Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klinik Ujung Jalan
Kaelen menatap uluran tangan Lyra sejenak, lalu melirik belati beracun di tangannya sendiri. Di tempat seperti Distrik Bawah, kebaikan orang asing adalah mitos mematikan. Namun, pandangannya yang mulai mengabur dan darah yang terus merembes dari balik jubahnya adalah realita yang tak bisa dibantah.
Ia mengabaikan tangan Lyra, menggunakan dinding bata kotor untuk menopang tubuhnya berdiri. "Berapa bayaranmu?" tanyanya dengan suara serak.
Lyra menarik kembali tangannya, mendengus pelan sambil memutar bola mata. "Menarik. Hampir mati tapi masih arogan. Tenang saja, Tuan Muda. Aku tidak butuh koin perunggumu yang berlumur darah itu. Aku butuh sesuatu yang lebih berharga: informasi. Tapi itu nanti, setelah kau berhenti meneteskan darah di wilayah kekuasaanku."
Gadis itu berbalik dan mulai berjalan menembus gang sempit, memberi isyarat dengan kepalanya agar Kaelen mengikuti.
Perjalanan menembus Sektor Empat Distrik Bawah terasa seperti menyelami perut monster mesin raksasa. Udara dipenuhi kabut asap berbau belerang dari pipa-pipa uap ilegal yang berdesis di atas kepala mereka. Kaelen memaksakan kakinya melangkah, mengikuti sosok Lyra yang bergerak lincah menghindari genangan limbah fosfor dan pemabuk yang tergeletak di pinggir jalan.
Setiap kali Kaelen menarik napas, rasa sakit di dadanya mengingatkannya pada dua hal: tulang rusuknya yang remuk akibat cambuk Paman Varian, dan energi asing dari peluru angin yang tadi ia serap. Energi itu terasa seperti racun yang menggerogoti pembuluh darahnya. Kekuatan "menelan" ini jelas bukan sekadar menyerap; tubuhnya dipaksa mencerna sihir yang bukan miliknya.
"Kita sampai," ujar Lyra tiba-tiba, berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat dengan coretan grafiti neon pudar bertuliskan Bengkel & Perbaikan Onderdil.
Lyra mengetuk pintu itu dengan pola ritmis. Dua ketukan cepat, jeda, tiga ketukan lambat.
Sebuah celah kecil terbuka di tengah pintu. Sepasang mata mekanik berwarna merah memindai mereka dari balik baja. Bunyi gerendel berat ditarik, dan pintu terbuka, memperlihatkan ruangan pengap yang dipenuhi bau alkohol medis, oli mesin, dan darah.
"Lyra," sapa seorang pria tua bungkuk dengan kacamata pembesar tebal dan satu lengan prostetik tembaga. "Kukira kau sudah mati minggu lalu. Siapa mayat hidup yang kau bawa ini?"
"Mayat hidup yang masih punya uang, Dokter Silas," jawab Lyra santai, melangkah masuk dan menunjuk Kaelen. "Luka memar parah, patah tulang rusuk, dan... entahlah, dia terlihat seperti baru saja menelan kristal mana mentah."
Silas mendekati Kaelen. Tanpa basa-basi, pria tua itu merobek sisa jubah kotor yang menutupi dada Kaelen. Ia berdecak melihat luka bakar berbentuk cambuk yang tercetak hitam di kulit pemuda itu.
"Luka dari sihir api murni tingkat tinggi. Anak ini membuat marah orang-orang dari Tingkat Atas," gumam Silas. Ia berbalik, mengambil sebuah suntikan besi berisi cairan keperakan yang berpendar. "Tahan napasmu, Nak. Ramuan penyembuh ini akan terasa sedikit membakar."
Silas menusukkan jarum itu tepat ke sekitar luka di dada Kaelen dan menekan pendorongnya. Cairan sihir penyembuh itu mengalir masuk.
Namun, bukannya mereda, rasa sakit yang jauh lebih dahsyat meledak di dada Kaelen.
Tubuh Kaelen tersentak hebat, menabrak meja operasi di belakangnya. Pusaran kabut hitam keunguan tiba-tiba keluar dari dadanya, bereaksi agresif terhadap cairan perak tersebut. Ramuan penyembuh ajaib itu langsung diurai, ditelan habis oleh kabut tersebut dalam hitungan detik.
Silas terpelanting ke belakang, menjatuhkan suntikannya. Mata mekaniknya berputar liar memindai anomali di depannya. Lyra melompat mundur, tangannya refleks mencabut pistol pelumpuh dari balik jaketnya.
Kaelen terbatuk keras, memuntahkan cairan hitam pekat. Pusaran itu mereda, kembali masuk ke pori-porinya.
"Demi dewa-dewa mesin..." Silas berbisik dengan suara gemetar, menatap Kaelen seolah melihat iblis. "Kau... tubuhmu memakan sihir penyembuh itu. Inti jiwamu... kau bukan mage ataupun ksatria. Kau adalah sebuah Null."
Kaelen mengangkat wajahnya yang pucat. "Bisa kau obati dengan cara biasa atau tidak, Dokter?" desisnya menahan sakit.
"Bisa. Aku harus menjahit dan mengoperasi tulangmu secara manual tanpa bantuan sihir maupun bius," jawab Silas, masih terlihat terguncang. "Tapi itu bukan masalah terbesarmu, Nak. Inti jiwamu tidak stabil. Kau menyerap terlalu banyak mana asing. Jika kau tidak menemukan cara untuk melepaskan atau menstabilkan energi yang kau telan itu, tubuhmu akan meledak menjadi debu dalam waktu kurang dari tiga hari."
Kaelen terdiam, mengepalkan tangannya. Tiga hari. Waktu yang sangat sempit untuk bertahan hidup, apalagi merencanakan balas dendam.
Namun, belum sempat Kaelen mencerna kenyataan itu, sebuah ledakan keras mengguncang bangunan tersebut.
Pintu besi berkarat di depan terlempar ke dalam, menabrak dinding hingga hancur berantakan. Asap mengepul tebal menutupi pintu masuk. Dari balik kepulan debu itu, tiga bayangan tinggi melangkah masuk. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan lambang anjing berkepala dua di dada kiri mereka.
Pemburu Bayaran Klan Adiwangsa. Paman Varian rupanya tidak membuang waktu.
"Klinik ilegal yang bagus," ucap salah satu dari mereka, menarik pedang panjang yang mulai memancarkan aura api biru. "Bakar tempat ini. Jangan sisakan satu pun tulang untuk dikubur."