Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pertahanan Sungai Tenang
Malam itu, Desa Sungai Tenang yang biasanya sunyi berubah jadi medan yang menegangkan tanpa sepengetahuan sebagian besar penduduknya yang sudah lelap tidur.
Su Mei membuka kotak kayu tua yang selama ini tersimpan di balik rak—bukan berisi boneka seperti dugaan Ji Ming, melainkan sepasang gelang kayu berukir halus, masing-masing dengan permata kecil berwarna hijau tertanam di tengahnya.
"Aku sudah tiga puluh tahun tidak memakai ini," Su Mei berkata sambil mengenakan gelang itu di kedua pergelangan tangannya, suaranya berubah—lebih tegas, lebih mantap, seolah bertahun-tahun peran sebagai wanita tua penyendiri baru saja luruh dari bahunya. "Waktunya untuk mengingat siapa aku dulu."
"Kau bukan sekadar pembuat boneka," Ji Ming berkata, menyadari sesuatu.
"Aku salah satu dari lima Tetua Sekte Pengukir Jiwa, dulu, sebelum semuanya hancur." Su Mei tersenyum tipis, meski matanya menyimpan ketegangan yang nyata. "Aku sudah lama berhenti menggunakan gelar itu. Tapi malam ini, mungkin aku butuh mengingatnya sekali lagi."
Di perbatasan desa, Han Lie berhenti sejenak, memberi isyarat pada lima orang di belakangnya untuk berhenti juga. Mereka bukan pemburu bayaran biasa—jubah mereka menyandang lambang kecil Puncak Elang Hitam yang sengaja disembunyikan di balik kain luar, murid-murid tingkat menengah yang dikirim langsung oleh Tetua Kang setelah laporan kegagalan Han Lie sebelumnya.
"Ingat," Han Lie berkata pada mereka, nadanya datar namun tegas, "targetnya hidup-hidup, boneka kayunya utuh. Selebihnya, terserah kalian."
Salah satu murid, seorang pemuda bernama Deng Fei dengan bekas luka di dagu, menyeringai. "Kudengar dia bahkan tak bisa melawan lima murid biasa waktu di hutan dekat sekte. Ini akan cepat."
"Jangan meremehkan," Han Lie memperingatkan, mengingat kekalahannya sendiri di hutan pinus. "Dia punya bantuan yang tidak biasa."
Mereka bergerak masuk ke desa dalam formasi rapi, berusaha tetap senyap—tapi Xiao Yu, yang sudah berpatroli sejak sore, memberi cukup peringatan bagi Ji Ming dan yang lain untuk bersiap di halaman belakang rumah Su Mei, jauh dari rumah-rumah penduduk yang tak bersalah.
"Kita harus jauhkan pertarungan dari desa," Yun Xia berkata cepat, mencabut pedangnya. "Kalau penduduk terluka karena kita, itu tak akan kumaafkan diriku sendiri."
Su Mei mengangguk, dan dengan gerakan tangan yang anggun namun penuh tenaga, ia menyalurkan kekuatan jiwa ke dalam gelang-gelang di pergelangannya. Permata hijau kecil itu berpendar terang, dan dari tanah di sekitar mereka, akar-akar pohon tua yang sudah lama mati mulai bergerak, menyusun diri menjadi dua sosok boneka besar setinggi manusia dewasa—jauh lebih besar dan lebih kokoh dari Xiao Mu maupun Xiao Yu.
"Boneka Akar Kembar," Su Mei berkata, suaranya kembali pada nada seorang tetua yang pernah memimpin, bukan wanita tua penyendiri di desa kecil. "Sudah lama tidak kupanggil. Semoga mereka masih ingat caranya bertarung."
Pertarungan pecah begitu Han Lie dan lima muridnya memasuki halaman belakang, cahaya bulan menjadi satu-satunya penerangan di atas rerumputan yang segera berubah jadi arena pertempuran sunyi namun mematikan.
Deng Fei menyerang lebih dulu, terlalu percaya diri setelah mendengar cerita kekalahan mudah Ji Ming sebelumnya, tapi kali ini yang menghadangnya bukan pemuda ketakutan di jurang—Xiao Mu bergerak lebih cepat, lebih terlatih setelah lima hari latihan tambahan, menangkis serangan qi Deng Fei dengan kelenturan yang membuat murid itu terkesiap.
Boneka Akar Kembar milik Su Mei bergerak dengan kekuatan brutal namun terkendali, melumpuhkan dua murid lainnya dalam hitungan detik tanpa melukai mereka secara fatal—hanya mengunci gerakan mereka dalam pelukan akar yang kokoh, seperti dahan pohon yang menahan cabang yang terlalu liar.
Yun Xia berhadapan langsung dengan Han Lie, pedang tumpul beradu dengan pisau kecil dalam ritme cepat yang sudah mereka kenal dari pertarungan sebelumnya, tapi kali ini Han Lie tampak lebih berhati-hati, mengingat kekalahan sebelumnya.
Ji Ming, di tengah kekacauan itu, merasakan sesuatu yang berbeda—bukan lagi ketakutan murni seperti di jurang dulu, tapi konsentrasi tajam yang mengalirkan kekuatan jiwanya lebih lancar dari sebelumnya. Ia mengukir cepat di udara, membentuk pola sederhana namun efektif yang baru saja diajarkan Su Mei—bukan boneka baru, tapi penguatan sementara untuk Xiao Yu, memberinya kecepatan tambahan untuk mengganggu dua murid tersisa yang mencoba mengepungnya dari sisi.
Pertarungan berlangsung sengit namun singkat—dengan kombinasi Su Mei yang jauh lebih berpengalaman, Yun Xia yang bertarung dengan tekad melindungi, dan Ji Ming yang kini tak lagi sendirian dalam kepanikan, tiga murid berhasil dilumpuhkan sepenuhnya, sementara dua lainnya, termasuk Deng Fei, mundur ketakutan melihat kekuatan yang jauh di luar dugaan mereka.
Han Lie sendiri, meski masih berdiri, sudah terluka cukup parah di lengan dari tebasan Yun Xia, napasnya memburu saat ia mundur beberapa langkah, menilai ulang situasi yang jelas tak lagi menguntungkannya.
"Kalian punya seorang Tetua Sekte Pengukir Jiwa yang selamat," gumamnya, matanya melebar menatap Su Mei dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan. "Tidak ada yang membayarku cukup untuk risiko sebesar ini."
"Pulanglah," Su Mei berkata tegas, gelang di pergelangannya masih berpendar terang. "Katakan pada Tetua Kang bahwa rahasia yang ia sembunyikan tiga puluh tahun lalu akan segera terbongkar, cepat atau lambat—dan kali ini, tak ada yang bisa menghentikannya."
Han Lie menatap mereka sekali lagi, lalu memberi isyarat pada Deng Fei dan seorang murid lain yang masih sadar untuk membantu membawa tiga rekan mereka yang lumpuh, mundur ke dalam kegelapan hutan tanpa perlawanan lebih lanjut—kekalahan yang jauh lebih telak dari yang pernah ia alami sepanjang kariernya sebagai pemburu bayaran.
Ketika suara langkah mereka akhirnya menghilang, Ji Ming terduduk lemas di rerumputan, napasnya memburu tapi hatinya dipenuhi sesuatu yang baru—bukan sekadar rasa lega bertahan hidup, tapi keyakinan tipis bahwa mungkin, ia benar-benar bisa menjadi lebih dari sekadar buronan yang lari selamanya.
"Rahasia apa yang kau maksud?" Yun Xia bertanya pada Su Mei begitu ketenangan kembali, menyarungkan pedangnya yang berlumur sedikit darah.
Su Mei menatap ke arah Puncak Elang Hitam yang jauh di selatan, wajahnya kini serius, menyimpan sesuatu yang belum ia ceritakan sepenuhnya.
"Tetua Kang bukan sekadar melindungi reputasi sektenya dari relik curian," katanya pelan. "Tiga puluh tahun lalu, dialah salah satu murid muda yang ikut dalam ekspedisi menjarah Makam Terlarang—ekspedisi yang menewaskan hampir seluruh timnya sendiri, kecuali dia. Ada yang bilang ia selamat karena keberuntungan. Aku selalu curiga ada alasan lain."