bersikap tenang, seolah dia mengerti betapa berat beban yang dipikul oleh ibunya.
Sore harinya, Ryeon berjalan menuju Halaman Latihan Klan Cheon.
Halaman itu tidak lebih dari sebidang tanah berbatu yang dikelilingi pagar kayu setengah roboh. Di sana, sekitar dua puluh anak-anak Klan Cheon berusia dua sampai delapan tahun sedang berkumpul. Mereka dipandu oleh seorang pria tua berpakaian lusuh yang berjalan pincang.
Pria tua itu bernama Tetua Cheon Boma, salah satu instruktur bela diri tersisa di keluarga mereka.
"Dengar semuanya!" teriak Tetua Boma dengan suara serak. "Meskipun keluarga kita sedang dihina oleh klan-klan lain, kalian adalah keturunan dari Pelindung Api Suci! Kuda-kuda kalian harus kokoh seperti gunung! Buka kaki kalian lebar-lebar!"
Anak-anak itu mulai mengikuti instruksi, menahan posisi kuda-kuda bawah dengan wajah bersusah payah.
Ryeon berdiri di barisan paling belakang. Dia memperhatikan postur kuda-kuda yang diajarkan oleh Tetua Boma dengan cermat.
Beban tubuh terlalu menumpuk di lutut depan. Sudut panggul terlalu menekuk ke belakang. Kalau ditabrak dari samping, keseimbangannya bakal langsung hancur, analisis Ryeon di dalam hati.
Ryeon menyesuaikan posisi tubuhnya sendiri. Dia menggeser tumit kakinya beberapa sentimeter ke luar, menyelaraskan pusat gravitasi tubuhnya tepat di tengah-tengah antara kedua telapak kaki, dan merilekskan otot bahunya.
Hasilnya? Tanpa menggunakan Ki sedikit pun, Ryeon bisa bertahan di posisi kuda-kuda itu selama satu jam penuh tanpa merasa pegal atau kelelahan di bagian sendi. Ini adalah murni penerapan hukum fisika dan biomekanika dasar.
Tetua Boma yang berjalan mengawasi anak-anak mendadak menghentikan langkahnya tepat di sebelah Ryeon.
Pria tua itu memandangi Ryeon dari atas ke bawah dengan raut wajah terkejut. Biasanya, anak umur dua tahun akan mulai menangis atau jatuh terduduk setelah menahan kuda-kuda selama sepuluh menit. Tapi Ryeon berdiri sangat stabil, napasnya tetap teratur, dan matanya menatap lurus ke depan tanpa ada tanda-tanda kelelahan.
Tetua Boma menepuk bahu Ryeon pelan. BAM. Tepukan itu memiliki sedikit tekanan Ki untuk menguji ketahanan fisik Ryeon.
Namun, alih-alih goyah, tubuh Ryeon secara refleks mengalirkan sedikit energi di titik tumpu kakinya, menyalurkan tekanan dari tepukan Tetua Boma langsung ke tanah di bawahnya.
Klek.
Batu kecil di bawah telapak kaki Ryeon retak halus, sementara tubuh Ryeon sendiri tidak bergeser satu milimeter pun.
Mata Tetua Boma terbelalak lebar. Dia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Ryeon dengan tidak percaya.
"Anak ini..." bisik Tetua Boma pelan, dadanya berdebar kencang. "Bagaimana bisa anak balita punya distribusi beban seefisien ini?"
"Ada yang salah dengan posisiku, Tetua?" tanya Ryeon polos, memasang wajah anak-anak yang tidak berdosa.
Tetua Boma terbatuk pelan untuk menutupi keterkejutannya. "Ehem! N-tidak... posisimu sangat bagus, Ryeon. Tetap pertahankan."
Saat Tetua Boma berjalan menjauh, Ryeon kembali menatap lurus ke depan. Dia tahu bahwa melatih fisik saja tidak akan cukup. Di dunia ini, kekuatan diukur dari sejauh mana seseorang bisa menguasai teknik dan menghancurkan musuhnya.
Malam harinya, sebuah kejadian mengubah ketenangan singkat di pemukiman Klan Cheon.
Beberapa obor menyala terang di luar rumah Ryeon. Suara teriakan kasar dan tangisan terdengar memecah keheningan malam.
Ryeon melangkah keluar dari kamarnya secara sembunyi-sembunyi dan mengintip dari balik celah pagar kayu.
Di sana, lima orang pemuda berseragam hijau tua—prajurit dari Klan Ma—sedang mengacak-acak gudang penyimpanan beras milik Klan Cheon. Beberapa pengawal tua Klan Cheon tergeletak di tanah dengan tubuh memar dan berdarah.
"Hahaha! Beras busuk seperti ini masih kalian simpan?" cemooh pemimpin kelompok itu, seorang pemuda berusia belasan tahun dengan wajah sombong bernama Ma Jin. "Tetua kami butuh pasokan makanan tambahan untuk anak-anak elit Klan Ma yang sedang bersiap masuk Akademi Kultus. Jadi anggap saja ini sumbangan wajib dari kalian!"
"Tapi itu jatah makanan kami untuk satu bulan ke depan!" jerit salah satu tetua Klan Cheon yang mencoba bangkit, tapi dadanya langsung ditendang oleh Ma Jin hingga terbatuk darah.
"Diam, Tua Bangka! Klan sampah tidak butuh makan banyak!" Ma Jin meludah ke tanah.
Melihat adegan itu, tangan Ryeon yang tersembunyi di balik baju lengannya perlahan mengepal.
Secara emosional, dia baru hidup dua tahun di keluarga ini. Tapi secara logika, jika Klan Cheon hancur dan kehabisan makanan, proses tumbuh kembang tubuh barunya juga akan terhambat. Dia tidak bisa membiarkan orang-orang dari Klan Ma ini terus-menerus menginjak-injak sumber daya keluarganya.
Aku belum cukup kuat untuk bertarung secara terbuka dengan Ki mentah, pikir Ryeon dingin sambil menghitung jumlah musuh, jarak, dan sudut kegelapan di sekitar halaman. Tapi pertempuran tidak pernah ditentukan oleh siapa yang punya otot paling besar. Pertempuran ditentukan oleh siapa yang memegang kendali atas medan.
Ryeon memungut tiga buah batu kerikil kecil yang berserakan di tanah.
Di mata orang biasa, itu cuma batu jalanan. Tapi di mata seorang Mantan Jenderal yang menguasai ilmu ballistik dan garis lintasan, batu-batu kecil itu adalah amunisi presisi berkecepatan tinggi.
Ryeon mengalirkan sedikit hantaman energi Ki cair dari Dantiannya menuju ujung jarinya. Dia memanfaatkan prinsip katapel kinetik—memutar pergelangan tangannya dengan sudut 45 derajat untuk memaksimalkan momentum rotasi.
Target: Titik saraf femoralis di paha kiri, titik syaraf karotis di leher, dan titik fokus mata.
Brak!
Ryeon menjentikkan batu pertama dalam kegelapan.
Batu itu meluncur menembus udara tanpa suara angin yang berarti.
CTAK!
"AAAGH!"
Ma Jin mendadak menjerit histeris. Batu kecil itu menghantam tepat di titik saraf paha kirinya dengan tekanan kinetik yang sangat tinggi. Kaki kirinya langsung mati rasa seketika, membuat tubuh besarnya hilang keseimbangan dan tumbang menghantam tanah dengan keras.
"Siapa itu?! Siapa yang melempar?!" teriak empat anak buah Ma Jin panik sambil mencabut pedang mereka dan melihat sekeliling kegelapan.
CTAK! CTAK!
Dua batu berikutnya meluncur hampir bersamaan. Batu-batu itu memantul di tiang kayu gudang sebelum menghantam bagian belakang lutut dua prajurit lainnya. Taktik pantulan sudut ini membuat mereka mengira serangan datang dari arah belakang tebing.
"Ada musuh di tebing! Kita dijebak!" teriak salah satu dari mereka ketakutan.
"Mundur! Cepat mundur!" Ma Jin yang memegang pahanya sambil meringis kesakitan berteriak panik. Tanpa memikirkan karung beras lagi, mereka menyeret Ma Jin dan lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, mengira ada master rahasia yang sedang mengawasi mereka dari balik bayangan.
Orang-orang Klan Cheon yang tergeletak di tanah saling pandang dengan raut wajah bingung. Mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi atau siapa yang menyelamatkan mereka.
Di balik celah pagar yang gelap, Ryeon mengibaskan debu di tangannya. Napasnya sedikit terengah-engah karena penggunaan energi kinetik yang cukup intensif untuk ukuran tubuh balitanya.
Latihan fisik tubuh ini masih sangat jauh dari kata cukup, batin Ryeon sambil menatap jemari tangannya yang mungil. Dalam delapan tahun ke depan, saat usiaku sepuluh tahun, aku harus masuk ke Akademi Kultus Iblis. Di sana sumber daya yang sebenarnya berada.
Ryeon berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah pelan tanpa suara.
Awal perjalanan panjangnya di dunia Murim ini baru saja dimulai. Dia mungkin terlahir kembali sebagai anak dari klan paling bawah dan dianggap sampah oleh semua orang. Tapi dengan menggabungkan dinginnya logika sains Bumi dan potensi Ki tanpa batas di dunia ini, Cheon Ryeon akan memastikan bahwa siapapun yang pernah meremehkan keluarganya... kelak akan berlutut di bawah kakinya.