Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 PENGGANGGU DI KAMPUS
Kepulangan Raka Ardian, Nadia, Arga, dan Min-ji ke Bandung disambut dengan kehangatan rumah kolonial di Ciumbuleuit. Udara sejuk pegunungan Parahyangan langsung menyapa kulit begitu mobil mereka memasuki halaman. Bibi menyambut dengan senyuman lebar dan sepiring pisang goreng hangat, membuat ketegangan dari petualangan di Borneo perlahan-lahan menguap.
Namun, kedamaian di Bandung rupanya tidak membuat hari-hari Nadia berjalan tanpa riak. Sebagai mahasiswi kedokteran yang cerdas dan berwajah menarik, Nadia selalu menjadi pusat perhatian. Dan pasca-kepulangannya, sebuah masalah baru yang menguras emosi langsung menyambutnya di kampus.
Namanya Bima , seorang senior kedokteran sekaligus anak dari donatur utama yayasan universitas. Bima adalah tipe pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan kekayaan dan pengaruh keluarganya. Sejak Nadia kembali aktif kuliah, Bima mulai gencar mendekatinya secara agresif atau lebih tepatnya, memaksa. Ia menganggap Nadia sebagai "trofi" yang harus didapatkan, mengabaikan kenyataan bahwa Nadia berkali-kali menolak ajakannya dengan tegas.
Hari itu, di koridor utama fakultas kedokteran yang cukup ramai, Bima kembali mencegat langkah Nadia seusai kuliah anatomi. Ia sengaja memblokir jalan Nadia sambil membawa sebuket bunga mawar merah besar.
"Nadia, jangan bersikap seolah-olah kau bisa terus menghindariku," kata Bima dengan nada suara yang terdengar ramah di luar, namun menyiratkan pemaksaan yang mendominasi. "Malam ini aku sudah memesan meja di restoran rooftop bintang lima untuk kita.
Jangan tolak tawaranku, atau kau tahu sendiri apa yang bisa kulakukan terhadap jadwal praktikum klinismu ke depannya."
Nadia mengepalkan kedua tangannya, matanya memelotot tajam menahan amarah.
"Bima, sudah ribuan kali kubilang aku tidak tertarik! Dan jangan pernah mencoba mengancam posisiku di kampus ini pakai kekuasaan keluargamu!" tukas Nadia sengit, mencoba melewati pria itu.
Namun, Bima justru mencengkeram pergelangan tangan Nadia dengan cukup kuat. "Hei, jangan jual mahal—"
Plak!
Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat dari arah samping, mencengkeram pergelangan tangan Bima dengan cengkeraman besi yang membuat pria arogan itu langsung menjerit kesakitan.
Bima mendongak dengan wajah merah padam karena marah, siap memaki siapa pun yang berani mengganggunya. Namun, begitu ia melihat sosok yang berdiri di hadapannya, nyalinya mendadak ciut.
Di sana, berdiri Raka Ardian dengan jaket usang khasnya. Wajah Raka sangat tenang, dingin seperti es, namun sorot matanya yang tajam memancarkan tekanan batin yang membuat udara di sekitar koridor terasa membeku. Raka tidak mengeluarkan suara benturan fisik yang kasar, tetapi aliran tenaga dalam Welingan Sejati yang disalurkan lewat cengkeraman tangannya membuat sendi tangan Bima bergetar hebat.
"Lepaskan... aduh, lepaskan tanganku! Siapa kau, sialan?!" rintih Bima kesakitan, merasa tulangnya seperti mau remuk.
Raka perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu melangkah maju selangkah, memaksa Bima mundur ketakutan. Dengan suara rendah yang tenang namun berwibawa mutlak, Raka berkata, "Kekuatan dan kekayaan keluargamu mungkin bisa membeli fasilitas kampus ini, Bima. Tapi itu tidak cukup untuk membeli harga diri seseorang, apalagi menyentuh miliknya."
Raka merangkul pundak Nadia posesif namun lembut, menarik gadis itu merapat ke sisinya. "Jika kau berani mendekati Nadia lagi dengan cara seperti ini, urusannya bukan lagi sekadar urusan kampus."
Bima, yang sudah kehilangan seluruh kesombongannya dan gemetar ketakutan tanpa alasan jelas akibat aura Raka, menyentuh pergelangan tangannya yang memerah. Tanpa berani berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan kabur terbirit-birit meninggalkan koridor.
Nadia menghela napas panjang, merapikan tasnya sambil melirik Raka dengan perasaan campur aduk antara lega, sebal, dan tentu saja, kagum setengah mati.
"Kau ini ya, suka muncul tiba-tiba seperti pahlawan kesiangan," protes Nadia kecil, meskipun pipinya merona merah merona tanda salah tingkah. Ia menepuk pelan lengan Raka. "Tapi... terima kasih sudah menyelamatkanku dari pria menyebalkan itu."
Raka tersenyum tipis, menggenggam jemari Nadia dengan hangat. "Sudah kewajibanku memastikan tidak ada hal buruk yang mengganggumu, Nadia. Mari kita pulang."
Di balik ketenangan sore Kota Bandung itu, mereka berjalan berdampingan meninggalkan kampus. Namun, jauh di lubuk hatinya, Raka tahu bahwa gangguan kecil dari Bima hanyalah riak permukaan. Di balik bayangan malam, sebuah ancaman yang jauh lebih besar dari masa lalu perguruan Welingan Sejati sedang merayap mendekat, siap menguji ketahanan mereka sekali lagi.
Suasana di sepanjang jalan kenangan menuju gerbang keluar kampus perlahan-lahan mereda, digantikan oleh hembusan angin sore Bandung yang menyejukkan. Nadia berjalan di samping Raka sambil sesekali mencuri pandang ke arah pria berjaket usang itu. Rasa kagum dan rasa aman bergemuruh di dadanya. Di tengah dunia perkuliahan kedokteran yang menuntut ketahanan mental tingkat tinggi serta tekanan sosial dari orang-orang arogan seperti Bima, kehadiran Raka selalu menjadi benteng pertahanan paling kokoh yang pernah ia miliki.
"Kau tahu, Raka," ucap Nadia tiba-tiba dengan nada suara yang dilembutkan, jemari lentiknya tanpa ragu menyelip menggenggam erat telapak tangan Raka. "Kadang aku merasa hidup kita ini mirip seperti sinetron laga bercampur drama romantis. Baru saja kita selesai berurusan dengan preman hutan dan dukun santet di Kalimantan, sekarang harus menghadapi senior kampus yang sok berkuasa."
Raka menoleh sekilas, membalas genggaman tangan Nadia dengan kehangatan yang menenangkan, lalu tertawa kecil renyah. "Dunia luar memang selalu penuh dengan berbagai macam bentuk ujian, Nadia. Entah itu di tengah rimba Borneo yang lebat atau di koridor kampus yang ramai. Tugas kita bukan menghindari masalahnya, tetapi memastikan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian saat menghadapinya."
Mendengar kalimat bijak yang meluncur begitu tenang dari mulut Raka, pipi Nadia kembali bersemu merah. Ia menyandarkan kepalanya sejenak ke bahu bidang Raka saat mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.
Namun, di tengah momen romantis dan kelegaan sesaat itu, tanpa sepengetahuan Nadia, pandangan Raka sempat melirik tajam ke arah seberang jalan. Di balik kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang, berdiri sesosok pria berbalut jubah gelap lusuh yang menatap lurus ke arah mereka dengan tatapan mata kosong penuh kebencian, sebelum akhirnya sosok itu berbalik dan menghilang lebur ke dalam bayangan senja kota. Peringatan gaib dari belati pusaka di kamar Ciumbuleuit tadi malam bukanlah isapan jempol belaka; musuh sejati dari masa lalu perguruan Welingan Sejati kini benar-benar telah menginjakkan kaki di tanah Parahyangan, siap menguji kesetiaan dan ikatan cinta mereka hingga titik darah penghabisan.